10 AIR TERJUN NIAGARA MINI JAWA BARAT VERSI TRAVELNATIC

posted in: Informasi | 0

Air terjun saat ini, umumnya di Indonesia, khususnya di Jawa Barat telah menjadi salah satu pilihan alternatif objek wisata. Air terjun merupakan suatu Bentangalam Endogen yang pada umumnya berada di tengah perbukitan curam dan pada sungai stadia muda. Meskipun banyak juga air terjun yang ditemui pada sungai stadia dewasa. Air terjun merupakan bagian tidak terpisahkan dari sebuah sistem sungai, meskipun ada beberapa air terjun yang sumber aliran jatuhannya berasal langsung dari mata air ataupun celah-celah dinding batuan.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk aliran jatuhan air terjun. Tiga diantaranya adalah lebar sungai, lebar dinding air terjun, serta batuan pembentuk dinding air terjun. Pengelompokan air terjun berdasarkan bentuk jatuhannya pun sudah dipublikasikan di media sosial. Beberapa sumber publikasi yang dijadikan referensi sementara untuk pengelompokan jenis air terjun di Jawa Barat diantaranya adalah situs Worldwaterfalls.com, Wikipedia, Waterfalls Stamps, Geography, World of Waterfalls, New England Waterfalls, Geocaching, dan Geology Nut. Pada tulisan kali ini, Travelnatic akan membagikan sepuluh air terjun dengan bentuk aliran jatuhan yang lebar yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat.

 

  1. Curug Cibakom
Air Terjun Cibakom. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Cibakom berada di Desa Linggalaksana, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Curug Cibakom memiliki aliran jatuhan kurang lebih 18,31 m. Curug Cibakom merupakan tingkatan kedua dari tiga rangkaian air terjun di aliran Sungai Ciwatin. Curug Cibakom masih kalah pamor dari Curug Koja dan Curug Ciwatin, namun, bentuk air terjun Cibakom tidak kalah cantik.

Area di sekitar Curug Cibakom terbilang cukup sempit. Terdapat area tanah kebun warga dan pematang sawah di sisi kanan dan kiri Curug Cibakom. Curug Cibakom memiliki kolam kecil namun cukup dalam. Aliran jatuhan dari Curug Cibakom akan langsung jatuh ke kolam kemudian langsung bergabung kembali dengan sistem sungai. Areal di sekitar Curug Cibakom sedikit lebih terbuka dan sedikit lebih luas dibandingkan Curug Koja.

Keunikan Curug Cibakom selain bentuknya yang lebar, adalah areal sawah di sekitarnya, sehingga memberikan kesan yang sangat alami. Waktu yang diperlukan untuk tiba di Curug Cibakom dari jalur yang berbeda dengan ke Curug Koja sekitar lima belas menit pergi dan sekitar tiga puluh hingga empat puluh menit untuk kembali ke desa karena medannya berupa tanjakan. Curug Cibakom merupakan air terjun non permanen, sehingga pada musim kemarau akan kering total. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Cibakom adalah pada bulan Desember – Februari.

  1. Curug Ciruti
CURUG CIRUTI. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Ciruti berada di Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Curug Ciruti memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 25,16 m. Curug Ciruti memiliki nama lain, yaitu Curug Luhur. Curug Ciruti merupakan satu dari lima air terjun di Kabupaten Sukabumi yang juga memiliki nama lain ‘Curug Luhur’.

Nama Ciruti sendiri diambil dari nama dusun yang terletak tidak jauh dari lokasi air terjun ini. Kabarnya, air terjun ini dapat dilihat dari pinggir jalan di sekitar Dusun Ciruti. Akses masuk menuju air terjun ini sendiri lebih banyak yang mengambil dari Desa Cikangkung. Lokasi Curug Ciruti sebenarnya tidak terlalu jauh dari Curug Cigangsa di Surade, bahkan warga di sekitar Curug Cigangsa sudah banyak yang mengetahui keberadaan Curug Ciruti.

Ketika musim hujan, area untuk menikmati dan mengabadikan landscape di sekitar Curug Ciruti akan sangat terbatas, tetapi aliran jatuhannya akan memenuhi hampir semua dinding air terjun. Kekurangan lainnya adalah air sungainya akan berwarna cokelat. Bila musim kemarau, area untuk mengambil landscape Curug Ciruti akan cukup luas, tetapi aliran jatuhannya tidak akan menutupi dinding air terjun dan akan terlihat batuan dinding Curug Ciruti yang cukup menarik. Aliran sungainya pun akan berwarna sedikit jernih bila musim kemarau. Waktu berkunjung yang disarankan untuk ke Curug Ciruti adalah sekitar bulan April-Juli dan November-Maret (tergantung curah hujan).

  1. Curug Cirajeg
CURUG CIRAJEG. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Cirajeg berada di Dusun Cirajeg, Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Curug Cirajeg memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 25,45 m. Nama Cirajeg juga menjadi penamaan sebuah Sesar yang kemungkinan besar membentuk Curug Cirajeg, yaitu Sesar Cirajeg (Lag left slip fault).

Hal ini sedikit menjelaskan pembentukan Curug Cirajeg dan bentuk dinding air terjun Cirajeg yang jika dilihat dari jauh memiliki garis horizontal yang sedikit miring. Tidak ada kolam di bawah Curug Cirajeg, hal ini salah satunya menandakan bahwa batuan dinding Curug Cirajeg termasuk ke dalam jenis yang tahan terhadap erosi.

Curug Cirajeg termasuk ke dalam air terjun non permanen, sehingga pada musim kemarau, aliran jatuhannya akan kering total. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Cirajeg adalah pada akhir musim hujan. Sekitar Maret hingga April. Untuk mencapai Curug Cirajeg, diperlukan trekking melalui pematang sawah kurang lebih 15 menit.

  1. Curug Pareang
CURUG PAREANG. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Pareang berada di Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Curug Pareang memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 31,7 m. Curug Pareang merupakan air terjun yang berada pada kawasan karst di Kabupaten Sukabumi. Areal di sekitar Curug Pareang memang diperuntukkan untuk wisata, meskipun masih sebatas untuk wisata lokal.

Curug Pareang merupakan air terjun yang memiliki dinding air terjun cukup lebar dan landai, sehingga pengunjung dapat bermain tepat di bawah air terjun, bahkan ketika kering, pengunjung dapat sedikit memanjat hingga area yang sedikit datar di bagian atas, meskipun memang cukup beresiko. Curug Parenag belum memiliki kolam di bawah jatuhan airnya, meskipun demikian, ada beberapa bagian yang memiliki lubang yang cukup dalam. Selebihnya, bagian bawah dari aliran jatuhan Curug Pareang cukup landai dan datar.

Curug Pareang merupakan air terjun non permanen, sehingga pada musim kemarau aliran jatuhannya akan kering total. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Pareang adalah pada bulan Desember – Februari. Untuk mencapai Curug Pareang diperlukan trekking dengan waktu kurang lebih sepuluh menit dengan medan berupa turunan. Jalur treking merupakan jalan desa berupa makadam dan cukup licin ketika musim hujan. Kemiringannya pun cukup curam. Setiba di area Curug Pareang, sudah datar dan berupa jalan setapak biasa.

  1. Curug Cigangsa
CURUG CIGANGSA. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara adminsitratif, Curug Cigangsa berada di Desa Batusuhunan, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Curug Cigangsa memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 43,84 m. Curug Cigangsa memiliki nama lain, yaitu Curug Luhur. Curug Cigangsa menjadi salah satu dari setidaknya lima air terjun di Kabupaten Sukabumi yang memiliki nama lain ‘Curug Luhur’.

Nama Cigangsa sendiri sarat dengan sejarah dan budaya masyarakat Surade. Sungai Cigangsa merupakan aliran sungai hanyutnya Nyi Putri Suradewi yang merupakan putri dari Rd. Jagabaya yang menjadi Bupati Galuh Imbanagara dari tahun 1732 – 1751 Masehi. Nyi Putri Suradewi adalah adik dari Rd. Suranangga atau di daerah Surade lebih dikenal dengan nama Eyang Wirasantri Dalem Cigangsa.

Beliau adalah tokoh pendiri Surade dan yang menyebarkan ajaran agama Islam serta merupakan pejuang dalam mengusir penjajahan Belanda. Eyang Wirasantri Dalem Cigangsa ini dikenal juga dengan nama Eyang Gangsa. Suatu saat, ketika sedang dikejar oleh tentara Belanda, Eyang Gangsa berlari menuju Curug Luhur dan kemudian menghilang tanpa jejak. Sejak saat itulah, nama Curug Luhur diberi nama Curug Cigangsa, berasal dari nama Eyang Gangsa, tokoh pahlawan setempat.

Fasilitas yang dapat ditemui di objek wisata Curug Cigangsa sudah terbilang cukup baik. Terdapat areal parkir yang cukup luas, sarana kebersihan yang menunjang, warung, dan beberapa rumah penduduk. Akses menuju air terjun pun sudah baik, jalan setapak menuju air terjun menyusuri pematang sawah dan sudah di beton, diberi tangga serta pegangan tangga sampai tepat ke depan air terjun. Curug Cigangsa dapat dinikmati baik dari atas maupun dari bawah. Maksudnya adalah kita dapat berfoto di aliran sungai ketika berjalan menyusuri pematang sawah, kemudian kita juga dapat berfoto tepat di bawah aliran jatuhan Curug Cigangsa, pada musim kemarau.

Diperlukan waktu trekking kurang lebih lima belas hingga dua puluh menit hingga tiba di Curug Cigangsa. Curug Cigangsa merupakan air terjun non permanen, sehingga pada musim kemarau, aliran jatuhannya akan kering total. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Cigangsa adalah pada bulan November – April.

  1. Curug Dadali
CURUG DADALI. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administrarif, Curug Dadali berada di Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak – Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Curug Dadali memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 46,43 m. Aliran Curug Dadali bersumber dari Sungai Cibala. Sungai Cibala merupakan salah satu anak dari Sungai Cibuni yang nantinya bermuara di laut Selatan. Sungai Cibuni memiliki debit air yang cukup besar dan stabil pada musim kemarau. Hal ini menyebabkan Curug Dadali menjadi air terjun permanen. Artinya, pada saat musim kemarau, aliran Curug Dadali tidak akan mengering hanya mengalami penurunan volume jatuhan.

Area di sekitar Curug Dadali memang cukup sempit. Terdapat banyak bongkahan batu di bagian tengah aliran Ci Bala tepat di hadapan Curug Dadali. Pada kemarau, pengunjung dapat mencapai bongkahan-bongkahan batuan tersebut. Pada musim kemarau. Aliran Sungai Cibala dan Curug Dadali akan jauh lebih jernih. Pada musim hujan, aliran Sungai Cibala dan Curug Dadali akan berwarna sangat cokelat dan terdapat riam/jeram di sepanjang aliran Cibala. Pada musim hujan, akses pengunjung menuju bongkahan batu yang berada di tengah Sungai Cibala pun akan terendam air luapan dari aliran Ci Bala.

Pengunjung dapat mengunjungi Curug Dadali kapanpun karena merupakan air terjun permanen. Hanya tinggal menyesuaikan apakah ingin Curug Dadali dengan kondisi volume jatuhan terbesardan menutupi seluruh dinding air terjun dengan air yang cukup keruh atau Curug Dadali dengan kondisi volume jatuhan yang kecil dan tidak menutupi seluruh dinding air terjun dengan air yang lebih jernih. Diperlukan waktu trekking kurang lebih 45 menit menuju Curug Dadali. Namun, jika pembangunan jalan PLTA sudah selesai, akan cukup mengurangi waktu untuk trekking menuju Curug Dadali.

  1. Curug Wedus/Gedus
CURUG GEDUS/WEDUS. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Wedus berada di Kampung Bubuay, Desa Sepatnunggal, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Curug Wedus memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 58.09 m. Aliran Curug Wedus berasal dari aliran Sungai Cisodong. Curug Wedus merupakan air terjun semi permanen, artinya pada musim kemarau, alirannya tidak akan kering total. Aliran Curug Wedus pada musim kemarau akan mengalami penurunan debit yang cukup besar, namun tidak sampai kering total.

Perjalanan dari area parkir Curug Wedus hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu tempuh normal dari parkiran hingga area Curug Wedus kurang lebih 15 menit dengan jarak 200 m. Jalur treking akan melewati pematang sawah dan aliran Sungai Cisodong. Akan ditemui jembatan gantung yang kondisinya sudah tidak layak guna, namun masih bisa dijadikan sebagai lokasi untuk mengambil foto. Aliran Sungai Cisodong sudah pernah dibendung, namun kondisinya sudah tidak baik. Terbukti dengan adanya bekas reruntuhan dan longsoran pada bagian atas Curug Wedus.

Area di sekitar Curug Wedus sudah ditata dan sudah banyak warung. Disediakan pula pelampung, ban, ruangan ganti, dan sudah ada kursi-kursi yang terbuat dari bambu di area sekitar Curug Wedus. Aliran Curug Wedus sebelah kanan (bila menghadap air terjun) biasanya banyak digunakan oleh pengunjung sebagai lokasi berenang. Sisi kiri Curug Wedus (bila menghadap air terjun) lebih banyak digunakan pengunjung sebagai lokasi untuk bermain air saja. Hal ini dikarenakan aliran Curug Wedus di sisi kanan memiliki kolam cukup luas dan dalam, serta terpisah dari sistem sungai.

  1. Curug Caweni
CURUG CAWENI. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Caweni berada di Desa Cidolog, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Curug Caweni memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 59,11 m. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Caweni adalah pada puncak musim hujan. Hal ini disebabkan karena Curug Caweni yang merupakan air terjun non permanen dan rendahnya curah hujan di daerah ini.

Aliran Curug Caweni berasal dari Sungai Cidolog. Di sekitar Curug Caweni akan ditemukan banyak sekali bongkahan batu yang berjenis Breksi. Bongkahan tersebut sangat besar, sehingga menjadi pembatas alami area Curug Caweni dengan aliran saluran Sungai Cidolog. Di dekat Curug Caweni terdapat gua yang bernama Gua Kopeah.

Tepat di depan Curug Caweni akan ditemukan batu dengan ketinggian sekitar 7 m dan menyerupai bentuk seorang wanita. Nama Curug Caweni erat kaitannya dengan legenda di Kecamatan Cidolog. Legenda ini berkisah tentang seorang wanita bernama Nyi Caweni, namun, terdapat dua versi cerita yang beredar. Nama Caweni atau cawene dalam bahasa sunda berarti ‘randa bengsrat’.

 

  1. Curug Malela
CURUG MALELA. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Malela berada di Kp. Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Curug Malela memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 65,31 m. Aliran Curug Malela berasal dari lereng Utara Gunung Kendeng yang nantinya mengalir membentuk jaringan sungai Cidadap dan bermuara ke Cisokan yang menjadi batas geografis Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur. Curug Malela terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu. Curug malela berada pada aliran sungai yang mengalir dari Ciwidey melalui sungai Cidadap yang selanjutnya bermuara di Cisokan.

Curug Malela merupakan air terjun paling atas dari rangkaian tujuh air terjun sepanjang 1 km.  Urutannya adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir dan ditutup dengan Curug Pameungpeuk.

Curug Malela merupakan air terjun permanen, sehingga bila berkunjung pada musim kemarau pun masih tetap akan ada aliran jatuhannya meskipun cukup kecil. Waktu terbaik untuk mengunjungi Curug Malela yaitu pada akhir musim hujan. Hal ini untuk mendapatkan kesan Curug Malela yang mirip dengan air terjun Niagara.

Fasilitas yang ada di sekitar area Curug Malela diantaranya lahan parkir dengan beberapa warung kecil yang akan tutup menjelang sore, area camping dengan saung tanpa penerangan, dua buah toilet, serta jalan setapak tanah bagi pengguna motor trail ataupun ojek yang mengantar pengunjung lebih dekat menuju Curug Malela. Dari area warung hingga ke area Curug Malela diperlukan trekking kurang lebih lima belas menit.

  1. Curug Dengdeng
CURUG DENGDENG. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Secara administratif, Curug Dengdeng berada di perbatasan antara Dusun Sangkali, Desa Cogreg, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dengan Desa Tawang, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Curug Dengdeng memiliki lebar aliran jatuhan kurang lebih 72,19m. Aliran Curug Dengdeng berasal dari aliran Sungai Cikembang. Terdapat setidaknya tiga Curug Dengdeng di Kabupaten Tasikmalaya, salah satunya Curug Dengdeng yang berada di perbatasan Kecamatan Pancatengah dengan Kecamatan Cikatomas ini.

Curug Dengdeng merupakan air terjun yang cukup lebar dan teridri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama memiiki ketinggian 13 m, tingkatan kedua memiliki ketinggian 11 m, dan tingkatan ketiga memiliki ketinggian 9 m. Pada bagian teratas Curug Dengdeng, banyak ditemukan batuan berukuran bongkahan dan membentuk pothole berbagai ukuran, bahkan yang berdiameter cukup besar hingga menyerupai karang di pinggir pantai. Pothole terjadi karena adanya erosi vertikal pada aliran sungai pada batuan yang tidak terlalu tahan terhadap erosi air.

Sudah terdapat warung-warung dan jalur treking yang memadai bagi pengunjung menuju area Curug Dengdeng. Diperlukan waktu trekking kurang lebih dua puluh hingga empat puluh menit untuk sampai ke area Curug Dengdeng. Curug Dengdeng merupakan air terjun non permanen, sehingga pada saat kemarau aliran jatuhannya akan kering total. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Dengdeng adalah pada bulan Desember – Maret.

Selain sepuluh air terjun yang menyerupai air terjun Niagara versi mini di Jawa Barat tadi, adakah air terjun Niagara versi mini lainnya di Jawa Barat versi Sobat Travelnatic?

Sebarkan :
  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Leave a Reply