10 Jomblo Ini Nekat Daki Gunung Prau dan Keliling Dieng

10 Jomblo Ini Nekat Daki Gunung Prau dan Keliling Dieng

posted in: Experience | 0

Kenalin dulu nih 10 Pendaki Jomblo yang akan mendaki Gunung Prau via Patak Banteng, Wonosobo. Gak maksud promosi yah kalo kita jomblo. Kebetulan ajah pas trip ini kita emang gak punya pasangan. Hahahaha..

Elysa Rosita, keturunan dari tanah Sunda yang hobinya pelesiran dengan budget backpacker.  Pemakan segala yang halal kecuali kambing & alpukat. Kembaran dari Ely Rosnita.

Made Widhyasmara, tukang obat tangguh berbadan kekar, putih, dan cantik *eh. Dia lagi kangen nanjak, suka motret, peduli lingkungan , rajin berkerja dan peduli dengan hati wanita-wanita yang rapuh.

Komala Sari, anak kecil berumur 23 tahun yang suka ngemilin keju. Cukup pintar di dunia perpajakan, suka dimusuhin sama supervisornya di kantor karena rajin cabut kerja.

Nurain Tri Rahayu, ibu guru cantik nan imut yang kisah percintaannya sangat complicated, pinter masak, suka nyanyi lagu lawas. Biasa dipanggil “Emak” sama anak-anak yang lain karena pintarnya mengurus rumah tangga kita.

Anggi, gak jauh beda sama emak nurain yang kisah cintanya complicated karena perbedaan prinsip. Rajin bekerja, hobi curhat, cantik dan luguh.

Mira Septiana Sari, perawat asal Serang yang lahir di bulan September. Tinggi, kecil, imut, nyablak, sayang orang tua, dan banyak uang buat ikutan open trip.

Komang Ayu, keturunan asli dari Bali yang tinggal di Ciledug. Orangnya baik hati, lembut, penyabar banget apalagi kalo lagi di PHP-in laki-laki. Kalo dipancing sedikit curhat lagi curhat lagi.

Wahyu Hidayat, biasa dipanggil Komeng. Karyawan bank yang baru-baru ini ngancem orang kantornya karena gak dikasih cuti libur tambahan lebaran, baik hati dan tidak sombong apalagi sama wanita cantik. Eksis di media sosial dengan foto & video selfie-nya.

Abdul Hafidz, si Bejo yang gayungnya gak di sambut sama gebetannya udah setaun ini. Sukses membeli tiket nonton AS Roma yang mahal itu (pake kelas VIP katanya) di GBK setelah menunggu selama 15 tahun. Care sama temen-temennya, Alhamdulillah udah insyaf jadi anak baik.

Tommy, anak rimba yang udah punya banyak pengalaman dengan ketinggian, pernah hilang di Blank 75 Mahameru selama dua hari dua malam lima tahun yang lalu, motto hidupnya itu sabar dan ikhlas. Sesuai dengan motto hidupnya, di tetep sabar dan ikhlas walaupun diputusin sama tunangannya.

Berangkat ke Gunung Prau

Setelah kereta api Fajar Utama Yogya tiba di stasiun Purwokerto, kami menyewa angkot ke Terminal Mendolo karena kita sudah janjian dengan Pak Said untuk dijemput di sana. Pengalaman nggak enak dimulai, dari curangnya supir angkot yang membawa kita ke Terminal Sawangan bukan Terminal Mendolo, yang ternyata masih butuh 12 km lagi ke Mendolo dari Sawangan. Padahal dari awal udah dikasih tau kalau kami mau ke Terminal Mendolo. Kami mencoba menelepon Pak Said beberapa kali dan gagal, handphonenya gak aktif. Dengan hati kesal kami mencari solusi lain yaitu dengan pergi ke perempatan dimana bus yang menuju Dieng biasa ngetem. Di dalam angkot selama perjalanan si supir menawari mengantar ke Dieng langsung, dengan nego saklek. Akhirnya kami setuju diantar sampai ke basecamp Patak Banteng dengan angkot. Pukul 18.30 kami sudah sampai di TKP. Hawa dingin mulai terasa apalagi setelah ambil air wudhu. Brrrrrrrrrrrr…

Kami beristirahat di rumah Pak Said, beliau juga menjelaskan kenapa tidak menjemput kami di terminal tadi, ternyata beliau terjebak macet di Dieng dan handphonenya mati total. Pukul 20.30 pendakian dimulai, sebelumnya kami melakukan registrasi di pos pendakian dan membayar SIMAKSI sebesar Rp 10.000,-. Malam itu langit cukup cerah dengan bintang dan bulan yang terang. Banyak pendaki saat itu, katanya sudah 500-an pendaki yang naik. Kami sempat beristirahat cukup lama di Pos 1. Karena saking dinginnya, kami memutuskan membuka perbekalan untuk sekedar membuat susu hangat dan kopi. Pukul 22.00 kami melanjutkan perjalanan, mungkin karena musim kemarau jalur pendakian sangat berdebu, disarankan untuk menggunakan masker yah. Dari Pos 2 sampai Pos 3 trek-nya berupa tanjakan, terlihat dari kejauhan lampu-lampu yang indah dari atas. Kami sangat menikmati perjalanan ini. Tim yang solid dan cuaca yang mendukung menambah semangat kami untuk sampai di puncak. Kami sempat berkeinginan mendirikan tenda di setiap pos, ini disebabkan kondisi beberapa teman kami yang kurang sehat dan tidak ingin memaksakan keadaan. Tapi Alhamdulillah, kami semua berhasil sampai di puncak dengan memakan waktu lima jam.

Setibanya di camp area kami langsung membagi tugas, yang cowok mulai mendirikan tenda, dan yang cewek mulai memasak. Menu makan malam ini adalah ayam goreng. Emhhh serasa nikmat banget. Perlahan kami semua mulai tertidur, lalu terbangun karena ramainya suara di luar. Menjelang subuh, pendaki lain mulai berkumpul di satu titik, mereka mulai bersaut-sautan menunggu sang surya terbit. INDAH ! yang saya lihat waktu itu, seperti diatas awan. Pantas kawasan Dieng terkenal dengan sebutan Negeri di Atas Awan. Dari kejauhan terlihat gunung Sindoro, Sumbing, Slamet, dan beberapa gunung lain berjajar rapi dengan di kelilingi awan dan garisan sinar mentari yang berwarna indah menyempurnakan pagi itu. Pemandangan ini tidak terlalu lama terlihat,karena sang surya semakin tinggi menghangatkan tubuh kami yang dari semalam sudah kedinginan. Kami mulai mempersiapkan makan pagi, menunya sup makaroni, sup krim jagung, nasi goreng crab, nugget dan sosis goreng.

Pukul 09.00 pagi kami sudah merapikan tenda lalu bersiap turun. Ketika itu baru terlihat pemandangan selama pendakian itu sungguh indah. Dari kejauhan terlihat ada Telaga Warna dan perkebunan penduduk. Karena jalur pendakian diapit oleh jurang, jadi kami harus antri dengan para pendaki lain. Bagi pemula seperti kami jalur pendakian Prau cukup membantu, jalurnya kebanyakan sudah dibuat seperti tangga. Tidak butuh waktu yang lama untuk turun ke basecamp. Kami tiba di bawah bertepatan dengan waktu dzuhur. Di basecamp Pak Said, kami istirahat, shalat, mandi, makan siang dan tidak lupa para jomblowati  ber-touch up ria. Setelah ini agenda selanjutnya adalah keliling Dieng, makanya kami yang wanita-wanita perlu touch up agar terlihat lebih segar hahahaha.

Tempat Wisata di Dieng yang Asyik di Kunjungi Setelah Mendaki Gunung Prau

Danau Dringo, biasa terkenal dengan Ranu Kumbolonya Dieng. Danau ini terletak dekat dengan Kawah Candradimuka. Di sini merupakan salah satu referensi lain untuk mendirikan tenda selain Telaga Cebong dekat Bukit Sikunir. Harga tiket masuknya sendiri

Kawah Candradimuka. Kawah yang kecil ini menyimpan cerita bahwa dulu Gatotkaca pernah dimasukkan kedalam kawah sehingga memiliki kesaktian.

Batu Pandang Dieng atau Batu Ratapan Angin. Dari tempat parkir hanya butuh sekitar 50 meter trekking, dari atas batu ini bisa dilihat pemandangan dua telaga yaitu Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Dieng Plateau Theater. Sekitar 100 meter dari lokasi wisata Batu Pandang. Di sini kami menonton film dokumenter berjudul “Bumi Kahyangan Dieng Plateau” yang menceritakan tentang keindahan alam dan sejarah terbentuknya kawasan Dieng Plateau. Film ini berdurasi 20 menit dengan kapasitas 100 kursi.

Candi Arjuna. Candi ini merupakan kompleks candi Hindu. Candi yang berada dikompleks ini antara lain : Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Dan Candi Sembadra.

Sebetulnya masih banyak lagi destinasi wisata di Kawasan Dieng Plateau, tapi karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan jadi kami kami hanya beberapa saja yang kami kunjungi. Selain itu kami juga mencicipi kuliner Mie Ongklok yang berisi campuran mie dengan potongan daun kucai dan disiram dengan kuah kental berkanji, biasanya dinikmati dengan sate sapi. Kami juga mencicipi manisan carica, manisan ini terbuat dari buah carica asli dataran tinggi dieng. Kalau kesini jangan lupa bawa jaket tebal, siang ajah dinginnya luar biasa apalagi malam. Yaaaa gak jauh beda dengan dinginnya Bromo.

Banyak sekali cerita ketika menikmati trip ini dengan para jombloers Prau, mulai dari curhat-curhatan, masak bareng, dan yang pasti kekompakan yang selalu terjaga selama perjalanan. Semoga silahturahmi tetap terjaga yah gengs! [Elysa Rosita/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

Sebarkan :
  • 196
  • 172
  • 143
  •  
  •  
  •  
    511
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

Komentar anda?