8 Hari di Flores

8 Hari di Flores

posted in: Experience | 0

Dengan mengandalkan tanggal merah dipertengahan Mei, kami dari Petualang 24 mulai merancang perjalanan panjang ke tanah Flores. Tujuan utamanya adalah Pulau Komodo, Desa Wae Rebo dan Danau Kelimutu. Tiket dan akomodasi sudah kami siapkan jauh-jauh hari, sampai tiba di hari-H kami akhirnya tiba di Bandara Praya Lombok. Ternyata, tidak hanya tiga tujuan utama itu kami dapatkan! Banyak cerita seru menanti kami!

Yessssss !!!!

Ini yang kami tunggu loh, dari bandara perjalanan dilanjutkan dengan Damri ke perempatan Masbagik lalu lanjut lagi dengan engkel atau angkot ke Pelabuhan Kayangan Lombok. Dari Pelabuhan Kayangan menyebrang ke Pelabuhan Potatano, di pelabuhan kami mencari bus ke Terminal Bima dan akhirnya dapat bus PO. Rasa Sayang. Di Terminal Bima masih harus dilanjutkan dengan mini bus ke Pelabuhan Sape. Terakhir menyebrang ke Pelabuhan Labuan Bajo dengan ferry. Sampaiiiiiii di Flores!!! Total perjalanan Jakarta-Flores dua hari satu malam.

 

Setibanya di Labuan Bajo kami dijemput oleh Bapak Tua, driver yang akan kami sewa mobilnya. Sebetulnya kami sudah menyewa mobil Pak Tono tapi karena beliau ada kerjaan lain maka kami dikenalkan dengan temannya. Di Labuan Bajo kami menginap di rumah keluarga Pak Tono, ah baik banget Pak Tono dan keluarganya, sudah menjamu kami dengan luar biasa.

Selasa pagi, kami sudah bersiap untuk sailing Komodo. Dipandu oleh Bapak Kapten Mukhlis kami mengarungi lautan Flores. Masya allah indah bangeeeeeeet! Setiap pulau dan daerah yang pernah kami kunjungi memiliki daya tarik yang berbeda-beda. One day trip kali ini akan mengunjungi Pulau Komodo, Pink Beach, Manta Point, Kanawa Island Resort, dan Pulau Kelor. Harga tiket masuk (HTM) Pulau Komodo sendiri sebesar Rp 80.000 untuk WNI.

Di Pulau Komodo kita akan trekking untuk melihat tingkah laku Komodo dan hewan lainnya seperti burung dan ular yang hidup di Taman Nasional Komodo. Ada tiga jenis trekking disini mulai dari yang short 45 menit, medium satu jam, dan long dua jam. Kami beruntung dapat melihat dua komodo disana. Hati-hati sifat Komodo itu tidak dapat ditebak. Bisa saja dia terlihat diam tapi tiba-tiba bisa agresif.

Selesai trekking yang ditemani ranger, kapal kami berlayar menuju Pink Beach, time to snorkeling ! susah bagaimana menggambarkannya, pokonya harus coba datang sendiri. Pasir putih bercampur warna pink yang halus, keindahan taman laut, ikan yang berenang bebas sangat sangat memanjakan mata. Bisa juga melihat keindahan Pink Beach dari atas bukit dengan hanya trekking 15 menit. Selesai trekking kami lanjutkan ke spot Manta Point. Sayang ombaknya tinggi jadi gak berani untuk turun. Kapal mulai berlayar lagi ke Kanawa Island Resort. Salah satu taman laut terbaik menurut kami. Tidak jauh dari pinggir pantai sudah bisa melihat keanekaragaman ikan dan karang-karang yang indah. Disini bisa menginap karena disediakan resort, bisa cek disini rate kamar dan fasilitasnya : http://kanawaislandresort.com.

Waktu gak berasa sudah sore, kami harus cepat-cepat ke Pulau Kelor untuk hunting sunset, yak! kami beruntung cuaca bagus dan kami bisa melihat indahnya sunset dari ketinggian pulau kelor. Yuhuuuuuuuu….!

 

Bintang mulai terlihat di Labuan Bajo, belum pernah kami lihat bintang seindah malam itu. Kami kembali ke rumah Pak Tono, setelah menyantap makan malam kami pun berisitirahat. Pukul satu dini hari kami sudah bangun dan melanjutkan perjalanan ke Desa Denge, desa terdekat untuk trekking ke Wae Rebo. Setelah menyusuri hutan selama delapan jam akhirnya kami tiba di Desa Denge.

Rabu pagi kami sarapan di tempat Pak Blasius, penginapan ini paling terkenal. Biaya sarapan dengan nasi, mie goreng, telur Rp 35.000,- per orang. Teh manis atau kopi Rp 5.000,. Dengan ditemani Pak Tono kami mulai trekking ke Desa Wae Rebo. Jika menyusuri trek yang sudah ada akan menghabiskan waktu kurang lebih empat jam. Waktu itu kami mencari jalan pintas jadi hanya membutuhkan waktu 2,5 jam dengan panjang trek 10 kilometer.

Setibanya di pintu masuk desa, Pak Tono membunyikan lonceng pertanda bahwa ada tamu datang. Lalu kami dibawa ke rumah kepala suku untuk permisi bahwa kami ingin berkunjung disini. Biayanya untuk kepala suku yaitu Rp 50.000 per rombongan. Setalah itu kami pindah ke rumah untuk tamu, disana kami harus mengisi buku tamu dan membayar biaya administrasi sebesar Rp 200.000 per orang. Kami juga disediakan makan siang berupa kentang goreng yang dihaluskan dan sayur labuh. Kami tidak menginap, pukul tiga sore kami meninggalkan Desa Wae Rebo. Terima kasih kehangatan anak-anak Wae Rebo 🙂

Selesai mandi dan shalat maghrib, mobil kami mulai meninggalkan Desa Denge. Tadinya kami ingin langsung ke Desa Moni di Ende. Tapi karena satu dan lain hal kami memutuskan menginap di Ruteng selama satu malam. Ruteng beda dengan Bajo yang panas. Begitu buka pintu kamar pemandangan bukit dan sawah yang indah membuat hati kami takjub. Maaf yah Ruteng kami tidak bisa berlama-lama disini.

Kamis pagi perjalanan dilanjutkan ke Ende dengan melewati Bajawa. Lagi-lagi gak sesuai prediksi, harusnya kami di Desa Moni pukul empat sore, tapi ini pukul tujuh malam baru sampai. Manusia memang hanya bisa berencana yah. Di Desa Moni kami menginap di Penginapan Hidayah. Dibantu oleh Christo kami dapatkan kamar seharga Rp 250.000 per malam. Kamarnya bersih, gak ada tv, yang unik kamar mandinya gak pakai pintu hihihi…!

Untuk bisa ke Danau Kelimutu, di Desa Moni ada komunitas ojek yang akan membantu . Biayanya Rp 100.000 per orang untuk transportasi PP atau kalau mau sewa motor sendiri Rp 100.000 per hari diluar bensin. Christo juga menawarkan sewaan mobil untuk sampai ke Maumere juga, tujuan kami selanjutnya setelah dari Danau Kelimutu. Setelah nego cukup alot akhirnya kami deal besok pagi diantar dengan mobil sewaan ke Danau Kelimutu hingga ke penginapan di Maumere.

Jumat pagi, pukul empat pagi setelah shalat subuh, kami berangkat ke Danau Kelimutu. Dari parkir mobil hanya butuh setengah jam trekking dengan trek yang sudah ada. Kali ini kami kurang beruntung, matahari pagi malu-malu untuk keluar. Cukuplah dengan danau tiga warna kami bernarsis ria. Harus tetap bersyukur yah…Kabut datang dan pergi tapi kami tetap setia menunggu munculnya sang mentari. Eh gak datang juga yaudah kami pulang.

 

Diperjalanan pulang kami ketemu Om Frans dan keluarga, mereka datang dari Jakarta juga. Mereka mengajak kami bergabung dengan keluarganya. Kebetulan mereka juga mau ke Maumere siang ini. Sempat bingung karena kami sudah deal dengan driver yang kami sewa tadi pagi. Sementara Om frans begitu baik dengan tawarannya. Akhirnya kami setuju untuk bergabung. Kami mengambil keril di penginapan. Sebelum ke Maumere, kami diajak ke tempat leluhur keluarga Om Frans, disana mereka ingin bakar lilin untuk penghormatan kedatangan mereka.

Tidak lama kami disana, mobil yang kami tumpangi mulai menuju Maumere. Kami mampir di Pantai Koka. Pantainya masih sepi. Di Pantai Koka kami menikmati suasana pantai dengan membakar ikan. Uniknya, pengganti nasinya yaitu pisang yang dibakar. Wiiiiiih ikan dari laut Flores gurih sekali, jadi ingat Ujung Kulon kemarin hehehe… 🙂

Mau berenang di Pantai Koka bisa juga sih, tapi hati-hati ombaknya lumayan tinggi. Disini ada dua pantai yang diapit dengan bukit. Pokoknya keren. Gak jauh dari Pantai Koka ada juga Pantai Paga. Bedanya dengna pantai Koka, Pantai Paga ini berpasir hitam dan disana ada patung Yesus di atas bukit.

Begitu malam datang kami sudah berada di Maumere. Kami menginap di Hotel El Tari di depan Kantor Bupati Maumere. Tarif kamarnya untuk twin bed Rp 200.000 per malam dan double bed Rp 150.000 per malam. Fasilitas kamar : TV, AC, Breakfast. Selamat malam Maumere kami istirahat dulu yah…

Sabtu pagi, perjalanan masih dilanjutkan ke Bukit Nilo. Bukit Nilo merupakan salah satu wisata religi umat Kristiani. Disini ada patung Bunda Maria segala bangsa. Gak ada biaya masuk hanya mengisi buku tamu. Kami hanya berfoto disana, lalu pergi menjemput keluarga Om Frans yang menginap di sekolah pastur. Bapak pastur baik banget sama kami, biarpun kami berbeda tapi beliau sangat welcome dan menghargai kami. Kami sempat juga ditawarkan untuk makan siang di tempatnya.

Kami langsung menuju Nelle. Disini kami menemani keluarga Om Frans untuk berwisata religi di Gereja yang baru dibangun. Kebanyakan gereja di Maumere berada di atas bukit. Kami pun akhirnya harus berpisah karena keluarga Om Frans harus ke Kupang sore ini sementara kami kembali ke Maumere. Kali ini kami menginap di Sylvia Hotel, katanya sih hotel terbaik di kota Maumere. Beruntung kami dapat harga promo hihihihi…! Fasilitasnya : TV, AC, Bathub, kolam renang, dan breakfast.

Sorenya kami dijemput oleh Pak Poli, driver kami di Maumere ke Kajuwulu untuk hunting sunset. Butuh waktu sekitar 45 menit dari Kota Maumere. Dengan naik ke atas bukit akan terlihat indahnya Kota Maumere. Sunset begitu cepat berlalu dan kami pun kembali ke hotel. Selamat istirahat kembali Maumere.

Minggu pagi, ini hari terkahir kami di Flores. Pesawat yang akan kami tumpangi akan take off pukul 11.15. Berat rasanya harus meninggalkan Flores dan begitu banyak cerita didalamnya. Buat kami, gak perlu mewah cukup dengan cara yang sederhana kami bisa mensyukuri ciptaan-Nya. Terima kasih flores, terima kasih petualang 24.. see you next trip. [Elysa Rosita/End]

Editor : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    429
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

Komentar Pembaca