Ada Apa sih di Majalengka?

Ada Apa sih di Majalengka?

posted in: Destination | 0

Rencana traveling ke luar Pulau Jawa long weekend Mei kali ini lagi-lagi tidak terlakasana. Sebagai gantinya, saya dan teman saya, Aria memutuskan untuk kembali ke Majalengka. Kali ini, kami hanya akan mengunjungi beberapa tempat yang memang sudah cukup lama kami cari. Situ Cikuda menjadi tujuan utama kami. Berhubung hari ini adalah hari pertama libur panjang selama empat hari, kami memutuskan untuk berangkat dari Bandung lebih pagi.

Harapan untuk bebas dari macet pun kandas. Pukul 06.00 WIB kami sudah tertahan oleh macet di Cileunyi. Kendaraan dari arah Tol Cileunyi yang akan menuju Timur, sudah sangat padat. Jalur yang kami pilih menuju Majalengka yaitu melalui Nagreg – Malangbong – Ciamis dan naik ke Kawali. Jalur Utara (Sumedang – Kadipaten – Majalengka) sengaja kami hindari karena pasti akan lebih banyak truk di jalur tersebut. Jika biasanya kemacetan akan mulai terurai di Nagreg, tidak untuk kali ini.

Memasuki Limbangan, antrian kendaraan ke arah Timur benar-benar tidak putus. Bahkan, mendekati Pasar Limbangan kendaraan sama sekali tidak bergerak. Dari arah Timur, arus lalu lintas masih cukup lancar. Kami sempat berhenti di SPBU untuk isi bahan bakar. Menurut petugas SPBU, sudah sejak jam 05.00 WIB kendaraan sudah padat. Kalau begini caranya, jalur utama ke arah Timur sudah dapat dipastikan akan seperti ini terus.

Kami pun memutuskan untuk mengambil jalur Cibugel – Wado. Niat awal kami memang mengunjungi Situ Wangi di Kawali, Situ Cikuda di Majalengka, lalu ke Situ Cibubuhan di Panjalu sekalian pulang kembali ke Bandung. Berhubung jalur yang akan kami lewati berubah, tujuan kami pun berubah. Kami berdua belum pernah lewat jalur Cibugel, jadi anggap saja sekalian coba-coba jalur baru.

Tepat setelah Pasar Limbangan, kami belok ke arah Selaawi. Lalu lintas cukup padat, jalan pun menyempit. Setidaknya, kami tidak harus ikut bermacet-macetan jika lewat jalur ini. Semakin lama, jalan semakin menanjak dan kondisinya semakin jelek. Banyak lubang besar dan dalam yang harus kami hindari. Arus lalu lintas semakin sepi. Hanya sesekali kami melewati pusat keramaian. Selebihnya, sisi kiri dan kanan kami hanya lahan sawah dan kebun.

Pemandangan di jalur ini langsung mengarah ke Gunung Cakrabuana serta perbukitan di sekitar Garut. Cuaca cukup cerah, sehingga pemandangan kami tidak terhalang kabut. Cukup menyegarkan mata yang sedari tadi perih terkena asap knalpot mobil dan bus. Jalan yang kami lewati semakin menuju puncak bukit. Pemandangan kembali tertutup pepohonan dan rumah-rumah warga. Jalur yang monoton serta kondisi jalan yang kurang bagus, sukses membuat saya mengantuk.

Ketika jalan saya rasa sudah berada di titik tertinggi di bukit yang kami lalui, pemandangan kembali terbuka. Kali ini pemadangan perbukitan dan Waduk Jatigede di sisi kiri jalan menjadi penawar rasa kantuk. Meskipun jarak Waduk Jatigede masih cukup jauh dari lokasi kami, tapi area yang terlihat cukup luas. Kenampakan Waduk Jatigede yang kami lihat kemungkinan besar merupakan sisi Selatan genangan. Kami pun berhenti sejenak.

Meskipun lokasi ini pemandangannya cukup bagus, tetapi tidak banyak warung di sepanjang jalan. Saat itu, hanya ada dua warung yang baru buka dan hanya ada kami berdua pengguna jalan di pagi ini. Tidak berlama-lama, kami pun melanjutkan perjalanan. Lokasi kami melihat Waduk Jatigede ini berada di Desa Cipasang, Kecamatan CIbugel, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tidak jauh dari lokasi kami berhenti, pemandangan kembali tertutup area perkebunan. Kondisi jalan cukup bagus dan sangat sepi.

Jalan yang kami lalui kembali menuruni bukit hingga bertemu dengan jalur Wado – Situraja. Jalur yang kami ambil adalah yang menuju Terminal Wado. Setelah melewati Terminal Wado, kami berhenti lagi untuk membeli cemilan. Tujuan pertama kami setelah merubah jalur adalah Curug Kapakuda. Sebenarnya, saya tidak terlalu semangat untuk ke Curug Kapakuda, karena sedang malas trekking. Berhubung sudah terlanjur lewat jalur ini dan mungkin entah kapan lagi kembali ke daerah sini, jadi sekalian saja kami datangi.

Patokan menuju Curug Kapakuda sudah saya dapat sebelumnya, tetapi pada kenyataannya, tetap saja kami nyasar. Setelah berhasil menemukan jalan ke Curug Kapakuda, kami mencari tempat untuk memarkirkan motor. Belum ada area parkir dan penunjuk jalan. Kami menitipkan motor kami di sebuah rumah tidak jauh dari jalur treking. Setelah meminta ijin pemilik rumah tentunya. Menurut ibu pemilik rumah, untuk menuju Curug Kapakuda hanya diperlukan waktu liam belas menit berjalan kaki. Bahkan, lima belas menit menurut ibu ini pun sudah terlalu lama. Jalurnya pun tidak ribet. Cukup ikuti saluran irigasi dan melewati pematang sawah.

Curug Kapakuda atau memiliki nama lain Curug Citerus, merupakan air terjun non permanen. Airnya hanya akan ada ketika musim hujan, sedangkan musim kemarau akan kering total. Curug Kapakuda/Curug Citerus berada di Desa Sadawangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Untuk menuju area Curug Kapakuda memang gampang-gampang susah. Kami harus mencari sendiri pematang sawah mana yang mengarah ke lokasi Curug Kapakuda. Area sawah sangat luas, bahkan ada yang sampai ke bukit sebelah Curug Kapkuda. Pematang sawah saat kami lewati kondisinya masih basah dan sangat sempit. Sebisa mungkin kami menjaga keseimbangan agar tidak tercebur ke sawah. Tepat lima belas menit kami sampai di Curug Kapakuda. Siapa sangka, kami bertemu Adi, teman kami yang berasal dari Majalengka.

Menurut info dari warga, sekitar dua hari yang lalu Curug Kapakuda ini longsor. Pantas saja banyak berserakan batang-batang pohon bambu (karena di bagian atas Curug Kapakuda banyak pohon bambu). Selain itu, batu besar yang ada di tengah-tengah tingkatan kedua sudah tidak ada. Jatuh terbawa longsor. Area di sekitar Curug Kapakuda memang sempit. Jurang cukup dalam langsung terlihat dari lokasi kami berdiri saat ini.

Saya dan Aria sepakat untuk tujan berikutnya, kami ikut Adi dan temannya ke Jembatan Merah di Bantarujeg. Jalur yang kami lalui menuju Jembatan Merah dari Curug Kapakuda adalah yang melewati Desa Gununglarang. Kami sempat berhenti di Curug Gununglarang. Curug Gununglarang ini terlihat dari pinggir jalan. Untuk melihat Curug Gununglarang lebih jelas, pengunjung harus trekking dulu kurang lebih sepuluh menit. Kami tidak mampir, karena ingin segera sampai di Jembatan Merah.

Jembatan Merah sebenarnya hanya sebutan populer saja. Dinamakan Jembatan Merah karena memang seluruh jembatan ini di cat merah. Sebelumnya, jembatan ini seluruhnya di cat kuning. Nama yang tertera pada papan informasi adalah Jembatan Gununglarang. Jembatan Merah/Jembatan Gununglarang merupakan jembatan gantung yang melintang di atas aliran Ci Lutung yang saat ini sedang surut. Jembatan Merah merupakan salah satu jalur lintas antar desa dan juga jalur terdekat menuju kota Kecamatan Bantarujeg, sehingga cukup ramai dilalui. Siang ini, ketika kami tiba, sudah banyak warga yang juga berfoto di Jembatan Merah. Beberapa warga lainnya lalu-lalang mengangkut hasil panen.

Pukul 15.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan. Adi dan temannya memutuskan untuk kembali ke Majalengka, sedangkan saya dan Aria akan mengambil jalur menuju Waduk Darma. Kami pun pisah disini. Situ Cikuda yang menjadi tujuan awal, akhirnya batal kami kunjungi karena jalurnya akan menjadi sangat memutar. Jalan dari Cikijing hingga Waduk Darma masih dalam perbaikan. Beberapa bulan yang lalu, jalur Cikijing – Waduk Darma terputus akibat longsor. Ketika kami melintas, jalur untuk motor dan mobil dibedakan karena masih dalam perbaikan.

Kami disambut kabut tebal dan gerimis setibanya di Waduk Darma. Jalan menuju Waduk Darma ditutup. Apa mungkin kami salah jalan, atau memang sedang ditutup. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Cikijing. Kami mengambil jalur yang berbeda untuk kembali ke Cikijing. Kali ini kami lewat jalur mobil. Jalur mobil diarahkan menuju Desa Cipulus. Dibandingkan dengan jalan raya utama Cikijing  -Darma, jalur melalui Desa Cipulus jauh lebih sempit dan lebih curam.

Awalnya, jalan melewati permukiman padat. Banyak sekali percabangan. Sudah ada petunjuk menuju Cikijing di setiap persimpangan. Setelah jalan menanjak terus menerus, akhirnya kami tiba di lokasi tertinggi pada jalur ini. Pemandangan menjadi sangat terbuka. Areal di puncak bukit ini didominasi oleh ladang, sehingga tidak ada pepohonan tinggi yang menghalangi. Jarak pandang sangat luas, bahkan Waduk Darma pun akan terlihat jelas di jalur ini. Sayang, ketika kami tiba di puncak bukit, kabut tebal sudah menutupi pemandangan di bawah kami.

Jalan kembali menurun dan kembali melewati area permukiman padat. Semenjak masuk jalur Cipulus dari arah Darma hingga keluar di Cikijing, hampir di tiap persimpangan ada warga yang menjaga sekaligus meminta sumbangan. Kalau dihitung-hitung, sepanjang jalur Darma – Cipulus – Cikijing ini pengendara mobil bisa mengeluarkan uang sekitar Lima puluh ribu Rupiah. Setiba di Cikijing, kami berhenti untuk makan sore.

Setelah makan dan beristirahat, jalur kami berikutnya merupakan jalur pulang. Masih ada dua tempat yang rencananya akan kami singgahi. Situ Cibubuhan dan Situ Wangi. Kami memutuskan untuk mengambil jalur Cingambul – Panawangan – Kawali. Di Kawali, kami rencana singgah di Situ Wangi, baru setelah itu kami akan singgah di Situ Cibubuhan. Kondisi jalan Cingambul – Panawangan – Kawali yang cukup baik, berkelok-kelok dan sepi menjadi kesempatan kami memacu motor sedikit kencang agar tidak ngantuk.

Saking asiknya mengendarai motor, belokan menuju Situ Wangi terlewat. Kami baru sadar ketika kami tiba di persimpangan Kawali – Panjalu. Karena sudah terlewat, kami memilih untuk mengunjungi Situ Cibubuhan. Ternyata, jarak ke Situ Cibubuhan lebih jauh dan lebih memutar dibandingkan ke Situ Wangi. Lagipula lokasi Situ Cibubuhan berada tepat di pinggir jalan raya. Setidaknya tidak akan terlalu susah mencari jalan masuk seperti ke Situ Wangi. Kami pun putar arah lagi menuju Situ Wangi.

Bila datang dari arah Ciamis dan Kawali, gapura dbertuliskan Situ Wangi akan jelas terlihat. Jalan masuk menuju Situ Wangi benar-benar berada di tikungan yang cukup patah. Bila datang dari arah Panawangan, memang tidak akan terlihat dan cukup sulit jika langsung berbelok ke jalan menuju Situ Wangi. Kondisi jalan menuju Situ Wangi sudah bagus. Gerbang masuk Situ Wangi tidak terlalu jauh dari jalan raya. Kami hayna berkendara kurang dari lima menit dari jalan raya hingga tiba di parkiran Situ Wangi.

Situ Wangi terletak di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Area di sekitar Situ Wangi cukup luas dan sangat dekat dengan permukiman penduduk. Sayang, ketika kami tiba, hari sudah mulai gelap. Saya memanfaatkan sisa-sisa cahaya matahari yang ada untuk mengabadikan suasana di sekitar Situ Wangi. Sementara Aria terlihat sibuk mengobrol dengan warga. Tidak banyak informasi yang kami dapat sore ini berhubung kami harus bergegas kembali ke Bandung.

Jalur pulang yang kami pilih adalah yang melalui Panjalu. Patokan pertama kami adalah Situ Lengkong di Panjalu. Kondisi jalan sepanjang Situ Wangi hingga Situ Lengkong sangat sepi. Aspal yang sudah mengelupas dan beberapa lubang dalam harus kami hindari. Jalur Kawali – Panjalu banyak melewati area kebun dan hutan, sehingga sangat minim penerangan. Jalur ini masih menyusuri perbukitan. Kami melewati Curug Tujuh yang sayangnya tidak dapat kami datangi karena sudah gelap.

Kami tiba di Situ Lengkong. Area parkiran Situ Lengkong pukul 19.00 WIB masih sangat ramai, bahkan banyak bus-bus pariwisata berukuran besar di area parkir. Setelah Situ Lengkong, patokan kami berikutnya adalah persimpangan Pondok Pesantren Suryalaya. Di persimpangan ini, sebenarnya kami bisa turun menuju Cihaurbeuti dan bertemu Jalan Nasional. Berhubung kami belum pernah lewat jalur tengah, jadi kami memutuskan untuk mengambil jalur ke arah Pagerageung dan tembus di Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya. Mengenai kondisi jalan di depan, sebenarnya kami khawatir jika ternyata jalan di depan kami makadam dan jauh dari permukiman penduduk. Karena  rasa penasaran kami lebih besar, jadinya kami tetap melaju menuju Pagerageung.

Pagerageung merupakan nama Kecamatan sekaligus perbatasan antara Kabupaten Ciamis – Kabupaten Tasikmalaya – Kabupaten Majalengka. Ternyata kondisi jalan sepanjang Pagerageung hingga Ciawi cukup ramai meksipun jalannya lebih jelek dibanding sebelumnya. Perjalanan kami cukup lancar. Sebaliknya, kendaraan dari arah Barat menuju Timur masih tidak terputus. Kami terkena macet cukup parah ketika memasuki Limbangan. Kemacetan baru terurai ketika memasuki Lingkar Nagreg. Perjalanan berikutnya menuju Bandung cukup lancar. Kami masuk Bandung sekitar pukul 21.00 WIB. [Dya Iganov/End]

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    937
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar Pembaca