Africa Van Java

posted in: Destination | 0

Indonesia memang begitu terkenal dengan pesona alamnya yang begitu mempesona. Bentang alam yang luas membentang dari ujung Sabang hingga Merauke. Bahkan menurutku Indonesia merupakan miniatur bentang alam yang ada di dunia karena hampir semua gambaran bentang alam yang ada di dunia terdapat di Indonesia. Salah satunya adalah Taman Nasional Baluran (TN Baluran) yang terletak di perbatasan Situbondo – Banyuwangi, Jawa Timur. Taman nasional ini sangat mirip dengan padang savana yang terdapat di Afrika, sehingga taman nasional ini dijuluki sebagai Africa Van Java. Ini adalah kali pertama ku mengunjungi Taman Nasional Baluran. Selama ini aku hanya melihat di TV tentang keindahan Africa Van Java yang membuatku semakin penasaran.

Libur kuliah pun tiba. Akupun memutuskan untuk berlibur ke TN Baluran dan Bali. Kali ini aku mengajak satu teman karibku, Tika. Awalnya Tika sempat ragu dan ada sedikit rasa takut karena tidak ada laki – laki yang bisa melindungi kami selama diperjalanan. Tetapi aku meyakinkan Tika untuk tetap percaya diri walaupun hanya travelling berdua tanpa ada teman laki – laki. Akhirnya Tika pun setuju.

Perjalanan pun dimulai. Kami memilih menggunakan bus dari Jogja ke Surabaya. Namun sebelumnya kami telah memesan tiket kereta api tujuan Surabaya – Banyuwangi. Sebenarnya ada sih tiket kereta api langsung tujuan Jogja – Banyuwangi (kereta api Sri Tanjung) tetapi menurut kami waktu tempuhnya cukup lama (14 jam) dan akan membosankan selama perjalanan. Kami akhirnya memilih menggunakan bus tujuan Jogja – Surabaya agar kami bisa beristirahat sejenak di Surabaya.

Jadwal keberangkatan kereta pun tiba. Yuhuuuu…sudah tidak sabar rasanya untuk sampai di Banyuwangi. Kereta kami berangkat pukul 04.30 WIB dari stasiun Gubeng Surabaya. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 7 jam. Sekitar pukul 12.00 WIB kami pun sampai di stasiun Banyuwangi Baru. Ini adalah stasiun terakhir di ujung timur pulau Jawa. Lokasi stasiun ini juga sangat dekat dengan pelabuhan penyebrangan Ketapang dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Kebetulan aku punya kenalan salah satu teman yang bekerja di TN Baluran. Dia adalah mas Heru, salah satu polisi hutan yang bekerja di TN Baluran. Sebelumnya aku telah memberi tahu tentang rencana liburanku ke Banyuwangi dan meminta mas Heru untuk menjemput kami di dekat pelabuhan Ketapang. Sambil menunggu kedatangan mas Heru, kami pun beristirahat di warung di dekat pelabuhan Ketapang. Sekitar 30 menit menunggu, akhirnya mas Heru datang menjemput kami bersama satu temannya yang aku lupa namanya. Dia juga seorang polisi hutan yang bekerja di TN Baluran. Kami langsung beranjak menuju arah TN Baluran.

Sebelumnya, mas Heru juga mengajak kami melihat tempat – tempat wisata alam yang ada di Banyuwangi. Rasanya ingin mengunjunginya satu per satu tapi kami terbatas waktu libur yang singkat. Kami pun tiba di rumah mas Heru. Ternyata rumahnya sangat dekat dengan pintu masuk TN Baluran. Kami disambut oleh keluarga mas Heru dan menawari kami untuk bermalam dirumahnya karena waktu sudah sore. Mas Heru menyarankan kami untuk esok pagi – pagi saja jika mau mengunjungi TN Baluran karena tidak cukup satu dua jam untuk mengunjunginya.

Mas Heru juga bercerita banyak hal tentang TN Baluran. Kami semakin penasaran dengan eksotisme TN Baluran. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap semalam di tempat mas Heru. Pagi hari pun tiba. Cuaca hari itu cukup cerah. Kami sudah bersiap dan tidak sabar untuk menjelajah TN Baluran. Sekitar pukul 07.00 WIB kami berangkat menuju ke TN Baluran.

Kami dipinjami sepeda motor oleh mas Heru untuk digunakan selama di TN Baluran. Setelah membeli tiket masuk, kami mulai mengegas tipis – tipis motor yang kami gunakan. Di dekat pintu masuk terdapat kawasan wahana wisata Bitakol. Biasanya wahana ini digunakan sebagai rest area bagi para wisatawan maupun para masyarakat yang sedang melakukan perjalanan jarak jauh. Tidak jauh dari wisata Bitakol, kami disuguhi pemandangan kanan kiri hutan dengan berbagai flora dan fauna yang menghuninya. Kami terus menyusuri jalan dengan menikmati pemandangannya. Sekitar 5 km perjalanan dari pintu masuk, kami mulai memasuki kawasan “EVERGREEN” yaitu hamparan hutan hijau yang selalu subur sepanjang tahun.

 

                            EVERGREEN (Sumber : dokumen pribadi)

 

Memang sangat subur dan berbeda dengan kawasan sebelumnya. Rasanya sangat teduh dan asri selama melewati kawasan evergreen. Ternyata yang membuatnya sangat subur dan hijau sepanjang tahun adalah adanya sungai bawah tanah yang terdapat tepat dibawah kawasan evergreen sehingga kawasan ini tidak pernah kekurangan air. Di kawasan ini juga banyak satwa hutan yang sering melintas seperti ayam hutan, burung merak dan lainnya. Kami melewati kawasan evergreen sepanjang kurang lebih 5 km.

Selanjutnya kami mulai memasuki kawasan savana Bekol. Inilah yang menjadi ikon TN Baluran. Hamparan savana luas dengan ditumbuhi pohon – pohon khas TN Baluran yang tumbuh berjauhan. Rasanya seperti sedang berada di Afrika dengan suasana savana dan banyaknya satwa liar yang tinggal disekitaran savana ini seperti banteng, rusa, kerbau, berbagai jenis burung, bahkan ular. Ditambah dengan pemandangan gunung Baluran yang terlihat jelas menambah rasa betah untuk berlama – lama di lokasi ini. Selain itu, juga terdapat, mushola, penginapan, toilet, dan kantin. Lokasi ini juga merupakan tempat favorit di TN Baluran untuk mengambil gambar satwa – satwa liar di sekitaran savana Bekol karena adanya menara pandang.

                                  Sava Bekol
Sumber : dokumen pribadi

Kurang lebih 4 km kami menyusuri savana Bekol, selanjutya kami tiba di pantai Bama. Hamparan pantai berpasir putih dengan dikelilingi oleh rimbunnya formasi hutan mangrove langsung menyambut kami. Tidak hanya itu, disini juga terdapat banyak kera ekor panjang yang cukup agresif kepada pengunjung. Apalagi jika ada yang membawa makanan, siap – siap saja makanan kita akan direbut oleh para kera. Disini juga terdapat mushola, kantin, toilet serta penginapan yang dapat digunakan oleh para wisatawan. Pantai ini juga merupakan salah satu destinasi favorit pengunjung TN Baluran untuk ber-selfie ria.

Selain itu, bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam bawah lautnya, juga dapat melakukan kegiatan diving lhoo. Disini juga kami bertemu dengan mas Heru yang sedang bertugas dan kawan – kawan petugas TN Baluran lainnya. Kami pun berkenalan dengan teman – teman petugas TN Baluran dan menggali info seputar TN Baluran. Oh iya, bagi para pengunjung jangan mengharap bisa update status sosmed disini yaa..karena disini tidak terdapat signal telepon maupun internet.

Setelah puas mengobrol, kami diajak mas Heru mengunjungi pantai Kelor. Letaknya memang agak tersembunyi. Untuk mencapainya, kami harus melewati jalan setapak dan melewati hutan mangrove yang dihuni oleh banyak kera ekor panjang. Kami menurut saja dan hanya dapat berjalan dengan bergandengan dan pandangan kedepan karena memang kami cukup takut pada kera ekor panjang yang cukup agresif. Sekitar 10 menit berjalan kaki, kami pun sampai di pantai Kelor.

Suasananya lebih sepi dibanding pantai Bama karena memang tidak terdapat fasilitas yang cukup menunjang. Hamparan hutan mangrove membentang sepanjang pantai Kelor dengan akar – akarnya yang besar dan kokoh. Mungkin bisa dibilang seperti tentakel gurita yang meliuk – liuk. Unik dan sangat rimbun. Setelah puas ber-selfie dan menikmati pemandangan di pantai Kelor, kami pun diajak untuk melihat pohon mangrove terbesar yang ada di TN Baluran. Tanpa berpikir panjang, kami langsung mengikuti mas Heru. Letaknya tidak jauh dari pantai Kelor, hanya perlu melewati jalan setapak selama kurang lebih 10 menit. Tiba – tiba mata kami terkagum pada satu pohon yang cukup besar. Yaa…itu adalah pohon mangrove jenis Soneratia alba terbesar dan tertua di Asia.

  Mangrove Terbesar Se – Asia
Sumber : dokumen pribadi

Menurut info yang kami dapat, pohon mangrove tersebut mempunyai keliling mencapai 4,5 m. Akar – akarnya juga menjulur panjang dan cukup tajam. Pohon ini juga sudah berumur ratusan tahun lhoo. Anehnya hanya satu pohon yang besarnya mencapai 4,5 meter sedangkan pohon – pohon mangrove di sekitarnya tumbuh seperti umumnya pohon mangrove. Rasanya ingin menggali info lebih banyak tentang pohon mangrove terbesar itu, namun tidak terasa waktu sudah cukup sore. Di sekitar pohon mangrove tersebut juga cukup banyak nyamuk, jadi kami agak terganggu karena gatal digigit nyamuk.

Kami pun kembali ke pantai Bama untuk mengambil sepeda motor. Sebelum kami meninggalkan TN Baluran, kami bertemu dengan teman – teman petugas TN Baluran. Mereka bercerita tentang sebuah desa yang terletak di tengah hutan di salah satu sisi TN Baluran. Sayangnya kami lupa apa nama desa yang dimaksud. Mereka mengatakan bahwa masyarakat di desa tersebut hanya dapat keluar dari desa dengan menggunakan perahu karena letaknya ditengah – tengah hutan dan sungai. Kehidupan disana masih tradisional dan jarang terjamah oleh dunia luar.

Kami pun semakin penasaran tentang desa yang dimaksud. Tetapi sayangnya, letaknya agak jauh karena harus menggunakan perahu untuk menjangkaunya. Dan sayangnya pula kami terbatas oleh waktu karena harus melanjutkan perjalan ke Bali, jadi kami tidak bisa mengunjunginya,

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah mas Heru. Rasanya belum ingin meninggalkan TN Baluran. Yaa memang benar, tidak cukup satu atau dua jam untuk mengunjungi TN Baluran. Mungkin satu minggu pun tidak cukup untuk mengeksplor keaneka ragaman hayati dan pesona alamnya yang mengagumkan. Saat perjalanan pulang, kami berjanji liburan selanjutnya akan kembali lagi dan meluangkan waktu lebih banyak untuk lebih dalam mengeksplor TN Baluran. Hey Africa Van Java…we will come back 🙂

Sebarkan :
  • 31
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    31
    Shares
Follow Imel Traveller:

Pecinta musik dan olahraga extreme khususnya olahraga air Rasanya kalo liat air pengin langsung njebur dan nggak pengin mentas walaupun cuma se ember hihihi Suka mencoba hal - hal baru Hobi travelling dan kuliner-run :D I LOVE INDONESIA

Latest posts from

Leave a Reply