Andi Angger Sutawijaya : Traveling Bukan Sekedar Berkunjung dan Selfie

Andi Angger Sutawijaya : Traveling Bukan Sekedar Berkunjung dan Selfie

posted in: Travelers Profile | 0

Andi Angger Sutawijaya, Nama yang menyiratkan kekuatan di dalam seorang anak muda Indonesia. Lelaki anak pertama yang lahir dari sepasang guru yang sangat sederhana. Traveling baginya bukan hanya jalan-jalan semata, tetapi membagikan kebaikan di setiap daerah yang beliau kunjungi. Memberikan yang baik, itulah yang menjadi modal utama bagi Angger dalam setiap kunjungannya ke Desa-desa di ujung Indonesia. Menjadi pribadi baik yang terus melantunkan nafas pendidikan bagi anak-anak yang memerlukan adalah pemicu baginya untuk menjadi traveler yang tidak hanya sekedar “berkunjung”, foto sana sini, lalu pulang !

Aktif dalam komunitas Filantropi Pendidikan membuat Angger terus termotivasi untuk mengajak anak muda lainnya untuk ikut berbagi. Memberikan contoh sebagai salah satu anak muda yang bisa menginspirasi dari jenis traveling yang ia lakukan bermanfaat untuk orang lokal.

Ya, Angger bercerita banyak tentang kegiatannya yang sangat menginspirasi saat ini. Berikut cuplikan wawancara yang bisa Travelnatic bagikan.

Ceritakan ke kami dong, siapa Angger?

Saya Andi Angger Sutawijaya. Teman-teman biasa memanggil saya Angger. Saya anak pertama dari dua anak sepasang guru yang sangat sederhana.

Yaps, ayah dan ibu saya hanya seorang guru honorer yang membesarkan saya dengan bersahaja. Bahkan saat masih kecil, kami sekeluarga harus hidup secara prihatin. Menjual cendol sepulang sekolah, mengantar kue buatan ibu ke warung saat pagi buta dan mengambilnya lagi setelah magrib, atau berjualan layang-layang sembari berjualan cendol. Banyak lagi rasanya aktivitas yang dulu pernah saya lalui, sehingga itu yang membentuk saya sampai hari ini. Saya lahir di pinggiran Jakarta 27 tahun yang lalu, tepatnya di tanggal 7 Juni 1988, dan Alhamdulillah hari ini saya dipercyakan Tuhan untuk mengurus seorang putra dari seorang istri yang cantik jelita, hehehehe

Kegiatan Angger saat ini apa ? Ceritakan donh Traveling special yang kamu lakukan?

Kegiatan saya saat ini adalah seorang penggiat kemanusiaan di Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa. Fokus yang diamanahkan ke saya adalah, memastikan manisnya pendidikan bisa dirasakan oleh setiap anak Indonesia. Tak peduli dia anak yang lahir di kota atau di desa. Dengan amanah ini, saya kemudian harus menyambangi banyak daerah di Indonesia, khususnya daerah-daerah 4T (Terdepan, Terluar, Tertinggal dan Terisolasi).

Dari sini lah kemudian saya di tunjukan oleh Tuhan tentang indahnya republik ini. Tak cuma keindahan alam yang tersugu saat saya harus ke banyak daerah. Tapi juga keleluhuran budaya manusia Indonesia yang begitu luar biasa. Harus diakui, ketimpangan pembangunan akses sarana dan prasarana membuat banyak daerah kemudian harus mengalami ketertinggalan yang jauh dengan kota-kota besar, khususnya di sektor pendidikan. Tapi, kabar baiknya adalah semakin menjamurnya orang-orang baik yang siap ambil bagian dalam mengurai masalah. Apalagi, akhir-akhir ini pun semakin banyak orang yang mempunyai keminatan untuk travelling ke daerah-daerah yang gak mainstream. Maka saya kemudian melihat ini adalah kesempatan luar biasa untuk bisa menghubungkan antara orang-orang baik yang siap ambil bagian dan gemar traveling dengan daerah-daerah 4T.

Saya pun mulai menggagas beberapa gerakan untuk menyambungkan hal tadi, misalnya dengan gerakan Cuti Berbagi, dimana kami mengundang para profesional muda sebagai relawan untuk ikut hadir di tengah anak-anak di penjuru Indonesia. Guna bercerita soal dunia luar, bercerita soal mimpi, berbagi semangat, dan banyak hal positif yang menginspirasi lainnya. Memberi tahu ke mereka bahwa Indonesia bukan hanya daerah tempat tinggal mereka saja, bahwa dunia tak sesempit pulau yang mereka huni. Ada berjuta hal yang bisa mereka raih. Misinya, anak-anak Indonesia mulai punya wawasan soal dunia luar, dan terlecut semangat belajar yang luar biasa dari anak-anak Indonesia di daerah 4T. Bagi para relawan yang berangkat, mereka akan jadi nara hubung dengan daerah yang mereka sambangi dengan dunia luar. Mereka akan mulai menceritakan soal semangat yang masih ada dari saudara-saudara kita di ujung negeri. Dan Ya, Menjadi penggerak bagi yang lain untuk turut berbagi.

So far, dengan kegiatan traveling yang kamu lakukan, keluarga (istri) mendukung atau tidak? Apa pendapat mereka tentang kegiatanmu ?

Alhamdulillah saya mendapatkan istri yang sangat luar biasa. Beliau amat mendukung kegiatan kemanusiaan saya saat ini. Walau tak bisa dipugkiri kadang protes harus meluncur juga dari mulutnya. Misal, saat orang-orang lain bisa menikmati waktu libur di akhir pekan, saya masih harus berkutat dengan beberapa kegiatan atau bahkan masih harus pergi menginggalkan keluarga untuk bertugas ke daerah. Tapi semua amat wajar, dan istri saya tau betul misi saya berada di jalan ini. Kami bersepakat untuk tak bicara soal materi, kami sepakat kalau hidup itu adalah bagaimana menjadi manusia terbaik, yakni manusia yang bisa bermanfaat bagi manusia lainnya.

Kecintaan terhadap traveling , lebih suka mana? Apakah pantai, gunung atau yg lainnya? Mengapa?

Saya dan istri amat suka traveling sejak masih dibangku kuliah. Mengunjungi gunung-gunung di pulau jawa atau sekedar camping dan berenang di laut. Tapi selalu ada sensasi yang berbeda diantara keduanya. Dan beberapa tahun terakhir, justru saya amat menggandrungi untuk travelig yang tak sekedar menikmati keindahan alam, tapi bisa berinteraksi dengan banyak orang sepanjang perjalanan sampai di daerah tujuan. Biasanya, kami selalu membawa beberapa buku saat pergi traveling, nantinya itu akan kami hadiahkan untuk anak-anak di daerah tujuan kami.

Sempat melakukan perjalanan ke Rote katanya ya? Bagaimana Angger bisa sukses melewati ombak besar untuk sampai kesana?

Diakhir 2014 saya harus menyambangi pulau paling selatan Indonesia, yakni Rote Ndao. Saat itu kami mempunyai misi untuk mengaktifkan taman baca yang telah berdiri di desa Papela, Rote Timur. Ada pengalaman yang cukup luar biasa kala itu, karena ada beberapa hal, kami memutuskan untuk menyambangi beberapa pulau kecil di sekitar Rote untuk membawa buku bagi anak-anak disana. Ditemani beberapa relawan lokal, akhirnya kami berangkat membawa buku menumpangi salah satu body milik relawan Rote. Satu persatu pulau kami singgahi dan bertemu dengan beberapa anak dari suku bajo yang amat senang dengan kedatangan kami.

Saking asiknya, kami pun lupa untuk pulang, alhasil kami kemalaman dan harus menyusur laut lepas untuk kembali ke pulau utama. Saat itu lah pengalaman luar biasa itu terjadi. Kami dihadang ombak besar yang membuat kapal kami oleng. Awalnya saya mengganggap ini sebagai hal yang biasa di perairan Rote yang memang terkenal dengan keganasannya. Tapi setelah melihat semua awak mulai panik, kami pun mulai khawatir. Saat itu, yang terbayang hanya lah keluarga dirumah, dan saya mengira, di Rote lah saya akan mengakhiri sejarah hidup saya. Beruntung, kapal kami bisa melaluinya, walau beberapa bagian kapal sempat patah karena terhempas gelombang. Akhirnya kami bisa kembali sampai di pulau Rote dengan selamat. Alhamdulillah.

Oh ya, ada info menyebutkan tentang musibah yang menyelimuti perairan Rote kala itu?

Saat itu, kami semua hanya bisa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan. Sepulangnya kami ke Jakarta, kami mendapat kabar, kalau ada satu kapal milik TNI AL yang tenggelam di perairan yang kami lalui, dan merenggut 3 orang tewas dan 3 lainnya hilang. Mendengar berita itu, kami dan para relawan hanya bisa bersyukur kami tak mengalami hal yang sama saat itu.

Diantara perjalanan ke daerah-daerah di indonesia, yang mana menurutmu yang paling benar-benar menyentuh hati?

Baru-baru ini saya baru saja menyambangi Wakatobi, khususnya di pulau Kaledupa. Disana saya mengunjungi seorang teman yang menjadi relawan pendidik untuk anak-anak suku Bajo. Saat itu, ada hal yang begitu menyayat hati saya. Siapa yang tak kenal Wakatobi dengan keindahan alam bawah lautnya, seperti surga. Namun, kehidupan diatasnya bak neraka. Bagaimana tidak, bagi anak-anak suku bajo semua serba terbatas. Akses air bersih dan listrik yang tak terpasok secara baik. Pendidikan jangan tanya, mereka kurang guru. Tak ada orang yang memotivasi anak-anak mereka untuk sekolah menuntut ilmu. Padahal mereka adalah bagian dari surga yang telah dinikmati oleh banyak orang.

Traveling saat ini lagi happening, bagaimana menurut Angger? Punya tips traveling ala Angger ?

Traveling menurut saya bukan soal kesenangan semata. Traveling adalah kesempatan yang diberikan Tuhan ke kita untuk bisa melihat lebih luas dari biasanya dan merasakan lebih dalam dari biasanya. Saat pergi traveling adalah ajang kita untuk berkaca, sampai sejauh mana kita telah berjalan dan sebesar apa manfaat yang telah kita sebar untuk sekitar.  Traveling adalah momentum bagi saya untuk membuka hati lebih luas, merasakan kecilnya kita dari segudang kebesaran Tuhan. Momen yang tak setiap hari bisa saya dapatkan. Dan saya akan manfaatkan sebaik mungkin bukan hanya untuk kesenangan saya, tapi untuk kesenangan mereka yang tinggal di daerah yang kita sambangi.

Saya amat senang ketika hari ini banyak sekali orang yang ingin pergi traveling, apalagi ke daerah atau destinasi yang tak biasa, misal ke daerah-daerah 4T, yang artinya akan semakin banyak orang yang akan melihat Indonesia bukan hanya dari sudut kota saja. Tapi juga dari sudut daerah yang akan mereka sambangi. Lihat lah Indonesia dari dekat, jangan hanya alamnya, tapi juga manusianya, rasakan dengan hati, apa yang tersuguh sekitar mu. Apakah memang sewajarnya, manusia Indonesia tumbuh timpang tak seperti yang kita alami di kota. cari kesenangan lain selain keindahan yang dirasakan mata, cari juga kebahagiaan yang diarasakan oleh hati.

Saya punya tips buat kamu yang ingin pergi traveling, sempatkan deh berinteraksi dengan masyarakat sekitar atau anak-anak di destinasi yang kamu kunjungi. Kalau saya dan istri biasanya suka bawa beberapa buku cerita untuk kami bacakan dan nantinya akan kami kasih ke anak-anak yang kami temui. Kami juga biasanya suka bercerita soal dunia luar, dan alasan kenapa saya hadir ke sini. Yang tak pernah ketinggalan kami bawa di ransel kami adalah peta dunia. Biasanya kami akan menunjukan dimana mereka tinggal dan tempat-tempat yang mereka ingin kunjungi. Tunjukan bahwa Indonesia ini luas dan butuh mimpi dan cita-cita yang luas pula untuk bisa menaklukannya. Rasakan indahnya interaksi itu, dan coba lah menjadi penghubung antara daerah tadi dengan dunia luar setelah kamu pulang, tentunya kamu harus juga mengenal baik orang lokal yang nantinya akan jadi penghubungmu.

Apa harapan dan pesan Angger terhadap para traveler muda yang trend saat ini?

Jangan merusak alam, jangan buang sampah sembarangan! Jangan injak trumbu karang! Kesempatan traveling bukan hanya kesempatan untuk menambah koleksi foto profile atau foto-foto selfie dari berbagai daerah yang dikunjungi untuk kemudian di post di media sosial. Tapi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pilihan untuk menikmati alam yang indah  bukan hanya milik generasi kita saat ini, tapi milik anak dan cucu kita kelak. Jadi, jangan jadi bagian dari perusak alam ya ! Oya, satu lagi, jangan jadi contoh yang buruk bagi orang-orang lokal yang kita temui, mereka melihat dunia luar dari apa yang kita lakukan. Jangan tularkan virus negatif kepada mereka. Ayo jadi traveler yang keren dan baik.

Share dong, moto pribadinya Angger untuk menginspirasi travelers lain diluar sana.

Hidup terbaik adalah hidup yang bisa menjadi manfaat bagi kehidupan lainnya. Dan traveling adalah cara agar hidup kita menjadi lebih hidup.

Jadikan perjalanan yang kita lakukan agar menjadi bagian manfaat dan menginspirasi bagi orang-orang yang kalian temui. Yuk, mari lakukan sekarang ! Jika bukan kita, lalu siapa? [Griska Gunara/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    673
    Shares
Follow Griska Gunara:

Tinggal di Bekasi. Traveler yang berprofesi sebagai photogragpher. Aktif dalam kegiatan komunitas traveler di Jabodetabek.

Komentar Pembaca