Anindya Andari – Perempuan Pecinta Gunung

Anindya Andari di Hutan Mati, Gunung Papandayan, Jawa Barat. Photo doc. Anindya Andari

Di suatu destinasi, apa yang menjadi fokus perhatian kak Anindya? Mengapa memperhatikan hal tersebut?

Keindahan alamnya, keunikan budayanya, dan masyarakat sekitarnya. Karena disetiap destinasi selalu ada keindahan alam yang ditawarkan dan selalu memanjakan mata saya. Budaya-budaya yang ada juga begitu menarik untuk diperhatikan dan dilestarikan. Hmmm.. karena menurut pandangan saya, anak muda masa kini kurang memperhatikan budaya yang ada, apalagi melestarikannya. Bahkan mungkin (banyak) yang ku-rang tertarik dengan budaya yang ada di sebuah destinasi.

Kebanyakan sekarang traveling itu hanya sebatas sebagai “life style”, kalau belum traveling belum “gaul” atau “kurang kekinian”.. mungkin gitu kali ya hehehe.

Apakah Kak Anidyan bisa menarik pembatas antara ketik  belum aktif di kegiatan traveling, dengan ketika sudah aktif?

Bisa, sangat berbeda ketika saya aktif di kegiatan traveling. Pertama, saya bisa banyak mengenal karakteristik orang-orang di sekitar saya. Bisa tau seberapa besar antusias orang-orang disekitar saya pada kegiatan traveling.

Perbedaan lainnya setelah berkegiatan traveling saya selalu merasa bahagia dan merasa “fresh” kembali. Selain itu saya merasa, solidaritas, kekeluargaan, tingkat kepedulian saya kepada orang-orang sekitar menjadi lebih tinggi dibandingkan dahulu sebelum aktif di kegiatan traveling.

Sebagian orang mengklasifikasikan traveling ke berbagai genre sesuai fokusnya masing-masing. Ada orang yang berkegiatan di banyak genre, ada yang disatu genre saja. Kak Anindya termasuk di genre apa? Mengapa?

Mountaineering…!! Entah mengapa dari dulu saya sangat suka kegiatan mendaki gunung. Jadi ceritanya, bisa jadi ini karena faktor turunan. Dikeluarga saya (Ibu) dulu beliau seorang mountainer dan penggiat alam bebas. Ibu tidak pernah mengajarkan saya untuk menyukai “Gegunungan”, beliau juga tidak pernah memaksakan. Tetapi beliau selalu mendukung kegiatan saya apapun itu mengenai mendaki gunung.

Selain itu untuk saya mendaki gunung itu suatu hal yang tidak mudah, kita harus bersusah-susah dahulu menempuh perjalanan yang jauh, trek yang panjang, belum lagi membawa beban yang cukup berat dan lain sebagainya.

Dan disitu sensasinya. Dari situlah kita bisa lebih menghargai makna dari sebuah perjalanan.

Di genre traveling yang kak Anindya sukai, tentu terdapat banyak masalah. Apa saja masalah yang pernah kamu perhatikan, bagaimana solusinya menurut kakak?

Sampah, Vandalisme, Traveler Dadakan.

Sampah : sungguh menyedihkan rasanya, saat berkunjung ke suatu tempat traveling yang terdapat banyak sampah dimana-mana. Baik destinasi wisata kota, pantai, maupun gunung. Tidak di pungkiri lagi saat ini sampah menjadi perhatian utama yang harus segera di tindak lanjuti. Solusinya, sebagai traveler yang cerdas atau dalam bahasa sundanya “traveler yang hideng” atau “memiliki kesadaran diri yang tinggi” untuk mengambil sampah yang ditemui pada perjalanan kalian. Misalnya di gunung, sebisa mungkin mengambil sampah-sampah yang di temui sepanjang trek dan jangan lupa membawa kembali sampah ketika turun kebawah. Hal tersebut cukup membantu untuk mengurangi masalah sampah.
Lanjutkan membaca …

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *