Anindya Andari – Perempuan Pecinta Gunung

Vandalisme : vandalisme , atau corat coret urakan juga sering kita temui di beberapa destinasi traveling yang kita kunjungi. Sebaiknya sebagai traveler yang cerdas kita menghindari untuk melakukan vandalisme dimanapun, baik di kota, pantai atau pun gunung. Karena menurut saya vandalisme mengurangi keindahan destinasi traveling.

Mungkin yang membuatnya merasa bangga atau bahagia, tapi kenyataannya itu merusak pemandangan. Mungkin pemerintahan setempat atau pengelola tempat sebuah destinasi traveling harus membuat sebuah peringatan keras untuk menghimbau para taveler agar tidak melakukan tindakan vandalisme.

Traveler dadakan : maksud traveler dadakan disini adalah traveler yang hanya mengikuti arus “kekinian”. Saya lihat saat ini agak banyak traveler dadakan di Indonesia, dadakan disini dalam arti melakukan perjalanan atau traveling tanpa persiapan yang kurang matang.

Contohnya dalam genre mountaineering, masih banyak “pendaki-pendaki” dadakan yang hanya mengikuti arus atau karena termakan cerita dari sebuah film. Rata-rata mereka kurang memperhatikan persiapan dari sebuah pendakian. Yang penting mah “Saya udah keren kan bisa naik gunung..”.

Banyak macamnya, ada yang mendaki “secara gaul”, mendaki dengan celana jeans dan sepatu boots kekinian, ada juga yang mendaki “secara kurang persiapan” misalnya saya pernah menemukan pendaki di jalur atau trek yang lumayan berat dan kalau hujan licin tapi dia menggunakan sendal jepit atau sendal merk-merk crocs. Sebaiknya, dalam bertraveling kita menyiapkan segala sesuatunya secara matang. Apalagi dalam genre mountaineering, persiapan adalah hal utama yang wajib diperhatikan. Bukan hanya sekedar “saya bisa naik gunung tanpa atau dengan persiapan seadanya”. Karena naik gunung adalah bukan hal yang mainmain, tapi butuh mengutamakan keselamatan. “Safety First Guys..”..

Apa momen paling berkesan yang Kak Anindya ingat saat melakukan kegiatan traveling?

Terlalu banyak momen yang sudah saya alami selama melakukan kegiatan traveling. Yang agak menyedihkan sekaligus mengharukan waktu saya mendaki ke Mahameru.

Kondisi kaki kanan saya saat itu kurang fit, dan karna satu dan lain hal saya dan teman-teman harus trekking malam. Sepanjang perjalanan Ranu Pane – Ranu Kumbolo saya nangis (malu-maluin yah hehe), dan sempet ngomong dalam hati kalo saya ga akan naik gunung lagi untuk beberapa waktu kedepan. Tapi setelah besok harinya saya mencoba melakukan perjalanan Ranu Kumbolo – Kalimati dengan tidak mengeluh sedikit pun. Alhamdulillah kondisi kaki saya lambat laun tidak terasa sakit.

Dan yang mengharukannya, saya memanjatkan sebuah doa di Gunung Semeru, setengah tahun kemudian, percaya gak percaya doa itu terkabul.

Kalau momen yang menyenangkan sepertinya terlalu banyak. Saat traveling saya selalu bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai kota yang saya kunjungi. Dan rata-rata teman-teman baru tersebut mempunyai banyak pengaruh positif terhadap kehidupan saya. Dan saya banyak belajar dari mereka mengenai hal-hal baru bahkan halhal yang belum pernah saya pelajari sebelumnya.
Lanjutkan membaca …

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *