Apakah Van Der Wijck, hanya nama sebuah Kapal?

Van Der Wijck, begitu populer di Indonesia lewat novel karya penyair besar Hamka, yang kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun 2013 dengan judul yang sama yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kini di tahun 2021, mungkin lebih banyak generasi muda yang lebih mengenal Van Der Wijck sebagai sebuah karya film dibandingkan sebuah karya novel, apalagi sebagai tokoh kolonial pun sebagai landmark sejarah yang otentik mewakili sebuah zaman.

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka dan Film besutan Sunil Soraya tersebut cukup diminati masyarakat yang sedang menggemari film-film berlatar sejarah kolonial baik yang epic maupun romantic. Sejatinya, sebagai sebuah karya sastra keduanya menceritakan kisah cinta nan berliku lagi penuh drama dari Zainuddin dan Hayati yang akhirnya ditutup dengan tragis lewat tenggelamnya kapal Van Der Wijck yang mengangkut Hayati pulang ke Sumatera. Dengan tenggelamnya kapal tersebut, tenggelam juga ke dasar laut kisah cinta mereka berdua.

Namun, darimanakah sebenarnya nama Van Der Wijck berasal? Apakah dia hanya nama sebuah kapal yang benar-benar ada dan tenggelam di masa kolonial? Atau kah Van Der Wijck sebenarnya sudah populer di masa kolonial tersebut lewat nama dan hal-hal lainnya? Kali ini Travelnatic menghadirkan Van Der Wijck tidak sebagai novel maupun sebuah film layar lebar, namun dari sudut pandang sejarah dan landmark kolonial yang mengusung nama besar tersebut.


“Menolak berpenampilan tak Artistik, dari sekian benteng yang dibangun oleh Belanda pada masa penjajahannya terhadap Indonesia, Benteng Van der Wijck mempunyai konstruksi yang menarik”.


Jhr. Johan Cornelis Van der Wijck, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang namanya di jadikan sebagai nama salah satu Benteng peninggalan Belanda yang berada di Kabupaten Kebumen, tepatnya di Jalan Sapta Marga No. 100 Gombong, Benteng Van der Wijck.

Benteng Van Der Wijck tampak dari depan. Dok. Tian Firza

Sebelum tahun 1844, Benteng Van der Wijck merupakan bangunan kantor Kongsi Dagang VOC di Gombong. Bangunan tersebut sama sekali bukan berupa benteng. Besarnya kekuatan Dipanegara yang berpusat di bagelen selatan (sekarang kabupaten Kebumen) pada tahun 1825 – 1830, mengakibatkan Belanda mendatangkan bala bantuan pasukan VOC dalam jumlah besar dari Batavia dan menempati kantor Kongsi Dagang VOC di Gombong. Tempat tersebut kemudian dijadikan pertahanan militer Belanda dalam melawan kekuatan Dipanegara di Bagelen Selatan hingga masa penyerangan besar – besaran Belanda serta pembumihangusan pendopo kota raja kabupaten Panjer yang menjadi pusat kekuatan terakhir (1832). Peristiwa tersebut merubah status kantor Kongsi Dagang Gombong menjadi markas pertahanan Belanda di Gombong. Meski demikian, bangunan tersebut belum diubah menjadi benteng. 

Pada tahun 1844 dibangunlah sebuah benteng Pertahanan Belanda di bekas kantor kongsi dagang VOC di gombong. Bangunan ini bertujuan untuk pertahanan dalam rangka persiapan perang melawan Kesultanan Yogyakarta. benteng ini dibangun selama 4 tahun (selesai pada tahun 1848, sayang angka tahun di atas gerbang utama benteng yang dahulu disisi selatan telah hilang). Benteng ini kemudian diberi nama Fort Cochius/ Fort Generaal Cochius, diambil dari nama Letnan Jenderal Frans David Cochius, seorang komandan di Hindia Belanda yang memimpin pasukan Belanda di Gombong pada masa perang Dipanegara 1825 – 1830. Benteng ini dibangun oleh tentara corp Zeni Belanda. 

Dari 1400 buruh yang bekerja dalam proyek tersebut, 1200 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Bagelen, sedangkan sisanya berasal dari Kabupaten Banyumas. Para buruh yang diawasi oleh pengawas yang diambil dari daerah masing – masing. Para buruh dibayar 15 sen / hari, sedangkan Pengawas mendapat 1 florin / hari. Bahan baku bangunan seperti kalsit dan kayu berasal dari kabupaten sekitar Bagelen, sebagian besar dari Banyumas. Pada tahun 1856 benteng/Fort Cochius berubah menjadi Pupillenschool (Sekolah Taruna Militer) untuk anak-anak Eropa yang lahir di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Benteng/Fort Cochius berubah nama menjadi benteng/Fort Van der Wijck sebagai penghormatan kepada Van der Wijck atas jasanya kepada pemerintah Belanda dalam bidang kemiliteran di Hindia belanda. Benteng Van Der Wijck / Fort Generaal Cochius Gombong – Kebumen dan Pelurusan Sejarahnya | Wahyu Pancasila (kebumen2013.com)

Bangunan dengan bersegi delapan ini, Van der Wijck mempuyai sisi unik, penggunaan batu bata merah yang menjadi bahan utama dari benteng menjadikan Van der Wijck mempunyai corak merah yang khas. Atap bentengpun terbuat dari batu bata merah yang dibangun menyerupai bukit-bukit menambahkan sisi artistik. Selain berjalan menyusuri lorong dan ruangan-ruangan luas, kawan-kawan juga dapat melihat sisi benteng dengan wahana kereta mini yang berada diatas atas benteng, kereta ini berputar mengelilingi benteng sebagai pelengkap penglihatan wisatawan dari sisi sekitar wilayah benteng.

Sampai saat ini, benteng Van der Wijck masih kokoh beridiri dengan dua lantai yang diisi beberapa properti, ruang-ruang benteng Van der Wijck diisi dengan dokumentasi-dokumentasi masa peperangan dan beberapa dokumentasi tokoh-tokoh perjuangan, sampai orang-orang yang pernah mengunjunginya dari tokoh nasional, artis nasional samapi band-band papan atas Indonesia. Jika kawan-kawan memasuki ruangan depan sebelah kiri awal masuk benteng, terdapat dokumentasi beberapa film yang pernah menghiasi layar lebar Indonesia, salah satunya “The Raid – Berandal” yang mengambil salah satu latar adegan action di pelataran tengah benteng.

Sebagai sumber pembelajaran, benteng Van der Wijck syarat akan sejarah yang mempunyai nilai dalam proses Kolonialisme Belanda di Indonesia, sebagai penunjang adanya sarana pembelajaran, benteng Van der Wijck menyuguhkan beberapa bentuk wahana bermain bagi anak-anak, dari mobil kereta wisata dan kolam renang, terdapat pula ruang pertemuan dan juga penginapan bagi wisatawan yang ingin lebih megenal bangunan peninggalan Belanda ini. 

Lokasi benteng sendiri sangat terjangkau oleh moda transportasi darat, seperti halnya bus dapat berhenti di pasar Gombong, dan juga Kereta Api di stasiun Gombong atau Kebumen, apa lagi kendaraan baik sepeda motor, mobil atau bus yang masing-masing dapat masuk ke area parkir wisata benteng Van der Wijck  ini. Dalam masa Pandemi sekarang ini, pengelola beserta pemerintah daerah Kebumen masih membuka wisata benteng Van der Wijck dengan pemberlakuan protokol kesehatan dari pihak pengelola sendiri. [End]

Bagikan artikel