Arkend Cafe : Transit Seni dan Transit Pejalan di Jogja

Arkend Cafe : Transit Seni dan Transit Pejalan di Jogja

posted in: Travelpreneur | 0

 

“Setiap sudut kota Jogja itu romantis”, kata Pak Anies Baswedan.

Bukan main-main Pak Anies mengatakan hal itu. Bukan pula buat city branding tentunya. Kawan-kawan dapat menemukan, bahkan di sudut-sudut gang sempit yang tak terduga pun ada tempat yang berkesan dan enak untuk memulai momen romantis.

Bukan main-main Pak Anies mengatakan hal itu. Bukan pula buat city branding tentunya. Kawan-kawan dapat menemukan, bahkan di sudut-sudut gang sempit yang tak terduga pun ada tempat yang berkesan dan enak untuk memulai momen romantis.

Oke. Tempat yang akan saya ceritakan ini bisa jadi salah satunya. Saya tidak akan bercerita tentang bagaimana romantisnya, karena romantis itu mungkin adalah nilai ekslusif yang akan kawan rasakan ketika menyesap rasa di tempat ini (bersama seseorang mungkin). Bagi saya yang datang sendirian, tentu saja romantis yang dimaksud bukan tentang cinta-cintaan, atau asmara-asmaraan, tapi tentang kesan unik dan hal menarik dari tempat ini. Oke. Abaikan definisi romantis menurut saya ini karena tidaklah terlalu penting untuk dilupakan.

Ketika kaki saya mulai menginjak Arkend Cafe, rasa awalnya biasa saja. Sama seperti saat saya menginjakkan kaki ditanah yang lain. Saya bisa berdiri dan tidak limbung. Namun, setelah mata saya mengembara, saya mulai melihat sesuatu yang unik.

Tempat nongkrong yang terletak di samping kampus UNY ini menyempil di sebuah gang sempit yang gelap dikala malam hari. Gang Kamajaya No.21 Gejayan, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DI. Yogyakarta, ini lokasi persisnya. Di depan Arkend Cafe, pagar kampus UNY setinggi dua meter tampak agak ringkih. Di depan pagar besi itulah biasanya pengunjung Arkend Cafe memarkir kendaraan bermotor.

Luangkan waktu untuk memandang ke dinding, kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, maka pengunjung dapat menemukan ke-menarik-an dari Arkend Cafe. Ke-menarik-an yang paling kentara bagi saya yaitu beberapa kata sastra yang cukup sastrawi dan disusun dengan unik (lagi-lagi ini unik menurut saya. Sebenarnya hanya ditambah beberapa tanda baca saja). Ada beberapa titik dan tanda baca yang membuatnya unik. Susunan ini terlihat sederhana dan simpel. Namun tak terpikirkan bagi saya yang berpikir lurus.

Uniknya seperti apa? Saya tidak bisa menjelaskan, lihatlah sendiri (akan saya tunjungkan satu dua fotonya). Kata-kata yang terangkai menjadi kalimat itu ada yang bermakna lugas, ada pula yang memerlukan sedikit perenungan untuk mengetahui maksudnya. Selain kata-kata, interior lain yang cukup menarik yaitu beberapa pajangan sketsa dan menu-menu. Hal yang membuat kita penasaran, darimana hal unik ini datang? Ini akan terjawab ketika kita mengetahui siapa yang membuatnya.

Konsep dan bentukan yang unik tersebut muncul dari penelusuran orang yang unik pula. Mas Gigend, begitu dia biasa dipanggil. Tentu bukan nama sebenarnya. Mas Gigend adalah alumnus Pendidikan Seni Rupa UNY tahun 2014. Luangkan waktu sedikit untuk ngobrol dengannya untuk tau seberapa unik dirinya.

Berkaitan dengan konsep yang unik tadi, darimana dia mendapatkannya?

“Awalnya dapat ide, dulu saya belum berani sendiri untuk membentuk konsep seperti saat ini. Saya awalnya melukis dan menggambar terus dalam perjalanan ketemu teman yang mempunyai usaha coklat, saya gabung disitu. Lalu Ngonsep bareng, kebetulan minatnya sama yaitu coklat, kopi dan variasi lainnya. Waktu itu ada lima orang” Jelas Mas Gigend.

Arkend Cafe dibuatnya pada bulan Oktober 2015. Dari menu memang dapat terlihat apa yang menjadi fokus dari Arkend, yaitu coklat dan kopi. Pengunjung dapat memesan berbagai varian minuman berbahan coklat. Cicipi satu atau dua ketika berkunjung kesana. Pada saat saya disana, ada beberapa jenis kopi yang sedang ready stock, yaitu kopi Ciwidey, Kopi Flores dan Kopi dari Ciremai. Tapi kali ini saya lebih memilih Original Chocolate karena lambung saya sedang tidak siap untuk menerima kopi.

Tampilan Arkend Cafe yang sekarang terlihat merupakan hasil proses seiring perjalanan waktu. Proses itu dimulai sejak awal tahun 2015. Ide tampilan ini pun tidak jauh dari kegiatan Mas Gigend dalam berkesenian.

“Idenya sih dapat dari teman-teman juga. Dulu saya sering pergi pameran seni. Kawan-kawan bikin sesuatu yang unik. Saya ketularan juga konsepnya dari situ. Lalu dapatlah ide”. Lanjutnya.

Arkend Cafe dikelola sendiri oleh Mas Gigend dibantu dua orang teman setia yaitu Bondit dan Salmi. Keduanya adalah mahasiswa UNY. Modal untuk mendirikan Arkend Cafe diperolehnya dari pinjaman dengan keluarga. Dari pinjaman itu dia dapat menyewa tempat berjualan. Dari Arkend Cafe, kini pemuda asal Klaten ini bisa membiayai hidup sendiri.

Apa sebenarnya Arkend itu?

“Arkend  diambil dari kata Arka, yaitu semacam sinar atau cahaya. Harapannya bisa menerangi seperti matahari”. Ujar Mas Gigend menjelaskan asal usul nama Arkend.

Jika kawan memiliki akun instagram, kunjungilah profil @arkend.cafe. Diprofilnya akan terlihat logo berwarna kuning bertuliskan arkend cafe. Apakah warna kuning di logo tersebut didasari oleh filosofi tentang Arka?

“Iya, matahari kan warna kuning. Sunrise juga warnanya kuning, matahari kalau sore, kan sinarnya warna kuning”. Ujarnya sambil tertawa.

Arkend sebenarnya sudah buka sejak pukul 14.00 WIB dan tutup pada pukul 23.00 WIB. Meskipun pengunjungnya mulai ramai saat sore hingga malam. Selama seminggu Arkend buka pada hari Senin sampai Sabtu. Sementara hari Minggu digunakan untuk libur.

Karena lokasinya yang dekat dengan kampus, maka pengunjungnya pun kebanyakan adalah mahasiswa. Meski begitu, berkat promosi dari kawan-kawan dan media sosial seperti facebook dan instagram, kini pengunjung Arkend Cafe lebih bervariasi. Tidak hanya mahasiswa yang berada disekitar lokasi, tetapi juga para pejalan yang jauh dari lokasi Arkend. Selain nongkrong, sebenarnya apa yang dilakukan pengunjung di Arkend Cafe?

“Biasanya diskusi. Kadang ada juga yang melukis dan menggambar”. Ujar Mas Gigend.

Di dinding Arkend, terdapat ruang untuk memamerkan karya-karya gambar, kata-kata dan foto dari pengunjung. Hal tersebut memang sengaja disediakan Mas Gigend untuk membuat pengunjung merasa nyaman. Selain itu, ruang pamer tersebut juga berfungsi sebagai dinding informasi apabila kawan-kawan memiliki acara atau kegiatan yang perlu dipublikasikan.

Di sisi dinding yang lain, terdapat rak buku. Rak buku tersebut berisi buku-buku sastra, novel dan ilmu pengetahuan. Buku-buku ini boleh dipinjam oleh siapa secara gratis. Syaratnya hanya dengan meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan. Apakah rak buku ini bagian dari konsep Arkend? Darimana buku tersebut berasal?

“Iya dari konsep awal itu. Kebetulan saya senang baca dan ngoleksi buku. Saya juga ngundang temen-temen yang mau nitipin buku-bukunya. Kebanyakan buku-buku titipan, ada juga yang donasi. Ini juga buku-buku titipan”. Ujarnya sambil menunjuk beberapa buku yang belum dipajang. Mas Gigend mengaku suka membaca bacaan-bacaan ringan yang menghibur.

Kini Arkend Cafe nyaris berumur dua tahun. Tentu saja menjalankan sebuah tempat usaha tidaklah segampang dan semudah dari yang kita lihat dipermukaannya. Mas Gigend berharap semoga Arkend Cafe bisa membuat nyaman kawan-kawan yang berkunjung. Betah, terus ga bikin bosan.

Konsep Arkend kini telah dapat berjalan dan bisa menarik pengunjung datang kesana. Namun, sebelum konsep itu dapat diterapkan seperti sekarang, apa tantangan terberatnya?

“Mewujudkan konsep sampai jadi bentuknya ini yang agak susah. Bikin tampilannya supaya menarik, dekorasinya, promosinya juga. Tampilan depannya menarik apa engga, bikin orang nyaman apa engga” jelasnya.

Nah kawan-kawan pejalan. Silakan datang ke Arkend Cafe jika sedang berada disekitar jalan Gejayan, Yogyakarta. Arkend Cafe dapat menampung sekitar 10-20 orang pengunjung sekali duduk. Di hari biasa, kawan-kawan tentu saja bisa datang ke tempat ini setiap hari untuk menikmati kopi dan coklat. Sekian ulasan dari saya dan salam pejalan! [Nurul Amin/End]

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    796
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar Pembaca