Bandung Museum Kota Yang Megah

Tidak seperti museum pada umumnya, Bandung secara tidak langsung menjadi “museum” kota yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan. Setiap sudut di Kota Bandung selalu saja memberikan magnet tersendiri bagi orang-orang yang ingin mendalami sejarah Bandung.


Dokumentasi Rendy Rizky Binawanto

Bandung sebagai Ibukota Provinsi Jawa Barat merupakan kota kreatif yang penuh dengan kilas sejarah. Berkembang dalam balutan romansa masalalu di antara pesatnya moderenisasi. Sejak dibukanya Grote Postweg atau jalan raya pos saat masa pemerintahan Daendels, di sanalah masa tumbuh Bandung menjadi sebuah kota yang maju.

Tahun 1920-an, Bandung kala itu menjadi pusat Pemerintahan Belanda setelah pemindahannya dari Batavia. Geografis dataran Bandung yang berupa pegunungan vulkanis yang kaya akan kesuburannya, ditambah dengan keeksotisan alam-nya menjadikan Bandung kala itu dikenal sebagai pusat Perkebunan Priangan.

Kina, teh, kopi dan hasil perkebunan lain merupakan hasil perkebunan yang digarap oleh para kompeni di Bandung saat itu. Hasil perkebunan itu lalu dibawa ke Belanda sebagai tombak perekonomian mereka di Eropa. Adalah Karel Frederik Hole, Rudolf Edward Kerkhoven, dan Karel Albert Rudolf Bosscha nama-nama yang memiliki andil besar dalam pendirian Perkebunan Priangan ini.

Kehadiran jalan raya pos yang melintasi kawasan Bandung memang telah berdampak besar. Setelah pemindahan pusat pemerintahan Hindia Belanda di Bandung, gedung-gedung pemerintahan mulai dibangun. Gedung-gedung pemerintahan itu dirancang setidaknya oleh 60 arsitek asing. Mereka berebut untuk saling memamerkan karya terbaik dalam setiap aksen bangunan itu. Hingga waktu yang terus berlalu, kiasan gedung tua ini menjadi saksi sejarah bagi Kota Bandung di abad-21.

Jauh sebelum kolonial masuk ke kawasan Bandung, sebetulnya peperangan sudah terjadi pada masa kerajaan. Satu peperangan yang terjadi di kawasan Bandung adalah penangkapan Dipati Ukur oleh Kerajaan Mataram. Keinginan Mataram untuk mengusir VOC dari tanah Jawa agar mereka dapat menaklukan kawasan Banten kandas setelah Dipati Ukur yang menguasai Sumedang Larang (sekarang Kabupaten Sumedang) gagal untuk mengusir VOC dari Batavia atas perintah Sultan Agung di Mataram.

Kegagalan itu memaksa Dipati Ukur harus berperang dengan utusan dari Kerajaan Mataram. Peperangan yang terjadi sekitar tahun 1630-an ini membuat beberapa kawasan Bandung dikenal dengan cerita Dipati Ukur. Kisah perang yang sangat tersohor di dataran Bandung ini kemudian di abadikan dalam bentuk toponim sebuah tempat atau jalan. Seperti halnya ada nama Jalan Dipati Ukur di Kota Bandung.

Selain kilas sejarahnya yang panjang, Bandung pun menjadi tempat yang sangat dicintai oleh seorang ahli astronomi berkebangsaan Belanda, yakni Karel Albert Rudolf Bosscha. Beliau sangat terobsesi dengan Bandung terutama terhadap Pegunungan Malabar di selatan Bandung. Perkebunan Teh yang didirikan tahun 1896 itu menjadi bukti kecintaan beliau. Hingga jasatnya ia meminta agar di kuburkan di kawasan Malabar.

Seorang ternamaan lainnya yang sangat mencintai Bandung adalah Franz Wilhelm Junghuhn. Ahli botani sekaligus seorang geologi berkebangsaan Jerman-Belanda yang meneliti Pulau Jawa sejak tahun 1836. Ia begitu cinta terhadap Bandung terutama pada Gunung Tangkubanparahu. Penelitian di Priangan kala itu mengungkap tabir baru terhadap ilmu pengetahuan yang sampai saat ini pun masih menjadi rujukan penting. Kecintaan terhadap Gunung Tangkubanparahu ia buktikan dengan jasatnya yang ia pinta agar di makamkan di sana.

Melihat Bandung dalam lintas jaman yang berbeda tentu dapat kita rasakan di sekitar Braga Weg atau kita kenal dengan sebutan Jalan Braga. Braga merupakan maskot yang sangat penting bagi Kota Bandung. Sejak pemerintahan Belanda, Braga ini dikenal sebagai Paris Van Java.

Sebelum tahun 1882 Braga dikenal dengan sebutan Pedatiweg atau Jalan Pedati. Jalanan kecil ini berada di tengah pemukiman kecil masyarakat Bandung. Lalu, pada tahun 1882 Jalan Pedati ini diubah penamaannya menjadi Jalan Braga setelah para tuan-tuan dan warga Bandung bertemu di Gedung Societeit Concordia dekat dengan Jalan Braga.

Keramaian mulai muncul setelah Hotel Savoy Homan berdiri. Jalan yang membelah pemukiman ini kemudian berubah menjadi pusat perekonomian. Bahkan, warung remang-remang yang kemudian muncul di sekitar Jalan Braga sering dikaitkan awal mula Bandung dikenal sebagai Kota Kembang.

Bandung sebagai “Museum” Kota

Bicara soal Bandung tidak lagi berbicara tentang bagaimana pariwisatanya, ataupun pusat fashion yang setiap akhir pekan diburu oleh kalangan remaja. Tetapi, saat Anda memasuki kawasan Bandung, seketika Anda telah masuk dalam museum kota yang megah.

Dokumentasi Rendy Rizky Binawanto

Tidak seperti museum pada umumnya, Bandung secara tidak langsung menjadi “museum” kota yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan. Setiap sudut di Kota Bandung selalu saja memberikan magnet tersendiri bagi orang-orang yang ingin mendalami sejarah Bandung.

Kilas-kilas sejarah Bandung masih dapat kita rasakan sampai saat ini. Bagaimana Kota Bandung dapat menjaga aksen sejarah yang terkadang terasa kuno menjadi lebih menarik dan diminati banyak masyarakat.

Setiap sudut dataran Bandung, seperti halnya sebuah ruangan museum yang menyimpan berbagai koleksi menarik. Sebagai contoh, pusat kota kita gambarkan sebagai ruangan yang menyimpan koleksi era kolonial dengan aksen bangunan bergaya eropa modern. Beralih ke sisi barat kita akan temukan budaya dagang sebagai ciri khas warga Tionghoa dan Arab. Di sisi timur budaya tani sisa dari penjajahan Mataram masih nampak dengan ladang pesawahan yang luas. Sedangkan di utara dan selatan kita gambarkan sebagai ruangan yang memperlihatkan budaya asli masyarakat Bandung sebagai Suku Sunda dengan berkebun (huma).

Selain itu, nama-nama geografis dan toponim jalan yang terdapat di Bandung memiliki ciri-ciri tersendiri yang menarik untuk kita telusuri. Sehingga, ini menjadi nilai lebih bagi sebuah kota agar dapat mengenalkan sejarah kota tersebut kepada warganya. Inilah Bandung yang saya rasa telah menjadi “museum” kota yang megah.

Setiap kota memang memiliki kekayaan sendiri yang unik untuk kita telusuri. Dan bagi saya pribadi, Bandung adalah dataran yang kumplit untuk belajar dinamika sebuah kawasan. Sangat disayangkan apabila potensi-potensi ini tidak dapat diolah sebagai daya tarik wisata.

Potensi ini sudah cukup banyak untuk membuat Bandung menjadi sebuah kota yang bersejarah. Tapi, mampukah potensi yang ada ini membuat orang lain mudah untuk mengetahuinya?

Hingga saat ini, termasuk saya pribadi memang agak sulit untuk mengetahui sejarah dari tempat yang kita kunjungi di Bandung. Kita harus mencari berbagai sumber di internet, buku, atau komunitas yang bergerak dalam bidang tersebut terlebih dahulu barulah kita mendapatkan informasi yang dimaksud.

Kesulitan ini membuat banyak wisatawan hanya sekedar berswafoto dengan latar belakang bangunan cagar budaya, misalnya, tanpa mereka ketahui kilas balik sejarah di belakangnya. Ini sungguh sangat disayangkan.

Di era yang serba canggih ini sebetulnya hal-hal semacam itu dapat diatasi. Salah satu caranya dengan membuat informasi digital yang dihubungkan dengan gawai mereka melalui scan QR misalnya. Dengan begitu, wisatawan akan mudah mengetahui kilas sejarah yang terjadi di tempat tersebut. Kemudahan teknologi yang saat ini begitu cepat, tidak memungkinkan untuk mewujudkan hal tersebut.

Sehingga, siapapun akan menikmati perjalanan yang menarik saat berwisata ke Bandung. Tidak hanya bagi warga diluar Bandung, tetapi masyarakat Bandung sendiri pun akan mudah mereka mengenali sejarah kota yang mereka tinggali. Yang akhirnya, mereka akan terus mencintai dan menjaga kota tersebut dari hal-hal yang tidak diinginkan. [End/RRB]


IDENTITAS PENGIRIM:

Rendy Rizky Binawanto
Penulis yang sekaligus pegiat Wisata Budaya, Sejarah dan Kebumian. Email : rendybinawanto@yahoo.co.id


Dokumentasi lainnya :

Kawasan Braga. Dok. Rendy Rizky Binawanto
Pegiat seni di Bandung. Dok. Rendy Rizky Binawanto
Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *