Barry Perdana Putra : Geluti Pariwisata Sejak Balita

Barry Perdana Putra : Geluti Pariwisata Sejak Balita

posted in: Travelers Profile | 0

Memperkenalkan kebudayaan Indonesia melalui trip yang ia jalani sejak beberapa tahun lalu, Barry kini memiliki banyak sekali pengalaman membawa grup besar turis mancanegara. Keyakinan akan Indonesia yang kaya ini sebenarnya akan menguntungkan bagi anak muda. Cerita Barry di dalam interview berikut pastinya mengundang ingin tahu saya lebih jauh tentang Barry dan hidupnya yang menginspirasi. Menurutnya, Hidup ini adalah alam dan kita. Kita diajarkan untuk selalu bersyukur dan selalu memulai dari diri sendiri, menjaga dan peduli terhadap alam Indonesia untuk anak dan cucu kita nanti. Berikut cerita wawancara saya dengan Barry.

[Foto dokumentasi milik Barry Perdana Putra, diambil dari laman facebook yang bersangkutan]

Barry mulai traveling sejak umur berapa? Apa yang membuat Barry ingin traveling?

Saya mulai travelling sejak sebelum mengenal bangku sekolah, waktu itu sekitar usia 3 atau 4 tahun Bapak sering ajak jalan-jalan, sering diajak mancing ke laut dan susur sungai juga. Dari sana beliau mulai memperkenalkan saya tentang dunia alam bebas. Hingga saya dibiarkan lebih peka untuk mengakrabkan diri dengan alam dan terasakan hingga saat ini.

Bagaimana latar belakang hidup yang membentuk Barry yang sekarang?

Barry Perdana Putra, sebuah nama yang mungkin tidak lumrah untuk dimiliki orang Indonesia. Namun itu merupakan sebuah pemberian dari orang tua saya. Orang tua saya bekerja di Industri Pariwisata, Bapak saya menekuni karirnya di bidang pramuwisata dan seni budaya, pun Ibu saya menekuni pekerjaannya sebagai pengusaha kain tenun Gedogan.

Berkebetulan sekali dengan desa kami, Pringgasela merupakan salah satu daerah tujuan wisata untuk kerajinan dan tradisi tenun gedogan Songket yang berada di lombok timur. Hampir setiap perempuan di desa kami penenun. Hingga saat ini pekerjaan tersebut masih digeluti dengan baik.

Saya merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Saya salah satu anak yang aktif bercengkrama dengan alam. Ayah saya, kerap disapa “Bang Erwin”, perlahan menitiskan darah petualangnya kepada saya. Beliau merupakan sosok ayah yang aktif dan begitu inspiratif. Beliau di kenal sebagai sosok ayah berjiwa muda yang hampir begitu jarang tinggal dirumah.

Selalu ada aktivitas hingga perjalanan panjang yang dilakukannya. Selain sebagai hobi, aktivitas jalan-jalan merupakan sebuah pekerjaan utama yang beliau tekuni hingga saat ini. Beliau merupakan salah seorang pramuwisata aktif di Lombok yang sering kali melakukan perjalanan di berbagai pulau di Nusantara.

Semenjak menduduki bangku SMP saya mulai melepas diri untuk bepergian sendiri ataupun bersama teman tanpa dibarengi dan didampingi oleh sang Ayah. Saya mulai melebarkan langkah untuk mengenal lebih dalam akan alam bebas. Pendakian demi pendakian mulai saya tekuni, hingga hampir waktu luang di luar sekolah  saya lakukan dengan hiking, trekking ataupun jalan-jalan biasa.

Semakin tahun usia bertambah saya semakin tertantang untuk melakukan banyak hal, ingin tahu akan banyak hal, dan juga ingin menjelajah lepas tempat-tempat berbeda. Saya tidak tahu apakah itu dinamakan hobi atau aahh, entahlah. Yang jelas saya waktu itu adalah seorang anak yang memiliki aktivitas begitu berbeda dari teman-teman sebaya saya. Bukan seorang anak yang memainkan game komputer, playstation atau bahkan gadget lainnya.

Hingga keakraban saya dengan alam berasa berpadu dan menyatu dengan jiwa saya, saya semakin melakukan perjalanan menggila, hingga sosok ayah yang mengenalkan saya tentang alam mengeluhkan aktivitas yang mungkin terlihat menjengkelkan tersebut. Kenapa? Iya, barangkali di pemikiran beliau. Beliau ingin bagaimana saya bisa mengembangkan kegiatan yang saya lakukan untuk bisa meraih pendapatan.

Okay, semisal saya selalu di lihat turun naik gunung, sementara dia menceritakan bagaimana dia turun naik gunung dan mendapatkan uang. Saya mulai paham akan keinginan dari Sang Ayah. Masuk di bangku SMA saya sudah dimulai minta untuk menjadi pemandu lokal di desa Saya, ketika para wisatawan berdatangan saya begitu aktif untuk menemani mereka berjalan kampung dan menjelaskan proses dari pembuatan kain songket yang kami miliki.

Tentunya waktu itu Bahasa Inggris yang saya miliki masih kocar-kacir, tapi saya berusaha nekad untuk menjalaninya, katakan saja asal nyambung tapi mereka paham. Seiring waktu aktivitas sebagai pemandu lokal membuahkan kemampuan berbahasa saya lumayan baik. Dari jenjang tersebut cerita perjalanan saya sebagai pemandu pendakian gunung atau trekking guide bermula.

Hingga apa yang ayah saya harapkan tercapai. Pulang jalan-jalan bawa duit pulang. Masa abu abu putih sudah berujung pada saatnya, saya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perkuliahan. Namun orang tua lebih memilih untuk saya membantu di Gallery tenun yang mereka miliki. Saya berusaha menurut, karena saya yakin mereka memiliki alasan yang kuat. Dua tahun lepas hidup bebas bringas dan lepas hingga bahkan masuk di duina yang penuh lubang dan kegelapan. Tapi pada akhirnya semua bisa saya tepis dan perlahan berubah dengan sendirinya. Saya bahkan sering kerja serabutan, entah pernah sebagai pedagang jagung bakar, tukang parkir atau bahkan penjaga  lokasi wisata kolam renang, dan banyak hal lagi.

Lakukan saja, kataku, asal berkah dan halal. Di dua tahun itu pun saya pernah memiliki rambut panjang hingga didreadlock. Bahkan hingga saya mampu menghasilkan uang ketika orang ataupun teman ingin rambutnya untuk dirasta. Dan saya pun bisa hasilkan uang.

Dua tahun nganggur? ahh, cukup sudah. saya pun pamit untuk pergi keluar kota dan tinggalkan desa. Saya mencoba untuk masuk dan registrasi di  akademi Pariwisata Mataram NTB. Saya mengambil sebuah jurusan yang memang sebelumnya saya geluti, UPW atau Usaha Perjalanan Wisata.

3 Tahun berjuang bersama almamater unyu-unyu (karena warnanya ungu sih) tapi alhamdulillah terlalui juga, kuliah kerja kuliah kerja. Malahan kebanyakan kerja daripada kuliahnya. Diomelin dan tegur dosen atau apalah. Tapi pada akhirnya karena sayapun bertanggung jawab akan hal tersebut mereka dapat memahami ketidakhadiran saya di kuliah sebab memang saya kerja untuk di pariwisata, perjalanan wisata. Pada saat itu saya kerja di sebuah perusahaan Belanda yang berinduk di Lombok, PT. Sunda Trails. Dan pada akhirnya perjuangan di bangku perkuliahan usai adanya, lumayan memuaskan.

Sekarang kegiatan Barry apa ?

Dimulai dari menjadi local guide, melakukan perjalanan overnight, long trip, overland bahkan specialist untuk long trip cycling dan sekarang saya sudah mampu melihat luas akan keindahan Indonesia sebagai Tour Leader. Sumatera Jawa Bali hingga Flores dan Pulau lainnya terjelajahi sudah, and I Love My Job (of course!). Hilang di rumah hingga 1 bulan per kali trip menemani group wisatawan mancanegara. Hingga saya begitu merasakan betapa bersyukurnya menekuni sebuah perkerjaan yang memang terkahir dari kebiasaan (hobi).. Saya memang pada saat ini Freelance, tapi prioritas bekerja di beberapa perusahaan asing. Tentunya, jalan-jalan yang dibayar dong  :p

Sejak kapan membawa grup turis keliling indonesia? Bagaimana dengan kendala bahasa, Kak Barry bisa bahasa inggris kan?

Sejak Usia 18 Tahun kakak.. gak keliling Indonesia Banget sih… Bahasa ..? So fine lah.. masih improve banyak bahasa lagi..

Punya kenangan baik dan buruk gak selama keliling Indonesia?

Tentunya banyak banget… Dari berangkat dengan pengalaman yang ada di pulau Lombok.. Eh, sampai gak nyangka bisa tahu banyak tentang saktinya alam Indonesia. Dulu mana pernah liat gajah, Orang Utan, ke Samosir, gunung api aktif lainnya. Bahkan suku-suku pedalaman lainnya. Sekarang itu gak hanya lagi ada di pelajaran SD saya dulu.. Sekarang saya lihat, alami dan rasakan langsung.

Apa sih cita-cita Barry terhadap pariwisata Indonesia?

Kedepannya, bahkan saat ini saya sudah mulai menyerap pengalaman yang saya dapatkan dari setiap perjalanan untuk saya kembangkan di wilayah saya , di teman sekeliling saya , sehingga mereka dan banyak orang nanti tentunya akan sama-sama merasakannya.

Apa pesan Barry kepada seluruh anak-anak muda Indonesia yang peduli dengan pariwisata Negeri ini ?

Apapun itu, kita anak Indonesia harus sangat bersyukur memiliki negeri kaya raya seperti Indonesia ini. Simpel aja, bayangin saja, hampir semua dari kebutuhan para wisatawan yang berkunjung ke Indonesia mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Bagaimana itu semua bisa bertahan hingga generasi kita selanjutnya masih dapat merasakannya.

Peduli, jaga, dan rawatlah alam Indonesia dengan baik. Alam salah satu sumber penghidupan kita. Alam merupakan sumber murni dan nyata atas pembelajaran hidup kita. Alam adalah KITA. Mulai dari diri sendiri.

Pikirkan.. Berbuat.. Dari Kita dan Untuk Kita. [Griska R. Gunara/End]

Penyunting : Bela Jannahti

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    723
    Shares
Follow Griska Gunara:

Tinggal di Bekasi. Traveler yang berprofesi sebagai photogragpher. Aktif dalam kegiatan komunitas traveler di Jabodetabek.

Komentar Pembaca