Berkemah di Lahan Basah Pesisir Bekasi

Beberapa tahun lalu, Bekasi viral di dunia maya karena kemacetan luarbiasa yang membuat jarak beberapa kilometer harus ditempuh berjam-jam. Bekasi seolah berada di planet lain yang tidak terjangkau dari Jakarta. Padahal dia adalah kota satelit Jakarta yang tergabung dalam kawasab penyangga Jabodetabek.

Hal ini membuat stereotip tentang Bekasi adalah macet, asap kendaraan, panas matahari, aspal, gersang, dan gedung bertingkat jadi bergelayuy di benak orang yang belum pernah kesana. Namun, Hanif menepis semua sak wasangka tersebut. Di Travelnatic, dia menceritakan bahwa ada kawasan di Bekasi yang sangat asri dan kaya keanekaragaman hayati. What? Apa tidak salah baca? Bagaimana mungkin ada lahan hijau disana? Nah daripada penasaran, lebih baik simak kisah panjang nan menyejukkan dari Hanif berikut.


Oleh : Hanif Nur Hasan Al Faruqi

Setahun yang lalu, tepatnya bulan Januari 2020 saya berkesempatan menuju ke sebuah lahan basah yang menjadi habitat bagi tumbuhan bakau atau mangrove dan tentunya beragam jenis satwa liar. Lahan basah yang jaraknya cukup jauh dari jantung kota Bekasi itu bernama Muara Gembong. Untuk menuju kawasan yang dihuni penduduk dengan mata pencaharian utama berupa nelayan saya ditemani Bang Ojan, seorang kawan dari Mahasiswa Pencinta Alam Kapal Baja (Universitas Bhayangkara) yang bersedia menggunakan sepeda motornya untuk menempuh perjalanan yang memerlukan keberanian khusus sebab kondisi medan yang berlumpur dan jalanan yang tidak rata.

Sekilas wajah Lutung jawa (Trachipytecus auratus) dan Blekok sawah yang tengah terbang. Dok. Hanif NHA

Secara administratif, Muara Gembong berada di wilayah paling ujung dari Kota Bekasi, sebagai Kecamatan. Berbatasan dengan Kabupaten Kawarang di Timur, Teluk Jakarta di Barat, Laut Jawa di Utara dan Kecamatan Babelan di Selatan. Kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati ini sudah menjadi daya tarik bagi berbagai kalangan di mulai dari masyarakat biasa hingga para petualang dengan minat ‘khusus’ seperti fotografer satwa liar dan misi penanaman mangrove. Bahkan sudah menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian bagi masyarakat Jawa Barat khususnya, karena keberadaan empat pantai dengan eskotika dan panorama alamnya yang menjadikan Muara Gembong cukup ramai dikunjungi bila akhir pekan dan liburan panjang tiba. 

Muara Gembong yang sempat ramai di media massa elekronik ketika beberapa kawasannya yang terdampak atas kebocoran pipa minyak di sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina di Kawarang, Jawa Barat pada Juli 2019. Pencemaran yang kemudian merugikan banyak nelayan karena ikan-ikan lari ke tengah sedangkan perahu nelayan dan nelayan tidak berani untuk ke tengah laut.

Tujuan utama saya adalah mengamati burung air yang terdapat di beberapa titik kawasan Muara Gembong, berbekal sebuah binokuler pinjaman dari Fathur, anggota Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nycticorax – sebuah kelompok studi tertua di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Negeri Jakarta. Berangkat dari Kota Bekasi pada pukul 14.00 WIB, saya bergerak dari rumah menuju ke sekretariat Kapal Baja Universitas Bhayangkara untuk bertemu Bang Ojan. Butuh waktu 3-4 jam untuk tiba di Muara Gembong dan pada sekitar pukul 18.00 WIB selepas adzan maghrib berkumandang di masjid dekat Jembatan Jokowi, saya dan bang Ojan bersiap  menuju rumah para nelayan.

Perlu effort dan keseimbangan untuk bisa membawa motor hingga dapat melewati kubangan lumpur yang lebih dari cukup untuk memberi wajah baru pada ban dan velg motor bang Ojan. Bila mau merogoh kocek sebenarnya saya cukup mengeluarkan uang sebesar 30-60 ribu untuk menyewa kapal hingga diantar menuju ke rumah nelayan paling ujung di Desa Pantai Mekar. Namun, tidak seru bila tidak kotor-kotoran, disisi lain memang saya tidak ingin mengeluarkan uang banyak ketika masih bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi.

Temaram senja yang menyingsing di Barat sebab awan gelap mendominasi langit dan pencahayaan di sekitar rumah nelayan sangat kurang memadai, hanya untuk kebutuhan melaut saja lampu begitu terang. Saya mengitari seperempat luas kolam dan menaiki tangga yang terbuat dari bambu untuk menuju ke rumah nelayan dan mengulik informasi seputar kawasan konservasi satwa liar yang ada di dekat hutan mangrove Desa Pantai Bahagia.

Bagikan artikel