Berkemah di Lahan Basah Pesisir Bekasi

Nelayan memang identik sekali dengan perahu dan jaring untuk menangkap ikan, itulah yang saya tangkap usai melempar pandangan sepanjang lanskap yang ada di depan wajah. Bang Ojan memulai lebih dulu untuk mengucapkan permisi ke tiga laki-laki yang tengah duduk sambil tangannya sibuk merajut jaring dengan jarumbesar seukuran paku dan benang tebal berwarna hijau. Saya mengikuti bang Ojan menyalami mereka dan kemudian duduk bersila di sisi kiri mereka. Maksud dan tujuan saya sampaikan sembari berbincang aktivitas dan hasil tangkapan harian mereka.

Sebelum rehat, saya sempat mengambil gambar ikan yang didapat dari melaut dan melihat-lihat area yang memungkinkan untuk melakukan pengamatan burung esok harinya.

Bang Ojan sedang mengamati burung dari dekat empang. Dok. Hanif NHA

Adzan subuh bergema dari masjid seberang sungai Citarum yang membatasi rumah nelayan yang mayoritas pendatang dari Indramayu dan rumah penduduk, saya terbangun dan menyadari sudah begitu ramainya orang-orang di atas perahu, mereka sibuk menyiapkan mesin dan perbekalan untuk melaut.

Pagi yang cerah itu kami manfaatkan untuk sejenak membersihkan diri karena sejak kemarin belum menyentuh air bersih sedikitpun. Ada sebuah empang di dekat ujung jalan yang disusun menggunakan bambu-bambu panjang, disitulah saya dan Bang Ojan mengamati burung sembari menangkap geliat Lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang melompat dari satu tajuk pohon ke tajuk pohon lainnya. Pengamatan yang kurang nyaman itu akhirnya usai sebab suara mesin perahu menjadikan burung-burung pergi, saya dan bang Ojan kembali ke rumah nelayan tempat kami menginap semalam, suguhan berupa dua gelas teh hangat dan sepiring roti tersaji dari pemilik rumah untuk sarapan pagi kami.

Target selanjutnya adalah Muara Beting yang terdapat di Desa Pantai Bahagia, disana semoga terdapat burung yang bisa didokumentasikan, setidaknya memuaskan dahaga saya setelah perjalanan lumayan menguras tenaga.

Saya bersiap menuju wilayah yang nyamuknya sungguh tajam-tajam dan sengit sekali. Usai turun dari tangga yang menjadi satu-satunya akses menuju rumah para nelayan, saya benar-benar melihat sebuah kubangan besar yang dipinggirnya tertanam sebuah palang besi bertuliskan “Tempat Perlindungan Lutung Jawa”. Disekelilingnya tumbuh pohon-pohon bakau yang berfungsi menjaga ombak laut supaya tidak masuk lebih jauh ke area daratan, lebih tepatnya sebagai pemecah ombak.

Gambaran Muara Beting saya dapatkan dari warga yang dirumahnya menjadi tempat pelelangan ikan secara terbatas, ketika tiba di Desa Pantai Bahagia, rumah warga itulah yang kemudian saya gunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai akses menuju Pantai Bahagia, sebab nantinya kami akan mendirikan camp sederhana. Jalan menuju Pantai Bahagia didukung dengan tersedianya jembatan sementara yang menurut informasi dari warga, jembatan sekaligus jalan penghubung rumah warga satu dengan lainnya itu dibangun oleh para Tentara Nasiona Indonesia ketika membantu proses evakuasi ratusan karung pasir pantai yang tercemar minyak PT. Pertamina.

Saya sempat singgah di salah satu rumah warga yang menawarkan untuk singgah, disarankannya saya untuk menggunakan lotion pengusir nyamuk, ya karena memang lahan basah dan lingkungan yang sudah tidak lagi bersih menjadi tempat berkembang biak para nyamuk. Saya manut dan membeli dua lotion anti nyamuk untuk bekal selama di tenda.

Tenda sudah berdiri dan kami usai menyalakan perapian untuk membakar ikan belanak yang sempat saya beli di perjalanan pulang dari rumah nelayan dekat konservasi satwa pada pagi harinya. Hujan sempat mengguyur siang harinya, sehingga tempat kami mendirikan camp menjadi lembab dan nyamuk semakin membabi-buta, saya berusaha menyembunyikan diri dibalik kain hammock, kepalang basah, nyamuk sudah masuk dari celah-celah lubang yang tak rapat. Bang Ojan tidak diarea camp ia sedang pergi ke tengah-tengah laut yang sedang surut airnya, disana sudah ada seorang laki-laki berkulit hitam melempar jaring kecil.

Matahari sedang bersembunyi dibalik awan, kami sudah melenggang pulang sebab tujuan sudah tercapai meski tidak maksimal. Ada hal-hal yang tetap membuat saya ingin kembali ke Muara Gembong, tentu karena ini di Bekasi, salah satu Kota yang menjadi saksi pertumbuhan saya dan untuk berkelanjutannya adalah pendataan burung yang semoga bisa bertahap dilaksanakan. 

Sebagai warga negara Indonesia yang masih berusaha untuk kelestarian burung semoga saya bisa berkunjung kembali lagi untuk belajar dan mengamati satwa, paling tidak ya saat-saat seperti bulan Januari dan Februari yang menjadi agenda rutin Asian Waterbird Cencus (AWC). APAKAH AWC ITU? Asian Waterbird Census (AWC) merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bersifat global, yaitu kegiatan tahunan dengan basis jaringan kerja yang bersifat sukarela, dilakukan setiap minggu ke-2 dan ke-3 Januari setiap tahunnya. AWC Indonesia adalah sensus burung air Asia yang dilaksanakan di Indonesia yang bertujuan untuk mendukung pemutakhiran data serta peningkatan kapasitas dan penyadartahuan publik tentang nilai penting burung air dan habitatnya di Indonesia.

Kegiatan ini menjadi salah satu perangkat bagi upaya konservasi burung air serta lahan basah sebagai habitatnya dengan melibatkan para sukarelawan. Data dan informasi tersebut kemudian digunakan sebagai rujukan estimasi populasi burung air secara global maupun untuk keperluan pengelolaan di tingkat nasional/lokal, tidak kurang dari 5 juta km2. Status sejumlah 871 jenis burung air kemudian dikaji secara ilmiah untuk menentukan kegiatan pengelolaannya. Di Indonesia, data mengenai populasi digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan beberapa Taman Nasional penting, penentuan lokasi penting untuk Konvensi Ramsar dan East Asian Australasian Flyway Partnership serta penentuan status
jenis-jenis yang dilindungi.

Sejak tahun 1986, Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia telah mengoordinasi pelaksanaan program Asian Waterbird Census (AWC) di seluruh Indonesia. Pada tahun 2021, kegiatan citizen science AWC Indonesia berkolaborasi dengan kegiatan Monitoring Burung Pantai Indonesia (MoBuPi) serta secara bersama-sama diselenggarakan oleh Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia, Yayasan Ekologi Satwa Alam Liar Indonesia, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, dan Burungnesia.  

Singkatnya begini, saya ingin berbagi cerita tentang sekilas yang saya sedikit mengerti tentang Muara Gembong dari perjalanan saya setahun silam dan mengabarkan adanya kegiatan Sensus Burung Asia pada Januari hingga Februari tahun 2021 ini. Sebab, penduduk yang baik adalah penduduk yang mau melakukan sesuatu dengan sederhana dari lingkungan tempat tinggalnya untuk memberi dampak yang baik pada ekosistem di tempat tinggalnya. [End]

Bagikan artikel