Berpeluh Jagung, Berjuang Mewujudkan Wisata Lestari

Berpeluh Jagung, Berjuang Mewujudkan Wisata Lestari

posted in: Otherside | 4

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur meraih “UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism” di acara “12th UNWTO Awards Forum” di Madrid, Spanyol pada akhir tahun 2015 lalu. Seandainya UNWTO mau melakukan survey terhadap kegiatan pemuda-pemudi di Jawa Barat, bukan tidak mungkin jerih payah kawan-kawan disana layak untuk didapuk penghargaan juga. Namun, entah ada entah tidak penghargaan untuk kegiatan kesukarelawanan semacam ini. Yang pasti, motivasi kawan-kawan di Jawa Barat memang bukan untuk meraih penghargaan tertentu.

Geliat kegiatan sukarelawan di Jawa Barat begitu terasa. Setidaknya itu bisa dipantau pada dua tahun terakhir. Perkenalan dengan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan mereka dan mendengar informasi mengenai kegiatan lain yang ribuan jumlahnya, semakin meyakinkan, bahwa di Jawa Barat geliat itu memang nyata. Pemuda-pemudi disana memang mengambil peran sangat besar dalam berbagai hal yang bisa mereka masuki. Ini patut diacungi jempol dan patut diteladani oleh kawan-kawan dari daerah lain yang sekarang sedang sibuk mencari bagaimana bentuk gerakan untuk bisa berkontribusi bagi masyarakat dan negara Indonesia tercinta ini.

Berikut ini adalah secuplik kisah mereka secara umum. Tulisan ini bukan pujian yang berlebihan atas kinerja kawan-kawan di Jawa Barat. Mereka pantas mendapatkannya, dan kita sebagai pembaca, pantas untuk mengapresiasinya. Mari serap pengalaman mereka untuk kita terapkan dengan penyesuaian di tempat kita masing-masing.

Alam, Manusia, dan Kerusakannya

Wisata sekedar untuk menghilangkan rasa penat karena rutinitas memang tidak ada salahnya. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah apa yang tertinggal di lokasi-lokasi tujuan wisata setelahnya. Tidak jarang kita melihat postingan dari berbagai daerah mengenai banyaknya sampah yang menumpuk setelah lewat akhir pekan. Tidak hanya di objek wisata yang sudah dibuka untuk umum dan memiliki akses yang mudah. Bahkan di penjuru gunung dan lokasi wisata dengan akses yang sulit pun kini kita dapat menemukan tumpukan sampah.

Bagi kebanyakan wisatawan, membuang sampah pada tempatnya sejauh ini hanya jadi slogan ketika masih di bangku sekolah dasar. Tidak ada realisasi di dunia nyata. Kebanyakan orang yang melihat postingan mengenai sampah yang berserakan di tempat-tempat wisata hanya mampu berkomentar, karena tidak bisa langsung bertindak. Berbeda halnya dengan kawan-kawan atau warga di dekat lokasi-lokasi wisata yang dapat langsung bertindak. Hal ini menimbulkan langkah preventif, beberapa waktu banyak postingan foto sekaligus caption berisikan informasi detail mengenai destinasi wisata yang indah. Tidak lama kemudian, postingan tentang tempat yang sama berganti dengan foto dan caption dengan informasi secukupnya dan bahkan terkesan ‘dirahasiakan’.

Bagi sebagian orang “promosi rahasia” ini terkesan menyebalkan memang. Hal ini memunculkan anggapan, kalau memang tidak ingin informasinya tersebar ya tidak usah diunggah ke sosial media sekalian. Inilah sebagian kecil konsekuensi dari ulah-ulah wisatawan yang kurang peduli terhadap lingkungan.

Pembukaan objek wisata baru, di satu sisi akan menguntungkan masyarakat sekitar dari segi ekonomi. Banyak warga di Jawa Barat ingin potensi wisata di daerahnya menjadi dikenal dan banyak dikunjungi. Namun karena pengaruh buruk dari wisata massal, ada pula yang menginginkan sebaliknya. Jika ada suatu lokasi memiliki potensi wisata yang menjanjikan di masa mendatang, artinya memiliki tingkat kunjungan yang konsisten dan cenderung mengalami peningkatan, bukan tidak mungkin akan berdampak pada perbaikan infrastruktur setempat. Hal ini sudah ditunjukkan oleh beberapa daerah, sebut saja Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, serta Kabupaten Majalengka. Meskipun tidak terjadi pembenahan besar-besaran, tetapi minimal pembenahan menuju dan di dekat objek wisata tersebut dilakukan dan menjadi prioritas pemerintah.

Seperti telah disebutkan diatas, ada juga warga setempat yang tidak ingin “lokasi yang berpotensi menjadi objek wisata” ini dikunjungi oleh terlalu banyak orang. Konsekuensinya, promosinya dilakukan dengna sangat terbatas. Ada banyak hal yang menjadi alasan pembatasan informasi ini, namun selalu akan kembali ke permasalahan kebersihan dan efek sosial yang ditimbulkannya.

Permasalahan kebersihan saat ini menjadi ‘musuh’ utama dalam sektor pariwisata. Hal ini membuat beberapa komunitas, yang memahami dampak wisata massal, menjadi ragu untuk mempublikasikan ‘temuan’ objek wisata baru. Meskipun hal ini bisa menjadi potensi pendapatan daerah. Selain permasalahan kebersihan, permasalahan kesopanan dan penghormatan atas kepercayaan setempat pun seringkali mengemuka.

Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung

Suatu tempat yang biasanya ‘baru saja ditemukan’, terutama di daerah pelosok bukan tidak mungkin masih mengandung cerita sarat mistis atau masih memiliki hal-hal tradisional yang masih dipercayai dan dilakukan. Larangan atau aturan tradisional tertentu bahkan berlaku untuk tujuan wisata yang sudah mendunia. Misalnya ada larangan mengunjungi lokasi tertentu pada hari-hari tertentu. Seperti yang sudah sering kita dengar di Baduy, Kampung Naga, Bali, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Meskipun alasan yang mendasarinya terkesan kurang masuk akal untuk sebagian besar orang, tetapi alangkah baiknya kita sebagai pengunjung menghormatinya dan tidak nekat untuk melanggar aturan tersebut, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Suatu tempat yang sudah memiliki penegasan status berlandaskan hukum resmi dari negara pun terkadang masih belum bisa terjaga dari wisatawan-wisatawan yang tidak bertanggungjawab. Sebut saja area Cagar Alam dan Suaka Margasatwa yang termasuk ke dalam Kawasan Suaka Alam. Penetapan ini bahkan sudah ada di undang-undang dan memiliki sanksi hukum yang jelas. Pada kenyataannya, masih banyak kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa yang disalahgunakan peruntukannya demi kebutuhan hobi dan wisata semata.

Penyalahgunaan ini mulai dari tingkatan yang sangat ringan yaitu hanya sekedar melintas, bermalam (kemping), atau yang terberat adalah melakukan kegiatan yang memberikan dampak kerusakan langsung pada Kawasan Suaka Alam tersebut. Padahal hakikatnya lingkungan di dalam Kawasan Suaka Alam tidak diperkenankan berubah selain dampak alami dari faktor alam. Permasalahan yang dihadapi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa tidak lain datang dari kegiatan manusia dan dari kegiatan yang terkait kebutuhan hidup manusia (penebangan hutan ilegal, perburuan satwa ilegal, serta pembukaan lahan baru ilegal).

Dampak terbesar dari kerusakan Kawasan Suaka Alam adalah menghilangnya mata air, tumbuhan dan satwa langka bahkan endemik, konflik kawasan antara manusia dan hewan (seperti yang banyak terjadi di Sumatera, Kalimantan, bahkan beberapa daerah di Pulau Jawa), serta rusak atau hilangnya peninggalan geologi, budaya, bahkan sejarah seiring rusaknya kawasan disekitarnya. Bahkan bencana seperti longsor, banjir, dan angin topan pun bisa menjadi salah satu dampak (langsung maupun tidak) dari rusaknya Kawasan Suaka Alam.

Peran Komunitas, Masyarakat, dan Wisatawan di Beberapa Daerah di Jawa Barat

Dibalik semakin maraknya kerusakan yang terjadi terhadap alam dan lokasi-lokasi wisata, ternyata masih ada beberapa individu, komunitas, warga masyarakat yang berjuang untuk mengembalikan kembali kelestarian alam dan budaya yang saat ini sudah dalam kondisi memprihatinkan. Banyak hal yang dilakukan, seperti misalnya kampanye sederhana berisi himbauan menjaga kebersihan. Hal sederhana ini dituangkan dalam pembuatan spanduk, poster, kaos, aksesoris, dan lainnya. Ada juga komunitas dan masyarakat setempat yang turun langsung menjaga serta mengelola kebersihan di beberapa lokasi wisata yang ramai pengunjung namun belum dikelola secara resmi.

Pada umumnya, yang harus bergerak pertama untuk menjaga dan mengelola suatu objek wisata yang baru ‘ditemukan’ adalah karang taruna setempat. Beberapa hal yang dilakukan untuk membenahi area wisata bertujuan untuk keamanan dan kenyamanan pengunjung. Hal tersebut diantaranya pembuatan papan petunjuk menuju lokasi wisata, lahan parkir, pembenahan medan treking (membabat dahan/ranting/rumput liar yang menutupi trek, membuat pijakan pada area yang curam dan licin), penyediaan sarana kebersihan dan toilet, dll. Hal yang demikian ditemukan hampir di seluruh wilayah di Jawa Barat, seperti Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kabupaten Majalengka.

Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Garut merupakan dua kabupaten yang tengah berbenah dan gencar mempromosikan potensi wisatanya. Beragam kegiatan dilakukan oleh beberapa individu ataupun komunitas yang konsisten ‘mencari’, mengenalkan, mempromosikan, hingga menjaga objek wisata yang sudah ada. Umumnya hal yang dilakukan oleh kelompok atau individu ini  masih bersifat non-profit dan swadaya. Dalam pelaksanaan teknisnya, para individu, kelompok kecil, ataupun komunitas dengan anggota yang cukup banyak ini turun langsung atau istilahnya blusukan ke berbagai pelosok di daerahnya. Segala kegiatannya didasarkan atas rasa kepedulian akan potensi wisata di daerahnya dan kepedulian atas kelestarian wisata yang sudah ada di daerahnya. Tidak jarang juga, komunitas dan individu tersebut dapat membangkitkan kembali popularitas objek-objek wisata yang sebelumnya memiliki tingkat kunjungan rendah.

Mereka tidak hanya ‘mencari’ dan mengenalkan potensi wisata daerahnya saja. Tetapi juga menjaga dan mengelola kebersihan objek wisata. Bahkan, mereka pun tidak sungkan menegur pengunjung yang terbukti melakukan tindakan yang merugikan dan merusak lingkungan. Tindakan pencegahan pun dilakukan dengan pintar-pintar memilah mana potensi wisata yang ‘sudah siap’ menerima lonjakan pengunjung dan mana yang tidak. Hal ini juga tidak terlepas dari kesepakatan dengan warga yang tinggal di lokasi tersebut. Bagaimanapun, warga setempatlah yang pertama kali merasakan imbas langsung.

Promosi tentang potensi wisata tidak cukup hanya dengan memposting suatu foto dengan informasi lokasi yang jelas. Diperlukan pendataan yang konsisten, lengkap, dan terstruktur untuk memudahkan pengembangan di masa yang akan datang. Hal ini seperti yang dilakukan oleh komunitas di sekitar Bandung Raya yang memiliki fokus pada pendataan gunung dan bukit di sekitar Bandung Raya. Pendataan dilakukan dengan proses survey jalur, pembukaan jalur, pendataan flora dan fauna, serta pendataan mengenai kondisi sosial ekonomi warga di sekitar lokasi.

Dalam pelaksanaannya, tidak jarang menemui jalan buntu. Kekuatan fisik yang terkuras habis karena medan yang sangat berat, disorientasi medan akibat tertutup dan lebatnya hutan, ancaman binatang buas, serta faktor alam lainnya tidak jarang menghentikan kegiatan pendataan dan observasi para anggota komunitas ini. Namun, hal tersebut tidak menjadikan mereka putus asa. Kegagalan pendataan dan observasi menjadi sebuah ‘tugas’ yang akan dilaksanakan di kemudian hari (revisit).

Peran Sosial Media dalam Upaya Promosi dan Pengawasan Objek Wisata

Lain cerita di Kabupaten Tasikmlaya, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Majalengka. Lain pula di Kabupaten Sukabumi. Para penggiat wisata di Kabupaten Sukabumi memiliki cara yang unik, kreatif, namun konsisten dalam memajukan dan menjaga kelestarian lingkungan, terutama di sekitar lokasi wisata. Diprakarsai oleh ide individu, kemudian berkembang menjadi suatu komunitas yang konsisten mempromosikan sekaligus menjaga potensi wisata yang ada di Kabupaten Sukabumi. Komunitas ini memanfaatkan secara maksimal fasilitas dan efek dari media sosial.

Pembuatan berbagai website penunjang kegiatan promosi wisata menjadi pilihan yang digunakan oleh komunitas ini. Sebut saja informasi khusus mengenai kuliner, jual-beli, budaya, wisata alam dan minat khusus, dll yang berkaitan dengan wisata di Kabupaten Sukabumi sudah dapat diakses online. Informasi ini tersedia dalam situs web atau fans page sesuai dengan kriteria informasi yang dibutuhkan. Dalam hal pengontrolan objek wisata dan segala penyimpangannya pun dilakukan dengan memantau informasi-informasi di media sosial. Masyarakat yang berada di seluruh Kabupaten Sukabumi dapat dengan mudah mengakses informasi dan memberikan informasi mengenai penyimpangan yang terjadi, serta dapat segera ditanggapi oleh pengakses.

Penyimpangan tersebut misalnya, maraknya pemungutan liar pada waktu ramainya kunjungan wisatawan (hari libur sekolah, libur nasional, hari raya), kerusakan fasilitas yang berada di sekitar objek wisata, bahkan kerusakan akses menuju beberapa lokasi wisata pun dapat diinformasikan di media sosial yang tersedia. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi dan interaksi cukup efektif untuk mengenalkan sekaligus mengontrol perkembangan wisata di Kabupaten Sukabumi.

Diprakarsai oleh beberapa daerah di Jawa Barat, akhirnya mulai bermunculan individu-individu di daerah lainnya yang mulai mengenalkan potensi wisata daerahnya. Sebut saja Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Subang, dan lainnya.

Upaya Konservasi untuk Mengurangi Efek Buruk Wisata Massal

Jika banyak komunitas atau individu di berbagai wilayah di Jawa Barat berlomba-lomba mempromosikan potensi wisata di daerahnya, berbeda dengan komunitas yang berlokasi di Bandung. Komunitas di Bandung konsisten untuk menjaga dan meminimalisir kerusakan lingkungan akibat penyalahgunaan fungsi kawasan, dalam hal ini Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. Banyak kawasan Cagar Alam yang sedikit demi sedikit beralih fungsi menjadi ‘lokasi wisata biasa’. Disinilah komunitas tersebut mengambil peran.

Kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini bukanlah hal yang mudah. Dimulai dari mengumpulkan penggiat kegiatan di alam bebas yang sudah paham mengenai fungsi Kawasan Konservasi. Disuksi dan penyebaran informasi kepada masing-masing anggota, hingga pelaksanaan langsung di lapangan. Pelaksanaan langsung di lapangan merupakan hal yang cukup sulit. Pelaksana akan beradapan langsung dengan wisatawan yang kedapatan menyalahgunakan fungsi kawasan. Baik yang sudah memahami fungsi kawasan, maupun yang tidak tahu sama sekali. Selain berhubungan langsung dengan wisatawan, komunitas ini tidak jarang harus berhadapan dengan instansi pemerintah, swasta, bahkan harus melalui tahapan formal dalam proses pendekatan dan edukasi kawasan.

Hal-hal yang terkait upaya pelestarian wisata tidak hanya datang dari ‘lingkungan pribumi’ saja. Tidak jarang wisatawan yang datang pun memberikan kontribusi tambahan. Banyak komunitas yang tidak hanya sekedar berwisata, tetapi juga memberikan ‘bantuan’. Baik untuk warga sekitar lokasi wisata maupun untuk lokasi wisata itu sendiri. Misalnya komunitas yang konsisten membagikan buku-buku anak, membuat taman bacaan, menjadi tenaga pengajar sementara, hingga memberikan bantuan yang bersifat teknis (renovasi, pemasangan instalasi, perbaikan prasarana dll).

Apapun kegiatan yang dilakukan oleh berbagai kelompok di berbagai daerah di Jawa Barat khususnya terkait wisata dan budaya, perlu mendapat apresiasi sekaligus menjadi contoh bagaimana menjadi wisatawan yang sadar lingkungan. Bukan menjadi wisatawan perusak alam yang merugikan. [Dya Iganov/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    518
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

4 Responses

  1. nice blog !

    hatur nuhun Dya

    🙂

    jangan lupa #SukabumiFace

  2. Hehe neneng dya (y)

Komentar Pembaca