Berselimut Kabut di Gunung Merapi

Berselimut Kabut di Gunung Merapi

posted in: Experience | 0

Dini hari buta, perlahan sinar kemerahan mulai menerang. Kulihat dikejauhan orang-orang merangkak beriringan menggapai titik tertinggi itu. Jaket-jaket tebal membalut tubuh mereka. Tanpa lelah semangatnya terus memacu diri untuk segera menepi. Menepi pada titik akhir pendakian di puncak Gunung Merapi.

Sabtu pagi, kereta telah berhenti di Stasiun Lempuyangan. Bergegas kami turun dengan tas-tas ransel besar dipunggung. Sorotan mentari menjadi sambutan yang harmonis bagi kami. Kehangatan sinarnya begitu menghangatkan tubuh. Kami tiba di kota berjuluk kota pendidikan, Yogyakarta.

Perjalanan yang panjang Bandung-Yogyakarta dengan kereta api membuat tenaga cukup terkuras. Semalam penuh kami duduk diantara penumpang lain yang tak saling kenal. Kami beranggotakan sepuluh orang mojang dan jajaka Bandung. Dan tekad kami kesini adalah menapaki titik tertinggi di puncak Gunung Merapi.

Di luar stasiun kami telah disambut oleh seorang supir yang akan mengantarkan kami ke Desa Selo, titik awal pendakian ke Gunung Merapi dan juga Gunung Merbabu. Tak lama dari saat itu kami bergegas meninggalkan mentari yang kian meninggi. Membelah kota Yogyakarta menuju utara dimana dua gunung vulkanik yang bersejarah bagi warga Yogyakarta dan Jawa Tengah telah menanti kedatangan kami.

Perjalanan dari stasiun kereta api Lempuyangan sampai tiba di Desa Selo memakan waktu 3 jam menggunakan kendaraan roda empat. Jalanan berkelok melewati lereng berundak dua gunung vulkanik di utara Yogyakarta. Sepanjang perjalanan hamparan perkebunan warga sekitar terpampang begitu luas. Kebanyakan perkebunan itu berupa tembakau dan juga sayur-mayur. Tanah di kawasan ini memang sangat subur. Dua gunung api aktif yang mengapit kawasan ini telah menjaga unsur-unsur kesuburan tanah.

Sepanjang perjalanan terlihat pula truk-truk mengangkut pasir dan juga batu hasil dari erupsi Merapi 2010 silam. Satu sisi Gunung Merapi menjadi malapetaka bagi sebagian warga yang menjadi korban langsung dari erupsi. Namun disisi lain, letusan besar Gunung Merapi kala itu telah mengembalikan kesejahteraan warga yang mendiam di lerengnya. Kali-kali yang dialiri lahar dingin dari Gunung Merapi menjadi sumber perekonomian warga di sekitar lereng. Perekonomian warga naik hingga 90% akibat adanya pemanfaatan sumber alam tersebut.

Hilir mudik kami bercerita, sampai juga kami di sebuah rumah untuk tempat kami singgah. Disini kami memeriksa kembali peralatan dan juga persediaan makanan selama pendakian. Pemilik dari rumah ini bernama Bapak Nardi. Seorang lelaki paruh baya yang sangat baik hati. Para pendaki sering kali menginap disini selepas pendakian sebelum bertolak pulang ke kota mereka. Mungkin bagi kalian yang pernah mendaki Gunung Merapi ataupun Gunung Merbabu melewati jalur Selo mengenal sosok Bapak yang satu ini.

Awal Pendakian Gunung Merapi

Selepas shalat dhuzur kami bergegas menuju basecamp Barameru untuk pendaftaran mendaki. Peta jalur pendakian terpampang di dinding basecamp Barameru. Perkiraan total pendakian akan memakan waktu 5-6 jam dengan medan menanjak. Kemiringan lerengnya berkisar 30o-45o. Sangat curam dengan permukaan tanah berbatu lepas dan juga licin.

Mengawali perjalanan pertama, kami disuguhi oleh hamparan kebun tembakau yang hijau. Beberapa monyet terkadang saling bergelantung diantara pohon-pohon besar. Serasa mereka mengawal pendakian kami menuju tempat perkemahan. Terdengar pula kicauan burung-burung yang mendiam di kawasan Taman Nasional ini. Bagi kami pendakian ini cukup membuat kesan yang berbeda.

Jalur pendakian yang cukup curam membuat beberapa kali kami terhenti karena tenaga yang terkuras tak main-main. Keringat terus bercucuran tanpa henti membasahi pakaian yang kami gunakan. Sering kali rekan lain terpeleset akibat rapuhnya pijakan. Tanah merah hasil pelapukan batuan masih berumur muda dan belum terpadatkan. Itu sebabnya, jalur pendakian ini sering kali membuat para pendaki terpeleset jika tidak hati-hati.

Kami memilih tempat berkemah di sebuah lahan yang cukup luas sebelum mencapai Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah tempat perkemahan para pendaki di Gunung Merapi. Kami tak memilih berkemah di Pasar Bubrah ini karena badai selalu menerjang tenda kala malam. Angin yang berhembus dari arah timur sangat kencang. Pasar Bubrah yang permukaannya berupa batuan lepas hasil erupsi akan sangat berbahaya jika terhempas oleh angin menerjang para pendaki disana.

Sore menjelang malam, tenda telah berdiri. Kami membagi tugas untuk menyiapkan makanan dan lain sebagainya. Kabut kala itu mulai turun menutupi areal sekeliling. Berada di ketinggian +2700 MDPL suhu udara begitu dingin menusuk kulit. Hujan sesekali turun tertiup angin gunung yang basah menambah suhu menjadi sangat dingin.

Malam hari kabut masih belum juga hilang dari pandangan. Para pendaki masih terus berdatangan kala itu. Mereka mencari tempat untuk berkemah dan siap bertolak menuju puncak di keesokan hari. Saya pikir dengan jumlah pendaki yang masih berdatangan, kami tak akan mampu menggapai puncak Merapi. Puncak dari gunung ini hanyalah dinding kawah dengan lebar kira-kira 2-3 meteran dengan panjang yang tak begitu panjang. Cukup sempit untuk para pendaki yang ingin mencapai titik tertinggi gunung tersebut. Para pendaki harus berebut tempat dan ekstra hati-hati jangan sampai terjatuh dan masuk ke dalam kawah.

Puncak Merapi +2930 MDPL

Dini hari orang-orang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk bertolak menggapai puncak. Dan kami pun tak ketinggalan. Selepas shalat subuh kami bertolak dengan harapan mampu mencapai titik tertinggi di Gunung Merapi. Di kejauhan sinar kemerahan mulai nampak. Mengisyaratkan untuk kami bergegas lebih cepat agar tak ketinggalan mendapat momentum matahari terbit di puncak Merapi.

Jalur menuju puncak dari Pasar Bubrah sebetulnya tidak terlalu jauh. Sekitar 200 meteran kita sudah sampai di titik tertinggi Gunung Merapi. Namun, medan jalur untuk menuju puncak sangatlah berat. Untuk keamanan, jalur dibuat berkelok, melipir. Tidak langsung lurus dari pasar Bubrah.Permukaannya berupa pasir dan juga batuan lepas menjadi penghalang kami untuk segera menepi. Satu kali kaki melangkah kaki tersebut akan terbawa turun layaknya tiga langkah. Tak jarang kami pun harus berteriak “awas batu lepas…” kepada pendaki lain agar tidak tertimpa batuan yang jatuh.

Dari jalur menuju puncak ini, Gunung Merbabu terlihat kokoh berdiri menyapa sang Merapi. Arakan awan tebal menjadi keindahan lain disini. Sesekali awan tipis keluar dari bukaan kawah Merapi diatas. Para pendaki berbondong-bondong mencari jalur yang dapat dilewati. Sulitnya ketika kita harus menyeimbangkan badan di kemiringan hampir 60o dengan permukaan batuan lepas yang sewaktu-waktu dapat membuat kita terpeleset dan jatuh.

Hampir satu jam kami merangkak diantara bebatuan akhirnya kami dapat menepi di titik tertinggi Gunung Merapi. Para pendaki sudah memenuhi dinding kawah yang terjal tersebut. Kami harus berbagi dengan yang lain agar mereka pun dapat merasakan bagaimana bahagianya berada diatas sini. Terdapat plat bertuliskan Puncak Merapi +2930 MDPL diantara dinding batu yang menjorok ke dalam kawah. Kabut tebal menyelimuti lubang kawah Merapi kala itu. Bau belerang terkadang menusuk hidung saat angin berhembus.

Tapi demi menjaga keamanan, tidak diperkenankan bagi para pendaki Gunung Merapi untuk mencapai puncak. Jika tidak ditemani oleh seorang guide yang mengenal betul jalur tersebut, jangan karena ego para pendaki berbondong-bondong mencapai titik tertinggi. Apalagi dengan jumlah pendaki yang saling ingin menapaki kaki di titik tertinggi gunung tersebut. Puncak bukanlah titik akhir untuk sebuah pendakian. Jadikanlah perjalanan mendaki suatu gunung sebagai pelajaran untuk mengontrol ego diri sendiri. (pasca kecelakaan yang menimpa seorang pendaki di puncak Merapi beberapa bulan lalu, pihak pengelola melarang pendaki untuk mendaki hingga ke puncak. red).

Kami sangat bahagia dapat mencapai titik tertinggi Gunung Merapi. Terlihat Gunung Merbabu kian terang tersorot mentari yang kian meninggi. Arakan awan kian tebal membalut tubuh kedua gunung. Suhu mulai terasa hangat karena sinar matahari. Rasa lelah dan perjuangan yang tak mudah terbayar sudah dengan keindahan Merapi. Seorang pendaki mengibas-ngibaskan bendera Sang Saka Merah Putih diantara tebing menjulang. Menggambarkan kepada kami tentang inilah Indonesia. Negeri dengan sejuta pesona alam. Sungguh keindahan bumi pertiwi ini tidak ada duanya. [Rendy Rizky Binawanto/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 197
  • 170
  • 156
  •  
  •  
  •  
    523
    Shares
Follow Rendy Rizky Binawanto:

Rendy Rizky Binawanto, seorang mahasiswa Geografi di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Bale Bandung. Ia seorang pejalan yang gemar bercerita. Cerita perjalanannya ia bagikan lewat beberapa media. Sebagai seorang geograf, sebuah perjalanan sangatlah berarti untuknya. Selain untuk penelitian lapangan juga untuk mengenali keunikan di setiap daerah yang ia kunjungi. Motivasinya dalam menjelajah adalah untuk menyebarkan keindahan dan kekayaan alam serta masyarakat yang hidup didalamnya, di luar lingkup orang-orang tinggal. Hal ini agar mereka bergerak dan menyebarkannya kembali kepada mereka yang diam.

Komentar anda?