Bincang-bincang tentang PROJECT #AKSA7 dengan Anggi Frisca

Bincang-bincang tentang PROJECT #AKSA7 dengan Anggi Frisca

posted in: Travelers Profile | 0

Project #AKSA7 merupakan project yang mengangkat cerita dan pelajaran kehidupan dari  pendakian ke tujuh puncak tertinggi di Indonesia. Salah satu produk dari Project #AKSA7 ini adalah film dokumenter. Menariknya, project ini dilaksanakan secara mandiri. Begitu pun dengan pendanaannya. Sebelum mendapat dukungan, Tim penggerak project #AKSA7 mengeluarkan biaya pribadi untuk melaksanakan project ini. Selain itu untuk keberlangsungan project, mereka juga melakukan penggalangan dana secara mandiri lewat penjualan merchandise.

Anggi Frisca di OutFestId Surabaya. Foto dikutip dari akun instagram @cumitsky
Anggi Frisca di OutFestId Surabaya. Foto dikutip dari akun instagram @cumitsky

Anggi Frisca, salah seorang yang berpengaruh dalam project #AKSA7 bersedia diwawancarai via email oleh Travelnatic beberapa waktu lalu. Anggi Frisca yang biasa dipanggil oleh teman-temannya dengan nama cumit (akun instagramnya @cumitsky) merupakan lulusan IKJ Jurusan Cinematography. Dia berprofesi sebagai sinematografer dan tentunya film maker. Film-film yang pernah digarap oleh Anggi Frisca sebagai sinematografer antara lain SAGARMATHA, Tanah Surga Katanya (nominasi sinematografi terbaik), Mata Tertutup (pemenang sinematografer terbaik di Apresiasi Festival Indonesia), Mantan Terindah, Nightbus (masih dalam proses editing, beberapa film dokumenter, dan film fiksi).

Anggi Frisca memiliki hobby melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, baik naik gunung , diving atau berjalan ke daerah pedalaman. Dia mengaku sangat mencintai traveling dan adventure. Sejak kapan?

“Sejak saya mengenal arti dari sebuah perjalanan, bahwa perjalanan selalu membuat saya belajar dan memberikan makna kesederhanaan dari sebuah proses pertemuan manusia yang satu dengan manusia lainnya” akunya.

Berikut ini bincang-bincang singkat Travelnatic dengan Kak Anggi Frisca.

Halo Kak Anggi, apa kabar? Bagaimana kesibukannya sekarang?

Kabar baik , kesibukan saya sekarang adalah menyelesaikan mimpi membuat film dokumenter bersama AKSA 7 .

Bagaimana Kak Anggi melihat traveling dan adventure akhir-akhir ini?

Adventure kali ini sudah hampir menuju ke arah lifestyle. Namun sangat disayangkan sekali banyak orang yang melakukan petualangan tanpa mengenal tempat dan bagaimana kita menuju tempat yang akan kita tuju. Banyak sekali kecelakaan di dunia pendakian dikarenakan minimnya pengetahuan tentang bermain di alam terbuka, atau mengesampingkan SOP (standard operational procedure. Red) dalam berkegiatan di alam terbuka, khususnya gunung, umumnya yang lainnya.

Lagi sibuk di Project #AKSA7 ya Kak? Apa sih AKSA 7 itu dan bagaimana keterlibatan Kak Anggi di project ini?

Iya. AKSA 7 adalah sebuah kegiatan yang kami lakukan yang berawal dari mimpi kami untuk mengenalkan Indonesia lebih dekat dengat sebuah proses perjalanan berekspedisi menuju tujuh gunung tinggi di Indonesia dari barat menuju timur Indonesia. Mencoba menumbuhkan rasa cinta tanah air dari sebuah proses perjalanan.

Ide AKSA 7 lahir dari dasar pemikiran sederhana dulunya, dari kepala saya untuk melakukan sebuah perjalanan panjang dari barat menuju timur Indonesia dengan melakukan pendakian menuju 7 puncak tertinggi di indonesia.

Keteribatan saya di AKSA 7, selain saya yang juga langsung menyutradarai filmnya, saya juga penggagas ide perjalanan berkarya ini.

Kok bisa terlibat di Project #AKSA7? bagaimana sih awalnya?

Anggi Frisca. Foto dikutip dari akun instagram @cumitsky
Anggi Frisca. Foto dikutip dari akun instagram @cumitsky

Awalnya ini hanya mimpi yang mustahil. Berekspedisi menuju tujuh puncak tertinggi di Indonesia yang notabene-nya kami belum pernah berekspedisi. Awal langkah yang saya lakukan adalah menemui beberapa orang yang pernah berekspedisi. Tidak tanggung tanggung yang saya temui adalah penggiat alam bebas yang sudah berhasil mendaki tujuh puncak dunia, Iwan Irawan (kweceng) WANADRI dan Sofyan Ariefpesa MAHITALA UNPAR, lalu mengenal Kang Galih Donikara WANADRI.

Lalu saya melakukan pendakian simulasi saya sendirian dari Indonesia, ditemani mountain guide dari Nepal, ke Island Peak dengan ketinggian 6189 MDPL. Karena saat itu adalah perjalanan mandiri, mengatur segala sesuatunya sendirian dan membawa seperangkat kamera dan laptop untuk membuat simulasi personal journey.

Saat itu saya menemukan satu makna dalam sebuah perjalanan pendakian dari seorang tokoh pendaki pertama yang mencapai puncak tertinggi Everest bahwa pendakian gunung bukanlah menaklukan gunungnya tapi menaklukan diri sendiri.

Saat itulah lahir ide pendakian ekspedisi dan pembuatan film personal journey 7 gunung dengan 7 orang dan 7 kamera. Saya yakini bahwa dengan 7 sudut pandang yang berbeda mewakili personal journey-nya masing masing akan menciptakan sebuah konsep film yang juga berbeda lewat perspektifnya masing masing. Saya mantapkan sebagai sebuah tema besar film ini untuk meihat Indonesia lebih dekat dan diberi nama AKSA 7. Aksa sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti MATA.

Bagaimana respons teman-teman dan keluarga tentang keterlibatan Kak Anggi di Project ini?

Teman saya bilang ini gila, karena dari keterbatasan yang kami punya dan keahlian yang kami miliki serta “peluru” (dana) yang entah juga darimana, kami harus melakukan perjalanan panjang ini. Berkeliling Indonesia dari barat menuju Timur indonesia ini.

Keluarga tentunya khawatir disamping saya adalah perempuan, tentunya mereka sangat khawatir. Tapi karena niat dan keinginan besar melakukan penjelajahan untuk mengenal Indonesia lebih dekat pada akhirnya mereka mengijinkan dan mendukung penuh saya melakukan perjalanan dan pembuatan karya film ini.

Apa saja tantangan yang Kak Anggi harus selesaikan dalam Project #AKSA7 ini?

Tantangannya banyak sekali dari kendala teknis dan non teknis.

Dana yang tidak ideal untuk melakukan project panjang ini dan alam itu sendiri. Karena gunung bukanlah tempat yang mudah untuk dijelajahi apalagi sambil shooting.

Sejauh ini Project #AKSA7 sudah sampai di tahap apa Kak Anggi?

Pendakiannya sendiri sudah selesai. Tujuh gunung tertinggi sudah berhasil kami lewati, namun prosesnya memang belum selesai.

Dalam prosesnya kami pun membuat sebuah kegiatan yang kami namakan #aksa7bootcamp. Awalnya kegiatan ini untuk mengapresiasi dan mewadahi saudara-saudara kami yang membantu kami dalam kegiatan ekspedisi dan mendukung kami dengan cara membeli produk yang kami buat untuk melancarkan keberlangsungan pendakian. Kami jualan kaos dan gelang sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran ekspedisi kami. Dan tepat di tanggal 28 Oktober lalu, kami berhasil juga menyelesaikan 9 kota dengan tema Merajut Indonesia.

dan target akhirnya pengen seperti apa?

Film bukan menjadi target akhir kami. Misi sesungguhnya di balik film ini adalah bagaimana manusia dapat mencintai alamnya dan proses pembelajaran yang kami dapat lewat pendakian gunung itu sendiri. Bahkan ingin sekali membuat sebuah sarana edukasi untuk mengenalkan dunia alam bebas kepada anak-anak muda dan melahirkan spirit membangun negri dengan melakukan satu langkah kecil.

Apa yang Kak Anggi harapkan dari audiens yang akan terpengaruh oleh Project #AKSA7 ini?

Harapannya bahwa masyarakat Indonesia lebih mencintai alamnya dan bahwa masyarakat Indonesia yang baru saja mengenal dunia petualangan bisa belajar dari film ini bahwa mendaki gunung perlu kesiapan mental dan fisik, serta persiapan yang juga tidak mudah. Grand-nya adalah memberikan semangat untuk bisa mempromosikan daerahnya dari sisi pariwisata, bukan merusak alamnya tapi menjadikan pemahaman yang sederhana tentang semesta yang sudah memberikan kita kehidupan.

Demikian bincang-bincang dengan Kak Anggi Frisca tentang Project  #AKSA7. Pembaca dapat juga mendukung pendanaan project ini dengan membeli merchandise yang dijual untuk mendukung project #AKSA7. Informasi bisa diperoleh di akun instagram @aksa7art dan @warriorsaksa7. [Nurul Amin/End]

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1K
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar Pembaca