Catatan Tangan ; Cara Pejalan Menulis Kisah Sebelum Jaman Smartphone

“Seorang penulis sejati tidak akan terhalangi oleh media menulis yang digunakannya”

– Idrus –


Kemudahan teknologi informasi dan perangkat komunikasi kekinian sungguh sangat membantu sebuah proses pencatatan perjalanan. Dahulu ketika handphone belum se-smart sekarang, beberapa pendaki masih mencatat perjalanannya dengan catatan tangan. Contoh pendaki gunung seperti itu adalah saya.

Itu mungkin adalah masa transisi antara manual ke digital. Pada tahun 2008, saya masih menggemari pencatatan secara manual. Saya merasa menulis, jika saya mencatatnya di buku, dengan pena atau pensil. Pendakian perdana saya ke Gunung Merbabu pada tahun 2008 saya tuliskan dengan catatan tangan. Kebiasaan itu berangsur-angsur memudar hingga sekarang, saya nyaris tidak lagi mencatat di buku. Namun masih mencatat di beberapa kertas, ketika membawa smartphone tidak memungkinkan, atau sebagai back up, karena smartphone, walau bagaimana smart-nya, masih punya banyak keterbatasan. Apalagi jika dihadapkan pada alam dan perjalanan. Tetap harus si pejalan yang lebih smart daripada smartphone di genggamannya.

Pendakian Merbabu 2008 (Ki-Ka : Opan, Eros, saya, Kun, Visi Prila, Nathan)

Pendakian perdana ke Gunung Merbabu itu saya catatkan dengan cepat pada satu atau dua hari setelah pendakian. Setelah kondisi tubuh saya pilih dari pegal-pegal setelah mendaki, dan itu saya perlu dua malam suntuk agak begadang. Ya begadang, bukan karena memaksakan diri, tapi karena asyiknya menulis.

Saya menganut salah satu kata mutiara yang dikisahkan dalam karya Idrus, bermakna begini : “seorang penulis sejati tidak akan terhalangi oleh media menulis yang digunakannya“. Saya lupa kata mutiara ini termaktub di dalam bukunya Idrus yang mana, namun buku itu pernah saya baca antara medio SMP-SMA. Karena menganut pada kata mutiara ini, bagi saya media hanyalah alat, yang terpenting saya tetap menulis, dengan alat apapun.

Jadi mengapa di tahun 2008, yang mana pada masa tersebut laptop sudah ada, komputer sudah ada, saya tetap menggunakan kertas dan pena? Ini tentu pertanyaan penting bagi generasi sekarang yang sangat akrab dengan perangkat teknologi informasi, komunikasi, dan komputerisasi. Jawabannya adalah, saya belum punya laptop, dan tidak terlalu akrab dengan teknologi sejenis itu di masa itu. Jika saya harus menunggu punya laptop atau komputer baru saya menulis, maka ide saya akan hilang, aspirasi saya tidak tersampaikan disaatnya perlu disampaikan. Maka, media paling tepat saat itu adalah menulis di buku catatan saya.

Mengapa tidak pergi ke warnet (Warung Internet), yang pada waktu itu di Yogyakarta (sekitaran kampus UPN) hanya berharga 3000/jam? Jawabannya adalah, untuk menuangkan ide saya, mungkin saya akan cukup banyak melamun, selain untuk mengingat kronologis, juga untuk mencari kata yang tepat. Itu butuh waktu, waktu adalah uang. Dan di Warnet, setiap detik yang berjalan, itu dihitung. Jadi secara ekonomis tidak cocok.

Maka catatan tangan adalah cara paling relevan waktu itu. Lagipula, sebagai generasi transisi antara catatan manual dengan digital, saya cukup akrab dengan catatan tangan.

Gunakanlah cara paling nyaman untukmu, lalu berkembanglah. Kata bijak ini barangkali mewakili keadaan waktu itu.

Semakin ke jaman digital ini, catatan tangan semakin ditinggalkan, dan menjadi suatu yang klasik. Banyak yang tetap mempertahankan cara ini untuk tujuan tertentu, salah satunya karena nilai otentik dari cara ini yang terasa lebih kuat dibanding digital. Jejak terakhir catatan tangan saya yang cukup panjang ada di bulan Oktober tahun 2018. Itu pun setelah jeda beberapa tahun yang panjang. Saya pikir, dari 2008 hingga 2020, jika dilihat dari intensitas saya menulis perjalanan, cukup jelas terlihat transisi dari manual ke digital. Dari yang awalnya setiap minggu saya menulis dengan catatan tangan, lalu merenggang jadi setiap bulan, lalu merenggang jadi setiap saya mau, lalu merenggang lagi jadi hanya setiap tidak bisa mencatat secara digital. Dari jeda perminggu, perbulan, pertahun, per berapa tahun, itu cukup terlihat.

Saya tidak tau apakah generasi pejalan masa kini juga membuat catatan tangan untuk sebuah cerita lengkap. Saya pikir tidak. Barangkali generasi masa kini lebih menggunakan catatan tangan untuk membuat catatan tangan bernilai seni, misal membuat quote-quote dengan kaligrafi latin, atau untuk tujuan lain.

Apapun medianya, setiap pejalan tentu punya titik kenyamanannya masing-masing dalam menulis catatan perjalanan. Kini, karena kebutuhan dan kemudahan teknologi, serta karena keadaan, saya lebih banyak menggunakan smartphone dibandingkan dengan laptop, apalagi buku. Artikel ini pun saya tuliskan dengan smartphone, karena media inilah yang paling relevan dan paling mudah menyampaikan catatan saya disini.

Pertanyaan yang sebaliknya daripada pertanyaan yang telah saya ajukan diatas pun bisa relevan untuk kasus terakhir ini. Mengapa saya tidak menggunakan laptop? Jawabannya ; Laptop perlu listrik stabil yang cukup besar, sementara tempat saya tidak ada listrik 24 jam dan untuk baterai disini umumnya tidak bertahan lama karena listrik tidak stabil. Lalu, laptop perlu WiFi, atau modem, untuk tersambung ke internet dan membuka browser. Dan kenapa tidak mencatat di buku? Jawabannya ; memang ada banyak kertas dan pena, namun perlu penerangan. Mencatat di smartphone lebih efektif dan efisien dibanding dengan laptop dan catatan tangan. Itu berdasarkan kondisi terkini dimana saya perlu menghemat kertas dan pena.

Itulah sedikit cerita saya, bagaimana denganmu sobat pembaca? Apakah kamu juga pernah menjalani masa menulis catatan perjalanan dengan kertas dan pena? Apakah kamu juga mengalami transisi dari manual ke digital? Bagaimana kisahmu, bisa kamu tuliskan di komentar ya. Untuk melihat catatan tangan saya tentang pendakian perdana saya di Gunung Merbabu tahun 2008, kamu bisa klik link ini : Handnote Pendakian Merbabu 2008. Terima kasih telah membaca, salam pejalan dan salam literasi! [Nurul Amin/End]

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *