Cerita dari Teropong Pejalan di Surabaya

Cerita dari Teropong Pejalan di Surabaya

posted in: Event Review | 1

Sabtu, 19 November 2016 lalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang. Saya sendiri sedikit tidak sabar menantikannya. Pagi-pagi saya bersiap diri dan bergegas mengendarai sepeda motor kesayangan saya menuju jalan Jagalan, di kota Surabaya. Tidak sulit bagi saya untuk menemukan jalan ini karena sebelumnya saya pernah tinggal selama lima tahun lebih sembilan bulan untuk menempuh pendidikan di Surabaya, kota metropolitan kedua setelah Jakarta ini.

Sesampai di jalan Jagalan, saya bisa melihat dan mengamati beberapa aktivitas orang-orang yang ada disana. Tanpa terkecuali aktivitas di depan sebuah hotel keluarga bernama Djagalan Raya, di jalan Jagalan nomor 64 Surabaya. Hotelnya menonjolkan sejarah tempo dulu.  Bangunan hotel ini sudah ada kurang lebih 43 tahun silam.

Hotel ini menghubungkan bagian utara dan pusat Surabaya. Dekat dengan stasiun kereta api Semut, Pasar Atom, ITC Mega Grosir, Pasar Kapasan, Taman Remaja, dan Hitech Mall. Nampak beberapa orang laki-laki dan perempuan disana  sedang sibuk mempersiapkan sebuah acara. Dari informasi yang saya terima sebelumnya, di tempat ini akan diadakan acara “Teropong Pejalan”.

Untuk menjawab rasa penasaran saya, tepat pukul 08.00 WIB saya sudah hadir di acara tersebut. Setelah memarkir kendaraan dengan dibantu seorang petugas hotel, saya duduk sebentar untuk menunggu registrasi acara dibuka. Cara registrasinya pun cukup unik. Dengan menyebutkan nama dan mengumpulkan tiga botol bekas, orang-orang yang hadir disana sudah bisa bergabung di acara Teropong Pejalan dengan cuma-cuma alias gratis. Kenapa mengumpulkan tiga botol bekas? Menurut cerita salah satu peserta yang saya temui disana, ini adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap lingkungan. Meskipun tidak banyak, tetapi setidaknya kita sudah berkontribusi. Benar, tidak ada salahnya kan kita melakukan sesuatu yang kecil untuk hal yang besar.

Agenda pertama pagi hari ini adalah jalan-jalan jelajah kampung Jagalan. Kami yang berjumlah 20 orang lebih dibagi menjadi dua kelompok untuk mempermudah pemimpin rombongan menjelaskan sekitar kampung Jagalan. Kelompok pertama dipandu oleh Inanta Indra dari komunitas Subcyclist dan kelompok kedua dipandu oleh Zaenal. Kedua orang tersebut adalah bagian dari tim penyelenggara Teropong Pejalan.

Kami mulai melangkahkan kaki meninggalkan hotel melati berkonsep keluarga tersebut. Dari dalam hotel kami berjalan sejauh delapan meter untuk sampai di jalan raya Jagalan. Sebelumnya kami diperingatkan untuk menjaga barang bawaan kami, karena di sepanjang jalan ini rawan sekali tindak kejahatan penjambretan. Di sepanjang jalan Jagalan ini kamu bisa melihat bahwa sebagian besar bangunannya didominasi oleh pertokoan. Perdagangan sangat kental dengan daerah ini. Toko obat Cina, toko alat listrik, minimarket, dan toko kelontong berjejer di sepanjang jalan ini. Beberapa kali saya pernah melintasi jalan ini, rasanya biasa saja. Namun baru kali ini saya merasa terpukau dengan apa yang saya lihat.

Belum sampai di ujung jalan, kami belok ke sebuah gang yang di setiap lorong-lorongnya masih terpampang nama Jagalan. Dengan alamat Jagalan I sampai Jagalan VII. Lebar gang tidak terlalu besar dan jalannya tidak terlalu mulus. Tetapi masih bisa dilintasi satu mobil meski harus perlahan. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain juga sangat rapat. Hampir menyatu antar dinding rumahnya. Bentuk bangunannya pun, masih menyerupai bangunan lama yang hanya sedikit mengalami renovasi. Sederhana dan apa adanya, itulah kesan yang tertangkap pandangan mata.

Di balik itu semua ada cerita mistik tapi menarik. Ketika menelusuri kampung itu, dari gang satu ke gang yang lain, saya terkejut saat menemukan beberapa makam masih berdiri kokoh di antara bangunan rumah. Beberapa cerita menyebutkan makam yang masih berdiri tersebut dikeramatkan. Konon, sebelum berdiri bangunan-bangunan yang pada akhirnya menjadi sebuah kampung, Jagalan merupakan tempat pemakaman. Mereka yang meninggal di masa pemerintahan kolonial Belanda, entah karena sakit, sudah tua atau dibunuh, dimakamkan disini.

Cerita itu dikuatkan saat sampai di penghujung gang, kami menemukan sebuah pemakaman. Namanya Makam Belanda Peneleh. Mungkin kamu bingung mencari pintu masuknya. Pintu masuknya ada di sebelah Puskesmas Peneleh. Saat itu kami agak sulit memasuki kawasan makam karena jumlah kami yang cukup banyak. Tapi saya ingat betul saat dulu pertama kali mengunjungi tempat ini bersama lima orang teman saya, kami leluasa memasukinya tanpa dipungut biaya kecuali biaya parkir sepeda motor.

Makamnya terbentang luas. Kondisi tidak dijaga dan dirawat dengan baik. Terbukti dari beberapa keadaan makamnya yang nampak rusak. Pemandu perjalanan kami yang bernama Zaenal pun bercerita, banyak benda-benda berharga dari makam ini hilang dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan bukan merupakan pemilik barang tersebut. Maling, kita menyebutnya, mengambil benda-benda berharga tersebut dengan cara merusak makam. Barang berharga tersebut diantaranya adalah guci-guci jaman Belanda dan perhiasan-perhiasan berharga lainnya.

Meskipun tempat ini sudah dilabeli sebagai makam. Memiliki kesan mistis dan horor, tapi banyak yang ingin berkunjung ke tempat ini. Apa yang mereka lakukan? Mengunjungi nenek moyang? Saya rasa itu sedikit  kemungkinannya. Lalu? Mereka kesini untuk mengambil gambar terbaik dari tempat ini versi mereka, alias menyalurkan hobi fotografi para fotografer. Banyak juga yang menyarankan untuk mengambil foto prewedding di makam Belanda Peneleh ini. Saya rasa itu tidak ada masalah, asal tetap menghormati keberadaan tempat tersebut sebagaimana mestinya dan sadar bahwa bukan hanya kita yang berada disana. Jadi yang namanya tata krama itu tetap diperlukan.

Dengan berjalan kaki ternyata banyak sekali yang bisa kita jumpai. Salah satunya adalah rumah di sudut kelokan jalan, di sisi samping seberang Makam Belanda Peneleh. Rumah kuno nan sederhana berbalut warna krim dan hijau toska itu terlihat masih dalam masa renovasi. Saat kami mendekat dan melongok isi di dalamnya, rumah ini terlihat berhiaskan benda-benda antik di beberapa bagiannya. Perempuan berambut cepak yang menjaga rumah ini mengatakan, rumah ini bernama Sawoong, yang berarti ayam. Di rumah ini dijual merchandise khas Surabaya. Kedepannya selain menjual oleh-oleh, di tempat ini juga akan dibangun sebuah café. Nanti kalau sudah resmi dibuka, jangan lupa mampir ya J

Puas bertanya-tanya kami melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang lain di sekitar kampung Jagalan. Kami berhenti di sebuah rumah yang ditempeli materai cagar budaya. Diperkirakan rumah ini menjadi tempat kelahiran Bung Karno. Tetapi kebenaran berita tersebut masih harus terus dibuktikan secara ilmiah. Sambil terus bercerita kami berjalan hingga sampai di sekolah tertua yang ada di ujung jalan raya Jagalan. Dari luar hanya tampak bangunan ruko atau rumah toko. Saat kami menilik isi bangunan di dalamnya, kami melihat dinding-dinding tinggi menjulang berhiaskan lumut. Terkesan sangat tua dan lama. Atap pelindung halaman sekolah pun tampak merana meminta segera diganti. Berbeda dengan ruang kelas yang saya lihat berjejer rapi di lantai pertama dan kedua. Sekolah milik Lembaga Pendidikan Sasana Bhakti ini menyediakan pendidikan dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama hingga Sekolah Menengah Umum. Disinilah mereka yang tergolong memiliki ekonomi tingkat menengah ke bawah menyekolahkan anak mereka.

Hmm.. selesai sudah acara hari itu. Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami semua singgah ke sebuah Klenteng, Pak Kik Bio – Hian Thian Siang Tee Surabaya. Artinya, tempat ibadah penyembahan Tuhan Yang Maha Esa. Letaknya tidak jauh dari sekolah yang kami kunjungi tadi, dan tidak jauh dari hotel tempat kami akan kembali. Dari halaman depan kami sudah bisa mencium aroma khas hio atau dupa bakar sisa sembahyang yang harum. Di bagian atas atap pelataran kami melihat lampion bergelantungan bersama secarik doa-doa yang dipanjatkan. Warna merah selalu yang menjadi dominan di klenteng. Selain warna merah, huruf Pin Yin ada dimana-mana sampai saya sendiri tak mengerti artinya. Maklum, saya tidak mendalam belajar bahasa Mandarin sewaktu kuliah. Pembangunan klenteng ini bermula dari cita-cita dari Tuan Gan Ban Kiem untuk berterima kasih kepada Yang Maha Mulia, berwujud membangun sebuah klenteng. Karena tak mungkin dibangun seorang diri, datanglah seorang kawan setia untuk bersama-sama membangun yaitu Tuan Kho Sien Tjing. Pada tahun 1946, saat Tuan Kho mengungsi ke Tretes akibat peperangan yang terjadi di negeri ini. Tuan Kho memberikan surat kepada Tuan Gan bahwa ia memiliki sebidang tanah di jalan Jagalan 74-76, yang rumahnya terbakar habis karena peperangan. Rumah ini dapat dijadikan sebuah klenteng. Jadilah banyak orang penganut agama Khong Hu Chu bisa bersembahyang di tempat ini.

Dari semua perjalanan hari itu saya tahu sesuatu, bahwa traveling, bagi sebagian orang, menjadi suatu yang berkesan sebagai penaklukan. Traveling hanya menjadi ukuran pencapaian. Seringkali pada satu titik, traveling hanya untuk melampiaskan narsisme. Padahal traveling sebenarnya adalah apa yang kita dapatkan dari wisata. Kita seringkali lupa dengan kota sendiri karena kita sibuk untuk berlomba pergi ke tempat yang jauh, yang indah, untuk mendapatkan foto terbaik. Padahal di sekitar kita atau di dekat kita pun ada. Seperti kata Salas Sebastian, salah satu pembicara di acara Teropong Pejalan, wisata itu adalah dimana kita keluar dari keseharian kita. Sangat banyak yang bisa kita eksplorasi. Bahkan kita tidak hanya akan menjadi penikmat. Kita bisa ikut andil mengembangkan dan melestarikannya berdasarkan kesukaan dan hobi kita. Sekalipun banyak hambatan juga akan ada di depan kita. So guys, inilah satu paket spot di kota Pahlawan yang bisa kamu jadikan agenda kunjungan wisata, kampung Jagalan. Have a nice trip! [Lida Maya Setyowati/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 331
  • 273
  • 265
  •  
  •  
  •  
    869
    Shares
Follow Lida Harryanto:

Tinggal di Semarang.

One Response

  1. Selama ini saya juga hanya lewat aja. Ternyata menarik juga, kapan2 atur wkt utk ikut menjelajah daerah ini. Thx penulis 😉

Komentar anda?