Cerita Touring sama Umi dan Abi

Cerita Touring sama Umi dan Abi

posted in: Destination | 0

Perkenalkan, aku Zahra. Ini tulisan pertamaku yang muncul selain di akun FB Abi, tapi ini bukan tulisan pertamaku tentang pengalaman touring. Abi mempunyai hobi yang sangat asyik menurutku, Abi senang jalan-jalan, tapi kebanyakan menggunakan motor. Kami sering sekali melakukan perjalanan bersama sekeluarga jika memang ada libur panjang, libur sekolah, libur lebaran, libur akhir tahun, pokonya kalau ada libur dan bisa touring, kami pasti touring.

Teman-teman Abi yang juga hobi touring. Banyak yang kaget karena aku ternyata sudah sering ikut Abi touring dengan jarak yang sangat jauh. Abi pernah mengajak aku dan Umi ke Lampung, ke Bima, Lampung lagi, dan beberapa kali keliling hingga ke Jawa Timur. Tapi, kami juga sering kok touring jarak dekat dengan waktu satu hari saja atau ke acara baksos bersama teman-teman Abi.

Meskipun aku senang sekali touring, tidak berarti urusan sekolah aku tinggalkan. Malah jika nilaiku turun, Abi sering berpikir kembali untuk rencana touring selanjutnya apakah tetap dilaksanakan atau ditunda. Umi pun demikian, sering ikut Abi touring bukan berarti tugasnya sebagai Ibu terabaikan. Malahan, Umi sangat cekatan mengurus urusan rumah. Nah, cukup sekian perkenalannya, berikutnya, aku ingin berbagi sedikit cerita touring bersama Abi dan Umi pada akhir tahun, tepatnya 23 Desember – 2 Januari untuk melihat candi-candi, terutama candi di Mojokerto peninggalan Kerajaan Majapahit, tapi banyak hal tak terduga dan aku mendapat cerita perajalan yang sama serunya.

TOURING AKHIR TAHUN – AYO TOURING LAGI!

Sumatera atau Jawa? Aku ingin lihat candi dan situs bersejarah. Umi bisa membaca relief di Candi, aku ingin tahu juga. Berangkat 03.00 WIB tapi jalanan ko sudah ramai ya? Kata Abi, kita lewat Purwakarta saja jangan Pantura, kata berita, macet. Sampai Karawang, aku kelaparan. Beli bubur ayam rasa ‘GOSONG’ merk ‘ga pake enak’. Umi membujuk aku untuk bersabar. Kata Abi nanti di Cirebon bisa makan enak, Empal Gentong dan Nasi Jamblang. Okay, deal! Makan enaknya di Cirebon saja.

Aku ngga tahu rute jalannya apa, tapi pemandangannya sangat indah. Horizon-horizon hijau yang luas sekali. Aku terpana melihatnya, tapi kok nggak sampai-sampai ke Cirebon ya? Aku kelaparan dan Abi nggak bawa cemilan apapu selain air. Ada Indomaret juga akhirnya. Aku membeli roti dan Abi bertanya ke petani cabe di sebelah. Tiba di Cirebon jam 14.00 WIB tapi semua restoran yang jual Empal Gentong sudah kehabisan, Nasi Jamblang juga nggak ada (Cirebon sangat padat, nggak jadi ke makam Sunan –apalah namanya aku lupa). Jam 15.00 WIB baru dapat satu restoran Empal Gentong yang masih tersisa, tapi kehabisan Nasi Jamblangnya. Aku suka Empal Gentong, jadi nggak masalah.

Melanjutkan perjalanan. Astaga! Macet sekali! Semua kendaraan ber-plat B memenuhi jalanan. Mereka mungkin mau pulang kampung ya? Biasanya dulu seharian bisa sampai Kendal sebelum Magrib, tapi karena macet, Magrib baru sampa Pemalang (Katanya Om Sofi), menginap di Pemalang dulu deh.

Pemalang, Kleponnya Enak, Lho!

Menginap di Pemalang. Wisata kuliner malam hari. Aku nggak terlalu suka rasa masakannya, aneh di lidah. Ada penjual klepon. Aku suka klepon. Umi membelikan satu porsi untukku. Ibu tua penjualnnya sangat ramah dan bergerak sangat cepat membentuk Klepon-kleponnya. ‘Fresh From the Oven’ istilahnya. Baru dibikin ketika ada yang beli. Ibu tua itu bilang bahwa Umi sangat manis dan santun ketika berbicara kepadanya. Kata Abi, aku harus ingat itu, untuk memperlakukan semua orang sama derajatnya. Aku pikir karena penjualnya ramah, mungkin akan diberi ekstra Klepon, ternyata tidak. Tetap satu porsi isi sepuluh Klepon hehe.

Ternyata Kleponnya ‘SUPER ENAK’. Klepon terbaik dari seluruh Indonesia, mungkin. Tapi, kok, Abi yang banyak makannya? Kan, aku juga mau! Aku sering rebutan makanan sama Abi lho.

Magelang, Punthuk Setumbu

Sampai di Semarang ke arah Ambarawa. Kita jajan Serabi kuah. Bagiku lebih enak yang di Purwakarta. Abi harus Sholat Jumat dulu. Kami menunggu di restaurant ‘Quick Chicken’. Menunya sekedar fried chicken dan harganya mahal. Cuma aku yang makan, Umi tidak.

Rencananya mau lihat relief di Borobudur, tapi Astaga, tidak bisa masuk karena penuh pengunjungnya. Abi mengalihkan ke Bukit Punthuk Setumbu. Kata papan informasinya bisa melihat Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon dalam posisi sejajar dari Punthuk Setumbu. Menaiki bukit melalui anak tangga dan tanah. Di atas ada beberapa orang saja. Kami mendirikan tenda di atas sana. Malamnya sangat sepi karena cuma kami yang kemping. Bulan Purnama, langitnya sangat terang, jadi tidak perlu lampu tenda lagi.

Kami bercanda dan sholat di alam terbuka. Asyiklah, tapi tendanya mulai terasa sempit. Sepertinya perlu tenda yang lebih besar. Jam 04.00 WIB, ternyata sudah banyak pengunjung yang datang. Mereka mengejar sunrise. Sayang pagi itu mendung dan berkabut, tidak ada mataharinya. Abi segera berkemas dan membongkar tenda. Sudah ramai, tidak asyik lagi. Borobudur masih luar biasa ramai pagi itu. Sudahlah, lain kali sajalah.

Paginya lanjut ke arah Magelang. Berhenti untuk sarapan pagi, menunya Tauto (Soto yang nggak jelas rasanya). Aku pilih Ayam Goreng dan kuah sambal Krecek. Jauh lebih masuk akal di lidahku. Abi dan Umi pun terlihat kaget dengan rasa Tauto itu hahaha. Abi sampai mengerenyitkan dahi, tapi Abi dan Umi tetap menghabiskan yang mereka pesan. Kata Abi, awalnya mengagetkan, tapi sleanjutnya rasanya cukup enak ko. Tapi bagiku tetap aja terasa aneh dari awal sampai selanjutnya.

Menuju Solo

Putar balik dari Mojokerto. Motorku, “White Warrior (WW)’ tiba-tiba mogok di depan sebuah warung. Abi meminta tolong seorang kakak untuk membelikan bensin. Aku bermain batu dan tanah. Lalu, WW nya nyala kembali, kami melanjutkan perjalan. Tapi kemudian, WW mati lagi. Bensinnya hilang?? Seorang kakek tua menolong dan mengijinkan kami Sholat Dzuhur. Setelah sholat, bensinnya penuh lagi??? WW pun menyala lagi. Terkadang ketika touring terjadi hal-hal aneh?

Air tejun Jumong, aku kira seperti ekstrim hiking ke Cihear atau Halimun, tapi ternyata penuh orang dan airnya gatal, nggak asyik! Nah, yang asyik ketika acara minum teh di kaki Lawu. Umi mengajarkan cara minum teh yang benar, tanpa gula, ternyata lebih enak. Abi makan durian di hutan tapi aku dan Umi tidak mau. Ada Om Angga, dia juga tidak suka durian seperti aku.

Sampai Solo, menyekar Kung dulu (aku sering main sepeda sama Kung dulu). Menginap di rumah Syalfa, Syifa, Dafa, Dafi. Kami main Hammock di sana. Aku bermain dengan sepupu-sepupuku. Abi dan Umi malah pacaran di teras. Paginya Abi membawa Umi berobat bersama Eyang Dib dan Tante. Aku bermain petak umpet dan kejar-kejaran bersama sepupu-sepupku. Siangnya baru melanjutkan perjalanan ke Gunungkidul. Jalurnya tetap asyik seperti dulu.

Wediombo, Camping Lagi, ASYIK!

Tiba di Wediombo sore hari. Abi dan Umi mendirikan tenda sebelum sunset lalu kami berkeliling menikmati senja di pantai sambil foto-foto. Lautnya menjelang pasang. Sunset di Wediombo sangat indah. Di sana ada empat tenda lainnya. Kami lalu menyalakan api unggun (Aku dulu sering bermain api unggun bersama Kung Labu di kebunnya yang luas sekali).

Malam begitu gelap, tetapi langit penuh bintang. Cahaya bulan di sisi lain, jauh, jadi tidak menerangi kami. Aku suka bermain api unggun di malam gelap. Aku terjaga hingga jam 22.00 WIB. Biasanya tidak pernah selarut itu. Abi dan Umi memastikan bara api telah benar-benar padam sebelum tidur.

Pagi hari kami mengambil beberapa foto lagi. Ada ular diantara batu karang. Itu Ular Laut! Sangat berbisa, dapat membunuh orang dalam waktu tiga menit. Kata Umi, Ular Laut sebenarnya sangat pemalu dan selalu menghindari manusia. Abi tidak mau ambil resiko dan mengajak untuk pindah tempat saja. Di sana ada sejenis kacang-kacangan. Kata Umi, ini biasanya dimakan langsung atau direbus. Digunakan untuk obat kembung oleh orang-orang di pedalaman hutan Sumatera. Kami mencobanya dan Umi berkata “Mari kita tidak mencoba cara makan suku pedalaman lagi kecuali terpaksa” Aku setuju karena kacang itu Cuma enak di awal lalu pahit sekali. Hueekkss.

Ada ular kecil yang jatuh di pangkuanku. Aku takut dan kaget, tapi Umi segera mengambil dan membuang ular itu dari kakiku. Pulangnya melewati Pantai Pok Tunggal, tapi tidak terlalu asyik karena banyak ulat bulu dari pohon Jatinya. Pantainya pun sangat ramai. Abi mengajak untuk lanjut ke Yogya saja.

Makan Malam Terpanjang

Ke Yogya, Abi mengajak beli jajan Yogya, Bakpia, Yangko, dan Dodol. Aku mencicip yang kaya permen, rasanya asam. Karena badan gatel-gatel kehujanan ulat bulu di Pok Tunggal, Abi mengajak menginap di Yogya. Sebenarnya Kung Labu ada di dalam Kraton Yogya bersama Uyut Melati, tapi Umi nggak mau disuruh telepon Kung. Kata Umi, ribet kalau udah di dalam sana, jadinya kami cari penginapan murah untuk mandi.

Makan malam bersama Pak De Julianto (semua orang memanggilnya Pakde?) Masa aku memanggilnya Eyang, kan Pakde Julianto masih muda, tapi dipanggil Om juga ngga enak ya?  Kata Abi panggil aja Pakde, ya sudah panggil Pakde juga deh. Rencananya mau makan Nasi Bumbung tapi kehabisam, jadinya makan lesehan. Baru kali ini pesan makanan sampai hampir dua jam dan belum datang. Aku sempat tertidur di pangkuan Umi dan juga belum disajikan. Lapark sudah hilang, berganti ngantuk. Akhirnya makanannya dibungkus.

Di hotel, malah Abi yang tertidur duluan. Aku makan sambil tertidur hingga tersedak, selanjutnya kayanya aku benar-benar tertidur deh. Nasiku masih tersisa di pagi hari. Oh, ya, Yogya tempat Abi dan Umi bertemu. Mereka kuliah disana. Sebelumnya Umi kuliah di UNSRI Palembang Kedokteran, tapi kok malah nyasar ke IKIP (Fakultas Seni dan Bahasa) dan memperdalam seni arsitektur candi ya? Abi juga dati tehnik loncat ke Bahasa Inggris lalu memperdalam bisnis sekolahan. Orangtuaku memang unik dan penuh misteri, jadi pengen tahu?

Pangandaran Pengganti Puncak Guha

Dari Yogya ke Cilacap. Rencana Abi mau nenda di Puncak Guha sama Om-om disana. Udaranya sangat panas, banyak orang dan kendaraan. Kata Abi mereka hendak merayakan pergantian malam tahun baru. Sampai di Adipala ada restaurant Lemrokan. Dua tahun lalu kami makan disini. Makanannya enak dan murah. Abi makan Burung Puyuh bakar dan aku Patin bakar, Umi Sayur Asam dan Tempe saja.

Lanjut perjalanan lagi. Sungguh padat dan berisik suara terompet. Keluargaku tidak pernah merayakan malam tahun baru, kami memillih untuk tidur. Tahun baru yang lalu kami di pinggir hutan di Wlingi. Akhirnya Abi mengarahkan motor ke Pangandaran, tapi disana pun cukup macet. Kenapa banyak kakak-kakak yang berboncengan sambil pelukan? Mereka terlihat masih anak sekolahan kok, tapi kok gitu ya? Memangnya orangtuanya nggak khawatir jika merayakan sampai malam ya? Apa mereka nggak ngantuk menunggu sampai malam ya? Kalau aku pasti ngantuk. Apa mereka menunggu malam sambil baca buku, main monopoli, dan main tanah? (Aku suka main tanah), atau main bakar sampah pantai menjadi api unggun kayak di Wediombo?

Abi bertanya ke Om Brimob tempat cari makan malam. Kata Om Brimob dekat, tapi pulangnya Abi terengah-engah. Kata Abi “Jangan bertanya ke anggota Brimob soal jarak ya. Menurut mereka dekat itu ternyata jauh sekali.” Hahahaha kami semua tertawa. Kasihan Abi, terlebih makanannya tidak enak pula. Malamnya kami semua tertidur tidak ikut merayakan malam tahun baru.

Dari Pesisir, Perbukitan, Gunung Padang

Perjalanan dari Pangandaran ke Tasikmalaya melewati pesisir pantai yang luar biasa indahnya. Dilanjutkan ke perbukitan Cisewu. Cisewu tidak seperti dulu lagi, sudah banyak rumah dan kendaraan. Selepas Cisewu, Abi mengajak kami makan di “Penyetan Mang Dul”, Umi terlihat ragu, tapi Umi lapar, akhirnya kami semua makan disana, sangat enak. Aku satu selera dengan Abi, kami suka makanan yang pedas, tapi Umi tidak. Umi terlihat menangis tersedu jika makan yang pedas-pedas.

Esoknya ke Gunungpadang. Kami memilih jalur naik yang curam. Orang lain melalui jalur yang landai. Melewati batuan tajam dan licin. Di atas sudah banyak orang, tapi aku tetap merasa terkesima dan diatas terasa sangat damai walau banyak orang. Aku belum puas menjelajahinya. Aku berharap bisa bertenda disana nantinya. Perjalanan pulang kehujanan dan sangat macet parah. Kami kelelahan karena macetnya. Di perjalanan pulang bertemu Om Fauzan yang dulu di Hambalang, tapi Abi tidak berhenti karena sudah sangat kelelahan. Tiba di rumah kami bebersih dan Sholat, lalu semua tidur dengan nyenyak. [Fatimah J. Azzahra/End]

Penulis : Fatimah Jannahtun Azzahra (Zahra). Tinggal di Legok dan bersekolah di SDI Nurul Hikmah, kelas 4.

Penyunting : Selestin Nisfu – Semarang

Sebarkan :
  • 159
  • 135
  • 112
  •  
  •  
  •  
    406
    Shares
Follow Travelnatic:

Travelnatic Magazine is magazine about tourism and traveling in Indonesia or by Indonesian. Every people can shared their travel story here. Send me by email at redaksi@travelnatic.com

Komentar anda?