CINTA SATU MALANG

posted in: Experience | 0

SATU MINGGU DI MALANG

Beberapa kali berhenti di Stasiun Malang dalam satu tahun untuk satu tujuan, Mahameru. Kali ini berbeda, saya bulatkan tekad untuk melihat air terjun dan keindahan pantai di kota terbesar kedua Jawa Timur ini. Tepatnya tanggal 8 Agustus 2018, sekitar pukul 8 malam kereta saya dan Febri bertolak dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Malang. Kami tiba di Stasiun Malang keesokan harinya, pukul 4 pagi. Seperti biasalah ya, begitu sampe stasiun langsung cari restroom buat cuci muka, sikat gigi dan ganti baju. Sempat tidur dulu sebentar sambil nunggu dijemput Mas Esa dan Mas Rizal, teman-teman dari Backpacker Malang Raya.

Jam 6 pagi dijemput, lalu ngopi pagi rame-rame dulu di depan stasiun dan jam 7 pagi udah ngacir motoran ke tujuan pertama, air terjun Kapas Biru. And yes, lumayan jauh karena lokasinya ada di Kabupaten Lumajang, sekitar 70 km dari kota Malang. Dibutuhkan waktu kira-kira 1,5 jam perjalanan jika menggunakan motor.

Area parkir motor sudah tersedia dan setelah parkir, kita semua bersantai sejenak di warung sambil metik salak langsung dari pohonnya. Kecamatan Pronojiwo memang kaya akan salak pondoh yang rasanya manis-manis dan harga salak di sini cukup tiga ribu Rupiah aja per kilonya. Murah banget, yakaann?

Ga berapa lama kami mulai trekking ke Kapas Biru. Dan ternyataaaaa…, treknya ga main-main deh. Dari mulai trek tanah padat campur akar, tangga vertikal, sawah sampe lewatin beberapa jalur aliran air juga. Mas Esa ga bilang-bilang dulu treknya kaya gimana, jadi ga ada pemanasan body (padahal kalo dibilang juga, ya ngga bakal pemanasan sih aslinya, hahahah!). Kalo suka adventure, main-main ke Kapas Biru deh, recommended.

Setelah 40 menit trekking, liat Kapas Biru beneran bikin terkesima total. Bagus banget. Air terjun ini semacam serpihan surga tersembunyi. Jatuhan utamanya hanya satu dan deras banget. Dinamakan Kapas Biru karena saking derasnya, aliran jatuhannya terlihat seperti kapas dan warnanya biru akibat pantulan warna langit. Kalo liat dari jauh warna biru ini ga tampak, tapi begitu didekati keindahannya makin bikin speechless.

Air terjun Kapas Biru memiliki tinggi sekitar 100 meter dan diapit tebing-tebing tinggi. Sumber airnya berhulu di Gunung Semeru. O iya, jangan berenang di bawah jatuhan utamanya, sebelum berhasil deket ke situ aja otomatis udah basah total kena cipratan air saking derasnya debit jatuhan utama Kapas Biru. Kita bisa nyebur-nyebur di bagian aliran air yang arusnya tenang.

Sekembalinya ke warung, yang ada perut minta diisi semua langsung pake mi instan dan teh hangat. Ibu pemilik warung baik banget, kita disuguhin kerupuk juga buat nemenin makan mi instan. Langsung habislah satu stoples kerupuk diserbu. Ga kerasa waktu udah nunjukin jam 2 siang. Jadi, kita harus bergerak turun menuju Tumpak Sewu.

HTM Tumpak Sewu 10.000 rupiah per orang dan karena sudah terlalu sore, kami memilih menikmati panorama Tumpak Sewu dari menara pandang saja. Untuk turun ke bawah terlalu terjal dan kuatir kena gelap, lagipula tenaga udah cukup terkuras di Kapas Biru sebelumnya.

Tumpak Sewu sendiri berupa air terjun tirai yang memiliki ketinggian jatuhan mencapai 120 meter. Sama seperti Kapas Biru, hulu air terjun ini terletak di Gunung Semeru. Panorama lembah yang tampak di sekitar Tumpak Sewu indah banget dan angin di sini cukup dingin.

Setelah puas berfoto-foto, kami memutuskan untuk kembali ke Kota Malang. Saya dan Febri menginap di Kampong Tourist yang asik banget buat backpacker karena lokasinya selain dekat dengan Stasiun Malang, juga bisa berbagi cerita dengan turis-turis domestik dan asing yang mengunjungi Malang. Tempat tidur yang tersedia di Kampong Tourist ini berupa bunk bed, tersedia untuk kapasitas 1 orang, 2 orang dan 3 orang. Ada juga 2 kamar gazebo jika ga pengen nginep di bunk bed. Restroom juga sudah dilengkapi fasilitas air panas.

Hari ke-2, tujuan kami adalah pantai. Masih tetap menggunakan motor, kali ini lebih jauh lagi perjalanan yang ditempuh, sekitar 90 km dari Kota Malang. Dibutuhkan 2,5 jam menuju Pantai Goa Cina yang terletak di Dusun Tumpak Awu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Aksesnya mudah karena jalanan aspal jalur lingkar selatan sangat mulus. Yang rusak banget adalah 500 meter jalanan menuju bibir pantai untuk parkir, melewati banyak batuan kapur dan tanahnya ga rata.

Begitu sampe di pantai, air asin nan jernih terlihat sejauh mata memandang. Malang memiliki keindahan pantai selatan yang membius para penikmat alam. Disebut Goa Cina karena memang ada goa di sisi kanan pantai, namun bentuk goanya hanya berupa bunker, ga ada stalaktit dan stalakmit di dalamnya. Konon dulu pernah ada seorang Tionghoa yang meninggal di dalam goa tersebut.

Kita juga bisa melihat panorama pulau-pulau yang terletak di tengah pantai, di antaranya Pulau Bantengan, Pulau Goa Cina dan Pulau Nyonya. Pantai Goa Cina sudah terfasilitasi dengan baik. Ada kamar mandi, tempat makan, musholla dan bahkan masjid yang bentuknya unik karena ada unsur seperti klenteng. Dari Goa Cina kita menuju pantai berikutnya, yaitu Batu Bengkung.

Pantai Batu Bengkung terletak di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Yang menjadi andalan pantai ini adalah sunset momentnya dengan panorama tebing-tebing karang tinggi. Dan sore itu, sunset memang indah banget di sini walau terlebih dahulu saya harus manjat tebing tinggi, yang kemiringannya hampir 90 derajat, dengan tali untuk mendapatkan time lapse dari spot panorama terbaiknya.

Penamaan Batu Bengkung sendiri karena memang pantai ini memiliki lengkungan batu yang besar. Di lengkungan ini juga terdapat batas antara laguna dan ombak besar pantai yang sangat indah jika dilihat dari atas batu-batu karang tinggi. Laguna bisa dipakai untuk berenang-renang dan airnya jernih banget. Tapi, lebih baik berhati-hati juga berenang di sini karena tidak disarankan kalau ombak dan angin lagi besar-besarnya. Setelah menikmati sunset cantik di Batu Bengkung, kami semua kembali ke Kota Malang.

Hari ketiga, Febri harus balik dengan kereta sore ke Jakarta dari Stasiun Malang. Jadi, saya dan Febri milih untuk kuliner santai aja di Bakso President karena ngebet sama baso bakar di sini. Lalu, kembali ke Kampong Tourist dan Febri mulai sibuk packing. Saya, Mas Esa, Mas Rizal dan Mas Rendy nganterin Febri ke stasiun. Rame-rame jalan kaki di Malang itu seru banget, bisa melipir beli sempol. Abis dari stasiun, melipir lagi ke alun-alun Malang. Kami duduk-duduk aja di sini menikmati sore yang masih panjang.

Hari keempat, saya akhirnya naik gunung. Yihaaa!!! Awalnya galau mau ke Penanggungan atau Panderman, tapi untuk menghemat waktu perjalanan dan stamina fisik akhirnya milih Panderman. Itung-itung pemanasan sebelum mendaki yang lebih tinggi lagi, hehehe.

Ditemani Mas Rizal, jadilah kami berdua motoran siang itu ke Kota Batu. O iya, sebelumnya kita sarapan Nasi Krawu dulu supaya ada tenaga dan kuat nahan kenangan kalau tiba-tiba keinget mantan pas nanjak nanti. Hahahaha.

Gunung Panderman memang terletak di Kota Batu dan puncak tertingginya 2.000 mdpl. Karena lagi musim kemarau, treknya sangat berdebu. Beruntung pas sampe puncak Basundara, sepi banget. Jadi puas istirahat setelah 2,5 jam menaiki gunung ini.

Simaksi untuk masuk ke Gunung Panderman adalah sebesar 10.000 rupiah. Pintu masuk gunung ini bersebelahan dengan pintu masuk ke Gunung Butak. Nah, ini beberapa info yang bisa saya bagikan terkait Gunung Panderman:

  1. Dataran luas pertama yang bisa ditemui untuk buka tenda adalah pos Latar Ombo, 1.600 mdpl. Waktu tempuh menuju ke sini bisa sekitar 1 jam dari Basecamp. Ini satu-satunya pos di Panderman yang memiliki shelter.
  2. Menuju Latar Ombo, trek yang ditempuh di awal berupa ladang, lalu melipir ke area pohon pinus di pinggiran gunung. Sampe di sini terkadang ditemui trek akar dan batu, namun belum terlalu curam.
  3. Dataran luas kedua adalah pos Watu Gede, 1.730 mdpl.
  4. Selepas Latar Ombo hingga puncak, trek batu-batuan semakin banyak ditemui dan kemiringan semakin aduhai.
  5. Turun sedikit dari area puncak, ada dataran luas banget yang bisa dipake untuk nampung lebih dari 10 tenda.
  6. Kalo kondisi tidak hujan berbulan-bulan, sepanjang jalur pasti yang diinjak pasir kering berdebu. Makin deket puncak, telapak kaki makin sering kelelep pasir sampe atas tumit.
  7. Gunung ini bisa didaki tektok dan beruntung banget kemarin di puncak beneran ga ada siapa-siapa, kecuali saya sama Mas Rizal. Berasa ga nanjak di tahun 2018. Hehehe.
  8. Tidak ada mata air di jalur pendakian, kecuali di dekat Basecamp. Jangan lupa jaga kebersihan dan jangan kaget kalo ketemu banyak monyet. πŸ˜€

Setelah tektok Panderman, yang ada kita lapaaaarrrr! Akhirnya, saya dan Mas Rizal melipir ke Pos Ketan Legenda 1967, sesuai rencana dari awal. Ketan susu di sini emang juara! Buat dapet ketan susu yang dipengenin harus ngantri dulu saking ramenya. Setelah pesan di counter kasir, nanti dikasih nomor meja dan kita tinggal nunggu pesenan kita dianter.

Okey, okey. Di hari kelima saya masih bareng Mas Rizal dan tebak kita ke manaaaaaa? Ke Cangar! Niatnya emang mandi-mandi air panas buat ngelemesin otot-otot setelah turun gunung dan saya masih harus naik gunung lagi setelahnya.

Sebelum berangkat, kita sarapan dulu di warung soto fenomenal punya Bu Umi. Lokasinya di Jl. Tirto Mulyo, Landungan, Malang. Soto babatnya maknyeeesss banget. Pemilik sekaligus satu-satunya pembuat makanan yang dipesen para pelanggan di Warung Soto ‘Bu Umi’, Bu Umi, orangnya kocak, lucu, ramah dan murah senyum. Sekali ketemu langsung berasa udah lama kenal. One woman operation, canggih bener beliau.

Istimewanya soto babat di sini ditaburi kelapa sangrai di atas soto, babatnya pun bebas pilih. Nambah babat pun bebas semaunya karena saya ke sana bareng Mas Rizal, yang beneran udah soulmate banget sama Bu Umi. Ciyeeehh.

Ya ampun, Buk! Saya kangen banget loh, meski kadang ga ngerti ngomong opo Bu’e kocak satu ini. Baru sekali dateng dibilang udah langganan. “Anak Jakarta, udah biasa ke sini.”, begitulah kira-kira translate-an dari Mas Rizal. πŸ˜€

Pemandian air panas Cangar berada di area Taman Hutan Raya R. Soerjo, Kota Batu. Retribusi masuk sebesar 10.000 rupiah per orang dan fasilitas parkir sudah sangat memadai. Sebenernya dibilang tersembunyi, ya engga juga karena pemandian air panas Cangar di Tahura R. Soerjo udah jadi tempat wisata umum. Terletak di kaki Gunung Welirang, buat saya wisata air panas Cangar adalah tempat yang ajiibbb untuk ngendorin otot.

Yang ga disangka, ternyata Mas Rizal ketemu temen segrup bandnya dulu di kolam pemandian air panas, namanya Mas Leo. Nama panjangnya apaan, ga tau. Yang jelas bukan Leonardo DiCaprio. Nah, yang awalnya berendem di kolam rendam air panas yang umum, diajaklah sama Mas Leo ke spot air terjunnya. Ladalah, panas banget airnya. Lebih panas dari liat patjar selingkuh depan mata. Ngalah-ngalahin panasnya air kolam yang pasti. Tapi, saya suka karena di sini ga ada siapa-siapa selain kita bertiga.

Yang dateng ke Wisata Air Panas Cangar memang seringnya berendam di kolam, termasuk turis mancanegara juga. Mungkin karena belum berbentuk kolam yang tertata, air terjunnya jadi lebih sepi.

Saya ngobrol iseng juga dengan Pak Padi, satu-satunya penjual air tape di wisata air panas Cangar. Jual tape juga pastinya. Uniknya, tape di sini disajiinnya bareng lontong ketan. Enak dimakan setelah nyebur-nyebur.

Air tape di Malang disebut dengan ‘badek’. Biasanya sambil rendem badan di air panas, minum badek juga. Dari ngangetin sampe ngantukin. Pak Padi udah jualan di lokasi ini sejak tahun 80-an. Legend!

Di Tahura R. Soerjo Kota Batu ga cuma ada pemandian air panas dan air terjun aja. Ada juga Goa Jepang. Keluar dari area pemandian air panas, naik dikit 300 meter, ketemu deh goanya. Berhubung gelap pekat dan kemarin ga persiapan bawa headlamp atau senter yang mumpuni, fix foto-foto di luarnya aja ya. πŸ˜€

Puas berendam-rendam di Cangar, saya dan Mas Rizal langsung balik ke Kota Malang lagi. Malamnya saya dijemput Mas Esa buat ngopi-ngopi di Kopi Pancal. Tempat yang seru buat ngobrol sampe ngantuk ini. Hahahah.

Hari keenam, tanggal 14 November 2018, saya harus packing dan bertolak ke Surabaya karena tanggal 15 siang saya harus terbang ke Makassar dari Bandara Djuanda. Saya diantar oleh Mas Esa ke terminal Arjosari dan beruntung, langsung dapat bus ke Surabaya yang akan berangkat. Yeayy!

O iya, buat temen-temen yang mau ke Malang sendiri ga usah kuatir. Ada ojek wisata Malang (IG @ojek_wisata_malang) yang siap nganter ke mana aja sobat mau selama di Malang. Dengan 135.000 rupiah/hari, 24 jam non-stop driver akan nemenin sobat menelusuri keindahan Malang.

Yang suka souvenir Malang unik dan barang-barang antik, tinggal follow IG @terpaksa.mlg. Ini usahanya Mas Rizal yang setia nemenin saya selama di Malang kemarin. Kalo dibilang, awalnya malah saya kenal Mas Rizal lewat media WhatsApp gara-gara pengen punya kaos sama tas selempang yang dijual di IG @terpaksa.mlg. Mantuulll!

Terima kasih, Malang. Kamu indah dan semoga akan selalu begitu. See you when I see you!

Sebarkan :
  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares
Follow Travelnatic:

Travelnatic Magazine is magazine about tourism and traveling in Indonesia or by Indonesian. Every people can shared their travel story here. Send me by email at redaksi@travelnatic.com

Latest posts from

Leave a Reply