Coffee Road : Meracik Mimpi dengan Kopi

Coffee Road : Meracik Mimpi dengan Kopi

posted in: Travelpreneur | 0

Perempatan Tugu malam itu cukup ramai. Pemuda-pemudi duduk dan berdiri di area pedestrian yang baru selesai dibangun di sebelah tenggara Tugu Jogja. Banyak hal yang mereka perbuat. Bercanda, makan camilan, berfoto, berdiskusi, atau hanya sekedar duduk. Tapi kebanyakan dari mereka sedang berfoto, baik sendiri maupun beramai-ramai, dengan Tugu Jogja sebagai latar belakangnya.

“Baiklah, saya dalam perjalanan kesana mas” Teks sms yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pesan singkat itu berasal dari seseorang yang ingin saya wawancarai. Belum saya bayangkan bagaimana orangnya, bahkan namanya belum saja ketahui. Nomornya saya dapatkan dari akun instagram. Singkatnya, rencana wawancara malam ini dimulai beberapa hari sebelumnya ketika saya diberitahu oleh seorang teman tentang sebuah kedai kopi yang unik. Saya pun mencari-cari kontak kedai tersebut, dan pagi itulah baru saja dapatkan. Langsung saya hubungi dan beberapa jam kemudian telah dibalas. Di awal malam, saya sudah berada di sekitar Tugu untuk menemui orang tersebut.

Saya dan Melissa menunggu di selatan Tugu, tepat di depan pos satlantas Tugu Jogja. Dari tempat kami berdiri akan terlihat dengan jelas orang dan kendaraan yang masuk ke jalan Mangkubumi, baik dari arah Godean, maupun dari Kalicode. Pada jam delapan lebih 30 menit, orang yang akan kami wawancara ini akan berpindah lokasi, dari Kalicode ke Tugu Jogja. Itu informasi yang saya peroleh dari info profil di akun instagramnya.

“Nah, mungkin itu orangnya” Kata Melissa, menunjuk dengan bibirnya pada seorang pemuda yang sedang mengayuh gerobak sepeda ke arah jalan Mangkubumi. Pemuda itu langsung menyeberang jalan, menuju jalan bagi pedestrian di barat jalan Mangkubumi, di seberang tempat kami menunggunya.

“Iya, pasti itu, ayo kita kesana” Sayapun langsung beranjak, diikuti Melissa. Gerobak sepeda yang kayuhnya sama persih dengan gambar yang saya lihat di akun instagramnya. Pemuda itu berdiri, membetulkan letak sepedanya dan merapatkan arah sepeda dengan pot tanaman hias dari beton yang ada di sebelah barat sepanjang jalan Mangkubumi. Melihat kami, dia menatap lekat, seakan saling mengerti bahwa inilah orang yang akan menemuni, dan kamipun berpikiran sama.

“Dayu” Katanya menjabat uluran tangan saya, lalu Melissa. Kami tidak langsung memulai wawancara ketika itu. Dayu masih menunggu toko di depan gerobaknya tutup. Pada jam sembilan malam, kebanyakan toko yang berderet di jalan Mangkubumi akan menutup pintunya. Pada jam itulah Dayu, dan pedagang jalanan lainnya seperti penjual bakso, nasi goreng, sate, dan lain-lain diperbolehkan untuk berjualan di jalan Mangkubumi. Hal ini sudah diatur dalam peraturan pemerintah kota Yogyakarta. Meskipun banyak pedagang yang berjualan lebih awal dari aturan tersebut, Dayu lebih memilih mengikuti aturan tersebut. Maka dari itu dia mengatur rute dari gerobak sepedanya sedemikian rupa. Setiap malam pada jam 8.30 Dayu memarkirkan gerobak sepedanya di depan sebuah toko, tepat di ujung beton tanaman hias bagian barat di muara jalan Mangkubumi. Jika toko tersebut telah menutup dagangannya, saat itulah Dayu mulai berjualan.

Sejak tiga bulan yang lalu Dayu berjualan kopi lewat gerobak sepeda ini. Dia memberi nama Coffee Road, nama yang pantas dengan cara berdagangnya dan cukup menarik. Entah darimana dia mendapatkan konsep berjualan kopi seperti ini. Di internet, memang terdapat beberapa publikasi yang memperlihatkan cara yang mirip dengan yang dilakukan oleh Dayu, terutama dari sumber-sumber di luar Indonesia.

“Amati, Tiru, Modifikasi” Ujar Dayu menjelaskan darimana dia mendapat ide Coffee Road ini. Cara ATM (amati, tiru, modifikasi) ini sudah populer diajarkan di kampus, buku dan seminar-seminar, berkaitan dengan bisnis, produk atau karya cipta.

Di Kota Yogyakarta, sangat jarang penjual kopi menggunakan cara yang sama persis dengan yang dilakukan oleh Dayu, bahkan mungkin tidak ada. Sejauh ini, ada banyak penjual kopi instant jalanan di sekitar Nol Kilometer Jogja, tapi apa yang dijual dan cara menjualnya jelas tidak sama dengan Coffee Road ala Dayu. Penjual kopi instant biasanya berjalan kaki, dan peralatannya hanya termos air panas dan gelas. Di Jakarta ada sebutan StarBike untuk penjual kopi instant yang menggunakan sepeda di sekitar Bundaran Hotel Indonesia. StarBike tidak menjual kopi murni. Bahkan jauh sebelumnya, di Yogyakarta telah ada angkringan, warung pinggir jalan yang juga menjual kopi. Angkringan menjual berbagai macam penganan lokal dan minumannya tidak hanya kopi. Demikian juga, telah menjamur berbagai cafe dan warung kopi yang menjual kopi murni di Yogyakarta. Tapi semua cafe dan warung kopi ini berdiri bersama bangunannya yang tentu saja tidak bisa dipindah-pindah, jelas beda dengan Coffee Road.

Dayu menggabungkan penyajian kopi murni ala cafe (terlihat dari peralatan peracik kopi yang digunakan. Setidaknya ada alat French Press dan Syphon Filter digerobaknya. Dan toples berisi green been dan roasted coffee) dengan cara berjualan jalanan menggunakan gerobak sepeda. Ada kenikmatan cita rasa kopi yang biasa disajikan ala cafe berpadu dengan suasana jalanan yang meriah dan dinamis. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri dari Coffee Road.

Gerobak sepedanya di desain dengan bentuk muka seperti kapal kayu. Di belakangnya rangka sepeda beserta pengayuhnya menggerakkan gerobak tersebut. Di bagian tengah terdapat semua peralatan meracik kopi, seperti kompor, gelas, ceret dan lain-lain. Tulisan Coffee Road terpampang di tiga tempat, depan, samping dan belakang. Tulisan dengan berbagai tipe dan bahan ini menarik perhatian pembeli.

Saya tertarik mencicipi kopi hitam dengan sedikit gula, Melissa mencicipi kopi hitam ditambah susu kental. Untuk sementara ini, ada tiga varian kopi yang dijual Coffee Road, kopi suroloyo, kopi temanggung, dan kopi bengkulu. Semuanya kopi ini adalah jenis robusta dan didapatkan langsung dari petani yang menanam kopi tersebut di daerah masing-masing. Dayu memang memiliki misi khusus dalam berjualan kopi lewat Coffee Road. Sambil meracik kopi dengan grinder manual miliknya Dayu menceritakan bagaimana asal muasal dia tertarik pada petani kopi dan kemudian memberinya inspirasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani, juga memberikan edukasi pada mereka. Syphon filter dan frech press

Apa yang menimbulkan motivasinya? Adalah kesejahteraan petani yang jadi pemicunya. Bisnis kopi, baik lewat cafe maupun untuk ekspor, menempatkan penyuplai sebagai perantara antara petani dengan pembeli. Kebanyakan petani menjual kopi dengan harga yang jauh dari harga yang dikeluarkan oleh pembeli. Terdapat ketimpangan harga dalam siklus tersebut. Ketimpangan ini membuat petani sebenarnya dirugikan, tapi petani kebanyakan tidak mengetahui hal ini. Jika pun mengetahui, petani tidak dapat berbuat banyak karena keterbatasan informasi. Maka dari itu, Dayu kukuh untuk membeli langsung dari petani tanpa melalui perantara, dan sekaligus memberi edukasi pada petani tersebut agar mereka mengetahui potensi besar dari kopi yang dimilikinya. Berdasarkan keterbatasan jumlah kopi yang dapat dibelinya, Dayu memilih untuk mengoptimalkan potensi dari satu petani. Dia juga mengedukasi petani mulai dari pertanian, pemanenan, pemilahan biji, dan proses-proses lainnya untuk menghasilkan kopi yang berkualitas. Lain daripada itu, Dayu juga mengajarkan pada petani berbagai perhitungan terkait bisnis kopi, membangun jaringan, dan banyak lagi yang dilakukannya. Semua langkah ini dilakukan untuk mencapai misinya yang baik diatas.

Bagaimana Dayu memulai Coffee Road tiga bulan lalu? Jawaban Dayu adalah sebuah jawaban yang menarik dan menginpirasi. Apa yang dia jelaskan adalah sebuah proses yang dapat dikerjakan juga oleh orang lain. Dari jawabannya, kita akan mengetahui bahwa Dayu sangat menghargai sebuah proses, dan dia percaya bahwa hasil tidak akan mengingkari sebuah proses.

Sebelum berjualan lewat gerobak sepeda Coffee Road, sebenarnya Dayu sudah berjualan kopi di kampusnya. Omsetnya cukup memuaskan kala itu, hanya saja tempat itu sudah tidak bisa dijadikan tempat berjualan oleh Dayu, lalu mulailah dia merakit sebuah gerobak sepeda. Hal yang menarik, gerobak sepeda Coffee Road generasi pertama dibuat dari barang bekas! Mulai sepedanya, sampai semua komponen gerobaknya dirakit dari barang bekas. Peralatan meracik kopi diperolehnya dari hasil berjualan kopi di kampus. Sama sekali tidak instant atau tiba-tiba langsung ada sebanyak yang ada sekarang. Dayu mengumpulkannya satu persatu!

Dua buah ceret stainless, satu alat syphon filter, satu alat french press, beberapa termos, manual grinder, kompor gas, beberapa toples berisi green been Kopi dan roasted coffee, tersaji di gerobaknya. Kini, setelah tiga bulan berlalu, Dayu memiliki rencana untuk membuat Coffee Road generasi kedua dan ketiga. Rencana tersebut sudah cukup matang dan sudah mulai dipersiapkan.

“Generasi ketiga nanti akan mengusung konsep budaya. Kadang-kadang dengan gerobak generasi pertama ini saya jualan pakai blangkon, tapi hari tertentu saja” Ujarnya sambil menyunggingkan senyum kecil.

Sambil memegang gelas kosong yang sebelumnya penuh berisi kopi temanggung, saya melanjutkan obrolan. Kadang-kadang saya mendengarkan Dayu menjelaskan tentang Coffee Road atau kopi-kopi yang ada di toples pada pembeli yang bertanya padanya. Sejak saya berdiri di samping gerobak sepeda coklat itu, sudah berapa kali pembeli datang dan berganti. Dayu, dengan celemek ala Barista dan topi hitam dengan tudung ke belakang, melayani pembeli dan berbagai hal yang mereka tanyakan dengan sangat ramah, natural dan interaktif. Sesekali dia menyapa sesama pedagang jalanan, menyapa beberapa temannya yang juga mencari nafkah di sekitar Tugu Jogja. Ada penjual bakso, penarik becak, pemeran patung, dan banyak lagi. Mereka semua akrab dan ramah.

Nah! Lihatlah pemuda yang bersemangat ini. Sejam yang lalu saya melihatnya mengayuh sepeda, lalu sambil meracik kopi, melayani pembeli, dia menceritakan berbagai hal pada saya, mulai dari Coffee Road, kopi dan petani, dan rencana-rencananya yang mengispirasi saya. Saya merasa berkewajiban untuk menyebarkan semangat dan inspirasi darinya pada pembaca. [Nurul Amin/End]

Sebarkan :
  • 245
  • 270
  • 232
  •  
  •  
  •  
    747
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?