Culture Tracking ke Pemukiman Suku Baduy

Culture Tracking ke Pemukiman Suku Baduy

posted in: Experience | 0

Perjalanan saya kali ini membawa kesan tersendiri. Berawal dari cerita yang saya dapat dari seorang teman yang tinggal di Serang, singkat cerita saya memutuskan untuk pergi ke Baduy. Di dalam benak saya hanya ada bayangan sebuah perjalanan yang mengasikkan dengan tracking ala-ala. Kedatangan saya bersama kelima teman saya di desa Ciboleger membuat saya merasa lega lantaran telah melakukan perjalanan jauh dari Serang menuju Ciboleger.

“Kita bermalam di Baduy luar ya, karena sudah terlalu sore.”, kata Bang Rifal memecah keriuhan. “Ayo, kita segera naik sebelum matahari terbenam.”, lanjut bang Rifal yang kemudian di susul dengan aksi kami bersiap-siap menuju desa Gajeboh- kawasan Baduy Luar. Perjalanan kami mulai dengan menaiki anak tangga dari desa Ciboleger, desa terakhir dan dari desa itulah kami memulai tracking untuk berpetualang. Saya mengedarkan pandangan kesegala arah. Kanan, kiri saya melihat barisan rumah panggung yang terbuat dari bambu yang menjajakan berbagai macam cindera mata khas Baduy. Rasanya ingin membawa pulang semua barang-barang itu.

Kedua kaki saya melangkah dengan mantap mengikuti derap langkah kaki-kaki mungil di depan saya, melangkah dengan jumawa dengan membawa beban yang menurut saya sangat berat untuk di pikul. Saya menghentikan langkah sejenak untuk mengambil beberapa foto dari seorang bocah Baduy yang kuat. Dia mampu memikul beban durian yang saya taksir sekitar empat sampai enam kilo dengan usianya yang kira-kira sekitar lima tahun.

Kami bermalam di rumah penduduk Baduy luar. Dinginya angin malam mulai merayapi tubuh saya masuk kesela-sela jaket. Desa Gajeboh nampak gelap gulita tanpa gebyar listrik yang menyinari kami, hanya sinar rembulan yang saat itu terlihat sangat begitu terang bersama bintang-bintang yang saling berkedip. Suasana alam pedesaan yang masih alami yang kami rasakan, kebersamaan, canda, tawa serta keramahan para penduduk lokal memecah kesuanyian malam. Kami yang merasa lelah dengan perjalanan menuju desa ini merebahkan badan kami masing – masing di sebuah rumah khas Suku Baduy. Bekal logistik yang kami bawa, kami serahkan kepada istri kang Karim pemilik rumah tempat kami singgah dan bermalam untuk dimasak dan untuk kami makan bersama-sama.

“Besok bangun pagi, berenang di kali, tracking ke Cibeo, makan kadu sepuasnya, behh…nikmat mana yang kau dustakan?” Ijal mulai berhayal tentang kegiatan esok hari yang sudah kami rencanakan.

Kami berencana keesok harinya kami akan melakukan tracking ke desa Cibeo kawasan Baduy dalam yang meupakan target utama kami bermalam dan singgah, namun karena waktu yang sudah cukup sore memaksa kami bermalam di desa Gajeboh kawasan Baduy luar dan kami hanya melakukan tracking untuk berkunjung ke desa Cibeo lalu kembali lagi ke Gajeboh. Ngaret dan mager (malas gerak) menyelimuti kami pagi itu ditambah dengan udara yang dingin membuat kami merasa nyaman berada di dalam sleeping bag. Ekspektasi perjalanan yang direncanakan pukul 06.00 molor hingga pukul 08.00 setelah sarapan pagi dengan menu nasi lauk mie instan dan ikan asin ditambah lagi aroma kadu (durian) yang semerbak memenuhi kampung, hemmmm…nikmat. Kesederhanaan tidak menghalangi kenikmatan.

Perjalanan di mulai, Saya, Ijal, bang Rifal, Vania, Eha dan Wawan sudah tak sabar untuk melakukan tracking. Membawa bekal seperlunya seperti air minum, makanan ringan, dan tidak lupa membawa kamera untuk selfie dan berfoto ria, meskipun di kawasan Baduy Dalam kami tidak boleh mengambil gambar namun kami bisa melakukan foto-foto selama dalam perjalanan. Kami diantar oleh Kardi anak dari Kang Karim. Katanya biar kami tidak tersesat, meskipun Bang Rifal sudah berulang kali pergi ke Cibeo. Selangkah demi selangkah kaki ini beranjak dari desa Gajeboh menuju desa Cibeo dengan medan yang terjal berbatu dan agak sedikit licin. Terik matahari belum terlalu menyengat karena terhalang rimbun pepohonan. Sepanjang jalan mata saya memandang selalu menjumpai leuit (lumbung padi masyarakat Baduy). Barisan leuit menambahkan kesan khas Baduy. Dinama masyarakat menyimpan padi hasil panen mereka ke lumbung tersebut untuk persediaan bahan pangan.

Sepanjang jalan kami meleawti turunan, tanjakan, sungai yang jernih dan ribuan pepohonan yang rindang, membuat rasa penat hiruk-pikuk di kota terasa pudar dan diganti dengan suasana alam yang fresh ini. Semangat yang membara masih menyelimuti kami, namun kondisi saya yang kurang fit merasa agak sedikit tidak nyaman, badan saya sudah penuh dengan peluh yang mengucur dari punggung dan dada.

“Hosshh…hosshh…” Nafas saya mulai tersengal-sengal, saya mengusap peluh yang menetes di kening sambil tangan kiri masih memegang sebuah kamera.

“Ayo mbak semangat…!” Teriak Wawan yang berada tepat di depan saya. “Satu tanjakan lagi, ayoo..semangat…” lanjutnya.

Tanpa suara, saya tetap terus melangkah, melewati tanjakan terjal dan berbatu itu sambil menahan lelah dan menahan ingus agar tidak keluar sembarangan. Sesekali saya berhenti sambil menegak air dingin yang saya bawa.

“Hussft….hosshh…hosssh, istirahat dulu bang.” Teriak saya sambil bersandar di pohon yang tidak begitu besar sambil duduk di bebatuan. Tak jarang saya menenggak air putih yang saya bawa dari Gajeboh. Namun, yang saya rasakan bukan kondisi yang membaik tapi semakin memburuk, detak jantung berderap kencang dan mata mulai berkunang-kunang rasanya ingin pingsan. Saya merasa jadi traveler lemah. Pada dasarnya saya memang bukan pendaki gunung. Tracking pun tidak pernah bertemu dengan medan seperti ini dan saya masih terngiang dengan perkataan Vania yang katanya jika kalau ingin tracking ke Baduy, kita semestinya sudah pernah melakukan pendakian ke Semeru dan Rinjani sementara saya belum pernah mendaki satu gunung pun di Indonesia kecuali gunung kapuk (kasur), hehe..

Rintangan demi rintangan kami lalui selama perjalanan termasuk kehabisan bekal minum sampai akhirnya kami menemukan air sumber yang mengalir dan terpaksa kami meminum air tersebut dan ini pertama kalinya saya meminum air sumber asli. Lelah campur seru menjadi warna dalam perjalanan culture tracking kami. Keramahan penduduk sekitar membuat saya nyaman dan betah. Sapaan untuk kami dari warga sekitar yang kebetulan lewat dan berpapasan dengan kami pun sering terlontar hingga kami berkali-kali mendapatkan buah durian dari mereka.

Lupakan mata berkunang-kunang yang ada hanya keseruan dan menyenangkan karena pada kenyataannya saya dan kelima teman saya sampai dengan selamat di desa Cibeo, bercengkrama bersama masyarakat Cibeo yang ramah, sederhana apa adanya seperti pepatah yang mereka pegang teguh Lojor teu meunang di potong, Pondok teu meunang di sambung, Kurang teu meunang di tambah, Leuwih teu menang di kurang, yang artinya panjang tidak boleh di potong, pendek tidak boleh di sambung, Kurang tidak boleh di tambah, lebih tidak boleh di kurangi. Pada hakikatnya suku Baduy hidup dengan apa adanya, memanfaatkan alam sekitar, ada yang ada mereka manfaatkan.

Melihat aktivitasnya yang masih serba manual, adat istiadat dari nenek moyang yang masih mereka jaga dan semangat hidup yang tak pernah lelah mereka jalani membuat saya merasa tertampar membandingkan segala fasilitas yang memanjakan saya di kota namun masih saja merasa kurang dan sering mengeluh. Baduy, sekilas mengajarkan saya tentang arti kepedulian, keramahan, dan kesederhanaan. Siapkan tenaga yang fit dan mental yang kuat jika ingin berkunjung ke Suku Baduy. [Mia Kamila/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

Artikel ini telah dipublikasikan di Travelnatic Magazine volume 16

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Follow Mia Kamila:

Tinggal di Semarang. Aktif berkegiatan traveling dan komunitas di Semarang. Pemilik www.jejakjelata.com

Komentar Pembaca