Curug Omas dan Legenda Tangisan Sangkuriang

Curug Omas dan Legenda Tangisan Sangkuriang

posted in: Destination | 0

Bila sedang berkunjung ke Bandung Utara, jangan lewatkan untuk bermain di kawasan Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Sebuah kawasan Hutan Hujan Tropis yang penuh dengan legenda menarik. Dari jaman ke jaman, di kawasan ini menyimpan sejarah yang cukup lengkap tentang Kota Bandung tempo dulu. Baik pada masa terbentuknya sebuah Danau Purba Bandung, sampai pada peninggalan manusia prasejarah semua terekam baik.

Sebutan lain kawasan hutan ini adalah Dago Pakar. Berawal dari suku kata Pakarang, (Pakar-ang), atau sebuah tempat pembuatan senjata tajam seperti pisau dan lainnya. Namun, alat-alat tersebut dipergunakan oleh manusia prasejarah saat itu. Mereka membuat senjata tajam tersebut dari batuan hitam atau lava hasil dari letusan Gunung Sunda, lalu Gunung Tangkubanparahu berikutnya. Perkakas tersebut mereka pergunakan untuk berbagai hal, salah satunya untuk merobek daging dan kulit hasil buruan mereka. Selain itu juga digunakan untuk membuat anak panah. Karena bahan batuan tersebut sangat melimpah di kawasan Dago, itulah sebabnya diberikan nama Dago Pakar.

Warga Bandung mengenal kawasan ini dengan sebutan Tahura, Taman Hutan Raya. Setiap akhir pekan kawasan ini menjadi alternatif untuk berwisata. Apalagi jika hari minggu tiba, warga Bandung Utara memanfaatkan udara yang sejuk dengan berolahraga di kawasan Hutan Raya ini. Diantara lembah dan bukit terdapat sebuah aliran sungai yang deras. Warga Bandung menamainya Sungai Cikapundung. Sungai yang menjadi pemasok air bagi warga Bandung. Berhulu di Gunung Bukit Tunggul dan bermuara di Sungai Citarum.

Di sepanjang daerah aliran sungai Cikapundung, terutama daerah hulu sungai, menyimpan sejarah peradaban yang pernah ada di Kota Bandung. Air sungai yang dahulu sangat jernih dengan berbagai curug atau air terjun sepanjang hulu sungai menjadi tempat yang suci bagi masyarakat terdahulu. Salah satunya adalah Curug Dago yang menjadi tempat bersemedi Raja Thailand kala itu. Sedikitnya ada beberapa air terjun di kawasan hulu Sungai Cikapundung yang telah menjadi objek wisata alam Bandung Utara.

Selain Curug Dago, adapun Curug Omas yang berada di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung. Sungai yang mengalir diatasnya adalah Sungai Cikapundung. Kawasan ini telah menjadi objek wisata alam yang selalu ramai oleh wisatawan lokal ketika hari libur tiba. Berada diantara rimbunan pohon yang asri dan sudah tertata dengan rapih. Beberapa fasilitas pun telah dibangun untuk menunjang kepariwisataan di objek tersebut.

Diatasnya Curug Omas dan Sungai Cikapundung tersimpan satu cerita yang menarik. Ada yang menyangkutpautkan pada Legenda Sangkuriang, cerita cikal bakal terbentuknya alam Bandung. Konon, Sangkuriang ketika itu sedang mencari buruan untuk dijadikan hidangan makan malam bersama Dayang Sumbi, ibunda Sangkuriang. Ia menelusuri hutan bersama Si Tumang, seekor anjing yang merupakan Ayahanda Sangkuriang yang tengah menerima kutukan dari Sang Dewa.

Namun, Sangkuriang tidak menemukan satupun buruan yang dapat diburu. Sangkuriang takut Dayang Sumbi marah karena dia pulang tanpa hasil berburu. Dalam sekejap Sangkuriang mendapat sebuah ide untuk membunuh Si Tumang dan mengambil hatinya untuk makan malam. Tanpa rasa ragu Sangkuriang pun melakukan hal tersebut.

Dayang Sumbi terlihat senang melihat Sangkuriang membawa hasil buruannya. Ia memasak hati tersebut tanpa ia tahu bahwa hati yang ia pasak merupakan hati Si Tumang. Makan malam pun tiba. Sangkuriang duduk bersama Dayang Sumbi untuk menyantap hidangan hasil buruan. Ditengah-tengah santapan makan malam, Dayang Sumbi menanyakan Si Tumang kepada Sangkuriang. Sangkuriang sekejap bingung harus menjawab bagaimana karena ia telah membunuh Si Tumang untuk hidangan makan malam.

Sangkuriang dengan rasa takut menjawab pertanyaan Dayang Sumbi. Ia menjawab bahwa makan malam yang mereka makan itu merupakan hati daripada Si Tumang. Sontak Dayang Sumbi terkejut dan marah kepada Sangkuriang. Sangkuriang tak bisa menghelap. Dayang Sumbi kemudian memukul kepala Sangkuriang menggunakan sendok yang terbuat dari kayu dengan sangat keras. Akibatnya kepala Sangkuriang berdarah dan ia menangis tak kuasa menahan rasa sakit. Sangkuriang lalu diusir tidak diperbolehkan tinggal di rumah bersama ibundanya. Ia lalu keluar dengan tangisan yang tak bisa ia hentikan.

Air mata Sangkuriang yang terus menerus keluar itu dianalogikan menjadi aliran Sungai Cikapundung yang tak pernah kering. Cikapundung yang diartikan oleh beberapa warga Bandung berasal dari suku kata Ci dalam Bahasa Sunda berarti Air, dan Ka-Pundung, atau Pundung yang menggambarkan seseorang yang bersedih. Itu sebabnya sungai tersebut dinamai dengan sebutan Cikapundung.

Aliran Sungai Cikapundung itu melewati lembah dan tebing-tebing menjadi air terjun. Salah satunya menjadi Curug Omas. Curug Omas pun menjadi objek yang disangkutpautkan dengan Legenda Sangkuriang yang fenomenal tersebut. Air terjun setinggi kurang lebih 15 meteran itu mempunyai aliran air yang deras. Jatuhan air dari tepi tebing curug itu membuat suara yang bergemuruh. Suara yang bergemuruh dengan aliran air yang deras itu dianalogikan sebuah tangisan Sangkuriang yang sangat bersedih dan menahan rasa sakit luar biasa.

Curug Omas dapat dijangkau dari arah Lembang menuju Maribaya melewati pintu masuk di Maribaya. Aksesnya melewati kawasan Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Harga tiketnya sangat terjangkau. Untuk satu wisatawan lokal dikenai biaya sebesar Rp. 15.000,-. Untuk mencapai objek dari pintu masuk, wisatawan harus berjalan dengan jarak satu kilometer ke dalam hutan. Namun, bila tidak ingin berjalan kaki, ada ojek dengan sepeda motor siap untuk mengantar wisatawan. Setelah tiba di Kawasan Hutan raya, wisatawan dapat menelusuri hutan dengan sepeda. Biaya sewa sepeda berbeda-beda tergantung jenisnya.

Kerusakan di sekitar hulu sungai membuat warna sungai menjadi keruh. Ini membuat keindahan sebuah objek yang bersejarah menjadi berkurang. Sangat disayangkan. Namun, keindahan alam di sekitar objek wisata Curug Omas sangat sayang untuk dilewatkan. [Rendy Rizky Binawanto/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 298
  • 273
  • 269
  •  
  •  
  •  
    840
    Shares
Follow Rendy Rizky Binawanto:

Rendy Rizky Binawanto, seorang mahasiswa Geografi di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Bale Bandung. Ia seorang pejalan yang gemar bercerita. Cerita perjalanannya ia bagikan lewat beberapa media. Sebagai seorang geograf, sebuah perjalanan sangatlah berarti untuknya. Selain untuk penelitian lapangan juga untuk mengenali keunikan di setiap daerah yang ia kunjungi. Motivasinya dalam menjelajah adalah untuk menyebarkan keindahan dan kekayaan alam serta masyarakat yang hidup didalamnya, di luar lingkup orang-orang tinggal. Hal ini agar mereka bergerak dan menyebarkannya kembali kepada mereka yang diam.

Komentar anda?