Ada yang Manis di Antara Kabut Ranu Regulo

Ada yang Manis di Antara Kabut Ranu Regulo

posted in: Experience | 0

“Perjalanan tanpa makna adalah rumah tanpa roh. Hanya wujud yang tanpa jiwa.” –Agustinus Wibowo, Titik Nol.

Pernahkah kita merasakan sebuah perjalanan yang sebenarnya kita sendiri enggan untuk melakukannya? Atau, pernahkah perjalanan yang kita lakukan merupakan sebuah pelarian kita akan suatu hal? Pelarian kita dari ketidakmampuan kita menghadapi masalah yang ada di tempat kita melakukan rutinitas sehari-hari yang menjemukan. Atau mungkin perjalanan yang kita lakukan selama ini adalah sebuah bentuk eksistensi kita di media sosial? Hanya untuk mencari gambar indah, lalu memamerkannya kepada teman-teman virtual kita? Atau, perjalanan adalah bentuk kita dalam memanjakan serta menghargai kehidupan kita? Apapun tujuan kita melakukan perjalanan adalah hak eksklusif kita. Hanya kita yang berhak menilai tujuan kita melakukan perjalanan. Cibiran orang serta nada minus yang kita dengar, tak usahlah kita hiraukan.

Pijakan kaki pertama saya di Kota Pahlawan langsung diguyur hujan deras. Suara gemuruh dari atap asbes Stasiun Pasar Turi seketika membuat bulu kuduk saya berdiri. Lalu, hawa dingin yang datang bersamaan dengan hujan membuat saya sedikit menggigil. Selamat datang di Surabaya, bisik saya dalam hati.

Surabaya adalah sebuah kota yang sebelumnya tak pernah terasa spesial di dalam kehidupan saya. Beberapa kali saya pernah singgah di kota ini setelah melakukan perjalanan dari Lombok. Bahkan tak jarang, saya singgah di Surabaya barang beberapa hari untuk sekadar mencari tambahan nafas untuk hidup, mencari kawan yang ada, untuk ikut numpang tidur sambil mungkin berharap akan disuguhi makanan. Surabaya dulu dan sekarang adalah sebuah kontradiksi nyata saya dalam melakukan perjalanan. Dahulu, Surabaya bukan menjadi tujuan utama saya. Namun, kini menjadi list wajib destinasi utama saya.

Saya berjalan gontai dengan keril yang sedikit berat di pundak. Jam dinding bulat dengan penunjuk angka berwarna hitam khas stasiun kereta api, menunjukan pukul 01.35 dini hari. Tidur beberapa jam di kereta tak mampu menghilangkan rasa kantuk yang mendera. Tiba di pintu keluar peron  kereta saya sudah dikerubuti para supir taksi maupun tukang ojek yang menawarkan jasa untuk mengantar saya. Meski mereka bertanya dengan sangat sopan namun jika banyak yang bertanya bahkan sampai lebih dari 10 orang rasanya saya mulai tidak nyaman lantas mempercepat langkah saya tanpa memedulikan mereka. Tiba di depan pintu keluar stasiun, hujan rupanya malah turun semakin deras.

Tak mungkin dalam kondisi hujan di dini hari seperti ini saya tega mau dijemput oleh dia. meskipun dia bersikeras meminta untuk menawarkan diri menjemput, saya tak akan pernah tega. Saya yakin jalanan Kota Surabaya sedang sangat sepi.

“Sudah mas, biar aku saja yang jemput. Masa kamu datang ke sini malah gak ku jemput?” ucap suara agak serak di ujung sana.

“Gak usah, aku bisa naik Gojek, ini masih pagi, pasti sepi!” balas saya. Dan benar saja, ketika saya berkendara di atas motor menuju kostnya, jalanan sepi sekali. Hanya beberapa kendaraan saja yang melintas.  Memasuki daerah sekitaran Gubeng jalanan kering. Tak ada tanda-tanda telah turun hujan. Padahal di sekitar Pasar Turi hujan turun sangat lebat hampir sekitar setengah jam.

Jalanan lengang berhias temaram lampu jalanan, ditambah bangunan-bangunan tinggi yang lampunya sudah tidak menyala merupakan pemandangan khas kota-kota besar, termasuk juga Surabaya. Saya hanya terdiam meski driver gojek bercerita banyak tentang kehidupannya sehari-hari. Sekitar setengah jam berkendara akhirnya saya tiba juga di daerah Semampir AWS.

Daerah Semampir AWS berada di aliran sungai Jagir yang merupakan anak sungai mas, mengalir menuju timur Surabaya. Menurut sejarah, sungai Jagir merupakan sungai buatan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda. Bukti sejarah menyebutkan bahwa dahulu kala ada jembatan “Tretek Hijau” tak jauh dari tempat sekarang saya berdiri. Namun, sayang jembatan sudah dirobohkan untuk keperluan revitalisasi aliran sungai.

Motor matic miliknya nyatanya tak mampu melewati tanjakan menuju Ranupani. Beberapa kali dia terpaksa harus turun lalu berjalan perlahan dengan jalan cukup menanjak, sementara saya membawa motor perlahan.  Dari kaca spionsaya perhatikan langkah perlahannya yang dibarengi dengan nafas ngos-ngosan. Tiba di jalanan yang sedikit datar saya hentikan motor lalu menunggu. Setibanya dia mendekati motor, terlihat nafasnya terengah, wajahnya pucat! Saya godai dengan ejekan-ejekan yang membuat dia sedikit marah. Sampai tiba saatnya dia berucap, “kalau ada tanjakan lagi, kamu yang jalan!” benar saja. Di tanjakan selanjutnya saya yang turun dan disuruh untuk berjalan. Sial. Gumam saya dalam hati.

Ada sekitar tiga kali atau bahkan lebih saya turun dari motor dan berjalan perlahan menapaki tanjakan beraspal. Dia yang sudah tiba terlebih dahulu hanya tertawa meledek, sambil beberapa kali mengambil gambar foto saya dari kamera handphone-nya.

“Muka kamu kok pucat ya?” ucapnya sambil cekikikan. Saya hanya diam dan sedikit memonyongkan bibir.

“Duh, kasian, nih minum dulu! Capek ya?” ucapnya lagi. Saya langsung menyambar minuman yang dia berikan. Memasuki dusun Gubuk Klakah, akhirnya dengan terpaksa saya meminta bantuan kepada warga sekitar untuk mengantar saya menuju desa Ranupani. Saya dibonceng motor oleh warga Gubuk Klakah, sementara dia membawa motornya sendiri. Di tengah jalan rupanya saya merasa tidak tega dan kasihan sehingga kerildibawa oleh warga Gubuk Klakah sedangkan saya memboncengi dia.

Pukul 14.00 gerimis tipis membasahi desa Ranupani, di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut, hujan gerimis ditambah udara pegunungan yang menusuk, badan ini tak sanggup menahan dingin sehingga langsung mengambil jaket dari dalam keril.

Secara teknis, Kabut merupakan  titik-titik air hasil kondensasi atau sublimasi dari uap air yang melayang dekat permukaan tanah akibat kelembapan yang nyaris mendekati seratus persen.  Namun secara filosofis, kabut adalah sebuah nyanyian bisu tentang kesunyian, tentang keindahan sepi. Kabut tak hanya menyoal tentang air, udara, kelembapan serta kondensasi ataupun sublimasi. Lebih dari itu, kabut adalah sebuah romantisme visual. Menentramkan mata, meneduhkan jiwa. Dan baru kali inilah kabut yang saya lihat terasa lebih romantis dari biasanya.

Nyatanya, bukan suasana kabut ataupun pemandangan Ranu Regulo yang terlihat mistis namun romantis. Melainkan, ada seutas senyum yang selalu menemani di tiap pagi yang saya lalui di Ranu Regulo. Wanita itu, mungkin di mata orang lain hanya seorang wanita biasa, seorang wanita sederhana. Kadang selalu aktif mengomentari hal-hal tak penting yang sebenarnya tak perlu dikomentari. Kadang kita debat sampai nyaris beradu otot untuk hal-hal sepele. Kadang juga kita saling diam tanpa kata, bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan kediaman kita, juga kita rasa sangat indah. Kalau boleh saya menggombal, wanita itu, yang menemani kabut pagi di Ranu Regulo merupakan wanita sederhana yang senyumnya selalu membuat saya ikut jua tersenyum.

Beberapa hari di Ranu Regulo, saya belajar banyak tentang sebuah kesabaran. Tentang sebuah rindu. Tentang sebuah perjumpaan yang sebelumnya dibatasi oleh jarak. Dari senyumnya yang terlihat di pagi hari, saya temukan sebuah letup semangat. Sebuah keberanian untuk memandang hari esok, bercita-cita bersamanya. Cinta, mampu membuat kita berani memandang masa depan. Energi positif itulah yang selalu membuat saya berani bermimpi. Inilah yang kusebut dengan perjalanan bermakna. Tak melulu soal pergi jauh dan berpeluh, atau bermandikan cahaya matahari di tepi pantai nan eksotis. Karena makna adalah tentang apa yang kita dapatkan dari sebuah perjalanan. [Cecep Rojali/End]

Penyunting : Bela Jannahti – Semarang

 

Sebarkan :
  • 190
  • 156
  • 124
  •  
  •  
  •  
    470
    Shares
Follow Cecep Rojali:

Tinggal di Jakarta Timur. Menggemari kegiatan mendaki gunung. Aktif dalam kegiatan komunitas traveler di Jakarta.

Komentar anda?