Desa Penglipuran Tak Tergilas Oleh Zaman

Bali mempersembahkan dunia pariwisata yang berpadu dengan kentalnya budaya pada para pendatang. Salah satunya adalah Desa Adat Penglipuran. Desa yang berada di daerah Bangli. Desa ini memperlihatkan karakter yang kental akan ajaran leluhur yang mereka jaga, demi terciptanya kelestarian budaya.

Pura di desa Penglipuran, Bali. Dok. Selusur Nusantara
Pura di desa Penglipuran, Bali. Dok. Selusur Nusantara

Menarik minat wisatawan lokal bahkan mancanegara merupakan aktivitas setiap hari yang telah menjadi semacam rutinitas. Menyapa, memberikan pengetahuan tentang sejarah, hingga menjamu masuk ke dalam kediamannya membuat rasa empati terlihat dari para warga lokal disana.

Desa yang tersusun dari runtutan rumah seragam dengan instrumen bangunan budaya seirama menjadi salah satu kelebihan Penglipuran. Masyarakat menjaga lingkungan menjadi bersih dari sampah berserakan. Mereka memiliki pura utama di dalam desa dan tempat sembahyang di setiap pekarangan rumah. Ini menjadi kewajiban mereka demi terciptanya tempat nyaman berpariwisata serta kelestarian budaya tetap terjaga.

Susunan rumah yang berada disana merupakan peninggalan dari para leluhur terdahulu. Bukan karena jabatan sosial bahkan kasta tertinggi sekalipun. Terlihat keajegan mereka pada satu keturunan, satu ahli waris, atau satu tanggung jawab pada satu wilayah pekarangan. Desa yang terdiri dari 980 orang di dalamnya, memilik konsep sistem perwakilan. Sistem perwakilan, atau diwakili oleh satu orang dalam pekarangan (Pengarep). Warga desa Pengarep itu pun terdiri dari 76 orang untuk mewakili 235 kepala keluarga yang berada di Desa Adat Penglipuran.

Sejarah masyarakat Bali Aga di Desa Penglipuran, pada awalnya berceritakan pada sebuah desa yang disegani oleh para raja di Bangli. Desa tersebut diberi nama desa Bayung Gede. Desa yang disegani para raja karena sering membantu aktivitas kerajaan itu memiliki jarak hampir 30 kilometer jauhnya dari pusat kerajaan.

Jarak tersebut cukup jauh pada zaman itu karena alat transportasi dan faktor lainya. Hal ini membuat kewenangan raja untuk memberikan sebuah desa pada suatu daerah yang jaraknya lebih dekat.  Daerah tersebut diberi nama Desa KubuDesa Kubu atau desa yang berada di pertengahan  dengan jarak yang dekat, hanya empat kilometer jaraknya dari pusat kerajaan menjadi representasi dari Desa Bayung Gede.

Karena jarak yang cenderung dekat itu, serta merupakan representasi dari Desa Bayung Gede. Maka desa tersebut berganti nama menjadi desa Kubu Bayung Gede. Memiliki arti sebagai penggabungan daerah asal dan daerah baru yang ditempatinya. Atau dengan arti lain memiliki makna orang Bayung yang tinggal di daerah Kubu atau orang Kubu yang berasal dari Bayung. Hal ini menjelaskan makna dari desa Kubu Bayung Gede.

Desa Kubu Bayung Gede berganti nama menjadi desa Penglipuran di saat telah memenuhi syarat (berdiri sendiri).  Karena alasan tersebut dan telah memenuhi syarat menjadi sebuah desa adat serta desa dinas, maka berubahlah namanya menjadi desa Penglipuran. Yaitu desa yang memiliki makna penghibur atau penglipur atau menyenangkan orang lain.

Desa Penglipuran sendiri dimaknai sebagai desa yang melestarikan dan mengingat keberadaan budaya para leluhurnya (pengeling pura).. Pengeling pura sendiri memiliki makna pada kata eling yaitu mengingat, dan pura, yaitu tempat sembahyang masyarakat Aga. Maka arti keseluruhannya yaitu mengingat pura, mengingatkan kepada asal-muasal, serta adat  dan budaya mereka sendiri.

Warga mempersiapkan hewan kurban untuk upacara adat di desa Penglipuran. Dok. Selusur Nusantara
Warga mempersiapkan hewan kurban untuk upacara adat di desa Penglipuran. Dok. Selusur Nusantara

Dari legenda itulah, Desa Penglipuran merupakan sebuah desa miniatur dari Desa Bayung Gede. Mulai dari  sistem kekerabatannya, sosial budaya, rumah-rumah adat, bahkan tata letak pura yang berada di desa adat, merupakan representasi dari desa Bayung Gede. Hal tersebut menjadi salah satu keanekaragaman budaya yang menarik wisatawan dalam segi sejarah.

Ada lagi upacara dan ritual yang selalu dilestarikan di desa Penglipuran. Hal ini untuk menghoratii leluhur. Kini ritual ini juga dapat menarik wisatawan datang ke desa Penglipuran. Pada awal tahun dalam kalendar saka terdapat beberapa kali ritual  atau upacara adat yang mereka kerjakan dengan pemberian sesajen. Sesajen disini merupakan tradisi budaya Hindu yang dilestarikan dalam setiap upacara atau ritual adat, untuk mengucapkan, mengingat, dan memberikan rasa syukur kepada sang pencipta.

Dengan sejarah sebagai masyarakat agraris, masyarakat desa Panglipuran mayoritas adalah petani. Mereka melakukan aktivitas pertanian di ladang kering ataupun basah. Karena tinggal di desa adat, maka mereka sebagai petani selalu melakukan  ritual pada awal dan akhir tahun.

Mulai dari Nyeb (membuat subur/menyuburkan tanah),  Mungkah ( mulai membajak), Menanam Tanaman (mulai proses menanam), Pemeliharaan Pertanian (intensifikasi pertanian), Nakluk Merane (tolak bala), Upacara Padi Sedang Bunting (proses upacara saat padi berisi) , Ngusaba Bantal (upaca perayaan keberhasilan panen), Ngaturan Upeti (upacara mengucap rasa syukur atas keberhasilan panen).

Upacara ngaturan upeti yang dilakukan  masyarakat untuk selalu mengingat leluhur serta sang pencipta dapat dilihat di pengunjung tahun kalender saka. Upacara atau ritual dilakukan dengan khidmat dalam setiap prosesnya.

Mulai dari agenda penyembelihan hewan untuk dipersembahkan. Membersihkan desa secara menyeluruh dengan bergotong royong. Bahkan sampai mempersiapkan kebutuhan detail  bersama-sama. Beriringan menuju pura besar di Bangli (pura kehen), menjadi penyempurna ritual dalam upacara tersebut.

Budaya yang terjaga dan keyakinan yang tak luntur dimakan zaman serta modernisasi, menjadi daya tarik wisata. Hal ini juga merupakan aset bagi para generasi muda serta para penerus untuk menjaganya. Keindahan Pulau Dewata dengan pariwisata dan budaya yang kental merupakan salah satu aset berharga bagi Indonesia.

Aneka ragam kebudayaan di Indonesia yang diwariskan oleh zaman bukanlah sebuah tulisan yang hanya terpampang melalui buku. Melainkan warisan yang harus dijaga dari perilaku orang-orang yang sibuk dengan aktivitas pribadi serta hanya memikirkan ego dan urusan perut masing – masing.

Juni 2015

 

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *