Desa Tambakrejo, Pengelolaan Wisata Pesisir Berkelanjutan di Malang

Desa Tambakrejo, Pengelolaan Wisata Pesisir Berkelanjutan di Malang

posted in: Destination | 1

 

Khususnya di Pantai Tiga Warna yang telah menerapkan pengecekan dan pengawasan yang ketat pada pengunjung untuk mengawasi sampah yang dibawa pengunjung. Selain itu sistem reservasi juga menjadi penyaring untuk membatasi jumlah pengunjung. Hal ini dapat menekan kerusakan terhadap lokasi yang dijaga.

Desa Tambakrejo yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Kota Malang memiliki pantai yang berada dalam wilayah rehabilitasi dan konservasi mangrove. Kawasan ini khususnya pantai tiga warna merupakan kawasan konservasi dibawah naungan Perhutani dan dibantu dengan masyarakat sekitar dalam pengelolaanya. Kawasan ini sangat dijaga baik hutan maupun taman lautnya. Perjalanan menuju ke desa yang berada di Kabupaten Malang tersebut menyuguhkan pemandangan indah di antara perbukitan dan hutan.

Dari arah Kota Malang, ikuti saja petunjuk ke arah Pantai Sendang Biru yang terkenal. Ketika sudah dekat dengan Pantai Sendang Biru, kita akan menemui percabangan yang salah satunya menuju ke Pantai Clungup. Di wilayah tersebut terdapat beberapa pantai yang tidak terlalu jauh jaraknya dari area parkir, cukup ditempuh kurang dari dua jam trekking.

Pantai Clungup

Akses menuju pantai ini masih berupa jalanan yang tidak beraspal sehingga akan becek dan licin ketika hujan. Mempersiapkan alas kaki khusus untuk trekking akan memudahkan kita karena lebih aman. Kita juga bisa menyewa ojek dengan ongkos lima ribu rupiah untuk sekali jalan.

Pantai Clungup merupakan kawasan konservasi. Banyak lubang-lubang galian kepiting di dekat pantai. Ketika sedang surut, pantai ini terlihat kering dengan tanaman mangrove yang besar-besar. Sayang, banyak sampah yang terbawa ombak dan terdampar di pantai.

Untuk masuk ke Pantai Clungup kita cukup membayar tiket masuk seharga lima ribu rupiah. Bagi yang membawa kendaraan pribadi dikenakan biaya tambahan, tiga ribu rupiah untuk kendaraan roda dua dan lima ribu rupiah untuk kendaraan roda empat.

Pantai Gatra

Masih di lokasi yang sama, tak terlalu jauh dari pintu masuk, kita juga dapat menemui Pantai Gatra yang biasa digunakan untuk area water sport seperti kano. Saya kurang beruntung ketika berkunjung kesana karena air sedang surut. Ketika air surut, kegiatan air tidak diperbolehkan karena dangkalnya permukaan air dengan terumbu karang.

Untuk mengunjungi Pantai Gatra kita tidak dikenakan biaya lagi karena sudah sepaket dengan Pantai Clungup. Namun jika ingin melakukan kegiatan air, kita cukup menambah antara 15 ribu rupiah sampai 25 ribu rupiah. Menurut saya itu relatif murah.

Pantai Tiga Warna

Berbeda dengan Pantai Clungup dan Pantai Gatra, Pantai Tiga Warna sangat dijaga kelestariannya. Untuk masuk ke pantai ini, pengunjung harus melakukan reservasi minimal satu hari sebelumnya. Jumlah pengunjung dibatasi, maksimal 100 orang per hari.

Reservasi bisa dilakukan melalui SMS ke 0821-32677713 dengan format nama, tanggal berkunjung, dan jumlah pengunjung. Setelah mengirim SMS kita akan mendapat balasan berupa kode aktivasi yang harus ditunjukkan saat kunjungan.

Biaya masuk Pantai Tiga Warna masih sepaket dengan Pantai Clungup, namun ada tambahan wajib guide sebesar 100 ribu rupiah per 10 orang.

Sebelum masuk, di Pos kedua, pengunjung akan diperiksa perbekalannya, lalu didata apa saja yang akan dibawa masuk ke dalam kawasan pantai. Barang-barang yang akan menjadi sampah nantinya harus dibawa kembali dan akan diperiksa di Pos. Bila tidak dibawa kembali, kita bisa dikenai denda sebesar 50 ribu rupiah per sampah sesuai data. Peraturan ini dibuat oleh Pengelola yaitu pihak Perhutani dari mulai kawasan ini dibuka sekitar pertengahan tahun 2014, tertulis jelas di pos registrasi dan juga dijelaskan oleh petugas ketika registrasi.

Untuk menuju ke lokasi pantai, saya harus trekking sekitar 45 menit melalui jalur alternatif yang berupa tanah dikelilingi perkebunan. Kelelahan saat trekking ditambah teriknya matahari terbayar lunas oleh keindahan pantai. Pasir putih dan karang-karang yang mengelilingi pantai sangat indah. Pantas saja bila jumlah pengunjung dibatasi sebanyak 100 orang per hari. Selain demi kelestariannya, Pantai Tiga Warna memiliki garis pantai yang pendek. Disini pengunjung bisa berenang atau bersnorkeling dengan menyewa peralatan seharga 45 ribu rupiah.

Saya sempat menanyakan kepada guide mengapa pantai ini dinamakan Pantai Tiga Warna. Katanya, pantai ini terlihat memiliki tiga warna ketika siang hari, diakibatkan oleh pantulan sinar matahari oleh laut. Namun lagi-lagi saya kurang beruntung karena pantai ketumpahan minyak. Kejadian ini terjadi sekitar bulan Januari 2016. Penyebabnya sendiri masih belum diketahui karena masih proses penanganan oleh petugas yang berwenang. Hal ini membuat air laut menjadi berwarna gelap dan saya tidak berani berenang. Akhirnya, menikmati pantai dengan bersantai dan berfoto menjadi pilihan saya.

Bila berkunjung kesini saya sarankan membawa perbekalan yang cukup, karena disini hanya ada warung kopi yang menjual makanan sebatas gorengan dan mie instan.

Pantai Watu Pecah

Karang di pinggir pantai yang menjadi daya tariknya menjadikan pantai ini kerap dijadikan lokasi pengambilan foto pre wedding. Ah iya memang indah. Saya memang sangat suka dengan pantai dan laut karena mereka mempunyai keunikan sendiri di setiap tempat. Pasir putih, beningnya air laut, ombak yang bergulir tenang, selalu membikin rindu untuk dijumpai.

Terbayang perjalanan yang harus saya tempuh menuju kesini. Dari Kota Malang saya harus mengendarai motor menyusuri perbukitan, hutan, jalan yang berkelok-kelok dan licin akibat hujan. Belum lagi dibawa nyasar oleh GPS. Tapi itu semua justru menambah minat saya untuk mengeksplor pantai-pantai di Indonesia.

Satu lagi, di sini merupakan daerah dengan jangkauan sinyal telepon seluler yang terbatas. Jadi harap sabar untuk para gadgetholic.

Pantai Balekambang

Berada di Desa Srigonco, pantai ini berjarak sekitar satu jam dari Pantai Tiga Warna. Jalanan yang berputar mengelilingi bukit yang curam membuat kita harus berhati-hati. Meski begitu, saya masih sangat menikmati perjalanannya, indah dengan warna hijau bertebaran. Bila malam hari, tak ada penerangan selain dari kendaraan saja. Rumah pendudukpun hanya beberapa dan letaknya saling berjauhan.

Sebelum sampai pantai, kita akan menemui patung dan tulisan Pantai Balekambang, lalu kita hanya tinggal mengikuti jalan. Saya tidak tahu biaya masuk untuk pantai ini, karena setibanya saya disana hari sudah sore sehingga tidak ada penarikan biaya masuk.

Pantai Balekambang terlihat telah dikelola dengan baik. Warung-warung makan dan toko souvenir berjejer rapi di sepanjang tepi pantai.

Keunikan pantai ini terletak pada Pura Ismoyo yang didirikan diatas laut. Untuk menuju ke Pura, pengunjung bisa menggunakan jembatan yang menghubungkan bibir pantai dengan pura. Pantai ini terkenal dengan sebutan “Tanah Lot”nya Malang.

Disana saya jarang sekali menemukan sampah plastik. Yang banyak adalah sampah dedaunan yang terbawa ombak saat pasang. Rasanya peraturan untuk membawa kembali sampah dengan disertai denda bagi pelanggarnya cukup efektif. Tak hanya untuk pengunjung, namun para pedagang pun mengumpulkan sampah bekas dagangannya untuk nantinya dibawa keluar area pantai.

Saya harap di tempat lain menerapkan peraturan seperti ini untuk ditaati bersama. Alangkah indahnya bila kita dapat menjaga kelestarian alam, dimulai dari diri sendiri, sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan atas keindahan alam yang telah diberikanNya. [Elysa Rosita/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 190
  • 191
  • 156
  •  
  •  
  •  
    537
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

One Response

  1. jadi pengen berkunjung ke situ cisanti , tulisan dan bahasanya menggugah hati …keren

Komentar anda?