DESTINASI BARU DI SELATAN SUKABUMI

posted in: Destination | 2

 

Dahulu, jalur Loji – Ciletuh hanya merupakan hamparan ladang dan kebun penduduk. Akses satu-satunya hanya merupakan jalan setapak dari tanah merah yang menyusuri tepian jurang. Jika malam hari, tidak jarang macan tutul, babi hutan, monyet, dan hewan lainnya melintas. Kini, hamparan aspal mulus sepanjang 23 Km sudah membentang membelah perbukitan di tepian Jalur Loji – Ciletuh.

 

Tanjakan Balewer. Tanjakan terberat di sepanjang jalur Loji – Ciletuh. Credit foto by” Dya Iganov

 

 

 

 

Jalur Loji – Ciletuh

Jalur Loji – Ciletuh baru-baru ini menjadi topik yang ramai dibicarakan di kalangan traveler, khususnya para traveler yang memiliki hobi touring. Jalur Loji – Ciletuh merupakan jalan baru yang dibangun untuk kepentingan pembukaan akses menuju Geopark Nasional Ciletuh – Palabuhanratu. Pembangunan jalur Loji – Ciletuh telah rampung dilaksanakan pada Desember 2017. Peresmian pembukaan jalur ini dilaksanakan pada 26 Desember 2017 oleh Gubernur Jawa Barat, Kepala Dinas Bina Marga & Tata Ruang Jawa Barat, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat.

Jalur Loji – Ciletuh merupakan jalan dengan aspal mulus sejauh 23 Km. Pemandangan di sepanjang jalur ini bisa dikatakan termasuk “paket komplit”. Di satu sisi, suguhan pemandangan berupa hamparan Samudera Hindia dengan beberapa teluk-teluk kecil. Teluk-teluk kecil ini akan terdapat sepanjang pesisir Kecamatan Simpenan hingga Kecamatan Ciemas (termasuk area utama Geopark Nasional Ciletuh – Palabuhanratu). Sisi lainnya, suguhan pemandangan akan berupa bentangalam perbukitan dengan hutan lebat sekaligus habitat alami macan tutul dengan hiasan berupa beberapa air terjun yang cukup tinggi. Dua dari banyaknya air terjun di deretan perbukitan ini adalah Curug Larangan atau Curug Cijegang dan Curug Nini Torek.

Jalur Loji – Ciletuh memang baru dibuka dan diresmikan kurang dari dua bulan, jadi wajar saja masih belum terdapat satupun sarana kelengkapan jalan. Tidak perlu khawatir akan kesulitan jika melintas di jalur ini. Ada beberapa titik yang bagian jalannya berdekatan dengan permukiman penduduk. Bahkan, penjual bensin eceran, tambal ban, dan warung non permanen pun terdapat di jalur ini. Warung, penjual bensin, dan tambal ban memang tidak tersedia banyak di jalur ini dan menjelang senja, hampir semuanya sudah tidak beroperasi lagi. Oleh karena itu, memang tidak disarankan untuk melintas di jalur ini pada malam hari apalagi tidak dengan rombongan.

Berbicara mengenai menikmati pemandangan alam di Jalur Loji – Ciletuh ini, memang tidak akan ada habisnya. Banyak spot menarik di sepanjang jalur. Jika ingin berhenti untuk mengabadikan pemandangan di jalur ini pun, bisa berhenti tepat di pinggir jalan ataupun di tempat-tempat yang dibuka menjadi objek wisata di jalur ini. Sebut saja Puncak Darma, Puncak Gebang, Bukit Ves, dan masih banyak tempat lainnya yang baru dibuka oleh warga. Pantai-pantai di sepanjang Jalur Loji – Ciletuh pun sayang bila dilewatkan. Pantai Cisaar, Pantai Sangrawayang, Pantai Cipeundeuy, serta Pantai Palangpang merupakan beberapa pantai yang sudah dibuka aksesnya oleh warga dan cocok sebagai lokasi untuk menikmati sunset.

Dampak Sabuk Geopark

Pembangunan jalur Loji – Ciletuh merupakan bagian dari Sabuk Geopark. Sabuk Geopark sendiri merupakan jalur yang membentang dari daerah Cibareno di Kecamatan Palabuhanratu melewati Loji (Kecamatan Simpenan), Desa Girimukti (lokasi Puncak Darma, Curug Nyelempet, Curug Dogdog, dan Puncak Malanding/Bukit Paradise), Desa Ciwaru (lokasi Curug Cimarinjug, Pantai Palangpang, Pulau Mandra), hingga berujung di Kecamatan Ciracap (kawasan wisata Ujunggenteng).

Pembangunan jalur Sabuk Geopark ini tentu membawa dampak positif dan negatif bagi kawasan yang dilaluinya. Dampak positif yang sangat terasa yaitu kemudahan akses menuju kawasan Geopark, terutama yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Ciemas. Jika sebelumnya waktu tempuh dari Palabuhanratu menuju Desa Ciwaru membutuhkan waktu sekitar lima jam, dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus, maka dengan adanya jalur Loji – Ciletuh, perjalanan hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Dampak peningkatan infrasturktur bagi desa di sepanjang jalur pun sangat terasa.

Bila sebelumnya masih ada beberapa wilayah permukiman di Cisaar dan Cilegok (Kecamatan Simpenan) yang masih sangat terisolir dan tidak mendapatkan daya listik negara, maka kali ini, lokasi permukiman tersebut dapat dengan mudah diakses dari jalur baru Loji – Ciletuh. Sebelumnya, untuk mencapai Cisaar dan Cilegok penduduk harus menyusuri tepi pantai sepanjang Loji hingga Pantai Cisaar dengan menyeberangi setidaknya lebih dari lima muara sungai.

Selain itu, penduduk pun harus pintar membaca kapan ombak pasang. Salah dalam perhitungan air laut pasang, maka penduduk, bahkan anak-anak pun tidak dapat beraktivitas, termasuk pergi ke sekolah di daerah Loji. Infrastruktur lain seperti halnya listrik negara pun, kini sudah bisa dinikmati oleh warga di Cisaar dan Cilegok. Sebelumnya, warga di Cisaar dan Cilegok hanya mengandalkan obor, cempor, dan lilin sebagai sumber penarangan sehari-hari.

Penetapan beberapa wilayah di Kecamatan Ciemas dan Kecamatan Simpenan sebagai bagian dari Geopark Nasional (bahkan menuju Global Geopark), sudah pasti harus dilengkapi oleh sarana pendukung. Bila sebelum ditetapkan menjadi Geopark, hanya terdapat dua penginapan di sepanjang garis Pantai Palangpang (bahkan di seluruh Kecamatan Ciemas), maka saat ini penginapan/homestay sudah banyak tersedia di seluruh Desa Ciwaru, bukan hanya di sepanjang garis Pantai Palangpang.

Penambahan landmark berupa tulisan nama tempat pun kini sudah terdapat di seluruh objek wisata di Kawasan Geopark Nasional Ciletuh – Palabuhanratu. Dampak lainnya sudah tentu pembenahan akses dan area di sekitar objek wisata andalan. Sebut saja area Curug Awang, Curug Puncak Manik, Curug Sodong, Curug Cimarinjug, dan Puncak Darma. Sebelumnya akses menuju semua lokasi tersebut hanya dimungkinkan dengan kendaraan offroad ataupun sepeda motor ditambah dengan sedikit berjalan kaki.

Pemandangan langsung mengarah ke Teluk Ciletuh. Credit photo by: Dya Iganov

Penggunaan sepeda motor pun harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Bila hujan, penggunaan sepeda motor menuju lokasi-lokasi tersebut pun cukup sulit. Bahkan, di beberapa tujuan wisata, disarankan untuk diantar oleh penduduk setempat. Hal ini dikarenakan masih tertutupnya akses menuju objek wisata.

Selain sepeda motor, akses melalui laut pun menjadi altenatif lainnya menuju Kecamatan Ciemas. Akses laut kebanyakan digunakan oleh nelayan dan warga lokal. Kebanyakan pergerakan melalui akses laut memiliki asal dan tujuan terbanyak ke Pelabuhan Ikan di Kecamatan Palabuhanratu. Waktu tempuh dari Pantai Palangpang menuju Pelabuhan Ikan di Palabuhanratu kurang lebih tiga puluh menit dalam kondisi perairan dan kondisi cuaca normal. Bila cuaca buruk, akses laut pun tidak dapat digunakan. Kendaraan umum pun hanya berupa ELF yang jumlahnya tidak lebih dari tiga unit. Jam operasi ELF pun hanya satu kali sehari. Pagi hari dan Palabuhanratu menuju Ciwaru, begitupun sebaliknya.

Pembukaan akses tentu akan berimbas pada tereksposenya suatu lokasi, terlebih lagi jika lokasi tersebut merupakan tujuan wisata dengan skala internasional. Lahan yang semula hanya merupakan padang rumput tempat sapi dan kambing merumput dengan leluasa, kini harus bersaing dengan lalu lalang kendaraan bermotor dan pengunjung tentunya. Areal perbukitan yang masih terbilang memiliki hutan alami di sepanjang jalur Loji – Ciletuh, tepatnya di Desa Girimukti pun tidak luput dari dampak pembukaan akses ini.

Berdasarkan informasi dari hampir seluruh warga di Desa Girimukti dan Desa Ciwaru, areal hutan di perbukitan sekitar Desa Girimukti, bahkan di areal Puncak Darma merupakan habitat asli macan tutul. Bahkan, sebelum jalur Loji-Ciletuh dibangun, jika malam tiba, tidak jarang macan tutul ataupun babi hutan yang melintas di area sekitar Puncak Darma. Dengan dibukanya jalur Loji – Cieltuh, otomatis luas wilayah jelajah para predator berkurang. Meskipun dalam waktu dekat belum ada rencana pengembangan dan pembangunan besar-besaran di sekitar jalur Loji – Ciletuh, tetapi tidak menutup kemungkinan di masa mendatang, eforia penetapan Geopark akan bersinggungan dengan habitat asli flora dan fauna yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun hidup di area ini.

Bagaimanakah kondisi jalur Loji – Ciletuh sebelum dibangun? Kebanyakan merupakan tegalan, padang rumput, juga kebun. Rutenya pun tidak sama seperti jalur Loji – Ciletuh yang ada saat ini. Jalan aspal hanya tersedia dari pertigaan Simpenan menuju Pantai Loji. Selebihnya, dari Pantai Loji hingga Loji Wood hanya merupakan jalan setapak yang berada tepat di pinggir bibir pantai. Kondisi jalan aspal pun masih sekelas aspal jalan desa dengan kondisi sudah banyak berlubang. Tidak terdapat jembatan selepas pantai Loji. Penududuk harus menyeberangi muara dengan rakit atau bahkan masuk ke dalam sungai. Jika kondisi muara meluap, makan penduduk biasanya menunggu dua hingga tiga jam hingga air di muara surut.

Bila musim hujan, akses menuju Cisaar dan sekitarnya dari Loji terputus total. Air laut pasang, begitupun air di muara sungai meluap. Hal ini menyebabkan terhentinya aktivitas anak-anak di Cisaar dan sekitarnya. Lokasi sekolah anak-anak di Cisaar dan sekitarnya berada di Loji dan ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih dua jam dengan medan menyeberangi muara dan menyusuri bibir pantai yang penuh dengan batuan tajam.Tidak jarang, ketika musim ujian tiba, anak-anak menginap di Loji dan baru pulang ketika masa ujian usai.

Akses jalan dari Loji pun hanya sebagian yang tersambung dan berupa jalan setapak tanah. Menuju Puncak Darma dari Loji, dahulu masih harus menerabas hutan dan jalan setapak di pinggir jurang. Jalur ini berada di wilayah Gunung Koneng yang menjadi batas adminsitrasi Kecamatan Ciemas dan Kecamatan Simpenan. Kondisi jalur pun sangat berbahaya, bahkan ketika musim kemarau. Jalur merupakan jalan setapak tanah merah dengan tanjakan curam, tikungan tajam, serta menyusuri jurang. Bila angin sedang kencang, tidak jarang, motor pun oleng.

Jalur menuju Puncak Darma pun, sebelum adanya jalur Loji – Ciletuh yang paling mudah yaitu melalui Desa Girimukti dari jalur lama (jalur Pal Tilu – Desa Ciemas). Meskipun jalur paling mudah, tetapi kondisi jalan dari Desa Girimukti hingga Puncak Darma pun tidak dapat dikatakan layak untuk ukuran Geopark Nasional. Jangankan untuk ukuran Geopark Nasional, untuk ukuran tujuan wisata pun sangat tidak memadai. Jalan desa merupakan jalan makadam dengan medan menanjak. Bahkan, setelah tiba di Desa Neglasari, jalan makadam akan menghilang dan digantikan jalan setapak dari tanah merah. Bila hujan, seluruh jalan akan sangat licin.

Puncak Darma pun hanya sebatas puncakan bukit tanpa ada penanda apapun. Bahkan, warga di sekitar Desa Girimukti dan Neglasari dahulu belum mengenal nama Puncak Darma. Warga lebih mengenal Puncak Cimarinjung dibandingkan Puncak Darma. Jalur Puncak Darma – Curug Cimarinjung sebelum adanya jalur Loji – Ciletuh sangat tidak layak untuk dilewati.Jalur merupakan jalan setapak dari tanah merah. Bila perjalanan dimulai dari Puncak Darma, maka, pertama-tama jalur akan menemui turunan panjang dan sangat curam dari tanah merah. Bila hujan, jalur ini akan lumpuh total. Warga pun, tidak banyak yang memilih jalur ini sebagai lintasan. Kebanyakan warga akan memutar melalui Sangarawa di Desa Mekarjaya kemudian Desa Tamanjaya untuk menuju Ciwaru.

Akses jalan dari Pantai Palangpang menuju Curug Cimarinjung pun masih tidak layak untuk dijadikan jalan. Satu-satunya akses menuju Curug Cimarinjung adalah jalan yang berupa pelebaran pematang sawah. Bila musim hujan, sudah dapat dipastikan jalur akan berupa kubangan lumpur. Sama halnya dengan akses menuju Curug Sodong dan Curug Awang. Sebelum ada pembangunan jalan, kendaraan bahkan tidak dapat sampai hingga di depan air terjun. Jalan akan terputus ketika sudah melewati rumah penduduk. Bahkan untuk akses menuju Curug Awang, berada di tengah-tengah perkebunan kelapa serta area persawahan dan jauh dari permukiman penduduk.

Meskipun saat ini sebagian kawasan di Kecamatan Simpenan dan Kecamatan Ciemas sudah masuk ke dalam kawasan Geopark Nasional, tetapi masih terdapat akses-akses menuju lokasi potensi wisata yang masih perlu dibenahi. Pembenahan di sekitar kawasan Geopark Nasional Ciletuh – Palabuhanratu akan sejalan dengan pembangunan tahap berikutnya dari Sabuk Geopark yang akan dimulai pada tahun ini.

Referensi tulisan:

http://www.kemendagri.go.id/news/2017/12/26/jalur-sabuk-ciletuh-jalan-loji-puncak-darma-mulus

http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/

http://www.kartala.org/2016/03/perjalanan-cahaya-ekspedisi-cisaar.html

 

Pemandangan di salah satu spot jalur Loji – Ciletuh. Credit Photo by: Dya Iagnov
Sebarkan :
  • 230
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    230
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

2 Responses

Leave a Reply