Dilema Tata Kelola Curug Bugbrug – Jawa Barat

Dilema Tata Kelola Curug Bugbrug – Jawa Barat

posted in: Destination | 0

Setelah ditunda-tunda, akhirnya jadi juga berkunjung ke Curug Bugbrug. Kami berangkat pukul 10.00 pagi dari rumah. Kondisi jalannya sangat baik dan patokannya tidak terlalu sulit ditemukan. Baru saja jalan, gerimis pun turun. Ternyata ujannya ga lama. Pas masih gerimis, kami pun jalan lagi. Ga lama kami pun tiba di perbatasan Kecamatan Parongpong dengan Kecamatan Cisarua.

Berhubung ragu, akhirnya kami belok ke arah CIC. Sedikit kurang yakin soalnya kalau di patokan yang saya baca, kayanya ga sampe masuk ke jalan kecil lagi. Tapi ya sudahlah. Setelah lewat beberapa tanjakan, akhirnya kami berhenti dan nanya warga. Hanya satu dari tiga warga yang kami tanya yang memberi informasi cukup jelas. Kami pun balik arah dan di rumah pertama yang kami temui, kami nanya lagi. Kami pun masuk ke rumah ditempat kami berhenti.

Kami langsung ketemu sama pemiliknya, dan informasi yang diberikan tidak jauh beda dengan sebelumnya, hanya lebih informatif. Jalan ke Curug Bugbrug ada di samping pos tepat setelah rumahnya. Jalannya kecil, licin, dan turun terus sampe jembatan. Tepatnya jalan kedua dari bawah, yang dari pinggir jalan. Akhirnya daripada penasaran kami pun mengecek jalan di samping pos.

Berhubung feeling saya bahwa jalan ini bakal tembus di bagian atas curug dan kalau mentok harus balik lagi dengan nanjak, jadi saya mutusin buat nunggu. Ternyata setelah dicek, bener aja, ini jalan yang dari arah atas dan sedikit susah. Soalnya harus nyebrang jembatan dan kalau mau balik lagi jaraknya jauh dan nanjak. Akhirnya kami pun kembali ke rumah, ambil motor. Jelas, ini beda jauh dari beberapa sumber yang saya baca. Ya sudah akhirnya kami balik lagi ke jalan raya dan nerusin jalan ke arah Cisarua.

Ga jauh dari jalan yang kami lewati, ternyata di sisi kanan jalan ada gerbang hitam persis seperti yang saya liat di sumber yang pernah saya baca. Kami pun putar arah lagi.

Setelah diperhatiin, ga jauh dari sini ada tugu perbatasan Kecamatan Prongpong dengan Kecamatan Cisarua yang bisa jadi patokan kedua, setelah pertigaan CIC. Patokan ketiga adalah Curug Cimahi yang berada ga jauh dari lokasi gerbang ini. Jadi, kalau udah liat Curug Cimahi, berarti jalan masuknya terlewat.

Pagarnya ditutup, hanya pagar kecil dipojok kanan yang dibuka. Sebenernya sih ini buat akses pejalan kaki kalau liat dari ukuran gerbangnya. Kami masuk dan kebetulan ada orang yang sedang memotong rumput. Kami pun nanya-nanya. Kalau kata bapak ini sih, kami sebenernya ga boleh masuk sini, kalaupun mau masuk, motornya harus diparkir diluar gerbang. Kami pun bingung, karena terlalu beresiko kalau harus ninggalin motor dipinggir jalan dan lama. Bapak ini akhirnya bilang, parkir aja motornya disini sebentar, lalu kalau di dekat curug ada yang kerja bilang aja ijin nitip motor.

Bapak ini juga bilang kalau lahan ini lahan pribadi, makanya di pagar dan ga bisa sembarang orang masuk kesini. Tapi berhubung lagi sepi banget, ya udah motornya diparkir dan masuk aja.

Kami pun mulai treking. Ga jauh dari tempat kami parkir motor, singkapan lava dari Gunung Sunda pun muncul. Niatnya sih mau foto tepat dibawah batunya, tapi ternyata di bawah batu itu udah banyak banget pupuk kandang. Berkarung-karung pupuk kandang siap diangkut dan akhirnya kami pun ambil foto dari jauh.

Kalau liat dari jalan masuk, sekeliling medan treking, ini kayanya sesuai dengan sumber yang saya baca, artinya kami hanya nyasar sedikit aja. Ga jauh dari tempat singkapan lava tadi, ada kolam buatan yang sekaligus di bendung disisi kanan jalan setapak, lengkap dengan pengendali aliran air yang nantinya bergabung ke aliran sungai alami disisi kiri jalan setapak.

Medannya bersahabat banget, meskipun masih tanah dan kecil, tapi cukup datar. Dari gerbang sampai ke depan Curug Bugbrug pun ga terlalu lama, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk treking kalau ga banyak berhenti. Ga jauh dari tanjakan tadi, jalan kembali datar dan akhirnya terlihatlah Curug Bugbrug dari kejauhan.

Ketika lagi asyik-asyik foto, ada warga yang nyamperin kami, namanya Ujang. Dia yang menjaga dan menagih retribusi di kawasan Curug Bugbrug ini. Kami pun bilang, minta ijin untuk titip motor di depan, soalnya ga ada orang yang jaga parkir. Siapa sangka, setelah kami bayar retribusi, kami pun ngobrol seru di saung yang udah ga terawat. Berhubung lagi hujan, jadi kami manfaatkan waktu sambil nunggu ujan berenti di saung tersebut.

Sedikit cerita mengenai jalur terakhir menuju Curug Bugbrug, pemasangan pagar tanpa penunjuk arah bukan tanpa maksud tertentu. Menurut pemaparan Ujang, pemuda yang biasa menarik retribusi sebesar Rp 7.500,00 per orang, Rp 2.000,00 untuk sepeda motor dan Rp 5.000,00 untuk mobil, area sekitar Curug Bugbrug ini sudah dibeli oleh pihak swasta. Singkat cerita, lahan disekitar Curug Bugbrug dari pinggir jalan raya Parongpong-Cisarua, bahkan sampai lahan kebun warga di lereng sebelah kiri (yang merupakan lereng dari jalur masuk Dusun Bambu) sudah dibeli dan rencananya akan segera dibangun.

Sedangkan keluarga Ujang, sudah turun temurun merupakan pemilik lahan di sekitar Curug Bugbrug yang persis berada di dekat air terjun. Menurut Ujang, lahan milik keluarganya adalah satu-satunya yang bertahan belum menjadi hak milik pengembang. Rencananya dari pagar dipinggir Jalan Raya Parongpong-Cisarua ini akan dibuat lahan parkir yang bahkan akan muat untuk bus, cafe, serta beberapa fasilitas bermain anak.

Dari jalan setapak ini sudah mulai ada pemugaran kolam. Lokasi kolam aslinya adalah cekungan tempat menampung jatuhan air dari tebing yang juga merupakan air buangan dari permukiman di atasnya. Air dari kolam ini kemudian dibendung dan dibuatkan katup untuk mengalirkan air ke saluran alami yang lebih jernih di samping kebun penduduk.

Setelah kolam, akan ada saung di kiri jalan setapak. Menurut Ujang, di dekat saung akan dibangun Cafe dan beberapa fasilitas lainnya. Tepat di pinggir kolam pun sudah ada gazebo yang cukup besar. Lahan kebun warga yang berada di lereng sebelah kiri jalan setapak ini pun tidak luput dari rencana pembangunan, bahkan sampai ke puncak tebingnya pun sudah menjadi hak milik pengembang.

Kembali ke jalan setapak, tepat setelah gazebo kedua yang berada di sisi kiri jalur terlihat kolam buatan yang menampung air dari kolam Curug Bugbrug lengkap dengan jembatan bambu. Nampak di sisi kirinya, di atas lahan yang sedikit lebih tinggi ada beberapa saung yang kondisinya sudah tidak terawat. Dulu saung-saung ini digunakan sebagai tempat berjualan. Sekarang, jarang sekali penjual, kecuali pada Sabtu dan Minggu, itupun tidak seramai di Curug Cimahi.

Dari batas kolam hingga lahan kebun di puncak bukit, tepatnya di sebelah Masjid, masih menjadi milik keluarga Ujang. Menurut Ujang, keluarganya tidak akan menjual tanah, kecuali hak sewa pakai, sehingga Ujang dan keluarganya masih mendapat keuntungan langsung dari rencana pengembangan Curug Bugbrug oleh pihak swasta. Sebenarnya ada kekhawatiran Ujang, yaitu penutupan akses oleh pihak pengembang. Menurut Ujang, Jika pengembang melakukan hal ini, sebenarnya malah akan merugian pengembang sendiri.

Kepemilikan lahan Ujang dan keluarganya yang berada dekat lokasi Curug Bugbrug dapat dimanfaatkan dengan penarikan retribusi yang berbeda dengan yang diberlakukan pengelola yang berakses dari pinggir jalan raya Parongpong – Cisarua. Penetapan retribusinya bisa saja berada jauh di bawah harga pengembang karena tidak ada fasilitas apapun. Hanya jasa untuk menitipkan dan menjaga kendaraan.

Hal yang menjadi kegelisahan Ujang yaitu warga setempat, yang juga tetangga Ujang, sudah semua lahan mereka berada dibawah kuasa pengembang. Kebun-kebun tersebut merupakan sumber pendapatan tambahan dan pemenuhan panganbagi warga, yang sebentar lagi akan segera beralih fungsi. Pengembang yang akan merubah area Curug Bugbrug ini masih bersaudara dengan pemilik Dusun Bambu, sehingga tidak dapat diprediksi akan ada berapa akses masuk lagi yang akan dibuka.

Hal yang juga patut diperhatikan yaitu tebing batuan di dekat gerbang masuk di jalur Jalan Raya Parongpong-Cisarua merupakan batuan tua. Batuan tersebut masih merupakan lava beku hasil letusan Gunung Sunda. Apakah akan sepenuhnya tertutup oleh bangunan hasil pengembangan atau tetap ada ditempatnya semula tanpa tersentuh pengembangan, atau bahkan tebing tersebut menjadi perhatian tersendiri dari pihak pengembang. Memang, saat ini akan sulit mendapat ijin masuk melalui gerbang di jalan Raya Parongpong – Cisarua. Oleh karena itu disarankan untuk mengambil jalur masuk dari masjid sebelum gerbang masuk Dusun Bambu.

Setelah hujan sedikit reda, saya mutusin untuk nunggu Ujang dan partner saya naik ke atas tebing karena penasaran sama akses dari Dusun Bambu. Ternyata lama juga, hampir satu jam mereka belum balik juga. Akhirnya partner saya dateng, tapi ga bareng Ujang, katanya masih ada kerjaan di kebun. Kami pun foto-foto lagi sebentar dan siap-siap untuk pulang.

Pas lagi siap-siap ada bapak yang abis kerja dan mau pulang, bilang kalau gerbang depan digembok jam 16.00 WIB. Dan sekarang jam 15.00 WIB, lumayan mepet juga. Kami pun ke tempat motor diparkir. Tempat ini bener-bener udah sepi, ga ada orang lagi selain kami berdua dan seorang pekerja yang juga udah siap mau pulang. Kebanyakan warga pulang lewat jalur Dusun Bambu, jarang warga yang lewat gerbang ini.

Gerbang masuk di pojok tadi pun udah tertutup. Sedikit cemas, saya pun mengecek, ternyata masih belum digembok. Baru sadar kalau ternyata ada portal lagi tepat di pinggir jalan dan udah ditutup dan digembok. Panik. Gimana bisa pulang kalau digembok gini. Sempet mikir gimana caranya biar motor bisa keluar. Dari mulai naikin motor ke kebun warga terus cari jalan keluar dari sisi kanan atau nurunin motor ke aliran sungai disisi kiri.

Disisi kiri area ini ada jalan setapak kecil tapi beda tingginya lumayan jauh. Sampe kepikiran buat ngelolosin motor lewat bawah portal. Udah panik, seperti orang bingung di pinggir jalan raya. Akhirnya partner saya pun nanya ke pekerja yang tinggal satu orang ini. Sayangnya, orang yang pegang gembok udah pulang dari jam 14.30 dan rumahnya jauh. Nah loh! Entah gimana, saya spontan aja jalan ke arah portal dan ngotak-ngatik rante, ternyata ga digembok! Jadi rante emang dililit-lilit, tapi gembok cuman dicantelin aja, ga dikunci. Akhirnya, cepet-cepet kami keluarin motor dan pulang. [Dya Iganov/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    758
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar Pembaca