Bulan ini, Dua Tahun Yang Lalu, Travelnatic Magazine Lahir

Bulan ini, Dua Tahun Yang Lalu, Travelnatic Magazine Lahir

posted in: Otherside | 0

Walau tanpa perayaan dan tanpa kembang api. Tidak membuat hari ini, dua tahun yang lalu, pantas untuk dilupakan. Di suatu hari dibulan Agustus 2014. Hari itu, kita memulai langkah, hari ini kita masih berusaha untuk menyelesaikannya. Esok, apakah cerah atau berkabut, kita akan tetap berusaha menyelesaikan apa yang kita mulai.

Travelnatic Magazine – Agustus 2014 merupakan momen bersejarah bagi kami. Kala itu, di Yogyakarta sedang dihinggapi euforia traveling dan antusias komunitas dalam berkegiatan. Menurut pantauan kami, hal sama juga terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kami ada di dalamnya. Bersama satu dua komunitas di Yogyakarta kawan kami biasa berkegiatan.

Travelnatic Magazine berproses dan berkembang. Dari yang awalnya sangat sederhana, kini menjadi lebih serius dan mencoba menyeriusi jalan yang sudah dimulai. Ketika itu twitter sedang heboh-hebohnya, kami pun memanfaatkan itu. Banyak kalangan yang menyebut, bahwa twitter dan media sosial, sejak kemunculannya hingga kini adalah salah satu faktor yang menentukan kemajuan promosi kegiatan traveling. Dan itu tak dapat dipungkiri memang.

Semakin lama, kebutuhan untuk lebih menekuni menjadi semakin tinggi. Kami berimprovisasi dengan keadaan yang sedang berkembang. Perlahan-lahan kami berbenah, berjalan lambat dan terus maju.

Jika dilihat perbedaan mendasar dari Travelnatic Magazine dua tahun lalu, dengan sekarang, akan terlihat beberapa alur perbedaan. Terutama dalam hal pilihan media publikasi dan kebijakan manajerial. Semuanya didasarkan pada berbagai percobaan yang gagal dan berhasil. Dari situ kami menentukan sistem mana yang cocok untuk dijalankan sesuai ketersediaan dan kesanggupan kami.

Dua tahun adalah umur yang masih bayi. Namun bagi kami, Itu adalah perjalanan panjang yang tidak mudah. Kami tidak melulu merasakan apa yang enak dilihat orang. Banyak halangan ada disetiap proses yang dilalui. Perjuangan tanpa halangan akan mengurangi nilai estetika dari proses itu sendiri. Oleh sebab itu, senang atau tidak, kami harus bisa melaluinya.

Tidaklah gampang mengajak pejalan untuk berkontribusi mempromosikan wisata dan perjalanan dengan bijaksana dan edukatif. Apalagi menulis, yang jadi pokok dari publikasi kami, pada dasarnya adalah sesuatu yang gampang-gampang susah. Gampang karena seseorang hanya perlu bisa menulis untuk menjadi penulis. Susah karena dalam perjalanannya seseorang harus terus belajar untuk bisa menuliskan sesuatu yang mudah dimengerti, menarik, informatif, tidak menyinggung, dan tentu saja dalam konteks wisata dan perjalanan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika ada yang datang dan pergi. Ini menjadi hal lumrah dan konsekuensi.

Terlebih jika dibingkai dalam konteks sukarela. Menulis dengan sukarela berarti adalah memenuhi panggilan jiwa dan tanggungjawab sosial. Banyak orang memiliki kecenderungan sukarela ini, namun terkadang, kebutuhan hidup berkata lain. Perut harus diisi, kantong harus diisi dan dapur harus tetap mengepul. Ini adalah sebuah konsekuensi yang membuat kami harus legowo didatangi dan ditinggalkan.

Menulis secara sukarela, artinya tidak dibayar dalam bentuk materi. Namun sialnya, sebuta apapun kita, materi tetap penting untuk diutamakan. Materi adalah faktor pemicu orang untuk semangat bekerja. Perjanjian kerja dalam bentuk transaksi materi menimbulkan keterikatan dan tanggungjawab lebih dalam melaksanakan tugas. Ini juga menjadi tantangan berat kami selama dua tahun terakhir. Ketiadaan materi menimbulkan inkonsistensi, kekurangan semangat dan motivasi, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas dalam menghasilkan tulisan.

Dua tahun hampir berlalu. Selama dua tahun itu, Travelnatic Magazine berhasil menerbitkan 20 Volume. Ini artinya ada 20 bulan yang dikerjakan Tim Travelnatic secara sukarela. Ini adalah pencapaian yang baik untuk tim yang bekerja dengan memotivasi diri sendiri. Selamat untuk Tim Travelnatic Magazine, baik yang masih bertahan, maupun yang sudah tidak tergabung dalam tim.

Jika boleh menginformasikan, empat bulan sisanya bisa dibagi dalam dua sebab. Dua bulan pertama adalah bulan Februari-Maret 2015 dimana Travelnatic Magazine fokus untuk melakukan perekrutan pertama dan kebetulan mengadakan Travel Writing Workshop di pantai Watukodok, Gunungkidul. Dua bulan lagi adalah masa jenuh dan introspeksi. Ada masanya rutinitas menimbulkan kejenuhan dan diperlukan introspeksi untuk membuat diri bersemangat kembali.

Dua tahun yang telah lewat berisi beribu pengalaman. Masing-masing orang di Tim Travelnatic tentu mendapatkan pengalamannya masing-masing, disamping pengalaman bersama. Dengan melewati dua tahun ini, kami mengharapkan ini bukanlah dua tahun yang terakhir. []

Sebarkan :
  • 23
  • 21
  • 12
  •  
  •  
  •  
    56
    Shares
Follow Travelnatic:

Travelnatic Magazine is magazine about tourism and traveling in Indonesia or by Indonesian. Every people can shared their travel story here. Send me by email at redaksi@travelnatic.com

Komentar anda?