Eduwisata, Sejak Dulu Hingga Nanti

Eduwisata, Sejak Dulu Hingga Nanti

posted in: Otherside | 0

Menurut sejarah, kata wisata (tourism) pertama kali muncul dalam Oxford English Dictionary tahun 1811, yang mendeskripsikan tentang perjalanan untuk mengisi waktu luang. Namun, konsepnya mungkin dapat dilacak balik dari budaya nenek moyang Yunani dan Romawi yang sering melakukan perjalanan menuju negeri-negeri tertentu untuk mencari tempat-tempat indah di Eropa. 

Orang pertama yang membuat sebuah petunjuk perjalanan wisata adalah Aimeri de Picaud, warga Perancis yang mempublikasikan bukunya pada tahun 130 tentang perjalanan ke Spanyol. Awalnya, perjalanan atau wisata sering berkaitan dengan perjalanan ibadah, eksplorasi geografis, ekspedisi ilmu pengetahuan, studi antropologi dan budaya, serta keinginan-keinginan untuk melihat alam yang indah. Sampai pertengahan abad ke-12, pertumbuhan wisata sangat rendah.

Biasanya, transportasi wisata menggunakan kapal laut, kuda, unta, kereta kuda, atau alat-alat transportasi yang ada saat itu. Selanjutnya, dalam abad ke-18 dan ke-19, kebutuhan wisata mulai meningkat. Pertumbuhan tersebut juga sangat dipengaruhi oleh Revolusi Industri. Tahun 1841 industri wisata di Inggris mulai dijalankan, sementara Amerika memulai industri wisata tahun 1950-an.

Perkembangan wisata saat ini sudah mengalami revolusi secara besar-besaran ini, salah satunya konsep wisata yang digabungkan unsur pendidikan yang sering disebut dengan konsep Eduwisata. Idealnya wisata pendidikan didesain khusus untuk memenuhi kapasitas ilmu pengetahuan para pelajar atau pejalan pemula untuk mengisi wawasan kebangsaan melalui kegiatan perjalanan, mengenal wilayah dan potensi sumber daya lokal antar kabupaten, provinsi serta antar pulau di Indonesia. Namun jika dimatangkan secara umum eduwisata dapat dijadikan sebagai media pembelajaran anak-anak sedari kecil tentang wisata.
Kegiatan wisata edukasi sendiri dapat dimulai secara sederhana. Contohnya, jika kita ingin berwisata sebaiknya menggunakan transportasi massal. Kita dapat mengajak anak, saudara, keluarga naik busway, KRL atau kendaraan massal yang ramah lingkungan lalu kita dapat melakukan city tour berkeliling menikmati kota.

Kita juga dapat mengajak keluarga untuk melakukan family trip. Perjalanannya dapat berkonsep seperti camping. Hal ini dapat dilakukan di pinggir pantai, di kebun binatang atau mungkin juga di lapangan terbuka di kota atau di kampus yang dapat kita manfaatkan fasilitasnya. Salah satu kampus PTN di bogor misalkan, di dalamnya terdapat arboretum (hutan buatan) yang ditanami tanaman-tanaman langka dan di setiap tanaman diberi keterangan. Dengan itu kita dapat mengenalkan tumbuhan-tumbuhan yang jarang kita lihat ditempat lain. Lalu ada kelompok hewan-hewan seperti kupu-kupu, burung-burung migrasi yang hanya singgah di beberapa tempat termasuk kampus ini, lalu ada penangkaran kuda, kambing, sapi, dan hewan-hewan unggas lainnya.

Selain itu kita juga dapat mengajak berwisata ke ruang terbuka kota, seperti taman. Di ruang terbuka seperti itu banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari sekadar membaca, berolahraga atau juga memberikan semacam pembelajaran tentang lingkungan dengan memanfaatkan keadaan lingkungan sekitar. Misalkan kita dapat memahami sepintas bagaimana kehidupan manusia sehari-hari terhadap lingkungan, jika ada yang buruk kita beritahu kalau itu sebaiknya tidak kita lakukan. Lalu biasanya di setiap ruang terbuka disediakan fasilitas pendukung seperti kotak sampah yang dibedakan dari jenis sampahnya dan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran khususnya untuk anak-anak kecil. Bisa juga mengajak tur keliling kota dengan mengunjungi gedung-gedung menarik atau bersejarah yang ada di kota Anda.

Banyak konsep sederhana yang dapat dijadikan sebagai unsur pendukung wisata pendidikan. Demografi wisata pendidikan yang sederhana diatas dapat menciptakan motivasi, persepsi dan menghasilkan perilaku pejalan yang baik bagi pejalan pemula, bermanfaat juga bagi pelajar untuk mendapatkan ilmu-ilmu berdasarkan pengalaman dan bahkan bagi kita pejalan yang walaupun sudah sering kesana-kesini melancong tapi terkadang lupa. Misalkan masih membuang sampah sembarangan, tidak mengenal sopan santun di tempat wisata, bahkan kadang merusak fasilitas tempat wisata. Konsep eduwisata dapat dimasukan dalam tren wisata yang sebaiknya disuarakan lebih keras kedepannya demi mendukung tagline“ Wonderful Indonesia”. [Ikbal Syukroni/End]

Penyunting : Bela Jannahti

Catatan : Artikel ini telah dipublikasikan di Travelnatic Magazine volume 16

Sebarkan :
  • 178
  • 149
  • 136
  •  
  •  
  •  
    463
    Shares
Follow Ikbal Syukroni:

Tinggal di Martapura, Sumatera Selatan. Traveler yang menggemari kegiatan photography. Sedang menempuh studi S2 di Bogor.

Komentar anda?