ELF DI SELATAN JAWA BARAT

posted in: Otherside | 0

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata ‘mobil ELF?’ Mungkin yang pertama terlintas adalah kendaraan yang sering ugal-ugalan di jalan raya antar kota/antar provinsi, kecelakaan, overload muatan, hingga jalan sulit dan desa terisolir

ELF merupakan moda transportasi yang sudah tidak asing lagi. Angkutan ini bisa kita jumpai di kota besar, kota kecil, bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Kebanyakan ELF merupakan angkutan umum massal dengan jarak lintas pendek dengan akses yang sulit. Penggunaan ELF kini mulai bergeser sebagai moda transportasi untuk kebutuhan wisata. Tidak jarang, kini banyak ELF-ELF yang dicarter rombongan dengan trayek yang menyesuaikan dengan permintaan penyewa jasa.

Lalu, apakah ELF itu?

Berdasarkan informasi disini, ELF merupakan jenis/seri kendaraan yang diproduksi oleh PT. Isuzu Astra Motor. Mobil ELF juga dikenal sebagai Isuzu N series berjenis truk ringan dan microbus. Pembuatan kendaraan ini diperuntukan sebagai angkutan komersial. Isuzu ELF pertama kali diluncurkan di Indonesia pada 1995. Spesifikasi ELF yang diluncurkan pada 1995 berkapasitas mesin 2800 cc Disel Direct Injection. Mobil ELF yang diluncurkan ini memiliki beberapa seri, yang paling terkenal yaitu Isuzu NHR 55 dan Isuzu NKR 55 Microbus. Tahun 2010, kembali diluncurkan ELF HD 120 PS dengan kapasitas total 4570 cc. Mobil inilah yang sering kita lihat di jalan-jalan antar provinsi.

Berdasarkan spesifikasi, Isuzu elf NKR 55 atau yang biasa disebut N-series memiliki seri mesin mobil 4JB1-TC. Daya maksimum mobil adalah 100 ps/3.400 rpm. Mobil ini adalah mobil diesel yang berbahan bakar solar dengan daya tampung tangki 75 liter dengan transisi manual. Rem kaki Isuzu Elf mempunyai hydratic saluran ganda dengan vacuum booseter, sedangkan untuk rem tangan adalah mekanisme expanding di bagian belakang. Ukuran ban depan Single 225/70/R16C dan Ban Belakang Single 225/70/R16C.

Mengenal ELF di Jawa Barat bagian Selatan

Dari semua trayek ELF yang ada di Jawa Barat, tulisan kali ini lebih difokuskan pada trayek-trayek ELF yang berada di Selatan Jawa Barat. Jika sering bepergian melintas di Selatan Jawa Barat, tentu sudah tidak asing lagi dengan jalur Rancabali – Naringgul – Cidaun yang terkenal akan kelokannya yang sulit. Jalur Pangalengan – Cisewu – Rancabuaya dengan tanjakan dan turunannya yang curam. Jalur Sukarame – Bungbulang yang terkenal akan seringnya ELF masuk jurang. Jalur Rancabali – Sumbul – Cikadu dan Pangrumasan – Toblong – Maroko yang terkenal akan jalur makadam dan lumpurnya. Tidak ketinggalan jalur Cijati – Leles – Agrabinta yang masih jauh dari kata jalan yang layak dilalui.

Jalur-jalur yang sulit dan lokasi yang cukup terisolir, pada umumnya menggunakan ELF sebagai moda transportasi ankgutan umum. Pemilihan ELF didasarkan pada spesifikasi mesin dan kapasitas penumpang yang dianggap layak untuk memenuhi kebutuhan permintaan pergerakan barang dan penumpang, terutama di daerah yang cukup terisolir. Butuh kemampuan menyetir yang mumpuni untuk bisa melewati jalur-jalur di Selatan Jawa Barat. Terlebih untuk membawa kendaraan sejenis ELF. Umumnya, jalur yang harus dilewati oleh para supir ELF yaitu jalan makadam, lumpur, jalur dengan tanjakan/turunan curam dan panjang, tikungan tajam, menyusuri tepi jurang, menyusuri tepian tebing yang rawan longsor, bahkan melewati jembatan yang tidak layak untuk dilewati.

Para supir ELF pun harus mengantarkan penumpang maupun barang di kendaraannya dengan selamat sampai tujuan melalui medan jalan yang tidak mudah. Terkadang, barang/muatan yang dibawa. Muatan yang dibawa pun bisa dibilang semua jenis barang. Mulai dari kasur, barang kelontong, sembako, hasil tani, pupuk, material bangunan, bahkan hewan ternak pun merupakan sebagian daftar muatan yang sering diangkut oleh ELF.

Risiko tertinggi para supir ELF adalah ketika musim hujan. Terjebak di lumpur, stuk di tanjakan berbatu atau lumpur, bahkan hingga tergelincir masuk ke dalam jurang sudah merupakan risiko yang harus dihadapi para supir ELF. Ada kalanya para supir ELF harus menyerah jika jalur yang harus ditempuh terputus karena longsor, lumpur yang cukup tebal, bahkan jembatan putus. Jika sudah seperti ini, tidak jarang operasional ELF pun dihentikan hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Kerugian bukan hanya menimpa para supir ELF, penumpang pun harus memutar otak untuk sampai ke tujuan. Ada yang menunggu hingga jalur dapat kembali dilalui, ada juga yang memaksa meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Jam operasional ELF pun terbatas. Terkadang ada trayek ELF yang beroperasi hanya seminggu tiga kali, dua atau tiga kali sehari, ada juga yang setiap hari dan pada jam tertentu. Hal ini biasanya berlaku bagi trayek-trayek ELF yang melewati medan yang ekstrim dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk satu kali perjalanan. ELF pun hanya beroperasi hingga menjelang pukul 17.00 WIB. Ada juga ELF yang beroperasi 24 jam. Umumnya, trayek ELF ini merupakan trayek yang melalui jalur utama (baik jalan provinsi maupun jalan kabupaten), antar kota kecamatan yang cukup ramai dan besar. Misalnya Sindangbarang, Bunijaya, Kawali, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Majalengka, Indramayu, Subang, Cikijing, dan lain sebagainya.

Kondisi jalan dan medan yang harus dilalui para supir ELF berpengaruh terhadap cara membawa kendaraan. Jika di medan sulit, sudah tentu tidak bisa seenaknya saja tancap gas atau ugal-ugalan. Bahkan, terkadang harus sabar dan mengalah jika berpapasan dengan ELF atau kendaraan lain. Semakin berat medan yang dilalui, semakin dituntut keterampilan berkendara yang mumpuni. Bahkan, terkdang saya dan rekan seperjalanan sering bergurai tentang kenapa supir ELF sering ugal-ugalan di jalan raya. Kami berkelakar, mungkin mereka (para supir ELF), merasa diulangtahunkan ketemu jalan aspal mulus setelah berjam-jam harus melewati medan berat.

Sebagai gambaran, 30 Km bila ditempuh dengan kecepatan 40 Km/Jam dengan kondisi medan dan lalu lintas normal, hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Tetapi, tidak berlaku bagi sebagian besar trayek ELF di Selatan Jawa Barat. Beratnya medan yang harus ditempuh para supir ELF menjadikan 30 Km dapat ditempuh dalam waktu yang bervariasi. Mulai dari dua jam bahkan hingga enam jam jika musim hujan.

 

ELF Seiring perkembangan zaman

Issu-issu pembangunan, khususnya di Jawa Barat bagian Selatan, perlahan tapi pasti berpengaruh terhadap pengguna ELF. Pembangunan Lintas Selatan Jawa Barat (LSJB) yang membentang di sepanjang pesisir Kabupaten Sukabumi hingga Kabupaten Pangandaran (lebih dari 200 Km) memberikan pengaruh terhadap jalur-jalur penghubung vertikal. Sebut saja jalur Palabuhanratu – Tegalbuleud, Cianjur – Sindangbarang, Rancabali – Naringgul – Cidaun, Pangalengan – Cisewu – Rancabuaya, Tasikmalaya – Cikatomas – Cikalong, dan Tasikmalaya – Pancatengah – Cimerak. Jalur-jalur ini merupakan sebagian dari jalur vertikal penghubung kota-kota utama (Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis) dengan Jalur Lintas Selatan Jawa Barat (LSJB).

Jalur-jalur vertikal penghubung Jawa Barat bagian Utara – Tengah dengan Selatan sebelum dibangunnya jalur Lintas Selatan Jawa Barat kondisinya cukup memprihatinkan. Padahal, jalur seperti yang disebutkan di paragraph sebelumnya, merupakan Jalan Kabupaten. Kondisi jalan yang rusak parah, medan yang berat, hingga daerah rawan longsor semuanya terdapat di jalur-jalur vertikal tersebut. Hal ini berpengaruh terhadap jenis kendaraan yang dapat melintasi hambatan-hambatan tersebut.

Terbukti, kendaraan jenis ELF sebagai moda transportasi penumpang dan barang, merupakan yang paling efektif dan efisien. Sebenarnya, sealin ELF, ada juga kendaraan lain yang melintas di jalur ini, diantaranya truk dan bus ¾. Truk yang melintas di jalur ini hampir semuanya merupakan truk pengangkut kayu, pasir, dan batu. Bus ¾ pun hanya terdapat di beberapa rute saja, misalnya Tasikmalaya – Cikatomas – Cikalong, Sukabumi – Jampang Kulon – Surade – Ciracap, dan Tasikmalaya – Cijulang. Untuk rute lainnya sepanjang jalur tersebut, hanya dilayani oleh ELF.

Setelah jalur Lintas Selatan Jawa Barat selesai dibangun, pembenahan jalur-jalur vertikal pun dilakukan. Perbaikan jalan, pengaspalan jalan, pelebaran jalan pun dilakukan di jalur-jalur vertikal. Sebut saja jalur Naringgul dan Cisewu yang sampai memangkas tebing guna pelebaran jalan. Dari segi pariwisata pun, banyak bermunculan objek-objek wisata baru di Selatan Jawa Barat. Baik yang sejalur dengan jalur penghubung vertikal, maupun yang masih harus sedikit blusukan. Jika terdapat potensi wisata yang cukup menjanjikan, bukan tidak mungkin dibuat jalan baru. Seperti yang terjadi di Kecamatan Ciemas dengan Taman Bumi Ciletuh – Palabuhanratunya.

Kondisi jalan yang semakin layak dilewati ditambah dengan kemudahan memperoleh sepeda motor merupakan dua faktor terbesar terhadap penurunan jumlah penumpang ELF. Meskipun tidak semua trayek ELF terpengaruh, tetapi sebagian besarnya terkena dampak langsung. Kini, bahkan sudah terdapat DAMRI jurusan Palabuhanratu – Pangandaran yang beroperasi setiap hari, dua kali sehari. Bus-bus ¾ pun banyak yang membuka trayek baru di Selatan Jawa Barat. Warga di pelosok Jawa Barat pun kini banyak yang memilih sepeda motor. Sepeda motor pun bahkan dirombak total menyesuaikan kondisi medan sebagai moda transportasi sehari-hari.

Pemilihan ELF sebagai moda transportasi penumpang kini lebih diprioritaskan ketika harus menempuh perjalanan jauh dengan waktu yang cukup lama.  Jika hanya untuk perjalanan sehari-hari, sepeda motor kini menjadi pilihan utama. ELF yang tadinya hanya dapat dipergunakan sebagai angkutan penumpang dan barang komersial dengan trayek tetap, kini bergeser fungsi. Jika dahulu sulit mencarter ELF untuk kepentingan wisata karena tingginya permintaan penggunaan ELF sebagai angkutan penumpang dan barang sehari-hari, kini ELF dapat dengan mudah dicarter, bahkan on the spot.

Meskipun ELF-ELF di Jawa Barat bagian Selatan sudah sangat akrab dengan medan jalan dan cuaca ekstrim, tidak ada salahnya jika kita berharap kondisi jalan di desa-desa di Jawa Barat dibuat lebih layak untuk dilalui.

 

Teks dan foto : Dya Iganov

 

Sebarkan :
  • 54
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    54
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Leave a Reply