Gunung Andong : Si Pendek yang Mempesona

Gunung Andong : Si Pendek yang Mempesona

posted in: Experience | 0

Deru mesin kendaraan angkutan umum mini bus memecah diantara jalanan menanjak dan berkelok. Beberapa kali si sopir memberikan kesempatan bagi kendaraan kecil dibelakangnya untuk mendahului. Rupanya sopir mengerti dengan kondisi kendaraan yang di kendarainya. Daripada macet mengular dibelakang. Kira-kira begitu kali yaahh yang dipikirkan si sopir tersebut.

Penumpang mini bus didominasi anak-anak sekolah, dari SD sampai SMA. Kebetulan sekolah tempat mereka menimba ilmu berada di lintasan jalur trayek kendaraan mini bus ini.

Diperjalanan ini,  didalam kendaraan umum yang semestinya tidak layak lagi untuk dioperasikan ini, aku belajar tentang ketulusan dan keikhlasan dari seorang kondektur bus. Uang logam pecahan Rp 500,- dan Rp 1000,- pemberian dari anak-anak sekolah sebagai biaya menumpang kendaraan masih tetap diterimanya sembari senyum terumbar menghiasi wajah kusutnya. Tanpa amarah. Tanpa keluh-kesah. Dia ikhlas menerimanya, walau akupun tahu kalau uang tersebut sebenarnya belum sesuai dengan biaya sebenarnya. Ahh pagi yang damai. Sedamai hatiku mensyukuri karunia dari Yang Maha Kuasa karena masih diberi kesempatan bertemu dengan orang baik ini.

Panorama alam hari itu masih diselimuti kabut tipis. Cakrawala belum menampakan rona birunya. Dikiri kanan jalan, ladang-ladang, dan permukiman penduduk menghiasi jalur jalan raya Magelang – Salatiga. Jalur ini juga persis melintasi salah satu dataran tinggi di kaki Gunung Merbabu. Kopeng. Lebih tepatnya nama daerah ini. Masih berada di wilayah administrasi Provinsi Jawa Tengah.

Hawa dingin. Ladang sayuran. Tembakau. Dan beberapa tanaman sisipan. Manusia berjaket tebal. Pemandangan yang sering nampak di daerah dengan predikat dataran tinggi dan di kaki-kaki gunung.

Ransel sarat muatan peralatan pendakian sesaat kemudian menempel erat di punggungku. Ketika aku turun di simpang tiga Pasar Ngablak”. Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang ojek motor untuk mencapai Base Camp Sawit. Lelah selama perjalanan aku manfaatkan untuk istirahat sejenak sambil membeli beberapa kebutuhan pendakian yang masih kurang. Dan perlahan mentari mulai menampakan wujudnya. Kabut tipis yang sebelumnya menghiasi cakrawala menghilang  di balik lereng gunung. Langit mulai membiru. Pertanda baik. Semoga saja pendakian kali ini didukung cuaca cerah selama perjalanan naik dan turun.

Gunung Andong. Berada di Desa Ngablak-Kopeng, Kabupaten Magelang-Jawa Tengah. Gunung ini tergolong pendek, dengan ketinggian 1700-an meter dari permukaan laut. Namun jangan salah, sensasi yang ditawarkan sungguh berbeda. Jalur trekkingnya nyaris tanpa bonus alias jalan datar. Melipir diantara terjalnya jurang yang menghiasi di sepanjang jalur pendakian.

Beranjak dari Base Camp Sawit, jalan masih mulus beralaskan semen sebagai jalur penghubung ke ladang penduduk setempat, dan berujung disanalah satu simpang tiga. Pilihlah jalur ke kanan, dari sini beberapa langkah di depan terlihat di sebelah kiri jalan, sebuah gapura bertuliskan Pendakian Gunung Andong. Dari sini perjalanan pendakian mulai menanjak dan terus menanjak. Tanpa bonus. Dengan kontur tanah lempung yang sangat licin ketika hujan datang. Jangan coba-coba kesini ketika musim hujan, sangat berbahaya.

Sama seperti pada pendakian di gunung-gunung lainnya, satu jam pertama diawal pendakian harus banyak-banyak istirahat. Tarikan napas dan ayunan langkah kaki harus disesuaikan. Disertai beratnya beban yang mulai terasa.

“Mau gunung itu pendek atau tinggi, kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal. Jangan menyepelekan alam. Selagi alam masih bersahabat, ikuti aturan yang ada”.

Begitu pesan singkat dari salah seorang sahabat senior pendaki gunung.

Perjalanan normal pendakian Gunung Andong, dari Base Camp hingga ke puncaknya sekitar 2-3 jam. Tapi semua itu kembali pada ketahanan fisik dari masing-masing pendaki. Intinya jika lelah jangan sungkan-sungkan untuk istirahat.

  • Base Camp – Pos 1 (60 menit)
  • Pos 1 – Pos 2 (30 menit)
  • Pos 2 – Mata Air (30 menit)
  • Mata Air – Puncak Andong (30-60 menit)

 

Jalur pendakian masih didominasi hutan pinus, ketika lepas dari Gapura. Di kiri-kanan jalan ladang para penduduk yang ditanami sayuran dan beberapa buah-buahan seakan memanjakan pandangan mata. Beberapa saat kemudian di depan kita sudah menanti tanjakan terjal diapit pohon pinus yang menjulang. Pos 1 sudah dekat, tapi tanjakan itu seolah menepis bayangan sebelumnya bahwa pendakian Gunung Andong tidak semudah yang dibayangkan.

Sejenak melepas penat, saya beristirahat di sini. Cairan kuning vitamin C dari botol mineral sejenak berpindah ke kerongkonganku. Lega rasanya. Sementara nun jauh di atas sana puncak Andong masih belum nampak. Sementara sepoi hembusan lembayung yang menerpa pinus bergemuruh, bak suara hujan yang turun dari langit. Disertai bau lumut yang menghinggap ke hidung.

Seperti sebait lagu Iwan Fals :

“suara alam ini, hangatkan jiwa kita”.

Menuju Pos 2 jalur masih menanjak dan berkelok tajam. Selalu waspada dan hati-hati saat melangkah. Tanah lempung. Rawan tergelincir. Gunakan batuan dan akar pinus yang mencuat sebagai pegangan.

Lewat Pos 2, kontur tanah mulai berubah. Dari yang sebelumnya tanah lempung berganti dengan batuan. Disini pemandangan mulai terbuka. Tidak ada lagi pohon pinus di kiri-kanan jalan.

Aku kembali istirahat. Menyesuaikan kembali langkah kaki. Pijakan memang keras, tapi kondisi batuan yang basah karena hujan di pagi hari membuat aku harus lebih hati-hati lagi. Salah sedikit, jurang dalam di kiri jalan siap menyambut.

Sepanjang perjalanan aku terus berdoa, semoga cuaca tetap cerah hingga ke puncak dan turun esok harinya. Memang alam sulit ditebak, tapi tidak ada salahnya memohon perlindungan dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa.

Ditengah perjalanan. Persis di sebelah kanan jalan berbatu itu. Terdapat sebuah mata air yang mengalir hingga ke pemukiman penduduk. Aku membasuh wajah kusutku. Mencicipinya. Sejuk. Segar membasahi tenggorokanku yang tercekat karena ganasnya jalur pendakian. Beberapa rombongan pendaki yang baru saja turun juga menyempatkan mengambil air dari sini. Sebagai bekal perjalanan menuju ke Base Camp.

Aku kembali mengayunkan langkah kakiku. Beban mulai terasa berat. Tapi di depan sana. Di ujung tanjakan terjal itu seakan memompa kembali semangatku untuk terus melangkah.

Apa yang ada disana? seperti sebuah puncak kecil. Di depannya kosong. Atau hanya imajinasiku saja karena kelelahan?

Disini senyumku terurai. Sebuah maha karya Sang Pencipta terpampang sejauh mata memandang. Indah. Anggunnya pegunungan. Ladang yang menghampar. Membuatku kembali menghempas ransel sarat muatan dari pundak. Lelah kulupakan sejenak, kulemparkan pandangan kesuluruh penjuru yang bisa terlihat. Tapi kembali kusadari, perjalanan ini belum berakhir. Ransel kembali kupanggul. Sepintas terlihat penutup luarnya telah berubah warna. Biru terang menjadi hitam di sana-sini karena seringnya terhempas begitu saja di tengah jalur pendakian.

Kembali langkahku mengayun. Kembali berkutat dengan jalanan berbatu terjal. Kembali menguntit kelokan tajam. Sepoi lembayung. Jurang terjal. Rumput liar. Kabut tipis. Setia menemani langkahku yang melambat.

Tepat diujung sebuah tanjakan. Disini. Pendakian Gunung Andong terbagi jalur menuju ke 3 puncak yang menjadi tujuan utama para penggila ketinggian. Kekiri kira-kira 200 meter merupakan Puncak Makam. Berdiri sebuah bangunan beratap terpal biru. Tapi aku tak berniat kesana. Jalan yang aku pilih puncak Gunung Andong yang sebenarnya. Belok kanan walaupun didepan sana tanjakan terjal menanti untuk dilewati.

Dan masih berkutat dengan tanjakan. Aku terus melangkah, mengapit erat ransel sarat beban. Dan di depan tanjakan itu dua buah bangunan sederhana berdiri kokoh, beratap terpal, berdinding terpal dan beralasakan tikar kusam. Tempat yang menjadi harapan para pendaki. Para peraih mimpi. Penggila ketinggian. Pecinta alam liar.

Tak jauh dari sini sebuah patok kayu dihiasi Bendera Merah Putih di titik tertingginya. Dan dua buah plang bertuliskan Puncak Andong berdiri menghiasi panorama alam di tempat tertinggi Gunung  Andong. Aku berada di sini. Membelai tulisan ini. Membelai Bendera Merah Putih. Yaaahhh. Aku bahagia. Bisa selamat sampai disini.

Dari sini terlihat jelas pegunungan, lembah, ladang-ladang penduduk, jalan.

Gunung Merbabu, Lawu, dan Merapi di sisi Tenggara. Bukit Menoreh dan Gunung Prau di Selatan. Gunung Sumbing dan Sindoro di Timur. Sementara di sisi Barat Laut Gunung Ungaran berdiri dengan gagahnya.

Dan nun jauh di ujung barat, cakrawala kian merona. Senja sebentar lagi pergi. Malam kian menyapa, hembusan sepoi lembayung menusuk kulit hingga ke sumsum. Tenda yang kubawa segera dipasang, berlindung disanalah satu sisi bangunan sederhana. Aku hanya ingin terhindar dari terpaan angin secara langsung. Bagaimana tidak? Mendirikan tenda persis di atas tempat tertinggi. Merupakan santapan angin kencang.

Semakin malam puncak Andong semakin ramai. Para pendaki lainnya mulai berdatangan. Kebanyakan mereka berasal dari beberapa kota di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Lewat obrolan singkat aku bertanya kepada salah satu pendaki yang masih belia.

“Kenapa mendaki gunung?” tanyaku sekedar ingin tau.

“Bosan dengan suasana kota, setiap hari liatin mobil, gedung bertingkat, udara yang tercemar dari knalpot kendaraan, bla bla bla”, jawabnya panjang lebar.

Aku hanya tersenyum dan menjauh.

Setelah makan, aku habiskan sisa malam itu dengan duduk di depan tenda. Menatap. Menerawang nun jauh disana. Lampu-lampu dari berbagai penjuru warna-warni, menghiasi hampir di setiap sisi lembah, bukit dan di kaki gunung. Indah.

Gunung. Salah satu tempat pelarian yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang letih dengan masalah duniawi.

Rasakan sepoi lembayung yang menghempas pinus, ilalang, cantigi.

Kabut yang menitari pegunungan.

Jalak Gading si pelipur hati nan lara.

Indahnya Bunga Dasy, Edelweis.

Bercumbu dengan terjalnya jalur pendakian, jurang, cadas setia menemani.

Guyonan para sahabat, sembari menanti datang dan perginya sang Mentari.

Aaaahhh sulit untuk dilupakan.

Sementara langit di ujung timur mulai terang, pertanda Mentari sebentar lagi menampakan wujudnya. Aku tak bergeming dari depan tenda. Cukuplah dari sini menanti datangnya Mentari.

Setelah sarapan pagi, tenda yang kupasang malam sebelumnya kembali kubenahi. Melipat rapih dan dimasukan kembali ke dalam ransel, bersama peralatan lainnya. Aku hanya ingin segera turun. Sepintas dari sisi timur, langit pekat kian mendekat.

Jalur turun masih sama seperti jalur naik. Beban lebih ringan dari sebelumnya, karena beberapa bahan makanan kuberikan kepada pendaki lain yang masih bertahan di puncak.

Aku sempat dua kali istirahat sejenak ketika perjalanan turun, sebelum gerimis menghantarkanku tiba kembali di Base Camp.

Akses menuju Gunung Andong :

  1. Dari Jogjakarta
  • Menumpang kendaraan umum kearah Magelang
  • Menumpang mini bus jurusan Magelang-Salatiga
  • Turun disimpang tiga Pasar Ngablak
  • Pasar Ngablak-Base Camp menumpang ojek motor
  1. Dari Semarang
  • Menumpang bus Semarang-Salatiga
  • Turun disimpang tiga Pasar Sapi
  • Menumpang mini bus jurusan Salatiga –Magelang
  • Turun disimpang tiga Pasar Ngablak
  • Pasar Ngablak-Base Camp menumpang ojek motor
  1. Dari Jakarta
  • Sebaiknya gunakan armada kereta api
  • Pesan dari jauh-jauh hari, mengantisipasi kehabisan tiket
  • Bisa lewat Semarang atau Jogjakarta
  • Usahakan ambil jadwal keberangkatan malam dari Jakarta, agar sampai di Jogjakarta atau semarang pagi harinya, dan sampai di Base Camp siang hari, sehingga sorenya mulai pendakian ke puncak Andong

[Emanuel Ndelu Wele/End]

Penyunting : Selestin Nisfu

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    555
    Shares
Follow Emanuel Ndelu Wele:

Karyawan di perusahaan swasta. Suka naik gunung, free dive, penggiat alam bebas, traveler, dan penjelajah hutan - Ende, Flores. Kontak : 08125323546 Email : emanuelnw.enw@gmail.com

Komentar Pembaca