Gunung, Manusia dan Tuhan dalam Perspektif Islam

Gunung, Manusia dan Tuhan dalam Perspektif Islam

posted in: Otherside | 0

“Banyak ayat-ayat Al-Quran mengetengahkan peran gunung-gunung untuk kegunaan dan tipologinya. Geolog Lingkungan, Rovicky Putrohari dalam kajiannya menuturkan bahwa kata Gunung ditemukan di 56 ayat dalam Al-Quran. Hal itu termasuk yang berkaitan dengan penumpukan, pengangkatan atau perlipatan. 56 ayat dalam Al-Quran tersebut dihadirkan untuk memberikan gambaran tentang awal mula kehidupan, keseimbangan hidup [bumi], hingga simbolitas akhir kehidupan [kiamat].”

Suatu ketika dan suatu waktu, sembilan (9) Wali penyebar Islam di Pulau Jawa berkumpul di sebuah desa di kaki Gunung Ciremai. Mereka berkumpul dan berunding karena sedang menghadapi suatu masalah besar yakni perpecahan dalam pemahaman Islam yang ditiupkan oleh Syech Siti Jenar.

Entah siapa yang mengusulkan, kesembilan Wali yang notabene bukan para pendaki itu tiba-tiba memutuskan untuk melakukan “ekspedisi” mendaki Gunung Ciremai. Dan ketika mencapai puncak, lalu dengan khusuk di tepi kawah, para wali mengumandangkan Adzan sebagai tanda ketakjuban atas kebesaran Sang Pencipta.

Kalau saja ada pertanyaan di benak kita, apa tujuannya mereka mencari lelah mendaki gunung? Apakah  hanya untuk mengumandangkan suara adzan saja, lantas kembali turun? Ada baiknya pertanyaan itu dikembalikan kepada diri kita sendiri yang punya kegemaran sama dengan para Wali. Apakah mereka mendaki gunung dengan ketinggian 3000-an mdpl itu karena tengah menghadapi masalah yang sulit sehingga perlu mendaki Ciremai hanya untuk menghilangkan stress? atau sekadar mengikuti jawaban pendaki Himalaya kawakan, George Mallory, yakni “Because It’s There…!”

Tapi memang sejak dahulu kala, kemegahan pegunungan selalu mudah tergambarkan dalam imajinasi seseorang. Perwujudan alamnya seolah-olah sebuah jalan menuju nirwana. Kesulitan untuk mencapainya kadang-kadang dipilih menjadi jalan setapak guna menggapai Kebesaran Illahi.

Alam semesta ini, baik yang nyata ataupun yang ghaib, semua itu diciptakan oleh-Nya pasti ada fungsi dan manfaatnya. Sebagai makhluk yang akalnya terbatas, terkadang kita sebagai manusia tak mengetahui manfaat apa yang diciptakan-Nya selain dari Sang Pencipta itu sendiri yang mengetahui. Tapi yakinlah, bahwa Dia tak pernah menciptakan sesuatu tanpa ada manfaat dan kegunaannya. Terkadang hanya akal kita saja yang tak mampu menembus ilmu-Nya yang tak terbatas.

Begitu juga dengan gunung. Dalam meniti kehidupan, gunung bisa dijadikan sebagai personifikasi yang jelas. Hidup itu bagaikan mendaki sebuah gunung, kata sebagian orang. Butuh kekuatan untuk menjalaninya, butuh kerjasama dengan sesama, butuh manajemen waktu yang baik, butuh motivasi yang besar, sabar dalam menghadapi aral rintang, jangan angkuh pada semesta. Karena setiap hidup pasti punya tujuan, begitu juga mendaki gunung. semua pasti ingn mencapai puncak.

Lihat dan pahami saja, ketika kita mendaki, kita akan lebih konsentrasi untuk mencapai puncak, tanpa menghiraukan yang di bawah kita. Itu seperti kehidupan yang sehari-hari kita alami, orang yang akan mencapai puncak atau mencari kejayaan akan jarang sekali melihat ke bawah, atau mencoba merasakan kembali bekas luka yang pernah dialaminya.

Sedangkan ketika kita sampai di puncak gunung. Kita akan malas untuk turun bahkan kita merasa nyaman di puncak, karena ketika turun gunung, kita akan merasakan pegal kaki yang sangat. Setelah itu untuk menuruni gunung, kita akan selalu melihat ke atas, dan selalu mencoba mengingat keindahan sewaktu berada di atas puncak.

Seperti mengingat kehidupan ketika kita dilengserkan, maka kita sayang sekali meninggalkan jabatan itu. Kita akan selalu merasa bersalah ketika kita melepaskan jabatan itu, baik itu harta ataupun jabatan. Tapi dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali penyelewengan makna dari sebuah pendakian gunung.

Coba lihat orang yang memiliki jabatan, mereka akan merasa arogan ketika mereka berada di puncak jabatannya, bahkan tidak akan ingat ketika mereka di pilih oleh rakyat, untuk melayani rakyatnya. Memang sudah lazim kalau orang berada di puncak akan lupa di daerah bawahnya.

Dalam konteks Islam, gunung itu memiliki pengertian yang luar biasa. Seorang ahli Geofisika asal Washington, Amerika Serikat bernama Frank Press, Profesor Emeritus, dalam bukunya bertajuk Earth, menyatakan bahwa gunung mempunyai akar yang menghujam ke dalam bumi sehingga menyerupai pasak.

“Pasak atau paku besar merupakan benda yang menancap ke dalam sehingga kepala yang tampak di luar selalu lebih pendek dari panjang pasak yang menghujam ke dalam,” katanya.

Ilmu pengetahuan baru ini semakin menguatkan kebenaran dalam Al-Quran yang sudah menjelaskan pengetahuan tersebut sejak 1400 tahun silam. Allah SWT dalam surat An Naba mengatakan bahwa Dia menciptakan gunung sebagai pasak di bumi.

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An Naba’, 78: 6-7)

Ketika selama ini orang-orang hanya takjub kepada ketinggian gunung, namun Alquran mementahkan kekaguman yang kecil itu. Ternyata bukan tingginya, tetapi kedalaman akar gunung yang menghujam 15 kali lipat dari tinggi di atas permukaan bumi, itulah yang lebih dahsyat. Para ahli geofisika menemukan bukti bahwa kerak bumi berubah terus pada lempeng tektonik yang menyebabkan asumsi bahwa gunung mempunyai akar yang berperan menghentikan gerakan horizontal pada Litosfer.

Teori lempeng tektonik menyebutkan, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Penemuan ini juga semakin memperkuat kebenaran Al-Quran QS. Al Anbiya: 31.

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al Anbiya: 31)

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (Surat An-Nahl:15)

Namun meski ditahbiskan menjadi pasak, tapi ternyata gunung itu tidak diam bahkan ia senantiasa selalu bergerak dan mengikuti pergerakan lempeng benua di atas lapisan magma seperti awan yang bergerak di atas langit. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Bukankah ini juga menguatkan ayat Allah An Naml:88.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” An Naml:88.

Dalam Alquran, gunung juga mempunyai makna tertentu dan menjadi tempat dari peristiwa penting. Salah satunya gunung sebagai perumpamaan beratnya penerima amanah. Seperti tertuang dalam surat QS. Al-Ahzab: 72-73.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 72-73).

Syariat yang dibebankan kepada manusia merupakan amanah, sebagai amanah syariat itu wajib dipikul dan ditunaikan, tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan apalagi ditolak dan diingkari. Memang amanah tersebut tidak ringan, hingga langit, bumi dan gunung pun tidak sanggup untuk memikulnya. Namun bagi yang mau menunaikannya, Allah SWT akan memberikan ampunan terhadapnya, juga pahala yang besar, surga dan ridhonya. Sebaliknya siapa yang melupakan amanah akan ditimpakan azab atasnya.

Gunung juga menjadi fenomena yang patut diamati sebagai wujud kebesaran Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Allah memerintahkan agar manusia melihat makhluk-makhluk ciptaannya supaya manusia melihat keagungan dan kekuasaannya.

Ironisnya, saat ini justru kita yang diciptakan sebagai makhluk yang paling berakal malah mengabaikan semua hak-hak alam semesta, khususnya gunung. Masih banyak hutan yang digunduli, dibabat habis lalu dibakar sehingga musibah kabut asap pun menjadi malapetaka yang tak berkesudahan.

Kita sudah terlalu arogan sebagai manusia dalam memperlakukan gunung dan alam semesta sebagai makhluk ciptaan-Nya. Kita sudah semena-mena berjalan di atas bumi dalam kapasitasnya sebagai makhluk Tuhan. Kita seolah-olah tak menyadari jika Allah hanya menganugerahkan satu bumi pada kita sebagai khalifahnya. Dan selama ini, kita masih belum pandai mensyukuri dan memeliharanya. [Febrialdi R/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1K
    Shares
Follow Febrialdi R:

Juga dikenal dengan nama pena Edelweis Basah. Penulis lepas sebagai kontributor di berbagai media cetak dan elektronik. Penulis buku novel Bara - Surat terakhir seorang pengelana terbitan Djeladjah Pustaka pada tahun 2016. Saat ini menetap di Kota Madinah, Arab Saudi.

Komentar Pembaca