Gunung Papandayan, Gunung yang Cocok untuk Pendaki Pemula

Gunung Papandayan, Gunung yang Cocok untuk Pendaki Pemula

posted in: Experience | 0

Mendaki gunung merupakan kegiatan adventure yang paling banyak digemari belakangan ini. Terutama Gunung Semeru, yang semakin ramai karena pesona keindahan alamnya yang menakjubkan. Namun siapa sangka, Gunung Papandayan yang memiliki ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut dan terletak di Kabupaten Garut, Jawa barat ini memiliki pemandangan yang tak kalah cantik dibanding Semeru.

Banyak yang mengamini bahwa Gunung Papandayan adalah gunung yang paling bersahabat dan cocok bagi pemula. Medannya tidak begitu berat, jalur pendakian juga tidak terlalu panjang. Beberapa pengunjung bahkan bisa membawa anak-anakberpetualang sambil sekedar bertamasya.

Dari Jakarta, biasanya para pendaki menggunakan transportasi umum seperti bus atau truk sayur dengan tujuan Garut. Kemudian berhenti di Terminal Guntur dan menyambung dengan angkutan umum ke Desa Cisurupan. Desa Cisurupan merupakan desa terakhir sehingga masih perlu menaiki pick-up atau mobil bak terbuka sampai pos pendakian yang biasa dikenal dengan nama Camp David. Nah, dari Camp David ini pengunjung bisa melakukan registrasi sekaligus menikmati pemandangan dari kaki gunung yang tak kalah megah.

Setelah melakukan registrasi pendakian, barulah menapaki jalur pendakian dengan kontur bebatuan yang menanjak. Langkah demi langkah akan ditemanioleh pesona kawah belerang yang terus mengeluarkan asap. Kamu dapat menjumpai beberapa pengunjung terlihat mengabadikan momen berfoto bersama asap yang sekilas berbentukn seperti kepulan awan. Pengunjung disarankan berhati-hati dengan menggunakan masker atau penutup hidung agar gas belerang tidak banyak terhirup.

Dari jalur bebatuan, ambilah jalur ke arah Lawang Angin, karena jalur Hutan Mati agak sulit dilewati, mengingat pepohonan yang hampir serupa dan tidak adanya petunjuk arah, sehingga membuat jalur Hutan Mati tidak terlalu direkomendasikan bagi pemula. Sementara bila melalui jalur ke arah Lawang Angin, pengunjung bisa melintasi aliran sungai yang cukup deras sekaligus mengisi ulang air di botol minum yang telah habis.

Dari Lawang Angin, ikuti petunjuk arah menuju Pondok Saladah. Di Pondok Saladah inilah tenda-tenda para pendaki didirikan. Waktu yang diperlukan dari Camp David menuju Pondok Saladah hanya berkisar 2 – 3 jam saja. Cepat sekali, kan? Banyak pendaki datang ke Papandayan hanya untuk camping ceria atau berpesta dengan acara masak di gunung.

Jika sudah sampai dicamp ground, pasti akan terasa kurang jika tidak sekalian ke puncak gunung. Jangan khawatir, dari Pondok Saladah, lanjutkan perjalanan ke Tegal Alun. Jalur resminya yaitu melalui Tanjakan Mamang yang sangat terjal dan biasanya licin karena hujan. Beberapa pendaki yang terlanjur tersesat atau tidak menemukan dimana Tanjakan Mamang, biasanya melewati tebing bebatuan yang lebih curam dan memacu adrenalin. Berani coba? Jarak tempuhnya berkisar satu jam. Kalau lebih dari itu, lekas kembali ke Pondok Saladah saja, ya!

Tegal Alun bukanlah puncak, melainkan padang bunga edelweiss yang tidak kalah dari Alun-alun Surya Kencana di Gunung Gede atau Lembah Mandalawangi di Pangrango. Ribuan edelweiss ranum bermekaran di padang rumput  menjadi surganya fotografer di alam bebas. Sementara puncak Gunung Papandayan sendiri agak sulit ditemukan karena petunjuk arahnya yang tidak begitu jelas. Kebanyakan pendaki lebih memilih ke Tegal Alun ketika sore di hari pertama, karena kalau mengejar sunrise di pagi hari, udaranya dingin menusuk tulang!

Malam hari yang cerah di Pondok Saladah memamerkan pesona gemerlap bintang yang berpadu dengan gelapnya langit. Nyala api unggun yang menghangatkan badan tak kalah membuat kesan romantis. Beberapa waktu lalu, pendaki dari Bekasi Summiter tidak menggunakan api unggun, mengingat jumlah kayu bakar di Hutan Mati semakin sedikit, mereka menggunakan puluhan lilin sebagai penghangat. Epic!

Walaupun terkesan mudah untuk didaki, pengunjung disarankan tetap membawa peralatan mendaki yang lengkap. Pakaian hangat dan sleeping bag sangat direkomendasikan untuk digunakan saat bermalam di Pondok Saladah. Suhunya yang ekstrem tidak jarang membuat pendaki terkena gejala hypothermia. Gunakan juga sepatu trekking yang sesuai standar agar tidak mudah terpeleset ketika melintasi jalanan yang licin.

Selamat mendaki! Keep safety and clean! Haha! [Ageta Violy/End]

Penulis : Ageta Violy – Bekasi

Sebarkan :
  • 129
  • 162
  • 78
  •  
  •  
  •  
    369
    Shares
Follow Agita Violy:

Indonesian Blogger | Author of Rumah adalah di Mana Pun | Founder of @menujujauh | #Journey2Grand | Duta Pisang Indonesia Wanna Be.

Komentar anda?