GUNUNG PATUHA, Gunung Tua Sarat Mistik di Bandung

Pengalaman berada di Kawah Saat, Gunung Patuha ibarat berada di dalam sebuah mangkuk besar. Pinggiran mangkuknya adalah tebing-tebing yang mengarah ke punggungan Gunung Patuha. Perjalanan kali ini sungguh berkesan karena kekompakan tim, suasana hutan pakis dan kontur Kawah Saat yang begitu indah sekaligus menyimpan nilai magis.

Oleh : Andika Putri


Gunung Patuha adalah gunung tua atau sepuh di Bandung Selatan, konon terbentuk karena pengangkatan dari dasar samudera. Gunung berketinggian 2.434 mdpl ini memiliki 4 puncak, yaitu Puncak Sunan Ibu, Puncak Utama atau Puncak Patuha, Puncak Kapuk dan Puncak Sunan Rama. Ada literatur yang menyebutkan bahwa Gunung Patuha menjadi tempat pertapaan Bujangga Manik sebelum moksa.

Saya dan tim di Puncak Gunung Patuha. Dok. Andika Putri & Tim.

Tanggal 16 Oktober 2020 pukul 8 pagi, aku dan 6 orang partner mendaki (Jhon, Adit, Sidik, Irfan, Adi dan Tama) bertolak dari Cimahi ke Bandung Selatan. Tujuan kami adalah mendaki Gunung Patuha dan kemping di Kawah Saat. Setelah memastikan semua perlengkapan dan logistik lengkap, kami pun berkendara dengan motor ke Ciwidey dan menuju kebun teh Rancabali. Perjalanan memakan waktu hingga 2,5 jam untuk sampai di Kampung Cipanganten, kampung terakhir sebelum memulai pendakian. 

Kami sengaja memilih jalur Cipanganten dan tidak melalui jalur Kawah Putih yang umumnya digunakan untuk mendaki Gunung Patuha. Hal ini karena aku, Jhon dan Adit sudah pernah ke sini sebelumnya. Untuk  sampai di Cipanganten, jalur motor yang ditempuh akan melewati batuan makadam kebun teh. Beberapa kali yang dibonceng harus turun karena motor tidak kuat untuk naik. Ketika mulai memasuki kampung Cipanganten, tiba-tiba ada pekerja kebun mencegat motor kami.

“Bade ka mana?” (mau ke mana?)

“Ka Patuha.”, jawab Jhon.

“Ditutup gunungna.”

“Ceuk saha, Kang? Da kita udah berapa kali lewat sini.”, kembali Jhon merespon info dari warga lokal.

“Sok weh, mun mau nyoba mah.”

Karena tidak percaya gunungnya ditutup, kami melanjutkan bermotor hingga parkir di rumah warga lokal kenalanku dan Jhon. Kami pun bertanya apakah benar jalurnya ditutup. Ternyata tidak ditutup. Huh, untung aja ga tertipu. Kami hanya diingatkan untuk tidak buang sampah sembarangan selama perjalanan.

Jam 11 pagi, kami pun memulai pendakian. Cuaca di bulan Oktober memang rawan hujan. Gunung di Bandung Selatan juga sering diselimuti kabut. Trek di awal akan menelusuri ladang warga sekitar kurang lebih 40-50 menit jika lancar. Namun belum sampai 15 menit perjalanan, hujan deras turun. Kami pun beberapa kali harus berteduh dulu di saung yang ada selama perjalanan. 

Hujan dan kabut mengiringi perjalanan di Gunung Patuha. Dok. Andika Putri.

Hampir 1 jam berteduh, hujan ga kunjung henti juga . Mau tak mau kami melanjutkan perjalanan. Pukul 1 siang kami sampai lagi di area kebun teh atas setelah etape ladang. Tiga puluh menit kemudian kami sudah sampai di Puncak Sunan Ibu. Puncaknya ditandai dengan adanya petilasan/makom yang dipagari kayu. Dari atas area ini, Kawah Putih di bawah sudah tampak jelas.

Tak lama-lama di Sunan Ibu karena masih hujan, kami pun terus melanjutkan perjalanan. Trek yang dipijak berselang antara gambut dan tanah padat. Untuk bisa sampai ke Kawah Saat, memang akan melewati 3 puncak gunung atau melewati tiga perempat punggungan dari Puncak Sunan Ibu. Sepanjang perjalanan tampak banyak sekali pohon-pohon mati hingga ke lereng-lereng gunung. Hal ini diakibatkan kebakaran hutan tahun 2019 lalu. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 15 hektar lahan Gunung Patuha.

Tujuan kami berikutnya adalah Puncak Utama. Etape dari Sunan Ibu ke Puncak Gunung Patuha menelusuri lembahan yang didominasi hutan pakis. Ga tanggung-tanggung, pakis-pakis, tingginya rata-rata lebih dari 2 meter. Baru kali ini kutemui hutan pakis setinggi ini di sepanjang pendakian gunung di Pulau Jawa. 

Pohon dan ranting kayu di lereng Gunung Patuha. Dok. Andika Putri
Pemandangan dan suasana hutan pakis yang tinggi di Gunung Patuha. Dok. Andika Putri.

Kami berjalan santai menikmati suasana hutan pakis. Perjalanan ditemani hujan dan banyak istirahat. Semakin mendekati Puncak Utama, trek akan kembali menanjak. Sesekali melewati pohon-pohon tumbang besar dengan cara jongkok hingga merangkak. Jam setengah lima sore akhirnya kami tiba di puncak tertinggi Gunung Patuha.

Puncak utama Gunung Patuha berketinggian 2.434 mdpl. Dari sini terlihat dasar Kawah Saat seperti jurang yang luas. Kira-kira 15 menit dari Puncak Patuha, kami sampai di Puncak Kapuk. Puncaknya ditandai dengan tugu pendek untuk ritual peziarah serta dataran rumput yang bisa digunakan untuk sekitar 3-4 tenda. Meski diguyur hujan terus sepanjang perjalanan, kami masih diberi panorama sunset yang indah di Puncak Kapuk. Langit dengan rona lembayung sungguh bikin kami ga rela harus segera melanjutkan perjalanan. 


Hari semakin gelap. Bisa saja kami kemping di Puncak Kapuk. Tapi tujuan utama kami adalah kemping di kawah. Dari Puncak Kapuk, kami terus mengikuti trek turun ke kanan menuju Kawah Saat. Semakin ke bawah, treknya semakin vertikal dan terjal. Pendaki perlu terus pegangan di tali yang sudah ada jika tak ingin merasakan jatuh ke kawah atau ke batu-batuan besar di bawah trek.

Kami hanya bisa mengandalkan penerangan dari headlamp. Dua buah webbing 10 meter yang kami bawa pun ditambatkan untuk membantu turun ke kawah. Adit, Adi dan Tama, tiba lebih dulu di kawah. Disusul oleh Sidik dan Irfan. Dengan di cack-up oleh Jhon di belakang, aku tiba paling belakangan. Sesungguhnya, aku punya ketakutan tersendiri soal turun gunung saat gelap.

Tidak banyak yang mengetahui jika Gunung Patuha memiliki kawah tertinggi yang disebut Kawah Saat. Hal ini mungkin karena pendaki lebih sering terekspos oleh Kawah Putih. Penamaan Kawah Saat terkait karena kawahnya memang kering/mati. Kawah ini terletak di ketinggian sekitar 2300 mdpl. Menurut sumber sejarah, kawag ini terbentuk dari letusan pertama Gunung Patuha di abad ke-10. Kawah Saat seperti surga tersembunyi di Gunung Patuha. Di tengahnya ada satu petilasan yang dikelilingi sesajen sebagai bagian dari ritual para peziarah.

Panorama trek daa tebing di Gunung Patuha. Dok. Andika Putri

Menjejakkan kaki di lokasi yang penuh mitos dan misteri ada aja ceritanya. Begitu Adit dan Adi sampai di kawah duluan, terdengar suara deheman kakek-kakek. Adit dan Adi pun langsung mengucap “Asalamualaikum”. Berhubung semua pakaian dan sepatu basah, ditambah cuaca dan angin lembah yang sangat dingin hingga di bawah 10 derajat Celcius, setelah setting tenda kami segera berganti pakaian kering dan menyalakan api unggun di bawah flysheet. Lalu kami masak air panas untuk ngopi.

Saat menyodorkan kopi ke Irfan, Jhon bilang, “Ini Om, kopinya.” Tapi disodorinya bukan ke Irfan, malah ke sebelah Irfan, padahal ga ada siapa-siapa di situ. Menurut Jhon dia ga sadar lihat ada seorang pendaki di sebelah Irfan saat itu. Malam semakin larut dan hujan gerimis belum berhenti, kami pun mengambil istirahat sejenak setelah makan malam untuk melepas lelah.

Keesokan pagi, matahari memancarkan sinarnya, cerah sekali. Semua keril, sepatu dan pakaian basah segera dijemur. Sebagian tim berfoto-foto, namun aku lebih memilih menyiapkan logistik untuk sarapan. Setelah makan dan puas menikmati suasana di kawah, kami bongkar tenda dan mulai untuk berjalan pulang pukul 10 pagi.

Pengalaman berada di Kawah Saat ibarat berada di dalam sebuah mangkuk besar. Pinggiran mangkuknya adalah tebing-tebing yang mengarah ke punggungan Gunung Patuha. Selama 2 hari pendakian, kami sama sekali ga bertemu pendaki lain. Perjalanan kali ini sungguh berkesan karena kekompakan tim, suasana hutan dan kontur Kawah Saat yang begitu indah sekaligus menyimpan nilai magis. Gunung memang selalu bikin rindu dan di sanalah juga tersimpan banyak misteri. [Andika Putri/End]

Bagikan artikel