Hari Gunung Sedunia; Merawat Gunung, Merawat Kehidupan

Hari Gunung Sedunia; Merawat Gunung, Merawat Kehidupan

posted in: Otherside | 0

Pohon-pohonnya begitu rindang. Burung-burung berkicau saling bergantian. Airnya begitu jernih, deras mengalir di atas teras bebatuan. Udaranya sejuk, karena pohon-pohon itu adalah pabrik pembuat oksigen. Ketika fajar, sang mentari senantiasa memberikan hangat menghapus dingin ketika malam menemani. Itulah suasana berada diantara pelukan gunung-gunung yang tinggi.

Sudah bukan hal yang perlu ditanyakan lagi bahwa kita hidup di bawah bayang-bayang gunung yang menjulang tinggi. Hidup di atas tanah hasil dari gunung-gunung tersebut. Hidup mendapatkan nafkah dari sumber yang ada di gunung tersebut. Bahkan jika dibayangkan, kita tak bisa hidup tanpa keberadaan gunung-gunung tersebut.

Gunung adalah sumber penghidupan manusia. Terutama negara kita yang disebut lingkaran api dunia. Jajaran pegunungan membentang di sepanjang pulau mengikuti jalur tumbukan lempeng besar dunia yang berada di bawah permukaan bumi. Bahkan di Pulau Kalimantan yang dikenal pulau tanpa adanya gempa pun mempunyai gunung-gunung yang tinggi. Sampai perhiasan emas yang kita pakai di pergelangan tangan dan leher kita berasal dari pegunungan di Papua.

Berbagai kebutuhan pokok manusia pun berasal dari gunung. Seperti halnya kebutuhan papan, sandang, maupun pangan. Hampir seluruhnya berasal dari gunung. Kita tak bisa lepas dari adanya gunung. Kita belum tentu dapat hidup jika di dunia ini tidak ada gunung-gunung tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB lalu menetapkan 11 Desember sebagai Hari Gunung Dunia. Bermaksud untuk menyadarkan masyarakat dunia akan pentingnya keberadaan sebuah gunung untuk suatu wilayah. Termasuk salah satunya di negara kita, Indonesia. Hampir seluruh daratannya merupakan jajaran pegunungan tektonik maupun vulkanik yang sangat penting bagi masyarakatnya.

Sejak jaman dahulu pun, gunung sebagai tempat yang disakralkan oleh masyarakat. Mereka percaya bahwa gununglah yang memberikan mereka penghidupan. Bahkan, mitos-mitos ataupun cerita rakyat muncul dari keberadaan gunung-gunung dan menjadi identitas mereka akan adanya cerita legenda tersebut.

Sebut saja salah satunya cerita rakyat dari Suku Tengger, di Gunung Bromo. Cerita Roro Ateng dan Joko Seger menjadi nama identitas masyarakat Gunung Bromo, Jawa Timur. Selain itu ada pula cerita rakyat Dewi Anjani yang berada di Gunung Rinjani. Masyarakat Nusa Tenggara Barat sangat memuliakan Gunung Rinjani karena telah memberikan sumber penghidupan bagi mereka. Adapun Gunung Toba menjadi identitas masyarakat Suku Batak Toba. Salah satu Suku Batak pertama di Sumatra Utara. Gunung Kelimutu sebagai tempat bersemayamnya leluhur masyarakat Nusa Tenggara Timur, dan beberapa mitos yang menyelimuti keberadaan suatu gunung yang lainnya. Dari cerita-cerita tersebut terlihat bahwa masyarakat terdahulu pun tak bisa dipisahkan dari keberadaan suatu gunung.

Namun, penetapan Hari Gunung Dunia di Indonesia masih belum terasa manfaatnya. Masyarakat senantiasa perlu diarahkan kembali akan fungsi keberadaan sebuah gunung tersebut. Gunung memang sebagai sumber penghidupan bagi manusia, namun jika manusia itu sendiri salah dalam mengambil keputusan akan berimbas pada kerusakan gunung tersebut.

Beberapa keputusan yang sering dilakukan oleh masyarakat kita yaitu merubah fungsi lahan. Hutan-hutan yang hijau di lereng-lereng gunung berubah menjadi ladang pertanian yang dipanen tiga bulan sekali. Alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian berdampak pada tingkat erosi yang tinggi. Terkadang dapat menimbulkan longsor dan banjir bandang yang mengancam perkampungan masyarakat sekitar di bagian hilirnya. Tanah yang subur dan area yang luas menjadi alasan untuk mereka membuka rimbunan hutan menjadi ladang untuk mereka olah.

Membuka hutan yang rimbun merusak pula keanekaragaman hayati dan habitat hewan liar yang tinggal di dalamnya. Beberapa satwa endemik Indonesia telah punah karena ulah manusia yang merubah fungsi lahan hutan menjadi ladang pertanian. Sebut saja saat ini Harimau Sumatra yang tinggal beberapa ekor di pedalaman hutan Sumatra. Mereka terdesak dengan adanya perkebunan sawit. Hutan-hutan yang berada di lereng-lereng gunung diubah sedemikian rupa tanpa memperdulikan kelestarian habitat di dalamnya.

Merubah fungsi hutan menjadi ladang pertanian pun mempengaruhi tata air tanah. Hutan seyogyanya berfungsi sebagai penyuplai ketersediaan air bagi masyarakat. Air hujan yang turun akan diserap oleh akar-akar pohon lalu disimpan di bawah permukaan tanah. Sebagian lain mereka alirkan membentuk sungai-sungai yang jernih. Membuka lahan hutan berarti merusak tatanan air untuk mereka sendiri. Perlu adanya arahan lanjut dan pengawasan yang ketat tentang permasalahan ini.

Pada musim pendakian pun gunung menjadi perhatian yang serius. Ulah pendaki yang tak beretika membuat area lahan gunung menjadi rusak. Tanaman endemik gunung seperti Bunga Edelweis menjadi incaran untuk dipetik dan dibawa pulang oleh mereka. Pembuatan api unggun di area yang rimbun dengan ilalang dan pepohonan seringkali memicu kebakaran lahan di gunung. Selain itu permasalahan sampah plastik yang mengganggu proses pertumbuhan tanaman tertentu dan mencemari unsur hara tanah adalah hal lain dari kegiatan pendakian ini.

Gunung menjadi tempat wisata yang populer bagi kalangan masyarakat tertentu. Namun, harus dicermati kembali tentang resiko dalam kegiatan tersebut. Kita harus cermat dalam bertindak agar sebesar apapun resikonya dapat diminimalisir sekecil mungkin dampaknya. Gunung adalah alam liar yang banyak tersembunyi berbagai hal yang tidak kita tahu di dalamnya.

Di Hari Gunung Se-Dunia yang jatuh pada 11 Desember ini semoga dapat mengingatkan kita kembali tentang keberadaan sebuah gunung. Gunung dan berbagai asetnya begitu penting. Perlu kita jaga dan kita rawat agar keberlangsungan hidup kita pun damai berdampingan bersamanya. Gunung memberikan sumber penghidupan untuk kita. Dan kita berikan kasih sayang seperti penghijauan kembali lahan yang gundul dan lainnya kepada gunung tersebut. [Rendy Rizky Binawanto/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    843
    Shares
Follow Rendy Rizky Binawanto:

Rendy Rizky Binawanto, seorang mahasiswa Geografi di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Bale Bandung. Ia seorang pejalan yang gemar bercerita. Cerita perjalanannya ia bagikan lewat beberapa media. Sebagai seorang geograf, sebuah perjalanan sangatlah berarti untuknya. Selain untuk penelitian lapangan juga untuk mengenali keunikan di setiap daerah yang ia kunjungi. Motivasinya dalam menjelajah adalah untuk menyebarkan keindahan dan kekayaan alam serta masyarakat yang hidup didalamnya, di luar lingkup orang-orang tinggal. Hal ini agar mereka bergerak dan menyebarkannya kembali kepada mereka yang diam.

Komentar Pembaca