Hikayat Pulau Lombok

Hikayat Pulau Lombok

posted in: Otherside | 0

Keunikan budaya yang melegenda bersanding dengan alam mempesona menjadi identitas terbaik pulau yang terletak di pintu masuk utama Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lombok sendiri berasal dari kata lombo yang berarti lurus. Lurus menjelaskan makna tersirat dari nama pulau. Lombo memiliki tafsiran yang menjelaskan bahwa orang Lombok tidak pernah neko-neko dan lebih sering langsung pada intinya atau “to do point”. Hal ini menjadi karakter kuat dalam keseharian orang Lombok.

Banyak tafsiran tentang nama asli Suku Sasak (suku asli) di Lombok. Ada yang menafsirkan dengan nama perahu sak-sak dan ada juga lainnya. Suku Sasak merupakan penduduk asli Pulau Lombok. Suku yang memiliki kesantunan dalam menyapa, keberagaman dalam bahasa, serta menjadi pelengkap kebhinekaan nusantara. Suku Sasak merupakan suku yang beragama Islam dan memiliki banyak hikayat. Mulai dari peperangan dengan kerajaan (kedatuan) lain untuk memperebutkan suatu wilayah, serta hal yang berbau perebutan lainya.

Nama sasak berasal dari kata sesek yang berarti bagian dari alat penenun. Menjaga dan melestarikan budaya terasa begitu kental dengan keseharian suku sasak ditengah perkembangan era modern. Hal tersebut menjelaskan bahwasanya turun-temurun mata pencaharian suku sasak salah satunya adalah pengrajin tenun. Penenun dengan hasil tenun yang luar biasa dapat ditemui dan dilihat keterampilanya di daerah-daerah Lombok yang masih dihuni masyarakat asli dari suku sasak. Berbagai macam motif begitu syahdu dalam pembuatannya yang khas dari tangan-tangan terampil pengrajinnya.

Berdasarkan pemanfaatan keterampilan dari keberagaman kasta, tempat dan faktor lainya menjelaskan begitu banyak motif yang terurai dalam hasil kerajinan tenun. Mereka tidak malu bahkan condong bangga dengan keaslian dari sukunya. Terdiri dari beberapa bagian kabupaten, di antaranya Lombok Tengah, Lombok Selatan, Lombok Timur serta Lombok Utara, yang tersebar dan terus melestarikan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyangnya. Setiap daerah tersebut masih memiliki keasliaan suku yang bertahan dan budaya serta adat istiadat yang terus dilestarikan dari para leluhur terdahulunya. Salah satunya yaitu Desa Sade di Lombok Tengah serta Desa Bayan di Lombok Utara.

Desa Sade merupakan salah satu desa adat yang masih menjaga tradisi untuk anak cucu mereka.Tak ingin melepaskan keunikan yang tersirat dari budaya serta tradisi, mengharuskan mereka menjaga dan melestarikan agar tak punah termakan zaman. Sade sendiri berarti obat atau kesadaran, yang menjelaskan bahwa kampung atau daerah tersebut merupakan obat bagi siapapun yang berkunjung untuk mengobati rasa kekhawatiran akan kemajuan zaman yang identik penghancuran kebudayaan asli di Indonesia. Kemudian sade juga memiliki makna sebagai kesadaran, yang menjelaskan bahwasanya butuh kesadaran kuat untuk terus melestarikan kebudayaan turun-temurun dari leluhur Suku Sasak tersebut. Betapa unik dan beragamnya kebudayaan Sasak yang tersirat di Lombok Tengah sebagai representatif Suku Sasak secara menyeluruh di pulau Lombok.

Tradisi unik di pulau Lombok, khususnya Lombok Tengah menyimpan begitu banyak makna indah dalam keberadaan dan keberagaman yang lestari. Di antaranya adalah pernikahan dengan tradisi nyuri cewe (wanita), kemudian ritual membersihkan lantai dengan kotoran kerbau, lalu acara tradisi presian. Acara atau tradisi adat tersebut bukan hanya menjadi penghibur bagi pelancong yang melihatnya, melainkan amanah turun-temurun yang terjaga dalam era modern yang berkembang di Indonesia. Warisan alam yang mempesona mengelilingi tradisi yang terjaga, begitu khidmat dalam perpaduannya. Hal tersebut menjelaskan bahwa Lombok menyimpan banyak hal indah yang sayang jika terlewatkan.

Tradisi nyuri cewe atau nyulik cewe dalam suku Sasak bukan suatu hal kriminal, melainkan ritual dan tradisi terdahulu yang terjaga. Hal itu menjelaskan bahwasanya jika ke dua orang (pria dan wanita) saling mencintai dan ingin melanjutkan ke tahap perkawinan tentu harus melakukan tradisi atau ritual tersebut. Maksudnya, yaitu pihak pria (calon suami) wajib menyulik calon istrinya tanpa sepengetahuan keluarga istri dalam kurun waktu 24 jam hingga 48 jam. Hal tersebut untuk menghindari perzinahan dan mempererat silatuhrahim. Pasalnya prosesi menghilangkan wanita tersebut bukan untuk dibawa ke suatu tempat yang aneh bahkan tidak terduga, melainkan di bawa ke kediaman calon suami, seperti rumah keluarga besarnya, dengan tujuan untuk memperkenalkan calon istri kepada keluarga besar calon suami.

Setelah prosesi nyulik cewe terlaksana yang kemudian dilanjutkan tradisi sulung serah, yaitu proses pemutusan kedua belah pihak yang telah mengetahui dan sepakat untuk mengawinkan anak mereka dalam suatu acara sakral pernikahan. Acara tradisi terus bergulir dan dilanjutkan dengan prosesi Nyongkolan. Acara nyongkolan adalah acara tradisi adat suku Sasak untuk arak-arakan. Di mana keluarga mempelai pria memperkenalkan calon istrinya melewati jalan raya menuju kediaman sang wanita diiringi dengan gendang belek yaitu alat musik khas suku Sasak. Acara yang begitu meriah dan menyita perhatian pelancong memberikan kesan terbaik dalam kearifan lokal suku Sasak di pulau Lombok.

Kearifan lokal yang identik dengan kebersahajaan serta kebersamaan dalam kehidupan tersirat dari mata pencaharian suku Sasak yang mayoritas adalah petani, penenun dan penambang emas. Penambang emas yang dimaksud disini adalah penambang rumahan yang menghargai serta memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Mereka selalu bergotong royong bersama keluarganya untuk mencari dan menghidupi kecukupan keluarga. Mereka melakukan hal tersebut bukan untuk meninggalkan tradisi dan adat mereka, melainkan menyeimbangkan pola tatanan kehidupan yang berlaku.

Ada lagi tradisi adat yang masih terjaga dan unik. Kotoran sapi di kota besar umumnya digunakan sebagai pupuk. Berbeda dengan suku Sasak di Lombok Tengah, mereka meyakini bahwasanya kotoran sapi dipercaya dapat memperkuat tekstur tanah pada rumah adat suku Sasak. Hal lain dalam tradisi, kotoran sapi menjadi ritual dan tradisi menyucikan diri bagi suku Sasak jika ingin melakukan acara ritual ke gunung atau makam. Tradisi tersebut masih dilestarikan dan dijaga sampai sekarang.

Tradisi lain yang terlihat dari Desa Sade di Lombok Tengah, yaitu dalam pelestarikan keaslian rumah adatnya. Diantaranya rumah adat bale tani dan rumah adat bale kodong, yang masih beratapkan ilalang cantik nan eksotis. Memiliki maksud sama sebagai tempat tinggal pada masyarakat lain, namun hanya berbeda dalam bentuk dan makna kepemilikan serta bagian rumahnya. Bale kodong sendiri merupakan rumah kecil yang dikhususkan bagi wanita lansia atau pengantin muda dalam suku Sasak. Sedangkan bale tani merupakan rumah dengan dua ruangan beserta pintu kecilnya. Dua ruangan tersebut peruntukannya, yaitu ; satu ruangan tamu dan satu ruangan sebagai tempat tidur serta dapur (menyatu). Pintu kecil dalam bale tani memiliki makna, tamu dan pemilik rumah sama-sama merunduk dengan tujuan saling menghargai dalam ajang silahtuhrahim.

Tradisi unik lainya tergambarkan pada acara tradisi presian. Tradisi yang menjadi ritual turunnya hujan pada saat-saat terdahulu sekarang telah menjadi penghibur bagi para pribumi bahkan pelancong yang melihatnya. Tradisi ini pada zaman dahulu memiliki makna ritual berdoa untuk memanggil turunnya hujan di dataran Lombok saat kemarau. Menurut hikayat, acara yang memiliki kekuatan magis serta pekat akan ilmu supranatural yang dikemas dalam pertunjukan peperangan, jika menyebabkan munculnya darah di anggota tubuh dari salah satu pemain presian, maka akan turun hujan untuk kemakmuran bersama dalam pertanian di lombok. Peperangan ini bukan untuk memunculkan konflik baru, melainkan prosesi upacara dan tradisi yang dilakukan demi kebersamaan serta hiburan bagi yang melihatnya.

Eloknya pulau Lombok tidak dapat dilepaskan dari tradisi budaya, adat dan istiadatnya. Alam yang melimpah beriringan seirama dengan budaya di sekitarnya. Pulau yang begitu khas dari nama dan maknanya memiliki keindahan alam membentang dari barat hingga timur. Salah satunya adalah Gunung Rinjani. Gunung yang berada di bagian timur pulau Lombok dari akses Desa Sembalun dan Senaru memiliki begitu banyak keindahan dan hikayat.

Sebelum bernama Rinjani, dahulu kala gunung tersebut bernama Gunung Samalas dengan ketinggian 5000 meter diatas permukaan laut (MDPL). Setelah gunung itu meletus pada tahun 1257 atau sekitar abad ke-13, kemudian lahir-lah gunung yang menjulang tinggi 3726 MDPL atau dikenal sebagai rinjani. Rinjani merupakan aset indah bagi mereka yang merasa memilikinya. Keindahan di dalamnya dengan hutan hijau terbentang bersama padang savana, serta Danau Segara Anak yang begitu mempesona. Bahkan air panas yang begitu syahdu dalam dinginnya cuaca menyapa menjadi pelengkap keindahan alam rinjani.

Danau yang memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar dari keberadaan ikannya menjadikan kearifan lokal terjaga. Pekerja-pekerja lepas sebagai  porter (penganggkut barang pendaki) pun begitu kuat dan tekad keras demi kehidupan keluarga yang menanti dirumah. Pikulan berat menanjak dan menurun serta melawan tepisan kekhawatiran terlihat nampak dari wajah dan perilaku mereka yang berjuang mencari nafkah. Tak ada guratan kekesalan, hanya sikap ramah tatkala bertemu pendaki atau mereka yang sedang berpapasan di jalur menuju arai dari puncak.

Alam berserta budaya telah terwariskan dan menjadi amanah untuk dilestarikan pada generasi penerus kelak. Tak ada rasa congkak dari mereka yang asli pribumi, melainkan sikap bangga mengajak para pendatang untuk menyapa keindahan budaya dan wisata di dataran Lombok. Menjaga keunikan dan budaya tentu menjadi harga mati dalam proses kehidupan Suku Sasak. Tak ada yang dapat mencampur-adukan serta menggoreskan kebudayaan beriringan dengan wisata yang terjaga. Mereka orang-orang asli dari suku Sasak selalu menjaga tradisi dan adat istiadat turun-temurun agar selalu lestari serta tak terabaikan oleh perkembangan zaman. [Selusur Nusantara/End]

Penyunting : Sandi Iswahyudi dan Nurul Amin

 

Sebarkan :
  • 195
  • 183
  • 164
  •  
  •  
  •  
    542
    Shares
Follow Selusur Nusantara:

Latest posts from

Komentar anda?