Inspirasi dari Perjalanan Bang Aal Sekeluarga (sebuah wawancara)

Inspirasi dari Perjalanan Bang Aal Sekeluarga (sebuah wawancara)

posted in: Travelers Profile | 1

Menulis tidak hanya kebutuhan ilmiah dan profesi saja. Ternyata Menulis juga bisa menjadi sangat religius bagi seorang Syafrizaldi, yang akrab disapa Bang Aal ini. Berbagai pengalaman dan ekspedisinya dia tuangkan dalam bentuk karya tulisan. Banyak topik yang menjadi perhatiannya, diantaranya tentang pengelolaan sumber daya alam, kehidupan orang pedalaman, dan tentu saja tentang perjalanan. Lewat perjalanan pula dia mendidik dua buah hatinya untuk mengenal kehidupan.

Travelnatic sudah lama berniat bincang-bincang dengan Bang Aal. Pada awalnya wawancara ini dipersiapkan untuk program #TNTwitview di twitter. Namun karena satu dan lain hal, maka kami mengalihkannya menjadi wawancara via email. Akhirnya kini wawancara dan Aal bisa dibaca oleh pembaca Travelnatic.com. Senang sekali kami bisa menghadirkan wawancara ini kepada pembaca. Ternyata banyak sekali kisah dan cerita menarik terungkap dari wawancara ini. Salah satu atau beberapa diantaranya mungkin cocok untuk sobat travelnatic perhatikan lebih serius. Berikut wawancara lengkapnya.

Halo Bang Aal, apa kabar? Bagaimana kesibukannya sekarang?

Woi, baik. Semoga demikian juga dengan kru Travelnatic.  Amiin.  Seperti biasa, nyari inspirasi buat tulisan sembari nyari peluang jalan-jalan lagi. Hahaha..

Boleh perkenalkan dulu profilnya Bang Aal pada pembaca Travelnatic?

Mulai dari mana ya? Nama panjang saya Syafrizaldi, tapi lebih banyak kawan yang memanggil Aal Jpang.  Kalau asal nama Jpang, itu panjang lagi ceritanya sampai ke Gunung Talamau di Sumatera Barat.  Gunung yang sependek pengetahuan saya adalah gunung yang paling indah. Di puncaknya ada 12 telaga.  Saya bahkan mengklaim punya pulau pribadi di salah satu telaganya.

Terakhir saya ke sana tahun 1995. Wah, jadi ketahuan umurnya nih. Ya, saya lahir 1975 di kaki Gunung Kerinci. Tapi sekarang tiap tahun selalu ultah yang ke-32, biar selalu berjiwa muda.  Kadang kedua anak saya protes.

“Kalau ayah 32, kami berapa dong?” ketus mereka.

Anak kelas 6 dan 2 SD ini sering merajuk pada Bundanya, Elfa Yeni, kalau saya sudah bicara umur.  Kami sekeluarga tinggal di Banda Aceh sudah lebih tiga tahun belakangan.

Bang Aal sering menulis tentang perjalanan atau ekspedisi gitu? Boleh diceritain, kenapa suka menulis Bang?

Yep.  Menulis itu bawaan lahir. Saya ini muslim dan kalau meninggal hanya 3 hal yang boleh dibawa ke kubur selain tubuh dan kain kafan, yakni: 1) amal jariyah, 2) doa anak yang saleh dan 3) ilmu yang bermanfaat.

Nah, menulis adalah bagian yang ke-3 itu.  Kalau saya tidak menulis, maka mungkin tidak ada tiket nomor tiga itu.  Jadi, ini ceritanya mau tidak mau, sudah semacam kewajiban.  Kita ini hanya singgah di dunia yang sempit ini, perjalanan masih panjang.  Menulis membuat umur kita lebih panjang, setidaknya ada yang akan ditinggalkan jika kita sudah berganti dunia.

Menarik juga, kami kira Bang Aal menulis untuk tujuan ilmiah saja, ternyata motivasinya sangat religius juga. Selama ini sudah dimuat dimana saja artikelnya Bang Aal?

Ada di beberapa majalah seperti Majalah Kartini dan Majalah Intisari.  Tapi yang paling sering di Majalah National Geographic Traveler.  Di web National Geographic Indonesia beberapa artikel juga sering dimuat.  Kalau untuk koran, feature saya kerap muncul di The Jakarta Post.

Kalau boleh tau nih Bang Aal, Abang belajar menulisnya darimana dan seperti apa caranya?

Nah itu yang sulit dijawab tuh.  Saya pernah dapat nilai pelajaran Bahasa Indonesia 9 dan tiba-tiba semester berikutnya berubah jadi 6 lantas di kenaikan kelas dapat 9 lagi.  Haha.. ya, sejak kecil saya memang suka menulis apa saja.  Terinspirasi dari buku-buku koleksi kakek yang disembunyikan di atas loteng karena sebagian buku itu dilarang di masa itu.

Selanjutnya, saya tinggal memperkaya dengan terlibat berbagai macam diskusi.  Pada era 1996 dimana internet mulai dikenal luas, saya terlibat banyak sekali mailing list, sehingga harus menghabiskan waktu berjam-jam di kantor pos yang saat itu menyediakan jasa berinternet ria, sebelum warnet mulai berkembang.  Kalau kini, tentu lebih gampang lagi mengakses segala keperluan informasi kita.

Menulis menurut saya adalah produk turunan dari pemikiran intelek dan posisi kritis si penulis atas topik yang ditulisnya.  Nah yang penting adalah bagaimana menutrisi pemikiran kita, jalannya adalah dengan membaca. Bahan bacaan adalah unsur hara dari tulisan sehingga tulisan yang dihasilkan lebih bergizi.

Biasanya topik-topik apa saja yang sering diangkat Bang Aal? kenapa menyukai topik tersebut?

Hosting Unlimited Indonesia

Saya suka menulis berbagai topik, mulai dari sumber daya alam, dunia pertanian, kehidupan liar, dan kisah-kisah petualangan tentunya.  Pilihan topik ini tentunya tidak lepas dari latar belakang saya sebagai pejalan.  Banyak hal yang kita temui sepanjang perjalanan, tapi kisah-kisah tentang bagaimana pengelolaan sumber daya alam yang lestari selalu mencuri perhatian. Demikian juga dengan kisah-kisah para petani yang berjuang dalam menjaga kehidupan bumi tetap berlangsung, berikut dengan keragaman hayati.

Kita (baca: Indonesia) kaya keragaman hayati, tapi kadang kita lupa bahwa suatu saat semua itu mungkin saja punah. Kalau tidak dituliskan maka anak cucu kita hanya akan mengenal legenda, seperti halnya legenda dinosaurus.

Nah, berkaitan dengan pengelolaan SDA bagaimana secara umum Bang Aal melihat pengelolaan SDA di Sumatera? Bisa berbagi pandangan sedikit tentang itu Bang?

Sumatera sebentar lagi kiamat jika ekspansi perkebunan swasta skala besar dan pengembangan hutan tanaman industri (HTI) tidak segera dihentikan.  Perebutan ruang menurut saya sudah berada pada level parah, dimana masyarakat selalu berada pada posisi lemah karena ruang yang lebih besar tentunya dikuasai oleh negara (dengan berbagai regulasinya) beserta swasta (dengan kekuatan finansialnya).  Konflik ruang di Sumatera tidak hanya melibatkan ketiga unsur yang masih bisa diajak berunding tersebut, tapi lebih jauh, ini juga melibatkan keanekaragamanhayati yang tidak bisa diajak berunding semisal gajah, harimau, badak dan orangutan.  Belum lagi kebutuhan ruang untuk sektor pertambangan yang juga besar.

Oleh karenanya, dibutuhkan kerelaan masing-masing pihak untuk tidak mengeruk keuntungan dari sumber daya alam secara besar-besaran.  Kita mesti ingat bahwa bumi ini diciptakan sebagai tempat ujian menuju kampung akhirat.  Mestinya, sumber daya alam dikelola secara berkelanjutan dan mementingkan keadilan bagi semua, bukan hanya yang menguntungkan sebagian orang saja.

Wah cukup serius juga ya Bang. Kita ganti topik ke hal lain dulu, Kabarnya Bang Aal sering mengajak keluarga melakukan ekspedisi, kenapa sih mengajak keluarga?

Ya, bagi saya perjalanan adalah media belajar. Tempat untuk mencari tahu siapa diri kita sesungguhnya.  Nah, saya ingin anak-anak saya terlibat dalam pelajaran-pelajaran itu. Terutama pelajaran tentang kehidupan, bagaimana berbagi dengan sesama, bagaimana menghormati kekayaan alam dan bagaimana menyukuri nikmat.  Suatu saat, anak-anak akan hidup tanpa dampingan orang tua, maka pada saat itulah mereka paham bahwa perjalanan yang pernah mereka lakukan membawa manfaat buat kehidupannya.

Ekspedisi kemana saja yang pernah dilakukan sama keluarga?

Kebanyakan di Sumatera. Banyak tempat dan kehidupan di Sumatera yang masih menjadi ceruk gelap.  Perlu didalami lebih jauh.  Kami menjelajah bentang laut, gunung, sungai, goa sembari belajar tentang masyarakat dan sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

Sebenarnya kami ingin mengetahui lebih jauh tentang Gunung Talamau yang disinggung di awal tadi, bisa diceritakan tentang Gunung Talamau dan bagaimana pengelolaannya disana Bang Aal?

Saya sesugguhnya masih punya keinginan menyambangi si cantik ini, tapi belum tahu kapan itu akan terjadi.  Terakhir ke sana tahun 1995, tentu sudah banyak perubahan.  Talamau merupakan puncak tertinggi di Sumatera Barat, 2920 MDPL.  Tapi dari catatan altimeter yang saya bawa tahun 1995, gunung ini hanya berketinggian 2912 MDPL.  Terlepas dari perdebatan tentang itu, Talamau merupakan salah satu gunung dengan medan terberat di Sumbar.  Kami mencapai puncak dalam waktu 3 hari perjalanan (perjalanan hanya pada saat matahari bersinar, jika malam kami mendirikan tenda).

Dari desa terakhir, Desa Pinagar, perjalanan ditempuh dengan melewati kebun warga.  Dulu kami menginap di kebun terakhir yang ditemui, beruntung kalau perjalanan dilakukan pada saat musim durian.  Tapi sesungguhnya, kalau para pejalan ingin menginap di tutupan kanopi hutan, maka sebaiknya sampai di shelter pertama, tak jauh dari kebun terakhir.  Medan hari pertama masih agak landai walau di beberapa tempat ada pendakian yang cukup menguras tenaga.

Nah, dari shelter 1 menuju shelter 3 melewati tutupan hutan lebat dengan lantai hutan yang licin plus pendakian-pendakian menantang. Sebaiknya menginap sesampai di shelter 3, ada air terjun yang cukup deras di sisi kanan jalur pendakian sebagai sumber air.  Demikian juga dari shelter 3 menuju telaga, tempat menginap di malam berikutnya sebelum mencapai puncak, medannya terjal dan penuh tanaman paku resam.  Menginaplah di telaga untuk mengumpulkan sisa tenaga agar bisa mencapai puncak esok subuh.  Dari puncak akan terlihat 12 telaga yang terpencar di beberapa sudut gunung itu, indah sekali.  Sungguh saya rindu ke sana lagi.

Saat saya datang, salah satu pentolan pendaki gunung, namanya Danil, sudah mulai merintis pengelolaan gunung ini, dibantu oleh beberapa kelompok pecinta alam.  Tapi saya, pada saat saya datang, saya tak berjumpa dengan Danil.  Kabarnya, Danil dan kawan-kawannya sudah merenovasi shelter-shelter sehingga nyaman ditempati oleh para pendaki.  Termasuk tanda-tanda sepanjang rute pendakian juga sudah di pasang.

Terakhir yang saya tahu, para pendaki yang datang semuanya terdata dan tercatat, sehingga kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka tim SAR akan segera diturunkan.  Tapi sejauh ini, saya belum pernah dengar ada orang hilang di gunung itu.  Sejauh keyakinan saya, para pendaki yang datang adalah pendaki serius yang menyiapkan ekspedisinya dengan baik, agak beda dengan pendaki selfie yang banyak mendaki gunung hanya untuk sekedar berfoto dan mengotori.

Boleh ceritakan sedikit tentang Ekspedisi SAD-3805-G7 Bang Aal?

SAD, berarti Suku Anak Dalam, sebuah suku semi nomadic di pedalaman Jambi.  Mereka hidup kebanyakan di dalam hutan. Tapi Karena sumber daya hutan terus mengalami penyusutan, kini kebanyakan mereka justru berpindah-pindah dari satu kebun sawit ke kebun sawit lainnya, dari satu kebun karet ke kebun karet lainnya.  Banyak juga diantaranya yang menjelajah jalan-jalan di sepanjang lintas Sumatera.

Layanan umum untuk mereka terasa sangat jauh, terutama kesehatan dan pendidikan.  Kalau 3805 itu ketinggian puncak Gunung Kerinci dari permukaan laut. Gunung berapi tertinggi di Indnesia dan G7 berarti danau Gunung Tujuh, danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara.

Ekspedisi ini kami lakukan untuk membuka mata hati kita semua, terutama untuk turut membantu pendidikan bagi Suku Anak Dalam.  Saya mendaki gunung Kerinci, lantas kami sekeluarga melakukan pendakian ke danau Gunung Tujuh, sebagai perlambang bahwa kehidupan ini memang tidak mudah dan diperlukan orang-orang “gila” untuk mau saling berbagi.  Anak-anak saya menggambar selama mereka berada di danau Gunung Tujuh.

Selepas pendakian, kami tinggal bersama SAD di Merangin dan Bangko. Dua komunitas yang kami datangi tinggal di kebun karet dan kebun sawit.  Anak-anak saya, terlibat bersama anak-anak SAD membuat lukisan.  Nah, gambar-gambar beserta lukisan-lukisan karya mereka ini rencananya akan dijual.  Hasil penjualan ini akan kami sumbangkan untuk membantu pendidikan bagi SAD.

Sampai kini, gambar dan lukisan masih saya simpan karena kami belum cukup biaya untuk membuat rangka lukisan dan gambar-gambar itu.  Kita tunggu waktunya sehingga semua gambar dan lukisan siap dijual, semoga laku dan uangnya bisa digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah anak-anak SAD.  Kami akan serahkan semua hasil dari ekspedisi ini ke lembaga Pundi Sumatra, sebuah community foundation yang saya dan beberapa kawan bentuk di Jambi.  Bisa juga cek di websitenya sss.or.id

Apa Bang Aal sekeluarga berangkat ke pemukiman SAD itu direncanakan dan sudah ada kontak yang dihubungi disana?

Saya rencanakan jauh-jauh hari. Kontak sudah dibangun lewat lembaga saya di Jambi, Pundi Sumatra.

Ohya, apakah orang diluar komunitas boleh membantu penggalangan dana ini untuk pendidikan SAD ini Bang? bagaimana caranya?

Tentu dan itu yang diharapkan.  Coba rujuk ke http://sss.or.id/sudung/ disini semua informasi disediakan.  Dukungan bisa berupa incash dengan menjadi donator maupun inkind dengan menyumbangkan bahan/peralatan seperti ATK, seragam sekolah, tas, tenda, sleeping bag, atau bantuan bibit karet, saprodi dan lainnya.  Bisa juga bergabung menjadi relawan pengajar atau sebagai tim fasilitator di lapangan.  Atau setidaknya bisa menjadi jenang.  Jenang ini istilah lokal yang berarti penghubung.  Kalau bantuan langsung berupa dana, bisa disalurkan ke rekening bank BNI nomor 0242912761 milik SSS-Pundi Sumatra.

Kalo yang ekspedisi ke Hutan Desa pertama di Indonesia di Jambi itu bagaimana?

Itu perjalanan saya dalam rangka riset lapangan menulis buku, judulnya Namaku Dahlia.  Kini bukunya bisa didapatkan di toko-toko buku.  Dahlia merupakan koperasi perempuan di Dusun Lubuk Beringin, lokasi hutan desa pertama di Indonesia.

Selama riset lapangan, anak-anak saya terlibat.  Mereka belajar banyak tentang kehidupan orang-orang dusun yang akrab dan bersahabat. Mereka belajar tentang sungai, hutan dan ekosistem hutan secara umum. Riset lapangan yang melibatkan anak-anak hanya berlangsung dua minggu. Mereka saya liburkan dari sekolah dan untungnya guru-guru mereka mengizinkan lantaran saya menjelaskan itinerary perjalanan kami secara detil, dengan sedikit merayu tentunya. haha.

Wah menarik juga koperasi perempuan Dahlia ini, bisa diceritakan lebih jauh tentang Dahlia ini Bang?

Dahlia merupakan koperasi perempuan yang berkembang atas sokongan semangat, pengabdian dan tanggung jawab. Koperasi Dahlia tumbuh mewarnai kehidupan di Dusun Lubuk Beringin, dusun kecil di sudut Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).  Mulanya, kampung ini adalah salah satu lokasi pembalakan liar. Anehnya masyarakat tidak merasa terancam. Mereka menyambut ramah pembalak liar. Bahkan masyarakat sering menyuguhi minum teh di rumah. Saya melihat ada perbedaan cara pandang, mungkin karena masyarakat kelewat ramah.

Pembalakan liar besar-besaran terjadi awal 1970-an hingga akhir 1980-an. Klimaksnya 1998-1999.  Namun seiring dengan kesadaran bahwa kondisi sumber daya alam harus diperbaiki dan sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka dusun ini didorong menjadi lokasi hutan desa pertama di Indonesia di era Menteri Kehutanan, MS Kaban pada 2009.

Pada Agustus 2000, sebanyak 23 perempuan Dusun Lubuk Beringin, Kabupaten Bungo, mengadakan yasinan setiap Jumat sore. Yasinan ini hanya melibatkan kaum perempuan. Seusai wirid, mereka leluasa mendiskusikan hal-hal berkaitan keuangan rumah tangga. Diskusi juga berlangsung setiap hari di tepian pemandian. Dari situ lahirlah gagasan membuat lembaga keuangan mikro. Mereka menyebut lembaga itu dengan nama Dahlia.

Menurut saya, mereka (Dahlia) menginspirasi, karena selama 15 tahun pasca didirikan masih terus berkegiatan dan menjadi unit simpan pinjam warga.  Sekarang modal berputar sudah Rp 500 juta. Mereka berusaha melawan kemiskinan dengan cara positif.

Inspiratif sekali tentunya. Ohya, Kabarnya Abang sekeluarga juga pernah dihadang badai selama 8 hari? Bagaimana ceritanya?

Ha, ya, kisah itu.  Tepatnya di Pulau Banyak, Aceh Singkil.  Kejadiannya pada bulan Ramadhan tahun 2014. Kami sempat menonton final Piala Dunia di lokasi ini.  Dari hari pertama perjalanan, penyeberangan kami dari Muara Singkil Menuju Pulau Balai yang harusnya ditempuh selama 2,5 jam, tapi kami menempuhnya selama 5,5 jam.  Anak-anak saya terpaksa berbuka puasa di atas kapal karena begitu waktu berbuka sudah masuk, kami masih berada di tengah laut.

Tujuan kami ke Pulau Banyak adalah untuk belajar tentang kehidupan masyarakat di beberapa pulau. Sekaligus mendatangi pulau-pulau kosong yang banyak bertebaran di sana, plus mengunjungi keramba dan pusat-pusat ekonomi nelayan.

Dalam catatan Dinas Perikanan dan kelautan Aceh Singkil, setidaknya ada 99 pulau di kecamatan Pulau Banyak.  Dalam perjalanan ini, kami juga ingin mengunjungi pusat konservasi penyu di Pulau Bangkaru. Tapi sampai kami kembali pulang delapan hari setelah kedatangan, kami tetap tidak bisa mendekati Pulau Bangkaru karena terus-terusan dihadang badai.

Saban pagi, kami sudah menyiapkan perahu bermotor 40 PK (PK atau paar de kraft : Belanda, hampir sama dengan HP, atau horse power : daya kuda. Satu HP sama dengan 745,7 watt. Red) dari Pulau Balai tempat kami menginap bisanya Pulau Bangkaru dapat ditempuh selama 2-3 jam.  Tapi saban hari pula kami diserang badai setelah satu jam perjalanan, sehingga kerap kami harus bersembunyi di pulau-pulau kecil terdekat atau melaju kembali ke Pulau Balai.  Saya selalu mengutamakan keselamatan dalam perjalanan, karenanya saya tidak mau ambil risiko diguncang badai di perjalanan, apa lagi perjalanan ini menyertakan anak-anak

Ekspedisi bersama keluarga tentu tidak sama dengan ekspedisi sendiri atau bersama tim yang pro, bagaimana sih mempersiapkannya?

Kuncinya ada di latihan.  Saya selalu menyiapkan anak-anak dalam perjalanan-perjalanan singkat. Setidaknya perjalanan menginap semalam atau dua malam.  Mereka saya biasakan dengan perjalanan seperti itu. Baik menginap dengan tenda maupun menginap di rumah warga di lokasi yang kami kunjungi.  Jadi, dengan kebiasaan seperti itu, mereka sudah tidak kagok (kagok memilik arti sama dengan kaget. Red) lagi dengan perjalanan panjang.  Segala sesuatunya kami catat dengan baik. Masing-masing anak memiliki buku catatannya sendiri.  Selain itu, saya selalu mengusahakan agar perjalanan senyaman mungkin bagi mereka. Terutama menyiapkan bahan-bahan bacaan serta memahami waktu-waktu penting buat anak-anak, terutama waktu makan dan istirahat.

Kalau Kak Elfa Yeni sendiri juga mendukung pendidikan anak seperti lewat ekspedisi-ekspedisi itu Bang?

Yep, dia pilihan terbaik menurut saya.

Apa efek positifnya ekspedisi bagi keluarga?

Banyak dong. Dalam setiap ekspedisi pasti ada cerita yang menarik. Pasti ada pembelajaran yang akan selalu dikenang.  Inilah yang akan membentuk karakter anak-anak untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Baik terhadap flora dan fauna, masyarakat dan orang-orang yang mereka jumpai selama perjalanan serta lingkungan secara luas.  Dalam setiap perjalanan keluarga, tentunya akan kembali ke rumah dengan semangat baru dan dengan rasa sukur yang lebih mendalam.  Dan pastinya, ini akan merekatkan hubungan antar sesama anggota keluarga karena dalam perjalanan yang kami lakukan pasti aka nada gesekan emosional.

Banyak juga efeknya ekspedisi bagi keluarga ya. Bagaimana dengan jadwalnya, apa memang dilakukan saat liburan saja? Pernahkan ekspedisi ini berbenturan dengan jadwal sekolah anak?

Justru keseringan kami melakukan ekspedisi panjang terjadi saat sekolah aktif.  Libur seminggu atau dua minggu bagi anak-anak sudah menjadi hal yang biasa.  Saya mengomunikasikan kegiatan kami ke pihak sekolah.  Pihak sekolah biasanya mendukung, bahkan seorang guru pernah bilang ke saya “anak-anak lebih banyak belajar dilapangan bersama keluarganya ketimbang dengan kami di sekolah.”  Yang pasti selama ekspedisi, kami sekeluarga harus mempelajari materi pelajaran sekolah, sehingga mereka (anak-anak) dapat mengikuti pelajaran dengan lancar ketika kembali ke sekolah.  Kebanyakan materi justru diperkaya dengan pengalaman langsung di lapangan.

Pilihan jadwal seperti ini, selain bisa lebih hemat biaya juga tidak terlalu ramai.  Kalau pilihannya musim liburan, pastilah daerah tujuan, bandara dan stasiun serta tempat-tempat menginap (kalau pilihannya hotel dan semacamnya) lebih penuh sesak.

Pertanyaan terakhir Bang, apa pesan Bang Aal buat pembaca Travelnatic?

Pagi tadi, anak bungsu saya, Arung sudah membekukan matahari lewat komiknya. Saya melongo membayangkan hidup tanpa matahari, tapi itulah wujud kreativitas yang menembus alam pemikiran manapun.  Demikian juga dengan menulis. Ayolah, dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi sudah belajar menulis, huruf latin cuma A sampai Z.  Mulailah dengan apa yang kita rasakan dan tetaplah menulis.  Dengan menulis, kita akan membuat sejarah.  Kalau tidak membuat sejarah, yakinlah bahwa kita akan lenyap dari peradaban.  Lalu, apa gunanya menjalani hidup?

Apa yang dilakukan Arung adalah berkah dari berbagai ekspedisi yang pernah dia lakoni.  Tak sedikitpun dia takut kalau matahari membeku. Di usianya yang belia, dia ditempa dengan berbagai pengalaman.  Tak ada yang spesial yang dilakukan dalam menempa karakternya, kami hanya melakukan perjalanan dan belajar dari perjalanan itu. Oleh karena itu, mulailah berjalanlah sejauh mana kalian ingin berjalan, jangan pernah khawatirkan tentang uang karena uang hanya akan menghambat kreativitas.  Bersahabatlah dengan siapa saja, karena sahabat mengantarkan kita ke berbagai tujuan.

Itu saja kayaknya ya.  Maaf kalau kesannya seperti orang tua tak tahu malu.  Hihiiii.

Demikian wawancara dengan Bang Syafrizaldi. Semoga bermanfaat dan terima kasih telah membaca. [Nurul Amin/End]

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    847
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

One Response

  1. Alamaaak bang.. Ini wawancarq panjang beud hahah

Komentar Pembaca