Jabal Rahmah: Tempat Bertemunya Adam dan “Tulang Rusuk”-nya

Jabal Rahmah: Tempat Bertemunya Adam dan “Tulang Rusuk”-nya

posted in: Indonesian Diaspora | 0

Jika selalu ketakutan dengan kematian dan kekhawatiran, maka tidak mungkin sejarah mencatat bagaimana gagahnya Ibnu Batutah atau juga Marcopolo dan Columbus dalam menjelajahi dunia. Bagaimana pula kehidupan ini bisa bermula dan berjalan seperti saat ini, jika ketakutan melangkah menjadi penghalang?

Peziarah sedang menuju puncak Jabal Rahmah. Dokumentasi Febrialdi R

Bayangkan saja, bagaimana alam semesta ini bisa berkisah seperti saat ini jika Adam dan Hawa memiliki ketakutan dan kekhawatiran untuk tidak saling mencari satu sama lain, pasca diturunkan dari Surga oleh Allah SWT?

Di gunung, di puncaknya, dimana kaki ini bisa berpijak, terdapat tempat yang penuh kedamaian. Seseorang pun akan merasa dekat sekali dengan Tuhan, sehingga menundukkan kepala untuk bersujud dengan hatinya sekaligus. Disana pula pembuktian diri, tentang sebatas mana kita bertekad. Tentang bagaimana kita bisa melepaskan keegoisan diri dan sifat manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya dengan kemampuan diri sendiri. Bahkan kita pun akan tahu alasannya mengapa kita hidup dan tujuan kita hidup di dunia ini.

Rasa cemas, takut, letih dan bosan memang ada selama di perjalanan. Adam dan Hawa pun pasti merasakan hal yang sama saat mereka tengah mencari satu sama lain. Apalagi saat itu, (mungkin) tak ada seorang pun manusia karena memang mereka lah konon manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Binatang-binatang besar seperti Dinosaurus dan berbagai jenis binatang lainnya pun tentu jauh berbeda dengan saat ini. Mereka masih bebas berkeliaran saat itu.

Tetapi cinta lah yang menautkan nenek moyang manusia itu hingga dipertemukan oleh Allah di Puncak Jabal Rahmah. Adam yang diturunkan di India dan Hawa di Jeddah, harus terpisah sekian lama hanya untuk menyatukan kembali cinta dan sayang mereka di puncak gunung.

Puncak gunung adalah puncak dari segala puncak. Ia bahkan bertambah nikmat tatkala kabut menyelimuti atau hembusan semilir angin menerpa diri dan sang surya pun terbit atau tenggelam di ufuknya. Sebuah maha karya yang sangat indah dari Sang Pencipta. Kadang kala indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa terpana dan menangis terharu.

Itulah yang terjadi saat Adam bertemu kembali dengan tulang rusuknya yang hilang di Jabal Rahmah. Ia adalah Bukit Cinta. Ia adalah Gunung Romantis sepasang anak manusia yang ditahbiskan menjadi nenek moyang kita semua. Mungkin, saat Adam dan Hawa bertemu di puncak Jabal Rahmah itu, seolah-olah terlihat jelas semua harapan dan kebahagiaan yang menanti.

Gunung itu memang tak tinggi, jalurnya pun tak ekstrim dan tak ada jurang yang siap melumatkan tubuh kedua nenek moyang kita itu. Tapi di situlah Allah SWT mempertemukan mereka. Di situlah Allah SWT dengan rahman dan rahim-Nya menyatukan kembali ciptaan-Nya untuk melegalkan lahirnya anak manusia dari rahim Hawa.

Kita tak pernah tahu alasan Allah SWT menurunkan nenek moyang Adam dan Hawa di Jabal Rahmah. Namun yang jelas, pasti ada alasan yang tak bisa dipahami oleh keterbatasan akal kita sebagai manusia dibalik hikmah pertemuan itu.

Tapi korelasi yang bisa diambil yaitu banyaknya fenomena para pendaki yang menjadikan gunung sebagai tempat bertemunya mereka dengan “tulang rusuk” yang mereka harapkan.

Melakukan perjalanan mendaki gunung. Mulai dari bawah sampai ke puncaknya, seolah-olah kembali menelusuri perjalanan Adam saat mencari Hawa. Hanya bagi mereka yang bergelut dengan alamlah yang mengerti bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam tekanan mental dan fisik. Bagaimana pula alam bisa merubah karakter seseorang. Karena alam bisa menjadi ibunda yang pengasih, tetapi bisa pula berbalik menjadi sangar dan menakutkan.

Sungguh, semua kenangan indah di puncak gunung tertoreh abadi di dalam jiwa para pendaki. Seperti juga tugu Jabal Rahmah yang menjadi titik temunya Adam dan Hawa setelah dipisahkan sekian lama. Sebuah pengalaman yang diraih setelah perjuangan panjang mengalahkan diri sendiri. Setelah diri berani mengambil keputusan di antara beberapa pilihan; terus mendaki atau berhenti sampai di sini. Terbayang jika dalam pencarian itu, Adam atau Hawa berhenti mencari karena putus asa atau hal teknis lainnya, akankah jutaan anak manusia bisa memenuhi mayapada seperti saat ini?

Karena yakinlah, bahwa tidak hanya di gunung saja kita harus membuat keputusan di tengah tekanan. Dan betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan. Sebab kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Sehingga di gunung kita belajar. Di gunung kita bisa lebih baik dalam memilih yang terbaik.

Satu hal, jangan pernah lupa bahwa kita ini hanyalah makhluk yang fana dan lemah. Jangan pernah sombong, karena hanya mendaki satu gunung-Nya saja kita sudah hampir tak berdaya. Bagaimana bila harus menciptakan yang sama dengan ciptaan-Nya itu? Sehingga sadarlah, bahwa tunduk pada setiap perintah-Nya adalah jalan satu-satunya untuk bisa dikatakan bersyukur dan meraih kebahagiaan yang sejati. Harus ingat juga, bahwa manusia itu suatu saat nanti akan kembali ke asalnya.

Tidak ada yang abadi, sebab manusia hanya diberikan waktu yang singkat saja. Hanya gunung yang tetap kokoh di tempatnya sebagai pasaknya bumi. Sementara manusia tidak. Manusia haruslah senantiasa menghargai hidup. Salah satu caranya yaitu mendaki gunung. Seperti Adam dan Hawa yang telah mendaki Jabal Rahmah untuk dipertemukan kembali dan kemudian melanjutkan hidup sebagai Bapak dan Ibu manusia.

Pasti ada banyak luka lecet di tangan, ada kram otot, ada kelelahan yang sangat di kaki, ada napas yang terasa sesak dan jantung yang rasanya mau pecah, ada rasa haus yang mencekik, dan ada pula tanjakan tinggi yang seolah-olah tak pernah ada habisnya, yang dirasakan Adam dan Hawa dalam proses pencarian itu. Namun semua yang mereka lakukan pada akhirnya segera terbayar lunas ketika telah tiba di puncaknya. Semua pengorbanan itu tak sepadan dan tak ada artinya lagi, ketika kedua kaki bisa berdiri di puncak tertingginya. Wallahu a’lam bisshawab. [Febrialdi R/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 345
  • 340
  • 264
  •  
  •  
  •  
    949
    Shares
Follow Febrialdi R:

Juga dikenal dengan nama pena Edelweis Basah. Penulis lepas sebagai kontributor di berbagai media cetak dan elektronik. Penulis buku novel Bara - Surat terakhir seorang pengelana terbitan Djeladjah Pustaka pada tahun 2016. Saat ini menetap di Kota Madinah, Arab Saudi.

Komentar anda?