JALAN-JALAN DI MALANG BAGIAN 1

 “Sampean turun di Stasiun Kepanjen aja ya, lebih dekat”

Pesan WA dari Mas Aris yang akan nemenin saya jalan-jalan di Malang dan sekitarnya selama dua hari ke depan. Kenapa turun di Kepanjen? Soalnya ternyata arah ke Tumpak Sewu itu memang lebih deket jaraknya kalau start dari Kepanjen. Kalau start dari Malang, malah jadi mundur lagi. Selain itu juga, kebeneran, rumah Mas Aris juga di Kepanjen.

 

 Jumat, 28 September 2018

Kali ini, saya akan mengeksplore beberapa air terjun di Malang. Beberapa air terjun yang sudah masuk ke dalam list saya kali ini diantaranya Tumpak Sewu, Coban Ciblungan, Sumber Pitu Pujon, dan Sumber Pitu Tumpang.

Setelah 14,5 jam perjalanan dari Bandung, sampailah saya di Kepanjen, ibukota Kabupaten Malang. Sesuai arahan Mas Aris, saya pun turun di Stasiun Kepanjen. Tujuan pertama kami hari ini adalah Tumpak Sewu di Lumajang. Sumber Pitu sebagai tujuan utama berikutnya pun jadi tujuan untuk besok saja karena arahnya yang berlawanan jauh. Kami pun meluncur menuju Tumpak Sewu.

Waktu tempuh dari Stasiun Kepanjen hingga Tumpak Sewu pas dua jam. Kami menggunakan sepeda motor. Kondisi arus lalu lintas di jalur Dampit – Pronojiwo pagi ini sedikit ramai. Jalur ini memang merupakan jalur lintasan truk dari Lumajang ke Malang, dan sebaliknya. Untungnya kali ini, tidak sampai harus bermacet-macetan dengan truk pasir.

Kami tiba di Tumpak Sewu sekitar pukul 09.00 WIB. Kami pun segera menuju area Tumpak Sewu. Sebelumnya, Mas Aris menawarkan untuk mampir dulu ke Coban Sewu. Coban Sewu merupakan pintu masuk ke air terjun ini dari sisi Malang. Tumpak Sewu memang berada di perbatasan dua wilayah administrasi. Air terjun dari sisi Malang dinamai Coban Sewu. Air terjun dari sisi Lumajang diberi nama Tumpak Sewu.

Saya langsung memilih Tumpak Sewu dari sisi Lumajang. Karena memang, spot dari sisi Lumajang yang sudah jadi incaran saya sejak lama. Jalur trekking dari parkiran menuju Pos Panorama sudah merupakan jalan semen. Medannya menurun terus. Mendekati Pos Panorama, turunannya semakin curam. Di ujung turunan terdapat pangkalan ojek. Jasa ojek ini diperuntukan bagi pengunjung yang tidak kuat menanjak menuju parkiran. Tarif jasa ojek ini Rp 10.000,00 / motor.

 

Setelah mengambil beberapa foto di Pos Panorama, Mas Aris menawarkan untuk turun ke bawah tebing. Saya sempat ragu karena medannya yang lumayan berat. Tapi, rasanya sayang juga kalau tidak turun. Sudah jauh-jauh sampai sini kenapa ga sekalian aja turun. Akhirnya saya putuskan untuk turun.

Trek untuk turun ke dasar Tumpak Sewu buat saya cukup menguras tenaga. Trek awal berupa jalan setapak tanah. Lalu, berganti dengan tangga bambu dan jembatan bambu. Jembatan bambu disini merupakan anyaman bambu. Fungsinya untuk menyambung celah batuan yang tidak bisa dipasang tangga bambu. Tangga bambu masih cukup kokoh. Terdapat pegangan untuk tangan dari bambu yang cukup kokoh.

Awalnya, tangga bambu tidak terlalu sulit. Lama kelamaan, jarak antar anak tangganya semakin berjauhan. Kemiringannya pun bertambah curam. Lutut mulai gemetar. Pada satu titik, terdapat tangga bambu bertikal, tapi tidak terlalu tinggi. Hanya sebatas menuruni batuan tebing saja. Selepas tangga bambu, trek berikutnya merupakan trek dinding air terjun.

Untungnya, karakter batuan air terjun kecil ini bukan yang super licin berlumut. Ada beberapa yang emang licin dan berlumut, tapi bukan di batu yang bisa dijadiin pijakan pengunjung. Ga usah tanya kaki ama tangan gemeterannya kaya apa. Sampai di bawah, langsung cari tempat duduk dulu. Untungnya ada warung yang kebeneran tutup. Numpang duduk dululah ngilangin tremor.

Kalo kata Mas Aris, abis ini jalannya udah enak, udah datar. Tinggal ikutin aliran sungainya aja ke hulu. Oh iya kalau udah sampai sini, jalurnya kebagi dua. Yang ke kanan (ke arah hulu sungai) jalur ke Tumpak Sewu. Kalau ke kiri (ke arah hilir sungai) jalur ke Goa Tetes. Dari spot ini, jarak ke Goa Tetes kurang lebih 1-2 Km lagi. Sebenernya penasaran juga sama Goa Tetes, tapi kalau inget jalur naik dari Tumpak Sewu ke parkiran, ah sudahlah skip dulu saja Goa Tetesnya.

Setelah warung ini, kalau kita ambil ke arah Tumpak Sewu, akan ada pos lagi. Di sini pengunjung dikenakan retribusi lagi sebesar 5.000 Rupiah per orang. Ternyata, ga ada warga yang jaga. Warung tutup, warga yang jaga retribusi pun ga ada, mungkin karena ini hari Jumat dan udah hampir jam 09.30 WIB. Mungkin lebih milih untuk siap-siap Jumatan. Udara di bawah sini jauh lebih sejuk dibanding di spot panorama tadi. Kami masih harus menyeberangi jembatan bambu dan sedikit naik ke batu-batu untuk sampai ke depan Tumpak Sewu.

 

Kami hanya mengambil foto di spot paling bawah. Ada satu spot lagi yaitu naik ke bebatuan. Spot bebatuan ini merupakan spot untuk mengambil frame Tumpak Sewu secara hampir utuh. Berhubung sudah malas nanjak-nanjak, jadi kami berkeliling di bawah saja, dekat aliran sungai. Aliran sungai di depan Tumpak Sewu memiliki aliran air berwarna cokelat pekat.

Aliran sungai ini merupakan aliran Sungai Glidih. Aliran sungai ini membawa material lumpur dan kerikil dari hulunya, yaitu lereng Gunung Semeru. Aliran jatuhan Tumpak Sewu yang berwarna kecokelatan merupakan aliran jatuhan yang berasal dari Sungai Glidih. Aliran jatuhan lainnya berasal dari mata air. Keunikan dan informasi tentang Tumpak Sewu, dapat dibaca lebih lengkap disni.

Beres foto-foto, saya minta istirahat dulu. Ngumpulin tenaga dulu buat nanjak. Sebenernya sih masih pengen lama-lama di sini, berhubung hari Jumat, jadi ngejar biar Mas Aris bisa Jumatan. Jam sebelas kurang, kami mulai jalan. Sesampainya kami di warung sebelum aliran air terjun, kami liat ada tiga orang yang sedang turun. Daripada nanti papasan di tengah tangga, mendingan kami nunggu dulu. Kurang lebih lima belas menit, akhirnya tiga orang tadi sampai di warung tempat kami duduk.

Begitu naik di aliran air terjun, bingung juga soalnya takut salah pijakan. Salah pijakan, byeeee….. Selain itu, tali tambang yang ada di samping kiri pun ga terlalu membantu. Setelah susah payah, akhirnya saya sampai di ujung trek air terjun. Mas Aris? Ga usah ditanya, udah nyampe dari tadi.

Setelah nyebrang, saya pun minta istirahat lagi. Seengganya trek yang bikin dengkul lemes udah lewat. Sekarang saatnya tangga bambu sampai ke spot panorama. Ga usah ditanya berapa kali saya berenti dan seberapa lamanya saya naikin tangga bambu.

Nafas udah ga karuan, tenaga tinggal sisa-sisa. Tiap tangga bambu abis, berenti. Kalau tangga bambunya panjang, pasti berenti di tengah-tengah. Kecuali di jembatan bambu aja saya ga berenti. Ngeri juga takut tiba-tiba jebol.

Akhirnya setelah susah payah nanjak dengan tenaga sisa-sisa dan nafas yang udah ga karuan, kami pun sampai lagi di spot panorama. Perlu waktu empat puluh menit dari warung paling bawah sampai ke spot panorama. Kami mampir lagi ke spot panorama sebentar untuk ambil foto.

Sempet kepikir, saya naik ojek aja kali ya biar cepet. Biar Mas Aris juga keburu Jumatan. Begitu sampai di pos ojek, ga ada motor satupun. Yah, ini sih emang disuruh jalan kaki sampai tuntas judulnya. Kami pun nanjak lagi ke parkiran. Ga usah tanya berapa kali berenti. Sedikit-sedikit berenti. Apalagi di beberapa tanjakan disediain kursi. Jadi, tiap nyampe kursi, berenti lagi. Kami perlu waktu kurang lebih lima belas menit nanjak sampai ke parkiran.

 

Sampai di parkiran, pas banget waktunya Jumatan. Sambil nunggu Mas Aris Jumatan, saya mending numpang cuci muka sama ganti baju. Berhubung fisik udah kekuras abis, jadi sepertinya Kapas Biru saya lewat untuk hari ini. Coban Ciblungan langsung jadi alternatif tujuan berikutnya. Memang, sebelum berangkat, saya punya empat air terjun yang jadi tujuan utama.

Begitu Mas Aris selesai Jumatan, kami langsung menuju Coban Ciblungan. Dari beberapa referensi yang saya baca, akses trekking ke Coban Ciblungan ga susah. Coban Ciblungan juga merupakan air terjun yang cukup populer. Sudah banyak yang datang ke Coban Ciblungan.

Jika dari arah Lumajang, Coban Ciblungan letaknya setelah Tumpak Sewu. Otomatis, rute kami mengarah ke arah Malang lagi, searah jalur pulang. Kami mulai memasuki jalan desa. Kondisi jalannya cukup baik. Sudah ada penunjuk arah menuju Coban Ciblungan di persimpangan. Kami tiba di parkiran Coban Ciblungan. Jalur trekking menuju Coban Ciblungan berada di seberang area parkir.

Kami membutuhkan waktu kurang lebih lima menit untuk sampai ke Coban Ciblungan. Jalur trekking full menurun jika menuju air terjun. Jalur trekking sudah dibuat. Jadi, tidak terlalu terjal dan tidak terlalu licin. Mendekati area air terjun, jalur trekking yang dibuatkan anak tangga memiliki pegangan juga. Terdapat area cukup luas sebelum tiba di air terjun. Di area ini dibuat beberapa spot selfie dengan latar belakang Coban Ciblungan tentunya. Area ini juga merupakan spot terbaik untuk mengambil angel Coban Ciblungan.

Coban Ciblungan terbentuk dari beberapa aliran jatuhan. Sumber aliran jatuhan utama berasal dari aliran sungai. Sumber aliran jatuhan minor berasal dari mata air. Coban Ciblungan memiliki kolam dengan air yang sangat jernih. Ukuran kolam cukup besar dengan kedalaman bervariasi. Cocok digunakan untuk bermain air. Terutama pada musim kemarau. Untuk informasi lebih lengkap mengenai Coban Ciblungan dapat dibaca disni.

Setelah selesai mengambil beberapa foto, saatnya kembali ke parkiran. Ketika sampai di parkiran, masih lumayan banyak waktu sebelum sunset. Berhubung sekarang posisi kami udah lebih ke Timur, lebih deket sama Lumajang, jadi saya pun putusin untuk ke pantai di Lumajang. Kenapa pantai di Lumajang? Emang apa menariknya pantai di Lumajang? Perasaan ga se-booming­ pantai-pantai di Malang. Nah, justru itu, saya malah penasaran.

Pilihan pantai di Lumajang jatuh pada Pantai Watu Godek. Sebenernya, masih ada beberapa pilihan pantai. Sebut saja Pantai Muara Gede, Pantai Watu Gedek, dan Pantai tanpa nama. Namun, karena harus disesuaikan dengan waktu, pilihan pun jatuh pada Pantai Watu Godek.

Kami segera mengarahkan motor ke arah Lumajang. Sepanjang jalur menuju pertigaan Tempursari, kami melewati pintu masuk menuju beberapa objek wisata. Goa Tetes, Coban Kapas Biru, Coban Srengege, Coban Sriti, dan Coban Sumber Telu. Setelah Coban Sumber Telu, kami hanya perlu mencari persimpangan menuju Kecamatan Tempursari.

 

Setelah berbelok menuju Tempursari, perjalanan akan dilanjutkan menuju Selatan Kabupaten Lumajang. Baru juga memulai perjalanan di jalur menuju Tempursari, motor terasa oleng. Ternyata ban belakang bocor. Posisi kami saat itu berada di area kebun dan pinggir jurang. Terpaksa kami balik arah menuju permukiman. Jaraknya tidak terlalu jauh tapi jalannya menanjak.

Kami pun menemukan tambal ban. Setelah urusan tambal ban selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Watu Godek. Menurut informasi ibu-ibu di tempat tambal ban, perjalanan kami masih dua jam lagi.

Perjalanan menuju Kecamatan Tempursari merupakan jalur yang menuruni bukit. Berkelok-kelok, medan dominan turunan, area yang kami lewati pun bergantian antara permukiman penduduk dan area kebun. Untungnya, kondisi jalan seluruhnya sudah baik.

Setelah hampir dua jam, kami mulai melihat hamparan dataran cukup luas dengan permukiman yang cukup padat. Sisi kiri dan kanan dataran tersebut dibatasi oleh ujung dinding perbukitan. Batas lainnya adalah garis pantai. Ya, area tersebut merupakan wilayah Kecamatan Tempursari.

Setiba di alun-alun Kecamatan Tempursari, kami segera mengarahkan motor menuju Pantai Watu Godek. Setelah beberapa kali salah belok, kami akhirnya sampai di jalan menuju Pantai Watu Godek. Jalan yang menghubungkan Pantai Watu Godek dengan pusat kota kecamatan Tempursari kondisinya rusak. Jalannya bergelombang, berlubang kecil tapi cukup dalam.

Area di sepanjang jalan dominan kebun, sawah, dan ladang-ladang luas. Permukiman cukup berjauhan jaraknya. Sebaiknya mengisi full bahan bakar di pusat Kecamatan Tempursari, karena kondisi jalur menuju Pantai Watu Godek sangat sepi. Kondisi jalan dan pemandangan yang monoton sukses bikin saya ngantuk.

 

Jalur yang kami lewati tiba di ujungnya. Jalan utama menikung ke kiri, sementara di depan jalur merupakan gapura menuju objek wisata. Kondisi gapuranya sangat tidak terawat. Jadi, kami tidak tahu objek wisata apa yang ada di depan kami. Untunglah sedari Coban Ciblungan kami selalu mengecek Google Maps.

Menurut Google Maps, objek wisata di depan kami merupakan sirkuit trail Pantai Watu Godek. Tapi, ternyata ujung jalan yang menikung ke kiri pun terdapat pantai dengan nama Pantai Watu Gedek. Galau. Akhirnya kami memutuskan mengikuti jalan utama menuju Pantai Watu Gedek. Jalan langsung menanjak panjang, kemudian turun. Tepat setelah ujung turunan, jalan kembali datar dan lurus.

Jalan yang kami lalui sekarang berada tepat di pinggir pantai. Pantai Pandan namanya. Pantai dengan garis pantai sangat panjang dengan pasir berwarna hitam, tanpa pepohonan dan bangunan apapun. Ujung jalan ini  merupakan jembatan kayu dengan kondisi rusak. Tepat di bawah jembatan merupakan muara sungai. Karena sekarang kemarau, jadi seluruh permukaan muara berisi pasir hitam.

Kondisi jalan di seberang jembatan cukup sulit dilewati oleh motor kami. Bisa, hanya saja akan memakan waktu cukup lama. Akhirnya kami membatalkan kunjungan ke Pantai Watu Gedek. Meskipun tebing Pantai Watu Gedek sudah terlihat. Kami memutuskan untuk ke Pantai Watu Godek saja. Sebelumnya, kami berhenti sebentar untuk mengambil foto-foto Pantai Pandan,

Setiba di Pantai Watu Godek, hanya ada kami berdua. Pantainya sangat sepi dengan fasilitas yang hampir tidak ada. Kami mengambil spot tepat di bawah tebing. Hanya ada bangku kayu seadanya di beberapa pohon dan bangunan toilet. Bangunan toilet sudah tidak dapat digunakan.

Bila cuaca sedang bagus, akan terlihat Pulau Nusa Barong. Sebuah pulau dengan status Cagar Alam yang termasuk wilayah administrasi Kabupaten Jember. Untuk informasi lainnya mengenai Pantai Watu Godek dapat dibaca disini.

 

Kami tidak terlalu lama di Pantai Watu Godek. Perjalanan pulang cukup lancar. Malahan, terasa lebih cepat. Magrib kami sudah tiba di Pronojiwo. Satu jam perjalanan saja dari Pantai Watu Godek. Kami mampir makan dulu. Berhubung seharian ini kami belum makan. Sekitar pukul 19.00 WIB kami pulang menuju Malang.

Jalur yang kami lewati merupakan jalur Dampit – Lumajang yang terkenal sebagai jalur truk pasir. Bisa ditebak, kami harus beriringan dengan rombongan truk. Bahkan, ketika memasuki Ampelgading, jalanan macet, dua arah. Kami pun susah payah menyusul rombongan truk.

Sekali menyusul, harus sekaligus lima truk minmal. Kondisi jalan yang berlubang, bergelombang, dan berpasir harus sangat diwaspadai. Belum lagi debu dari ban truk dan kendaraan dari arah berlawanan.

Perjalanan pulang menuju Malang terasa sangat lama dan melelahkan. Malah, jauh lebih melelahkan dibandingkan trekking dari Tumpak Sewu ke area parkir. Kami tiba di Malang sekitar pukul 21.00 WIB.

 

GALERI FOTO

(01) TUMPAK SEWU. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

(02) COBAN CIBLUNGAN. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

(03) PANTAI WATU GODEK. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

(04) Kondisi jembatan kayu menuju Pantai Watu Gedek. Foto: Dokumentasi Dya Iganov
Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *