JALAN-JALAN DI MALANG BAGIAN 2

“Rencana perjalanan hari kedua di Malang berubah total. Semua daftar tempat yang rencananya akan dikunjungi saya coret semua”

Sabtu, 29 September 2018

Perjalanan motoran di Malang dan Lumajang hari pertama ternyata cukup menguras tenaga. Terlebih, trekking di Tumpak Sewu. Saya segera mencari dadakan tempat seru yang kira-kira bisa didatangi tanpa harus trekking berat. Pilihan jatuh pada Coban Pandawa dan pantai. Pantai ini saya minta tolong dicarikan oleh Mas Aris. Pantai di Malang Selatan yang masih sepi, bagus, dan bisa hammockan.

Hari ini kami memulai perjalanan sekitar pukul 08.00 WIB. Kami langsung meluncur menuju Coban Pandawa. Coban Pandawa berada di Kecamatan Dampit. Rute kami pagi ini hampir sama dengan rute kemarin. Menuju arah Timur (Lumajang). Lalu lintas Sabtu pagi di Kota Malang cukup ramai. Hampir sama dengan Bandung di Sabtu pagi.

Badan masih terasa pegal setelah seharian sebelumnya motoran dari pagi sampai malam. Ditambah trekking menaiki bukit. Hasilnya, baru sampai Turen, mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Kami mampir untuk isi bahan bakar dan membeli makanan ringan dan minuman.

 

Patokan kami adalah Pasar Dampit. Di Pasar Dampit, kami harus mengambil jalan desa menuju Selatan Dampit. Jalur yang masih asing, baik untuk saya dan Mas Aris. Google Maps sudah stand by sedari Turen. Untungnya, Coban Pandawa sudah ditandai di Google Maps. Meskipun sudah menggunakan Google Maps, kami masih sering salah mengambil jalur di persimpangan.

Kondisi jalan sudah 70% baik. Sisanya masih ada jalan makadam dan aspal rusak, serta berlubang. Pada satu titik, sedang akan dilakukan perbaikan jalan. Lalu lintas cukup sepi. Bahkan, ketika jalur sudah keluar dari area permukiman, kami jarang bertemu dengan kendaraan lain. Hal inilah yang membuat kami beberapa kali salah mengambil jalur.

Setelah tiba di pusat Desa Sukodono, barulah kami menemukan beberapa petunjuk arah menuju Coban Pandawa. Setelah pusat Desa Sukodono, ambil arah menuju Waduk Kaliungkal. Setelah Waduk Kaliungkal, akan ditemui beberapa persimpangan. Pada masing-masing persimpangan sudah dipasang spanduk menuju Coban Pandawa.

 

Kami tiba di parkiran Coban Pandawa. Setelah menitipkan beberapa barang, kami pun trekking menuju air terjun. Jalur trekking melewati kebun salak. Jalan setapak tanah yang terus menurun kami tempuh dalam waktu lima menit. Kami tiba di Coban Pandawa 2 dan langsung mencari spot untuk memasang hammock.

Coban Pandawa merupakan rangkaian lima air terjun dalam satu aliran sungai. Coban Pandawa merupakan objek wisata yang baru dibuka secara gotong royong oleh warga Desa Sukodono. Penamaan Coban Pandawa didasari oleh jumlah air terjun dalam satu aliran sungai. Informasi lainnya mengenai Coban Pandawa dapat dibaca di sini.

Sebelum pasang hammock, saya mengambil beberapa foto terlebih dulu. Kami pun memutuskan untuk turun dulu menuju Coban Pandawa 3 dan 4. Kami mengambil jalan setapak menuruni bukit. Terdapat spot cukup luas untuk memasang hammock dan mendirikan tenda. Dari spot ini, Coban Pandawa 3 terlihat jelas. Untuk melihat Coban Pandawa 4, masih harus menuruni bukit lagi.

 

Mas Aris turun sampai ke Coban Pandawa 4 untuk mengambil beberapa foto. Coban Pandawa 5 tidak kami temukan. Mungkin masih harus menuruni bukit lagi. Setelah cukup mengambil foto, kami kembali ke Coban Pandawa 2. Hammock segera dipasang. Kami tiba di Coban Pandawa tepat pukul 12.00 WIB. Tidak ada pengunjung lain yang datang.

Berhubung badan masih terasa lemas, perut mulai terasa lapar, dan tujuan berikutnya pun pantai, jadi saya memutuskan untuk leyeh-leyeh cukup lama di hammock. Sambil menunggu Mas Aris yang trekking ke atas bukit. Menuju Coban Pandawa 1. Kurang lebih dua puluh menit, Mas Aris sudah tiba kembali di Coban Pandawa 2.

Aliran Coban Pandawa 1 tidak jauh berbeda, sama-sama menyusut aliran jatuhannya. Coban Pandawa 1 hanya menyisakan satu aliran jatuhan. Sekitar pukul 13.00 WIB, kami kembali ke parkiran. Setiba di parkiran, kami istirahat sebentar sambil packing ulang. Kami pamitan pada ibu yang menjaga parkiran. Di tengah perjalanan, kami mampir sebentar ke Waduk Kaliungkal.

 

Sama dengan Coban Pandawa, di Waduk Kaliungkal pun hanya kami satu-satunya pengunjung. Di Waduk Kaliungkal, bahkan tidak ada yang menjaga parkir dan warung. Kami hanya mengambil foto sebentar, lalu melanjutkan perjalanan menuju Malang. Perjalanan menuju pantai yang menjadi tujuan kami sekitar tiga jam perjalanan.

Karena masih penasaran dengan wilayah Lumajang, saya pun iseng mencari informasi objek wisata di Lumajang. Air terjun saya lewat karena harus trekking lagi. Akhirnya pilihan jatuh pada Pura Mandara Giri Semeru Agung. Pura ini terletak di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Masih dapat dicapai dengan jalur utama Malang-Lumajang.

Setelah sepakat dan hitung-hitung waktu tempuh, kami pun merubah tujuan menjadi ke arah Lumajang. Biarlah, pantainya untuk kunjungan di lain waktu. Kami pun kembali mengandalkan Google Maps untuk mencari rute tercepat menuju jalan raya. Seperti biasa, kami pun sempat salah mengambil jalan. Akhirnya malah jadi sedikit berputar-putar di jalan desa.

 

Kami akhirnya berhasil keluar dari jalan desa. Kami langsung tancap gas menuju Lumajang. Kondisi arus lalu-lintas di jalur Malang – Lumajang siang ini jauh berbeda dengan kemarin. Jalanan sangat kosong. Tidak ada mobil, motor, bahkan rombongan truk. Lumayan bisa sedikit tancap gas.

Kami benar-benar berjalan tanpa berhenti. Kami hanya berhenti untuk isi bahan bakar. Perjalanan kami siang ini memang cukup jauh, namun, terasa lebih cepat. Pengaruh jalan kosong dan cuaca yang sedikit mendung. Kami bahkan tidak berhenti di Piket Nol (Jembatan Gladak Perak).

Kami malah berhenti di tempat tambal ban. Setelah melewati Jembatan Gladak Perak, tepatnya ketika sudah memasuki Kecamatan Candipuro, motor kembali oleng. Ternyata ban belakang bocor lagi. Kali ini, tidak tanggung, langsung ganti ban dalam. Kami cukup lama berhenti di tambal ban.

 

Sedikit was-was, apa bisa kami ga kesorean tiba di tujuan. Menurut bapa tambal ban, perjalanan kami masih dua jam lagi. Sementara, waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WIB. Mau balik lagi pun, rasanya sayang. Sudah jauh-jauh, sudah batalin ke pantai. Kalau kami balik lagi, malah ga dapet apa-apa. Hanya dapet cape.

Perjalanan tetap dilanjutkan. Kami kembali mengandalkan Google Maps sebagai patokan jalan. Kali ini, jalan yang ditunjukan tidak mengecewakan. Kami melewati jalan desa dengan kondisi baik serta persimpangan yang cukup jelas. Jika cuaca cerah, Semeru akan terlihat jelas di sepanjang jalur yang sedang kami lalui ini. Sayang, sore ini sangat berawan.

Setelah melewati permukiman terakhir dan mendekati jalur utama (Jalan Raya Senduro), perjalanan kami terpaksa terhenti. Jembatan yang harus kami lewati sedang dalam perbaikan. Tidak dapat dilewati sama sekali. Mau tidak mau, kami putar arah lagi.

Kami mencoba mencari rute lain. Ternyata harus memutar jauh untuk keluar dari jalan desa. Satu-satunya jalur tercepat dari posisi kami saat ini dengan tujuan kami. Kami pun putar arah dan sedikit tancap gas. Tidak berapa lama, kami akhirnya bertemu jalan raya utama. Kami hanya tinggal mengikuti jalan raya ini sampai ke tujuan.

 

Lokasi dan keberadaan Pura Mandara Giri Semeru Agung berbeda jauh dengan ekspektasi saya. Saya membayangkan lokasi pura yang berada di tanah lapang terbuka, tidak terlalu dekat dengan keramaian, seperti Pura Jagatkarta.

Bangunan Pura memang megah dan cukup luas. Hanya saja, lokasi dan keberadaannya benar-benar berada di pusat keramaian. Tepat di pinggir jalan raya utama dan masih berada di area perdagangan. Setelah memarkirkan motor, kami pun menuju Pura.

Ternyata di dalam area Pura sedang ada beberapa orang yang mengambil gambar untuk sebuah acara TV lokal. Kami pun memutuskan untuk menaiki tangga menuju bagian atas Pura. Sayangnya, bagian yang akan kami datangi tertutup untuk umum. Area tersebut hanya diperuntukan untuk keperluan sembahyang. Padahal, spot di area tersebut yang ingin saya ambil fotonya.

 

Kami pun akhirnya mengelilingi pendopo dan mengambil beberapa foto di gapura. Setelah pengambilan gambar untuk acara TV lokal selesai, kami pun mengambil beberapa foto pendopo. Untuk informasi lainnya mengenai Pura Mandara Giri Semeru Agung, dapat dilbaca di sini.

Karena tidak banyak yang dapat kami jelajahi, kami memutskan untuk pulang ke Malang. Sebenarnya, perut saya sudah terasa perih. Sayangnya, waktu sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Kami tidak mau kemalaman di jalan desa. Karena, jalur yang tadi kami lewati merupakan jalur tercepat jika dibandingkan dengan jalur utama. Jalur utama harus masuk ke Kota Lumajang baru mengarah kembali ke Barat.

Makannya nanti saja kalau sudah lewat area hutan setelah Jembatan Gladak Perak. Kami benar-benar tancap gas. Rencana saya untuk mengambil foto di beberapa spot pun harus saya batalkan. Selain sudah semakin gelap, Semeru yang saya incar pun tidak kunjung muncul dari balik awan hujan.

Tepat ketika sudah hampir Adzan Magrib kami sudah kembali ke jalur utama Lumajang – Malang. Kami isi bahan bakar lagi sebelum menuju Jembatan Gladak Perak. Arus lalu-lintas pun masih sepi. Sama seperti ketika kami berangkat tadi. Begitu Adzan Magrib, kami sudah keluar area hutan dan masuk Pronojiwo.

 

Arus lalu-lintas masih sepi. Sepanjang Jembatan Gladak Perak sampai memasuki pusat Kecamatan Pronojiwo kami hanya menyusul empat truk. Dan tidak papasan dengan truk dari arah berlawanan. Karena arus lalu-lintas yang sepi, rasanya nanggung kalau harus berhenti cari makan. Lebih baik bablas. Karena sekilas saya lihat di Google Maps, arus lalu-lintas di sekitar Dampit – Turen sudah cukup ramai.

Pukul 19.00 WIB kami sudah tiba di alun-alun Kecamatan Dampit. Karena sudah hampir sampai Malang, jadi saya minta untuk cari makan dulu. Pilihan pun jatuh pada nasi goreng dekat alun-alun Kecamatan Dampit. Lumayan, makan siang sekaligus makan malam sambil istirahatin kaki dulu.

Setelah cukup istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke Malang. Setiba di Turen, barulah arus lalu-lintas mulai ramai. Semakin mendekati Kota Malang, jalanan semakin ramai. Saya tiba di hotel lagi sekitar pukul 21.00 WIB. Sampai hotel, mandi, packing ulang karena besok sore sudah harus kembali ke Bandung.

 

Minggu, 30 September 2018

Berhubung tidak bisa late check out, jadi tepat pukul 12.00 WIB saya sudah menuju stasiun. Rasanya malas juga harus menunggu empat jam sendiri di stasiun. Mau jalan-jalan keliling Malang pun, ga tau mau kemana. Akhirnya saya putuskan ke Kepanjen saja. Lumayan, seenganya di Kepanjen masih ada teman ngobrol sambil menunggu kereta.

Saya menuju Kepanjeng dengan taxi online. Mas Aris pun dadakan saya hubungi. Untungnya hari ini ga ada acara. Sekitar empat puluh menit kemudian, saya sampai di Stasiun Kepanjen. Saya tukar tiket dulu biar tenang. Setelah Mas Aris datang, kami langsung jalan. Saya pun ga tau jalan kemana, yang penting keliling-keliling.

Sempat kepikiran untuk ke Sumber Sirah atau Sumber Maron. Tapi, ingat kalau sekarang akhir pekan, rasanya malas sama ramainya. Ternyata, Mas Aris mengajak ke tempat kuliner olahan ikan yang bernama Dempok. Berhubung akhir pekan, jadi tempatnya ramai pengunjung. Kami pun balik kanan.

Akhirnya, kami hanya ngobrol sambil ngemil di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen sambil menunggu jadwal kereta. Untungnya cuaca hari ini cerah, jadi kami tidak usah ribet dengan hujan-hujanan. Sekitar pukul 16.00 WIB, kami ke Stasiun Kepanjen. Tepat pukul 16.30 WIB kereta saya datang. Selesai sudah perjalanan di Malang kali ini.

 

Oh, ya selama tiga hari keliling-keliling saya pakai jasa Ojek Wisata Malang. OWM, singkatannya. OWM ini saya dapet info dari temen yang kebetulan Agustus lalu ke Malang. Mas Aris ini salah satu guide dari OWM. OWM bener-bener nolong banget, secara di Malang ga ada kenalan sama sekali.

Jadi, buat temen-temen yang mau ke Malang sendiri ga usah kuatir. Ada ojek wisata Malang (IG @ojek_wisata_malang) yang siap nganter ke mana aja sobat mau selama di Malang. Dengan 135.000 rupiah/hari, 24 jam non-stop driver akan nemenin sobat menelusuri keindahan Malang Raya dan sekitarnya.

GalerI Foto

(01) Waduk Kaliungkal. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

Coban Pandawa 2. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

(03) Gapura Pura Mandara Giri Semeru Agung. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

(04) Gerbang masuk Pura Mandara Giri Semeru Agung. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

(05) Pura Mandara Giri Semeru Agung. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *