Jalan-jalan ke Curug Wedus Jawa Barat

Jalan-jalan ke Curug Wedus Jawa Barat

posted in: Experience | 0

Yang pertama saya lakukan adalah minum dan duduk untuk menghilangkan pusing. Setelah cukup fit, saya meminta tolong Dian untuk memindahkan motor ke halaman depan rumah karena saya mau cash handphone.

Baca artikel sebelumnya : Mencari Jalan ke Curug Epot

Saking kosongnya daya baterai hp saya, hp tidak bisa nyala selama beberapa menit. Setelah menyala kami segera menandai jalur yang harus kami lewati menuju Curug Cilongan.

Keberadaan Curug Cilongan diperjelas oleh ibu pemilik rumah. Sama persis seperti informasi adik-adik SD Nagrog tadi. Lokasi Curug Cilongan berada tidak jauh dari jembatan gantung. Jalur yang kami ambil adalah jalur menurun di persimpangan tempat kami salah sebelumnya jalan ketika menuju Curug Epot. Sebenarnya dari Kampung Cipicung ada jalan tembus menuju Kampung Pasirpari, lokasi perbatasan antara Kecamatan Puspahiang dengan Kecamatan Sodonghilir.

Jalan yang kami lewati didominasi turunan. Jalan yang masih dapat dikatakan bagus ternyata hanya sampai di ujung turunan. Begitu kami memasuki kampung berikutnya, yaitu Kampung Ciserepan (setelah mencocokan rekaman jalur dengan keterangan di Google Maps) jalan berubah menjadi makadam. Untuk saya, jalur makadam ini masih cukup manusiawi. Kondisinya juga cukup lebar, batuannya masih kokoh tertanam dan hanya sedikit yang sudah lepas dan berganti tanah merah dan pasir. Kondisi medan pun lebih banyak datar, meskipun sesekali masih dijumpai turunan.

Memasuki Kampung Ciserepan, sinyal mulai kurang bersahabat, terlebih baterai sudah mulai kritis. Bisa ditebak, kami sampai dua kali salah mengambil jalur. Hp pun mati total. Akhirnya kami mengikuti feeling saja. Tujuan kami adalah aliran sungai cukup besar, sehingga kemungkinan besar, kami harus mengikuti jalan hingga ke ‘bawah’. Kami akhirnya tiba di Desa Muncang yang sudah masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Sodonghilir.

Begitu bertemu permukiman warga, kami kembali bertanya, ternyata jalur kami sudah benar. Kondisi jalan di sekitar kampung yang kami lewati sudah tidak lagi makadam, melainkan jalan yang disemen. Kali ini kami bertemu tanjakan yang lumayan panjang dan curam ditambah makadam dengan ukuran batu yang cukup besar. Setelah melewati tanjakan, jalan datar kemudian menurun panjang tetap dengan makadam dengan ukuran batu yang cukup besar.

Ujung turunan berupa tikungan cukup tajam kemudian langsung melewati jembatan. Setibanya di jembatan, ternyata motor Mbok tidak ada. Kami berhenti sejenak. Cukup lama kami menunggu Mbok, tapi tidak juga muncul. Feeling saya, takutnya Mbok jatoh. Tidak lama, ada motor warga yang menyusul kami. Benar saja, warga tersebut memberi informasi bahwa teman kami di belakang jatuh. Tidak lama, Mbok datang, dan kata Mbok, sukses dua kali jatoh karena bannya selip. Jembatan tempat kami berhenti ini merupakan jembatan yang melintasi Sungai Cilongan. Sungai Cilongan cukup lebar dengan pinggir-pinggir aliran sungai berupa tebing cukup tinggi. Ada beberapa warga yang sedang memancing. Aliran Sungai Cilongan sedang deras-derasnya dan berwarna cokelat.

Kami memasuki daerah Kampung Cisindang. Disini kami mulai ragu, karena setiap warga yang kami tanya tidak mengetahui adanya Curug Cilongan. Kami malah diberi informasi mengenai air terjun lainnya. Ujung jalan yang kami lewati ternyata bercabang ke kiri dan ke kanan. Kami belok ke kanan kemudian berhenti untuk bertanya pada warga yang sedang berkumpul di warung. Lagi-lagi warga di warung ini tidak mengetahui adanya Curug Cilongan.

Satu orang bilang bahwa curug yang kami maksud ada di Kampung Bojong (yang ternyata letak kampungnya dekat dengan Curug Epot), ada lagi yang bilang tidak ada Curug Cilongan, tetapi ada curug lainnya masuk dari Kampung Cisindang (sebelum pertigaan tempat kami sekarnag), ada juga ibu-ibu yang bilang ada curug yang lumayan besar dan di aliran Cilongan, hanya saja lupa dimana lokasinya, itu pun hanya hasil tidak sengaja mendengar percakapan pemuda setempat beberapa waktu lalu di warungnya. Akhirnya kami disuruh memutar arah, mengambil jalur ke kiri (dari pertigaan arah kami datang) dan di pangkalan ojek disuruh tanya lagi.

Kami mulai ragu apa benar Curug Cilongan itu ada. Seingat saya, ketika mengecek di Gmaps sebelum hp mati, rasanya tidak ada air terjun di aliran Sungai Cilongan ke arah yang kami maksud. Sudah terlanjur melenceng dari jalur awal yang seharusnya kami tempuh dari Curug Epot ke Curug Gedus, ya sekalian saja dicari keberadaan Curug Cilongan ini. Kami pun kembali menyusuri jalan makadam menuju pangkalan ojek yang dimaksud.

Pangkalan ojek yang dimaksud berada di pertigaan. Jalan yang berada di kanan kami merupakan jalur turunan curam dengan makadam yang jauh lebih jelek dan tidak jauh dari permukiman. Jalur di kiri kami merupakan turunan panjang dengan jalur yang sudah disemen dan kembali melipir kebun. Cukup jarang motor yang mengambil jalur di kiri kami. Mbok pun kembali setelah bertanya pada beberapa pemuda di pangkalan ojek sekaligus warung itu. Menurut mereka, tidak ada air terjun di sekitar sini. Lokasi jembatan gantung pun kembali bias. Jembatan gantung yang kami maksud ternyata ditangkap oleh mereka sebagai jembatan gantung di Kampung Bojong.

Karena sudah hampir sore, kami memutuskan untuk menyerah dan menuju Curug Gedus saja. Kami kembali ke pertigaan awal, kemudian melanjutkan jalan menuju jalur utama Sodonghilir. Kondisi jalan semakin ke arah jalan utama semakin bagus, begitupun dengan rumah-rumahnya. Kami pun tiba di ujung jalur yang merupakan pertemuan dengan jalur utama Cikalong – Sodonghilir. Karena hp masih mati, kami pun salah jalan. Akhirnya kami memutar arah lagi menuju Terminal Sodonghilir sebagai patokan pertama.

Kondisi jalur menuju Terminal Sodonghilir sangat mulus. Tidak lama, kami tiba di Terminal Sodonghilir. Kami berhenti dulu di sebuah warteg. Sembari membungkus makan siang, saya iseng bertanya pada warga mengenai jalur menuju Desa Sepatnunggal. Menurut info dari warga, di persimpangan di depan kami, ambil kanan, kemudian, langsung ambil lagi jalan di kiri. Lalu ikuti terus jalan tersebut.

Nasi sudah dibungkus, namun karena hp masih belum bisa menyala, kami pun hanya berpatokan dari informasi warga barusan. Kami akhirnya berbelok ke kiri, sebuah jalan yang sedikit lebih kecil dari jalan utama dan lengkap dengan gapura. Karena ragu, kami pun bertanya lagi. Ternyata jalur kami sudah benar, hanya saja ternyata jarak ke Desa Sepatnunggal dari lokasi kami masih sekitar 7 Km lagi. Semakin jauh dari persimpangan dengan jalur utama, jalan semakin jelek dan permukiman semakin jarang. Kami bahkan harus beberapa kali berhenti untuk bertanya pada warga jalur menuju Desa Sepatnunggal.

Jalur keluar dari permukiman, kemudian masuk area perkebunan yang sepi. Jalan sesekali makadam, sesekali semen/beton hasil program PNPM yang sudah tidak mulus lagi. Turunan menjadi medan utama yang kami lalui. Akhirnya kami tiba di Desa Sepatnunggal. Saya yakin, karena baru saja kami melewati Kantor Desa Sepatnunggal yang sepi penghuni. Jalan kembali menjadi makadam dan langsung berubah menjadi semen/beton begitu memasuki area permukiman.

Kami sampai bertanya dua kali pada warga disini. Akhirnya didapatlah patokan menuju Curug Wedus. Meskipun sudah dapat info, kami masih beberapa kali bertanya pada warga agar tidak salah-salah jalan berhubung sudah cukup sore. Jalan kembali keluar dari permukiman dan masuk ke area kebun lagi. Begitu jalur sedikit terbuka, akhirnya jalur yang kami lewati kini bersebelahan dengan aliran sungai cukup besar.

Menurut informasi dari teman saya yang sudah pernah ke Curug Wedus, area tersebut sudah dikelola warga. Setidaknya, jika sudah dikelola warga, akan ada papan penunjuk arah atau warga yang berkumpul di dekat jalan masuk menuju Curug Wedus. Benar saja, tidak jauh dari lokasi terakhir kami beertanya pada warga, kami dicegat oleh beberapa warga yang menanyakan apakah kami akan ke Curug Wedus atau sekedar melintas.

Motor kami parkirkan, tepat di seberang warung satu-satunya. Disamping warung terdapat jalan setapak tanah yang sudah dibuatkan undakan-undakan menyerupai tangga menurun terus ke arah aliran sungai. Kami pun berpapasan dengan beberapa pengunjung yang akan naik ke parkiran. Di ujung turunan terdapat jembatan gantung yang sudah rusak.  Hampir semua kayu untuk pijakan sudah menghilang, yang tersisa hanya lubang-lubang berbentuk persegi panjang menganga diatas aliran sungai. Jalur treking pun berbelok ke kanan, tepat di samping tiang penyangga jembatan gantung. Jalur treking kemudian menuju pematang sawah. Kali ini pematang sawahnya jauh lebih bersahabat dibanding dengan jalur treking sesat Curug Epot siang tadi.

Bayangan akan adanya ular di pematang sawah yang kami lewati ini muncul kembali. Jalur pematang sawah ternyata harus berakhir di pinggir sungai. Ternyata posisi kami saat ini berada di bagian atas Curug Wedus. Ada dua jalur, tetap mengikuti pematang sawah kemudian turunnya melipir jurang dan turun dari air terjunnya langsung. Sekedar informasi, batuan dinding Curug Wedus paling kanan (bila membelakangi air terjun) batuannya kokoh, tidak licin dan membentuk seperti tangga, sehingga pengunjung dapat turun langsung.

Pilihan kedua adalah menyeberangi aliran sungai menuju saluran irigasi di seberang kami. Kami akhirnya memilih untuk menyeberangi sungai ke arah alran irigasi. Cukup mudah menyeberangi aliran sungai ini karena batuan dasar sungainya tidak licin dan masih banyak yang datar. Aliran air pun tidak terlalu deras dan dangkal. Selama kami menyeberang, jalur yang kami lalui paling dalam hanya sebatas mata kaki. Kami pun sampai di seberang dan naik ke jalur irigasi. Baru saja mulai berjalan menyusuri saluran irigasi, tepat di dalam saluran irigasi nampak seekor ular berwarna terang (kepala berwarna merah dan badan berwarna orange) sedang berenang melawan arus saluran irigasi menuju sungai.

Saluran irigasi di depan kami ternyata dibangun tepat di pinggir jurang sempit. Bisa dibilang, setengan dari bagian saluran irigasi ini ‘menggantung’ di atas jurang cukup dalam. Kami harus berjalan melipir saluran irigasi. Di sisi kiri kami batuan tebing yang kadang menutupi sebagian jalur irigasi, jadi kami harus berjalan sedikit menyamping. Di sisi kanan kami jurang cukup dalam. Dasar jurang merupakan bagian tepi dari aliran sungai dan cukup tertutup semak belukar dan tanaman bambu. Sedikit pusing rasanya melintas disini. Kami turun ke area Curug Wedus dari saluran irigasi melalui jalan setapak tanah. Jalan setapak ini langsung muncul di samping warung-warung. Curug Wedus langsung nampak begitu tiba di warung.

Saya langsung menuju warung untuk mengecas hp untuk mengecek jalur pulang. Sambil menunggu hp bisa dinyalakan, saya pun bertanya pada ibu penjaga warung. Menurut salah satu dari ibu penjaga warung ini, jalur tembusan ke Taraju tampak tidak direkomendasikan. Menurut ibu ini, nanti jalur akan muncul di area kebun teh. Sedikit rancu, apakah kebun teh di Taraju atau kebun teh yang dari Bojonggambir. Karena jika tembus dari kebun teh yang Bojonggambir, jalur akan berupa makadam. Dapat dipastikan kami akan jalan malam, jadi jalur Taraju tidak direkomendasikan. Jalur lainnya yang disarankan ibu ini adalah jalur menuju Pamijahan lalu Karangnunggal. Jalur ini yang teraman meskipun sedikit memutar untuk saya.

Lalu ada lagi jalur Parungponteng, namun tidak saya masukan rekomendasi karena saya belum pernah ke Parungponteng. Akhirnya sedikit terpaksa, jalur pulang yang nanti kami ambil sepertinya memutar ke Karangnunggal. Sebenarnya saya masih punya satu jalur lagi yang langsung tembus di Salawu, hanya saja belum bisa dicek karena hp masih mati total. Setelah hp akhirnya berhasil nyala, saya langsung cek jalur yang saya maksud. Ternyata jalur tersebut merupakan jalur Sodonghilir – Cikalong – Taraju – Puspahiang. Jalur yang sebenarnya saya trek ketika merencanakan mencari Curug Epot dan Curug Wedus. Setelah mantap dengan pilihan jalur pulang, saya pun tidak melewatkan untuk mengambil foto-foto Curug Wedus.

Air terjun di sisi kanan (bila menghadap air terjun) memiliki kolam yang cukup luas dan dalam, hanya saja airnya berwarna cokelat karena masih musim hujan. Air terjun di sisi kiri lebih untuk bermain air dan memanjat dinding air terjun karena kolamnya sangat dangkal. Jalur masuk menuju Curug Wedus ada tiga. Pertama dari lokasi parkiran kami, kedua dari saluran irigasi yang berlawanan arah dari saluran irigasi yang kami lewati dan merupakan jalur para warga yang berjualan di Curug Wedus.

Ketiga adalah area parkir utama Curug Wedus yang kali ini ditutup karena sedang digunakan suatu acara. Kami kembali ke parkiran sekitar pukul 17.30 WIB mengingat jalur treking kami akan cukup merepotkan jika sudah gelap. Untuk jalur pulang, kami memang sengaja jalan malam agar masuk Bandungnya tidak terjebak macet.

Begitu Adzan Magrib berkumandang, kami tiba di warung parkiran. Sudah tidak ada siapapun kecuali para pemilik warung dan kami bertiga. Sambil beristirahat dan mengganti sepatu yang sedari siang sudah basah, saya pun menanyakan jalur Cikalong. Bapak pemilik warung pun ternyata merekomendasian jalur Cikalong karena sudah full aspal hingga Taraju. Selain itu, jalur Cikalong juga termasuk jalur yang lebih aman dibanding jalur ke Taraju.

Pukul 18.30 WIB kami pun jalan pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, mungkin karena kami sudah sedikit hafal jalur. Kami tiba di alun-alun sekitar pukul 19.00 WIB. Kami istirahat sejenak sambil kembali mempersiapkan trek jalur pulang yang akan kami lewati. Tidak ketinggalan isi bahan bakar.

Kurang lebih satu jam di jalur Cikalong, jalan akhirnya menikung tajam diikuti turunan panjang dan curam. Ah, ini jalur yang sudah tidak asing bagi saya. Kami sudah masuk jalur utama Salawu – Puspahiang – Taraju. Artinya, kami akan segera tiba di Salawu. Jalur ini menjelang malam akan sedikit ramai oleh truk pengangkut kayu/pasir/bambu yang memang kebanyakan melintas malam hari. Selain truk, sepeda motor dan mobil pribadi menuju Taraju pun cukup ramai. Mungkin karena ini malam minggu.

Kami bertemu kembali jalur masuk kami menuju Curug Epot di Desa Luyubakti, Kec. Puspahiang. Jembatan perbatasan kecamatan Puspahiang dengan Kecamatan Salawu pun akhirnya kami lewati. Tepat pukul 20.30 WIB kami sudah tiba di pertigaan Warungpeuteuy (pertigaan antara Salawu – Singaparna – Puspahiang). Kami langsung berhenti di sebuah warung nasi goreng. Sambil makan malam, sambil memasak kopi tepat di halaman kantor pemerintahan yang sudah tutup. Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan non stop menuju Kota Garut. Kami tiba di Kota Garut sekitar pukul 21.30 WIB. Awalnya sempat terpikir untuk mengabil jalur Kamojang, karena jalur Garut – Nagreg malam minggu biasanya masih macet.

Tapi, akhirnya kami urungkan dan mengambil jalur Garut – Nagreg. Benar saja, dari persimpangan dengan Kawasan Wisata Cipanas hingga masuk Kecamatan Kadungora, jalanan masih sangat ramai. Hanya saja tidak sampai macet total seperti biasanya. Arus kendaraan hingga Cinunuk masih lumayan ramai, tapi sesuai prediksi, kami tidak terkena macet di sepanjang jalur masuk menuju Bandung. Saya tiba kembali di rumah tepat pukul 23.00 WIB. Tepat sesuai perhitungan awal. [Dya Iganov/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    900
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar Pembaca