Jelajah Panorama Alam Tanah Toba-Karo

Jelajah Panorama Alam Tanah Toba-Karo

posted in: Experience | 0

Lelah sudah pasti, namun Sipiso-Piso punya daya tarik tersendiri bagi kami untuk berupaya sekuat tenaga supaya bisa sampai di titik terendahnya. Beberapa langkah sebelum kami sampai di kubangan air yang beralaskan bebatuan, gemercik air disertai kencangnya angin menjadi salah satu sensasi yang berbeda. Ingin rasanya berlama-lama di tempat ini.

“Kapan kita kesana lagi yah?”

“Belum puas rasanya kemaren kita disana”

“ Iyah ya . . . “

“Kapan ya ?”

Obrolan ini mengusik rutinitas harianku, ketika saya kembali berjumpa dengan sahabat-sahabat traveler. Bagaimana tidak? Perjalanan lima hari yang telah kami lalui masih membekas dan kembali terlintas di benakku. Tentang yang telah kami lalui, tentang seabreg cerita yang menyertai perjalanan, tentang adat, budaya, kuliner, panorama alam, dan keramahan penduduk lokal yang kami jumpai.

Kala itu, kabut asap yang menyelimuti hampir semua wilayah di kepulauan Sumatera dan sekitarnya seolah enggan beranjak pergi. Langit biru yang dinanti pun enggan menampakan wujudnya. Imbasnya beberapa rute penerbangan menuju ke Bandar Udara Kulanamo Kota Medan mengalami keterlambatan. Waktu yang telah kami sepakati untuk bertemu di pelataran bandara molor lima sampai enam jam lamanya, karena kami harus menunggu lagi salah satu sahabat dari Bandung. Alhasil kami akhirnya bisa berkumpul semua pada pukul 21:30 WIB.

Perjalanan kali ini, saya bersama lima sahabat lainnya dengan latar belakang suku dan tempat tinggal yang berbeda. Flores, Jawa, Sunda, Batak dan Kalimantan seakan  mewakili beberapa suku di Indonesia. Kami sebenarnya bekerja di tempat yang sama dan saat itu sedang dalam masa cuti kerja, maka kami sepakat menjelajahi Tanah Batak bersama-sama, sembari menghadiri pernikahan Adat Batak Karo dari salah seorang sahabat kami.

Malam kian beranjak, ketika kami meninggalkan pelataran parkir Bandara Kualanamo. Rute perjalanan yang sebelumnya telah kami rencanakan perlahan kami lewati. Tujuan awal adalah Kota Pematangsiantar, karena kami merencanakan untuk menjelajahi Tanah Batak dari sisi timur. Di sini kami sempatkan makan malam sebelum melanjutkan perjalanan karena perut mulai keroncongan.

Deru kendaraan menyatu dengan butir-butir hujan yang mulai membasahi jalanan yang kami lewati. Jalur timur Sumatra Utara malam itu padat dengan kendaraan yang melintas, di beberapa tempat terjadi kemacetan karena penyempitan ruas jalan. Tiga jam perjalanan berlalu, kami sampai di Kota Pematangsiantar. Di sini kami menginap di rumah salah satu satu rekan kerja. Perjalanan seharian sangat menguras tenaga membuat kami kelelahan, alhasil sesaat kemudian kami terlelap dalam tidur sembari mengumpulkan tenaga untuk perjalanan selanjutnya.

Hari Kedua Jelajah Tanah Toba-Karo

Masih subuh benar, dari luar rumah terlihat langit masih gelap. Hawa dingin masih terasa ketika kami kembali melanjutkan perjalanan.

“Kita harus berangkat pagi, supaya bisa dapat kapal pertama ke Pulau Samosir “, kata sopir travel yang menemani perjanan kami.

Beberapa saat kemudian jalanan yang kami lewati mulai terlihat jelas. Ruas jalan yang menyempit dan berkelok menyertai perjalanan yang mengantar kami ke Pelabuhan Ajibata. Sama seperti sehari sebelumnya, langit masih didominasi kabut. Keindahan Danau Toba yang menjadi primadona dan sekaligus tujuan utama petualangan kami kala itu, tenggelam bersama balutan kabut yang menghiasi hampir semua wilayah. Hal itu tidak menyurutkan langkah kami untuk terus berpetualang demi menjelajahi Tanah Batak ini.

Tanah Batak pada dasarnya dibagi lagi menjadi lima suku besar. Di antaranya Toba, Karo, Mandailing, Pak-Pak, Simalungun. Tapi dengan keterbatasan waktu, kami hanya menjelajahi beberapa tempat wisata saja di Tanah Toba dan Karo. Dengan rute perjalanan dimulai dari Kota Medan – Pematangsiantar – Prapat – Pulau Samosir – Pangururan – Sidihongi – Tele – Parbakalan – Sidikalang – Tongging – Merek – Kabanjahe – Berastagi dan kembali lagi ke Kota Medan.

Ternyata kami terlampau pagi sampai disini. Kami harus menunggu hampir dua jam lamanya, dari jam keberangkatan resmi kapal feri. Jedawaktu tersebut kami gunakan untuk mencoba kuliner lokal di salah satu warung yang berjejer di depan pelataran pelabuhan.

Mie Gomak, salah satu kuliner lokal di tanah Batak Toba ini kami cicipi bersama. Tekstur mie yang ukurannya lebih besar dari mie normal punya daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang mencobanya.

Setelah itu kami segera masuk ke dalam kapal feri untuk membawa kami menyeberang menuju Pulau Samosir. Pagi nan damai. Bersama penduduk lokal, kapal feri ini membawa cukup banyak kendaraan dan penumpang lainnya. Segelas kopi Medan yang tersohor menemani perjalanan kami di atas kapal feri, sembari melihat lebih dekat kehidupan masyarakat di pesisir Danau Toba. Alam yang indah dan masih terjaga keasliannya.

Tanpa terasa kapal feri yang kami tumpangi perlahan merapat di Pelabuhan Tomok, salah satu pintu masuk ke Pulau Samosir. Tidak banyak terlihat aktivitas masyarakat di sini. Perlahan meninggalkan pelabuhan, tujuan awal kami adalah menuju Hotel Caroline, salah satu penginapan di Pulau Samosir. Setelah check-in dan menyimpan barang bawaan, kami melanjutkan petualangan menjelajahi tempat-tempat wisata di pulau ini. Perlu diketahui, di sini terdapat banyak sekali tempat wisata yang layak untuk disinggahi. Karena keterbatasan waktu, kami akhirnya memilih beberapa tempat wisata saja yang mudah dijangkau, yaitu Patung Sigale-Gale, Makam Raja Batak, Museum Tomok, serta menyempatkan bermain banana boat di Danau Toba.

Hari Ketiga Jelajah Tanah Toba-Karo

Ketika matahari masih bersembunyi di balik kabut, kami melanjutkan kembali perjalanan. Sempat singgah sebentar di Pantai Pasir Putih Parbaba, kemudian dilanjutkan perjalanan menyisir perkampungan di Pulau Samosir. Nampak di kiri-kanan jalan kuburan-kuburan yang dibuat sedemikian rupa berbentuk Rumah Adat Batak Toba menghiasi hampir di sepanjang perjalanan. Kami juga disuguhi dengan panorama alam pedesaan nan elok memanjakan mata. Kabut tipis kembali menyertai perjalanan ketika kendaraan yang kami tumpangi melintas di jalanan berkelok. Kali ini kami akan mendatangi tempat wisata “Danau Di Atas Danau” di wilayah Sidihoni. Tempat ini sering digunakan sebagai area camping ground bagi para pecinta alam karena lokasinya berada di ketinggian dengan alam yang asri.

Kembali menyisir pesisir Danau Toba, kami melanjutkan perjalanan ke Tele. Di sini, jika alam sedang bersahabat, kita bisa melihat dengan jelas keseluruhan panorama alam Danau Toba dan sekitarnya. Namun sayang, ketika kami sampai di tempat ini, kabut masih setia menyelimuti cakrawala. Sedikit kecewa, tapi tak apalah.

Beranjak dari Tele, kami kembali dimanjakan dengan panorama alam yang indah. Jalanan berkelok dan terus menanjak membawa kami ke salah satu Kota Kabupaten di Tanah Batak, Sidikalang. Kota kecil ini berada di ketinggian, disertai hawa dingin khas dataran tinggi. Kami pun mampir di salah satu tempat wisata favorit di kota kecil ini, yaitu Taman Wisata Iman. Tempat ini berdiri pada satu area yang cukup luas, sangat cocok untuk menghabiskan waktu ketika mengisi liburan. Lebih utama lagi, tempat ini merupakan taman berdoa bagi para pengunjung yang datang.

Malam itu di Kota Sidikalang kami menginap di rumah salah satu sahabat kami yang ikut dalam petualangan ini. Udara dingin dan lelah seharian di perjalanan membuat kami kembali terlelap dalam tidur yang panjang. Maklum, hari itu banyak tempat yang kami jelajahi sehinggga tenaga cukup banyak terkuras.

Hari Keempat Jelajah Tanah Toba-Karo

Pagi itu landscape Danau Toba masih diselimuti kabut, kendaraan yang kami tumpangi kembali melintasi perkampungan penduduk. Jalan sempit dan bukit savana menjadi salah satu pemandangan yang tampak di depan mata. Setelah mampir sebentar di Museum Tugu Silalahi dan berfoto bersama, kami melanjutkan perjalanan dengan melintasi jalanan berkelok dan menanjak. Di sini panorama alam sudah mulai berubah, deretan pohon pinus yang menghiasi perbukitan ditambah balutan kabut tipis mengantarkan kami hingga ke titik tertinggi di tempat ini.

Beberapa saat kemudian kami sampai juga di pelataran parkir wisata alam Air Terjun Sipiso-Piso. Walaupun kabut masih menyelimuti hampir seantero tempat wisata ini, itu tidak menyurutkan niat kami untuk menjajal seribu anak tangga berkelok dan melipir di antara tebing-tebing nan terjal. Lelah sudah pasti, namun Sipiso-Piso punya daya tarik tersendiri bagi kami untuk berupaya sekuat tenaga supaya bisa sampai di titik terendahnya. Beberapa langkah sebelum kami sampai di kubangan air yang beralaskan bebatuan, gemercik air disertai kencangnya angin menjadi salah satu sensasi yang berbeda. Ingin rasanya berlama-lama di tempat ini.

Lelah menapaki seribu anak tangga, apalagi dengan kondisi badan sudah basah kuyup, membawa kami kembali ke pelataran parkir. Di tempat ini juga terdapat warung-warung berjejer yang menawarkan cinderamata khas Tanah Batak. Tak mau ketinggalan, kami pun membeli beberpa cinderamata yang cukup terjangkau harganya. Lumayan, untuk oleh-oleh selama perjalanan.

Sekembalinya dari Sipiso-Piso kami kembali melintasi perbukitan dengan kelokan nan terjal. Perut mulai keroncongan setelah perjalanan melelahkan sebelumnya, akhirnya kami makan di salah satu warung kecil yang masih berada di pesisir Danau Toba. Dua ekor ikan yang cukup besar ditaburi andaliman, bumbu masakan khas Batak Karo, sesaat kemudian ludes tak tersisa.

Kami kembali melanjutkan perjalanan dan masuk di wilayah Tanah Batak Karo. Melintasi Merek, Kabanjahe dan Berastagi. Rencana awal untuk melihat Gunung Sinabung dari kejauhan pun sirna, karena langit tanah Batak kala itu masih diselimuti kabut. Yaah sudahlah, mungkin lain kali kalau ada waktu dan kessempatan bisa kesini lagi.

Setelah melewati Berastagi, langit mulai gelap. Gerimis perlahan mulai turun membasahi jalan. Perjalanan kami terhenti sejenak di Pemandian Air Panas Sidebu-Debu. Lelah selama perjalanan membuat kami seakan enggan beranjak dari hangatnya kolam pemandian ini. Bau belerang cukup menyengat karena sumber air kolam pemandian ini langsung dialiri dari kaki Gunung  Sinabung.

Beranjak dari Sidebu-Debu kami mampir sejenak di salah satu puncak yang merupakan tempat istirahat, sembari menikmati jagung bakar dan minuman hangat. Perjalanan kembali ke Kota Medan malam itu ditemani derai hujan.

Hampir tengah malam, kami sampai di Kota Medan, kemudian menginap di salah satu penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya. Lagi lagi lelah selama perjalanan, membuat kami terbawa dalam tidur masing-masing.

Hari Kelima Jelajah Tanah Toba-Karo

Hari ini adalah akhir dari petualangan menjelajahi Tanah Batak. Kami menghadiri pesta pernikahan adat Karo salah seorang sahabat, sekaligus rekan kerja kami yang melangsungkan acara pernikahan di Kota Medan. Ini merupakan pesta pernikahan terjauh yang pernah saya datangi. Bayangkan saja, beranjak dari Kalimantan Timur kemudian mampir di Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Medan.

Seusai menghadiri pesta pernikahan, sebelum berpisah kami sempat mengunjungi beberapa tempat wisata di Kota Medan. Di antaranya Istana Maimun Medan, Masjid Raya Medan dan Gereja Katholik Valengkani.

#HoraHalak Batak

#NjuahJuah

#MejuahJuah

[Emanuel Ndelu Wele/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah
Catatan : Artikel ini telah dipublikasikan di Travelnatic Magazine volume 16

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    567
    Shares
Follow Emanuel Ndelu Wele:

Karyawan di perusahaan swasta. Suka naik gunung, free dive, penggiat alam bebas, traveler, dan penjelajah hutan - Ende, Flores. Kontak : 08125323546 Email : emanuelnw.enw@gmail.com

Komentar Pembaca