Journal 002 – Hujan yang Setia Menemani Pagi

Journal 002 – Hujan yang Setia Menemani Pagi

posted in: Experience | 0

Pagi, tanggal 21 Februari 2017, di Jogjakarta awan mendung disertai gerimis kecil meratakan seluruh penampakan langit dengan warna putih ke-abu-abua-n. Sampai jam 9 pagi, tak tampak tanda gerimis akan berhenti. Satu celah pun tak tampak akan terbuka di langit Jogjakarta bagian selatan. Bahkan langit dibagian utara terlihat berwarna lebih gelap lagi.

Bulir bulir hujan yang menempel di pagar. Dok. Nurul Amin

Masih ada beberapa barang yang perlu saya beli sebelum berangkat. Daripada menunggu dalam ketidakpastian, sekitar jam 10 siang, saya putuskan untuk pergi ke toko Progo, membeli keperluan tersebut, ditengah guyuran gerimis yang tampak mesra menemani pagi di Jogja.

Tidak semua yang saya cari ada di Toko Progo di jalan Mataram itu. Sebagian dibeli di Jogjatronik, sebagian lagi di jalan Menteri Supeno. Jam 11 saya kembali dan cuaca sudah berangsur menjadi lebih cerah. Meski begitu, ada satu masalah lagi yang dapat muncul jika cuaca tidak kunjung menjadi panas : beberapa pakaian belum kering.

Akhirnya, tanpa menunggu sore, karena takut terburu-buru saat packing, saya putuskan mengangkat jemuran yang belum kering, memasukkannya ke dalam plastik dan berniat segera melakukan packaging. Ya, saya perlu sebuah kotak besar untuk menampung semuanya.

Toko Pamella di Jalan Glagahsari jadi toko perlengkapan yang terakhir saya kunjungi sebelum packaging. Disana ada kotak bekas dan berbagai perlengkapan rumahtangga. Disana juga saya membeli roti. Menurut pengalaman terakhir saya terbang dengan sekali transit, mungkin saya butuh makanan saat di jalan. Dan akan sangat mahal jika saya membelinya di bandara, sementara budget saya terbatas dan tidak bisa dihamburkan untuk membeli makanan yang mahal. Jadi membeli beberapa roti mungkin adalah pilihan realistis saya.

Well, jam 2 siang, packaging sudah selesai. Dan sialnya, setelah packading tiba-tiba matahari muncul dengan sombongnya. Panas cukup untuk mengeringkan pakaian saya yang masih lembab. Tapi semuanya sudah berada di dalam kotak dan saya malas membongkarnya. Rencana terbaiknya : ketika tiba di Manokwari saya akan segera menjemur pakaian lembab tersebut.

Jam 3 sore, sebenarnya saya sudah sangat santai. Tinggal 2 pekerjaan lagi sebelum saya berangkat. Potong rambut dan membeli sesuatu. Namun tidak segera saya lakukan karena saya terpikir untuk membuat sebuah notebook kecil. Kebiasaan ribet saya mengharuskan saya membuat notebook itu sendiri, dan dari kertas yang ada di kamar saya. Jadilah saya segera melakukan keribetan yang membuang waktu tersebut.

Sekitar 25 lembar kertas saya ambil dari pembungkusnya, lalu penggaris dan pisau pemotong. Entah mengapa, saya seperti dikejar waktu dan memang saya menghabiskan banyak waktu karena membuat buku kecil ini. Mengingat saya harus potong rambut, dan mungkin menghabiskan waktu 30 menit, mandi 15 menit, dan mencari sesuatu, yang estimasi waktunya tergantung seberapa jauh saya dapat menemukan toko yang menjual sesuatu tersebut.

Setelah buku kecil selesai dan waktu yang dihabiskan untuk membuatnya cukup membuat pikiran saya semakin seakan-akan dikerja waktu. Ternyata tempat membeli sesuatu yang saya cari cukup dekat. Dari sana, saya segera ke tempat potong rambut. Sialnya pemotong rambut sedang keluar dan disini saya agak sentimentil. Saya tidak mau menunggu. Jika lebih dari 15 menit, saya tidak akan potong rambut. Akhirnya saya mengalah untuk menunggu 5 menit dengan tetap berdiri di depan cashier. Potong rambut menghabiskan waktu 10 menit, lalu saya segera kembali dan mandi.

Jam 6.15 saya berangkat ke Bandara. Dan ternyata setelah check in, pihak bandara mengumumkan bahwa penerbangan SJ 712 ke Makassar delay selama 45 menit. Ah! Saya kembali menunggu dan harus mencari suatu kesibukan untuk menghabiskan waktu. Dan iseng-iseng memotret apa yang ada di sekitar ruang tunggu cukup mengasyikkan untuk membuang waktu. [to be continue/Nurul Amin]

#TravelnaticJourney #TravelnaticJournal #TravelnaticGoesToWestPapua

Sebarkan :
  • 345
  • 337
  • 325
  •  
  •  
  •  
    1K
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?