Journal 003 – Roasted Coffee, Kawan untuk Mengisi Waktu Perjalanan

Journal 003 – Roasted Coffee, Kawan untuk Mengisi Waktu Perjalanan

posted in: Experience | 0

Beberapa hari sebelum berangkat, saya sudah membayangkan, akan banyak waktu kosong ketika saya di Manokwari. Menulis jurnal perjalanan adalah cara yang paling efektif untuk mengisi waktu kosong ini. Pertanyaannya, apa yang akan menemani saya saat menulis?
Coffee. Inilah jawabannya.

Perlengkapan untuk membuat segelas kopi. Dok Buruk Amin

Namun kopi seperti apa? Sachet? Kata orang, kopi sachet bukan kopi, tapi sirup. Dan minum kopi sachet yang terlalu manis bisa membuat saya sakit perut. Feel perjalanan saya mungkin akan berkurang jika saya sengaja bawa kopi sachet. Lagipula, untuk kopi sachet, bukankah tak perlu persiapan?

Saya putuskan untuk membeli roasted coffee. Karena jika saya beli green bean, dimana saya akan melakukan roasting saat di perjalanan? Meskipun yang saya beli hanya 250 gram dan tampaknya itu tak cukup untuk persediaan sebulan. Mengingat satu hari saya bisa minum 3 gelas kopi. Dan menurut takaran yang saya baca di internet, satu gelas yang biasa saya minum perlu 15 gram kopi untuk membuatnya. Tapi tak apa, setidaknya saya bisa menghemat selama sebulan itu, hanya saat benar-benar pengen minum kopi, saya baru akan membuatnya.

Karena saya memilih roasted coffee, maka saya perlu peralatan penunjang. Saya perlu grinder. Manual grinder adalah pilihan. Jika saya menggunakan elektric grinder, bisa saja tidak dapat digunakan jika saya sedang berada ditempat yang tidak ada listrik. Ini antisipasi seandainya perjalanan saya di Papua Barat mungkin memberi kesempatan saya untuk pergi ke tempat yang belum terjangkau listrik, misalnya pulau atau wilayah pegunungan. Mungkin saja kan.

Hari minggu tanggal 19 Februari, saya segera mencari tahu berbagai merek manual grinder di otten coffee. Ada banyak sekali merk dengan harga yang bervariasi. Sayangnya, pemesanan di otten coffee harus dilakukan secara online dan mungkin butuh satu dua hari baru sampai ke saya. Sementara hari selasa saya sudah berangkat. Tidak terkejar.

Berbekal uang dari mengumpulkan recehan, akhirnya saya membeli manual grinder Hario. Harganya cukup miring. Dan karena yang punya sedang nge-bar di salah satu warung kopi yang cukup familiar di Jogja, dan dia jarang memakai grinder itu, maka dia pilih untuk menjualnya. Kebetulan saya butuh, dan harganya cocok.

Kami ketemuan di depat Indomaret Jombor. Beruntungnya, si pemilik grinder ternyata membawa satu coffee dripper dan satu pak coffee filter untuk ditawarkan pada saya dengan menambah sedikit saja ongkos beli. Katanya sayang jika tidak digunakan dan masih baru. Saya setuju menambah sedikit ongkos beli karena grinder masih bagus, coffee dripper malah belum digunakan, dan coffee filter isinya masih banyak, dan terakhir, si pemilik semuanya ini orangnya sangat friendly. Lagipula, saya membutuhkan semua yang dia tawarkan saat di perjalanan nanti.

Penunjang lainnya yang saya butuhkan untuk membuat kopi, yaitu gelas dan semacam teko untuk merebus air, dan tentu saja kompor. Untuk gelas, awalnya saya berpikir untuk membeli gelas kecil bertelinga berbahan stainless steel yang cukup tebal. Namun setelah saya cek harganya di Progo dan tidak bersahabat dengan kantong, akhirnya saya pilih gelas kaca ukuran kecil yang harganya 30 kali lipat lebih murah. Masalah ketahanan dan efisiensi saya akan atasi dengan penggunaan yang hati-hati. Saya perlu gelas yang kecil untuk menghemat roasted coffee yang saya beli sehingga tidak perlu membuat kopi dengan 15 gram, tapi cukup setengahnya. Adil kan?

Imbasnya, saya akan memaksimalkan teko untuk merebus air. Teko ini, berhubung saya dalam perjalanan, akan saya gunakan untuk berbagai keperluan. Selain untuk merebus air, saya mungkin akan menggunakannya untuk memakan semacam mie instan, atau roti campur susu. Atau bahkan untuk memasak nasi jika keadaan darurat. Jadi saya butuh teko yang bisa dibakar dalam suhu bervariasi. Pilihannya jatuh pada gelas stainless steel dengan diameter 9 cm yang memiliki penutup, dan bahannya cukup tebal. Ada banyak merk di kelas 9 cm ini. Dan pilihan saya jatuh pada salah satu merk yang harganya cukup cocok dikantong sementara perbandingan harga dengan merk lain jauh dibawahnya, dan bahan serta teknologi pembuatannya tampak sama saja.

Untuk memilih teko yang akan dibakar ini, saya juga memperhatikan bagaimana stailess steel ini di las dan bagian penyambungannya disatukan. Ini penting menurut saya karena saya akan menggunakannya dalam waktu yang lama.
Terakhir adalah kompor. Saya sempat menanyakan apakah di Manokwari cukup mudah menemukan toko besi yang menjual spiritus? Jika mudah, saya tidak perlu membawa kompor portabel. Namun berhubung perkara kompor ini mungkin sangat berpengaruh pada hal masak-memasak, jadi saya tetap membawa kompor portabel dengan bahan bakar gas butana.

Sedangkan jika ternyata di Manokwari spiritus cukup mudah didapatkan, saya dapat membuat kompor spiritus saat sudah di Manokwari.
Setelah saya pikir, menggunakan kompor portabel berbahan bakar gas ini barangkali lebih mudah, efisien, dan aman. Meskipun bau gas-nya tidak saya sukai. Jadi akhirnya saya cukup yakin menggunakan kompor berbahan bakar gas. Saya pikir, biarlah baunya tidak enak. Lagipula saya bukan penikmat kopi yang terlalu fanatik sehingga bau gas yang sedikit saja dapat membuat saya tidak jadi minum kopi. Dan kompor berbahan bakar spiritus dapat saya buat kapan-kapan jika keadaan darurat dan memungkinkan. Bukankah membuatnya cukup mudah?

Begitulah, akhirnya beberapa kali saya telah membuat kopi dengan peralatan ini. Cukup menyenangkan mengingat setiap gelas kopi yang saya buat, saya harus memutar engkol grinder hingga sedikit berkeringat. Dan saya bisa menikmati kopi setelah itu. [to be continue/Nurul Amin]

#TravelnaticJournal #TravelnaticJourney #TravelnaticGoesToPapua

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1K
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar Pembaca