Kado Akhir Tahun : Berlibur ke Pesisir Selatan Sukabumi

Dini hari empat pekan yang lalu, tepatnya Rabu, 22 Desember 2021. Aku dan rombongan berangkat menuju Sukabumi Selatan pukul 03.00 WIB. Kami hendak menuju sebuah kawasan bernama Ujung Genteng, setidaknya di sana masih terdapat satu pantai yang menurut informasi yang ku dapat dari pak Bayu, lokasinya akan lebih intimate. Didukung waktu yang kami pilih adalah bukan ketika hari libur. Rombongan kami berjumlah 23 orang. Aku, pak Bayu, pak Danang dan istri beserta ketiga anaknya; Hania, Haura dan Haifa. Ditambah lagi mas Lukman, mas Sidiq, mas Angga, Annisa, Ainu, Cici, Darda, Danu, Dita, Elsa, Ihza, Iqro’ , Mega, Nisfa, Udin dan Ummu. 

Sedikit potret hutan dan mercusuar dengan ketinggian 40 m

Hari itu prediksi cuaca akan cerah berawan pada siang harinya, kami serombongan menaiki empat mobil dan direncanakan tiba di kawasan Ujunggenteng pada pukul 07.00 WIB, karena perkiraan waktu tempuh perjalanan akan membutuhkan tiga sampai empat jam. Waktu perjalanan dimulai sedini mungkin supaya kami bisa menikmati suasana pagi di pantai, sekaligus menghindari kepadatan lalu lintas menuju ke lokasi.

Titik awal keberangkatan kami adalah terminal lama Bojong Lopang, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi. 79 Kilometer dari lokasi yang ingin kami datangi, kendati begitu, jalan yang kami lalui juga memiliki tantangan tersendiri. Jalan alternatif untuk memudahkan kami mencapai kawasan Surade itu melimpah lubang dan jalanan berkeloknya, tapi, bonusnya adalah kami bisa menikmati suasana pedesaan, hamparan sawah dan bukit yang melintang.

Saat tiba waktu subuh, kami singgah sejenak di sebuah masjid untuk membuang hajat dan mendirikan shalat, 20 menit berselang mobil yang kami tumpangi sudah kembali melesat di jalanan.

Sebuah bangunan lama yang menjorok ke laut. Sayangnya kondisinya sudah rusak di banyak bagian.

**

Tahun 2021 hampir usai, hari-hari terakhir yang masih penuh misteri sedikit terabaikan oleh ketenangan air dan pasir putih yang membentuk lukisan elok alami, bekas terpaan ombak laut. Kami usai melewati hutan pesisir yang menjadi gerbang utama untuk menuju pantai ini, ya, kami sudah berada di kawasan Ujunggenteng. Pak Bayu memilih pantai Tenda Biru sebagai tempat kami menikmati pagi. Suasana begitu sepi, seakan pantai ini hanya milik kami serombongan, terdapat beberapa kapal nelayan yang tengah berlabuh. Pagi itu mentari muncul lebih lama dari biasanya, satu persatu dari kami mulai menyebar ke berbagai sisi dan memandang ke segala penjuru arah. Air bening, biota laut yang masih terjaga adalah sepaket obat untuk aktivitas yang padat setahun ini.

Pantai ini, konon, penamaannya disebabkan oleh gubuk-gubuk yang dibangun oleh sekelompok orang yang hendak mencari harta karun. Harta karun sisa-sisa penjajahan Belanda yang dipendam di dalam pasir-pasir pantai, gubuk-gubuk itu ditutupi oleh kain dan terpal berwarna biru, sehingga di kemudian hari pantai ini di kenal dengan nama pantai Tenda Biru.

Inilah potret tenda biru yang ada di pantai Tenda Biru.

Pantai Tenda Biru ini akrab disebut oleh masyarakat sebagai ujungnya Ujunggenteng. Saat kami memasuki kawasan Ujunggenteng, kami harus mencapai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) baru kemudian akan masuk ke sebuah hutan yang di dalamnya terdapat bekas bangunan zaman penjajahan Belanda serta beragam satwa liar yang hidup, seperti burung dan biawak. Untuk biawak di sini jumlahnya lumayan banyak dan tidak canggung dengan kebradaan manusia, jadi, kami musti lebih waspada ketika melintas, membutuhkan waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk mencapai bibir pantai.

Pesisir selatan yang sejuk, adem dan sepi. Sebuah oase bagi fikiran yang letih bertarung dengan berbagai keadaan.

Aku yang menyaksikan langsung kedamaian pantai ini lekas menyisir pinggiran pantai dan mengarah ke sisi barat, di dalam sebuah rimbunan hutan terdapat mercusuar setinggi 40 meter. Dari informasi yang ku dapat, mercusuar itu di bangun pada tahun 2003. Ada satu keramaian yang menarik untuk ku dekati, yakni burung-burung yang bergerombol di beberapa titik daratan, pagi itu air belum pasang dan mungkin burung-burung ini mendapatkan tempat untuk memenuhi kebutuhan perutnya, mereka berkumpul di sana. Selain diriku, orang-orang cenderung berkumpul di satu titik dan menyiapkan tempat untuk makan bersama. Kami membawa bekal nasi kuning, oseng tempe dan telur bumbu balado. Aku bergegas kembali ke tempat yang lain berkumpul dan bergabung dengan mereka.

            Sajian nikmat berupa nasi kuning kami lahap bersama, di tepi pantai bermandikan mentari yang kian meninggi. Pak Bayu belum turut serta menikmati sarapan pagi itu, di keluarkannya sebuah alat dari tas, lalu diterbangkannya menjauh dari kami, semakin lama semakin meninggi. Alat itu adalah alat tempur yang wajib dibawanya setiap berwisata.

Drone milik pak Bayu dan beberapa perahu yang bersandar.

Selain pasir putih dan air yang jernih, kawasan ini bila dilihat dengan drone nampak begitu asri dan hidup, kawasan hutan yang cukup lebat dan karang-karang yang terhampar menambah kesan keasrian dari pantai ini. Pantai yang indah ini bukan hanya menyimpan harta karun yang masih menyisakan teka-teki bagi pengunjung, juga misteri tentang sejarah terbentuknya pesisir ini.

Pariwisata di sini sepertinya tumbuh begitu pesat, informasinya, selain ada beberapa pantai lain di sekitar pantai tenda biru, di sini juga sudah banyak terdapat vila dan penginapan untuk menampung para wisatawan dari luar daerah yang hendak bermalam. Suatu saat, aku bermimpi untuk mendirikan tenda, menggelar matras dan menyalakan api di atas pasir putihnya, menikmati udara sore dan menyaksikan matahari tenggelam hingga malam datang dan menidurkanku dalam kedamaian.

Sepanjang waktu usai makan kami berpencar, ada beberapa yang menuju ke arah timur untuk berfoto ria, sebagiannya lagi terduduk di atas seonggok bonggol bambu yang begitu besar tergeletak di tepian pantai. Pak Bayu datang dengan serenteng ikan yang dibelinya dari seorang nelayan. Aku lantas menyiapkan bahan-bahan bebakaran bersama pak Danang. Beruntung beliau membawa sebilah golok yang memudahkanku memotong kayu-kayu kering untuk memudahkan membuat bara api, sementara yang lainnya menyiapkan ikan-ikan yang sudah dibersihkan jeroannya dengan diolesi margarin. Perapian sedikit demi sedikit semakin menyala dan bara semakin menjadi-jadi.

Ikan-ikan ini nampaknya akan sangat lezat ketika disantap, aromanya menyeruak ke lubang pernafasan tanpa meminta izin, meriuhkan suasana pantai yang hening. Istri pak Danang ternyata membawa lima buah jagung mentah yang siap untuk dibakar, akhirnya teman-teman yang perempuan bertugas melumuri jagung dan sisa ikan lainnya sebelum dibakar. Pagi menjelang siang itu cukup menyenangkan, tidak terasa waktu bergerak cepat, tiba-tiba terik mentari terasa kian menyengat. Api diperapian kian redup, menyisakan bara yang mengepulkan asap, beberapa orang masih melingkar di sekitarnya, sisanya duduk di atas tikar yang digelar. Tiba saatnya kami menyantap ikan dan jagung yang sudah kami bakar. Satu persatu mencicip ikan yang sudah matang sembari berbincang tentang beragam hal, aku membersihkan gelas dan menuang sesendok bubuk kopi arabika  yang ku bawa, ku tuangkan segelas air panas dan kopi panas siap menemani waktuku di pantai tenda biru.

Saya dengan ikan tongkol bakar plus jagung bakar

 Di timur, sebuah tenda masih berdiri, tenda yang selalu di bawa pak Danang setiap berwisata  digunakan oleh mas Angga dan mas Lukman untuk rehat sejenak, berjam-jam menjadi supir menjadikan letih harus dibayar dengan merebahkan tubuh, merebahlah mereka di dalam tenda itu. Selagi mereka rehat, pak Bayu mengeluarkan kameranya untuk menangkap momen seekor biawak yang ku dapati melintas dari pesisir pantai yang ditumbuhi tanaman bakau ke area pepohonan rimbun di tengah hutan. Diikutinya si biawak itu bergerak kemana sambil di dokumentasikan dengan kameranya.

Saat waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, maka pak Bayu mengintruksikan kepada kami untuk bersiap merapikan diri dan bergegas ke mobil, rencana selanjutnya adalah kami akan menuju ke pantai ujung genteng untuk bersih diri, sholat sekaligus makan siang. Lokasinya tepat di gerbang pintu masuk saat kami datang dari arah jalan raya utama, sehingga orang-orang pasti akan dengan mudah mengenalinya. Saat kami meninggalkan pantai tenda biru, mobil pak Bayu sempat berhenti di tengah jalan, lantaran seekor biawak dengan panjang kurang lebih dua meter melintas dari sisi kiri jalan ke sisi kanan yang masih bervegetasi pepohonan lebat. Momen menarik itu lantas ku manfaatkan untuk membuka kamera hp dan memvideokannya.

 Berselang 15 menit kemudian kami tiba di Tempat Pelelangan Ikan, sebelumnya kami sudah membayar biaya parkir untuk empat mobil yakni 25 ribu rupiah. Jadi, kami melanjutkan perjalanan ke pantai utama di kawasan Ujunggenteng, pantai Ujunggenteng.

Disini, warung-warung sudah tertata rapi dengan gazebo-gazebo sederhana yang bisa dugunakan untuk sekedar duduk dan merebahkan tubuh, beberapa warung juga menyediakan fasilitas kamar mandi dan musholla. Kami tiba dan mobil di parkir dekat dengan tulisan Ujunggenteng, di sana kami berfoto sejenak, lalu pak Bayu kembali mengeluarkan alat tempurnya untuk mengambil lanskap dari pantai ini dari udara. Suasana pengunjung juga lebih ramai, terlebih pembangunan di sini sudah begitu masif, terlihat dari beberapa beton yang dibangun untuk sebuah pembatas dari kawasan warung dengan bibir pantai. Ada satu pemandangan menarik di pantai ini, yakni sebuah bangunan menjorok ke arah laut, konon, bangunan tersebut di bangun oleh penjajah dari Belanda yang menggunakan pantai ini untuk berlabuh. Sayang, kondisinya sudah banyak lubang dan tidak rapi di berbagai sisi. Namun, tetap menjadi salah satu ikon di pantai ini. Dari pantai ini kami juga masih dapat melihat mercusuar yang terdapat di rerimbunan hutan area pantai tenda biru, tepatnya di sisi timur, sehingga posisi kami saat ini berada di sisi barat.

Waktu senggang yang tersedia kami manfaatkan untuk bebersih diri dan ishoma. Kami menyebar di beberapa warung untuk meneguk segelas es degan dan makanan ringan. Aku usai mandi dan sholat, waktu pulang masih sekitar dua jam dari sekarang, ku manfaatkan untuk merebahkan badan di sebuah gazebo yang cukup teduh dan sebelumnya ku jemur handuk milikku yang basah di atas perahu yang berada di dekat warung.

Burung-burung pantai yang berkumpul di satu daratan saat air tengah surut.

Setengah jam berlalu, aku menyaksikan langit begitu biru dan terik mentari begitu hangat, siang ini tidak ada tanda-tanda jikalau langit akan menurunkan hujan. Dari jauh ku lihat mas Sidiq dan pak Bayu sibuk mendokumentasikan biota laut, mereka terlihat excited sekali dengan apa yang dilihatnya. Sementara itu, Iqro’ mendekatiku menawari makanan yang dibawa oleh istrinya pak Danang, berupa mozarella. Sejenak ku amati makanan itu, dan nampaknya tergiur juga aku dengannya, satu dua sendok ku masukkan makanan itu ke dalam mulutku, dan cukup enak rasanya.

 Pagi tadi kami tiba di pantai pukul tujuh, sedangkan berangkat dari terminal pukul tiga kurang sekian menit. Jadi, kemungkinan waktu yang akan kami tempuh untuk perjalanan pulang sekitar tiga sampai tiga setengah jam. Letih sekali rasanya, tapi terbayar dengan segala yang menjadi daya tarik pesisir ini, aku memejamkan mata kembali di gazebo itu, lalu memimpikan kelak datang kembali ke lokasi ini dengan waktu kunjung yang lebih lama lagi.[End/HNHA]

Bagikan artikel

Leave a Reply