Kafe Pinggir Laut Meriahkan Pariwisata Tanjung Jabung Timur

posted in: Destination | 0

Kafe pinggir laut, itu sebutan yang mudah untuk menggambarkan kedai makan-minum kekinian yang kini banyak dibangun di Kampung Laut. Bertongkat kayu model rumah panggung khas pantai dan berdinding papan dengan atap seng, serta dipagari warna-warni menjadi ciri khasnya.

B Cafe salah satunya, dibangun di Kampung Laut, tepatnya masuk ke dalam wilayah Desa Majelis Hidayah. Kampung Laut ini awalnya merupakan perkampungan nelayan di muara Sungai Batanghari, Jambi. Kini, area yang masuk cakupan Kampung Laut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini telah berkembang menjadi 3 desa, tergabung di Kecamatan Kuala Jambi.

B Cafe mengusung konsep yang menggabungkan antara kafe, resto, dan wisata pesisir. Bangunannya didirikan menggunakan tongkat kayu, dan sebagian berpenyangga pohon mangrove yang tumbuh disekitarnya. Cat warna-warni dibuat agar suasana semarak dan ramai.

“B Cafe ini pangsa pasarnya emang beda sendiri dibanding kafe-kafe sejenis lainnya. Disini pengunjungnya kebanyakan dari luar Kampung Laut, bahkan banyak yang dari luar Tanjabtim” jelas Tian.

Sebagai wilayah pesisir, Kampung Laut kaya akan hasil laut. Ini dapat pengunjung nikmati di B Cafe. Selain hidangan khas pantai seperti air kelapa muda, disini pengunjung dapat menikmati seafood. Ada kerang, ikan, siput, udang, dan banyak lagi.

Selain menikmati pemandangan yang sangat khas berupa air laut yang hijau kala kemarau, dan coklat kala musim penghujan, angin semilir berdesau dan deru ombak berkecipak, di B Cafe pengunjung bisa mencoba wahana perahu kano, bisa juga berjalan-jalan di jembatan tali, bahkan pengunjung bisa menyeberang dengan menggunakan perahu motor yang disewa. Cukup menyenangkan.

Pada musim air surut, di Kampung laut terdapat Delta sungai Batanghari. Biasanya akan tampak dataran berpasir di tengah muara sungai yang dapat dikunjungi wisatawan. Pada bulan Safar, disana diadakan kegiatan Mandi Safar yang merupakan tradisi lokal. Ada juga Festival Sumbun yang rutin diselenggarakan pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Akses dan Transportasi

Untuk sampai kesini, pengunjung bisa menggunakan setidaknya 3 jenis moda transportasi. Pertama dengan sepeda motor, dengan mobil, dan dengan perahu motor.

Sepeda motor dan mobil dapat mengambil rute lewat Kecamatan Rano. Ketika pengunjung sampai di kompleks perkantoran Tanjung Jabung Timur, carilah Simpang Garuda. Cukup mudah mencarinya karena Simpang Garuda berada di dekat pintu masuk ke perkantoran dari arah Geragai. Nah, dari Simpang Garuda, ikuti saja jalan utama hingga melewati berpuluh-puluh jembatan dan tiba di Kampung Laut. Ada banyak belokan kecil, tapi fokuslah pada jalan utama hingga mencapai kampung terakhir. Sepeda motor bisa langsung ke lokasi. Sementara mobil harus diparkir di jalan raya. Jalan menuju lokasi akan melewati jalan semen cor dengan tongkat setinggi 2 meter. Itu jalan yang umum ada di wilayah pesisir timur Jambi yang langsung menghadap ke bibir sungai atau bibir pantai.

Jika pengunjung ingin menggunakan moda laut. Maka pengunjung bisa menggunakan speedboat dari Kuala Tungkal, lalu transit dan ganti Speedboat di Kuala Mendahara. Dari Kuala Mendahara, hanya butuh satu jam dengan Speedboat maka pengunjung akan tiba di Kampung Laut. Meskipun Kampung Laut bisa diakses langsung dari Kota Jambi melalui moda transportasi sungai, sayang sekali tidak ada transportasi sungai umum yang beroperasi dari Kota Jambi ke Kampung Laut. Jadi akses dari Kota Jambi biasanya ditempuh melalui jalur darat.

Nah, bagaimana serunya mengunjungi B Cafe di Kampung Laut? Sobat Travelnatic bisa simak Video ini. Ikuti juga kami di YouTube Channel TRAVELNATIC agar selalu update video terbaru dari jalan-jalan kami. Selamat menikmati, Ingat Traveling, Ingat Travelnatic!

Tonton video lengkapnya di YouTube

Terima kasih kepada Tian dan Rangga yang telah mengajak kami berkunjung ke Kampung Laut. [Nurul Amin/End]

Tian (kiri), saya (tengah), Angga (kanan) saat mengunjungi B Cafe di Kampung Laut. Dok. Nurul Amin
Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *