Nuansa Hitam di Kampung Adat Ammatoa

Nuansa Hitam di Kampung Adat Ammatoa

posted in: Otherside | 0

Bagi masyarakat Tana Toa Kajang, Sulawesi Selatan, warna hitam melambangkan kebersahajaan, kesederhanaan, kesamaan atau kesetaraan seluruh masyarakatnya. Mereka percaya bahwa manusia lahir dari tempat yang gelap dan akan kembali ke tempat yang gelap.

Setelah melihat indahnya Pantai Bira serta melihat tangguhnya para pembuat kapal phinisi, misi selanjutnya yaitu mengunjungi suatu kampung adat. Dua jam perjalanan ditempuh melalui jalan di antara pedesaan atau sekitar 56 kilometer dari kota Bulukumba menuju salah satu kampung adat paling tua di Sulawesi Selatan, kampung adat tersebut dikenal dengan nama Kampung Adat Ammatoa. Kampung Adat Ammatoa tersebut berada di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Gerbang masuknya berupa pendopo kayu dengan atap dari jerami dengan bernuansa hitam. Ada papan nama yang menggantung besar bertuliskan “Selamat Datang Kawasan Adat Ammatoa”.

Berdasarkan  sumber yang saya dapat dari seorang teman bernama Nurdiansyah-mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar yang melakukan penelitian disana- orang pertama kampung adat tersebut  adalah hadirnya Ammatoa. Ammatoa itu adalah gelar untuk sang kepala adatnya dan menjadi penamaan untuk adat di sana. Sedangkan penamaan Tana Toa sendiri itu berarti tanah tua, yaitu tanah atau tempat pertama kalinya turun sang Turiek Akrekna  atau yang sering kita maksud adalah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi, secara umum kita kenal sebagi Tuhan, Allah dalam Islam.

Amma Toa bertindak sebagai pemimpin spiritualis tertinggi. Kami didampingi oleh teman yang memang sering berurusan dengan Amma Toa serta sudah paham dengan bahasa kampung Amma Toa, sempat berbincang dengan pemimpin yang murah senyum dan berwibawa ini. Beliau menjelaskan tentang bagaimana menyelesaikan perselisihan dan semua aspek kehidupan melalui musyawarah di rumah besar. Tentu saja menggunakan bahasa Konjo melalui perantara Galla (Mentri) yang memang bertugas menyambut dan menemani tamu.

Menurut data statistik di kantor kecamatan Kajang, masyarakat Ammatoa seluruhnya beragama Islam. Meskipun Islam diakui masyarakat Ammatoa sebagai agama satu-satunya dalam kawasan adat, akan tetapi dalam kehidupan bergama mereka masih mencampurbaurkan dengan ajaran-ajaran leluhur (kepercayaan) yang masih mereka pegang teguh. Misalkan, untuk naik haji mereka tidak perlu ke Mekkah,  tapi dengan membuat suatu acara itu bisa dianggap naik haji.

Masyarakat Tana Toa Kajang juga dicirikan dengan pakaiannya yang serba hitam. Menurut mereka, pakaian hitam tersebut memiliki makna bahwa kita lahir dari dunia yang gelap dan akan kembali ke tempat yang gelap. Selain itu warna hitam juga bermakna kebersahajaan, kesederhanaan, kesamaan atau kesetaraan seluruh masyarakatnya. Kain untuk pakaian mereka tenun sendiri, kemudian untuk pewarnaan kain digunakan pewarna alami yang mereka buat dari daun tarung lalu dicampur dengan kapur panas dan air abu dapur.

Makna kesetaraan tidak hanya terlihat dari cara mereka berpakaian, akan tetapi juga dari bentuk bangunan rumah yang ada di kawasan ini. Semua bentuk, ukuran serta warnanya terlihat sama, beratap rumbia serta berdindingkan papan kecuali rumah Ammatoa yang dindingnya menggunakan bambu. Di sekitar rumah Ammatoa tersebut, semua pemukiman warga menghadap ke arah kiblat.

Di kawasan ini, pengunjung tidak akan menemukan satu rumah pun yang berdinding tembok apalagi bangunan yang memiliki berbagai model seperti bangunan mewah yang sering kita lihat didalam rumah, tak ada satupun barang elektonik. Karena menurut kepercayaan mereka, hal yang modern dianggap dapat menjadi pengaruh buruk yang dapat menjauhkan mereka dengan alam dan para leluhur.

Masyarakat Tana Toa percaya bahwa bumi ini adalah warisan nenek moyang yang berkualitas dan seimbang. Oleh karena itu, anak cucunya harus mendapatkan warisan tersebut dengan kualitas yang sama persis. Namun saat ini walau kampung adat Ammatoa tetap menolak modernitas di kampung mereka, beberapa generasi mereka sudah banyak yang sukses di luar kampung.

Ada yang melanjutkan pendidikan sampai jenjang kuliah, ada yang kerja di luar Sulawesi. Bahkan setiap pemilihan calon legislatif,  kampung adat Ammatoa selalu mengirimkan satu warga mereka ke kursi legislatif.

Buat kalian yang berkunjung ke  Bulukumba wajib untuk singgah sejenak ke Kampung Adat Ammatoa ! [Ikbal Syukroni/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

 

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    181
    Shares
Follow Ikbal Syukroni:

Tinggal di Martapura, Sumatera Selatan. Traveler yang menggemari kegiatan photography. Sedang menempuh studi S2 di Bogor.

Komentar Pembaca