Melihat Harmoni Kehidupan Multi Etnis di Kampung Melayu, Semarang

Melihat Harmoni Kehidupan Multi Etnis di Kampung Melayu, Semarang

posted in: Otherside | 0

Kota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah. Dengan luas hanya 373,67 km, kota Semarang dihuni sekitar 1,3 juta jiwa dengan beraneka ragam budaya dan kekhasan masing-masing. Di bagian utara kota Semarang sendiri, terdapat sebuah kampung kuno dengan nilai sejarah yang sangat tinggi serta memiliki arti penting dalam pembentukan kota Semarang, yaitu Kampung Melayu. Kampung Melayu menjadi salah satu kampung tertua di kota Semarang yang memiliki karakteristik sebagai kampung multi etnik. Etnik seperti Arab, Tionghoa, Pakistan, India, Cirebonan dan Banjar, bisa dijumpai di Kampung Melayu.

Klenteng di Kampung Melayu. Dok. Lida Maya
Klenteng di Kampung Melayu. Dok. Lida Maya

Travelnatic Magazine – Pemukiman Kampung Melayu pada awalnya terbentuk dari struktur fisik Pelabuhan Lama pada zaman Belanda.  Berbagai fasilitas yang ada di pelabuhan, seperti kantor dagang, markas pasukan, mercusuar, jembatan, gudang dan beberapa rumah pegawai adalah bagian yang membentuk pemukiman Kampung Melayu, meskipun hingga kini jejak-jejaknya sudah tak terlihat lagi. Dari sana jugalah pintu gerbang kedatangan terbuka bagi pedagang-pedagang yang akan memasuki kota Semarang, hingga akhirnya daerah ini menjadi sangat ramai dengan aktivitas bongkar muat dan perdagangan. Berangsur-angsur makin banyaklah orang yang mulai tinggal menetap di sekitar kawasan tersebut. Perkembangan dan kemajuan perdagangan mempengaruhi daerah itu. Permukiman menjadi semakin padat, kompleks dan dinamis dengan datangnya etnis Arab untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Maka tidaklah heran bila mayoritas masyarakat di Kampung Melayu hidup sebagai pedagang dan memeluk agama Islam.

Setiap etnis yang berkembang di Kampung Melayu mulai mengkotak-kotakkan wilayah miliknya masing-masing. Permukiman Arab sendiri berada di belakang komplek ruko-ruko pecinan di bagian lorong yang dinamakan jalan Layur. Di bagian barat lorong ini lah, terdapat sebuah klenteng yang menurut kepercayaan orang Cina berfungsi untuk mengusir dan membentengi roh-roh jahat yang hendak menghalangi kelancaran usaha perdagangan dan yang terutama adalah menjaga keselamatan dan kehidupan etnik Cina di Kampung Melayu, mengingat hampir sebagian besar warga Kampung Melayu berprofesi sebagai pedagang.

Salah satu sahabat saya, Mochammad Nawaf yang merupakan pemuda keturunan Arab, membantu mengenalkan saya pada satu kearifan lokal ini. Kampung Melayu menjadi tempat kelahirannya, hingga ia tumbuh menjadi dewasa. Pemuda berkacamata itu menceritakan dengan antusias mengenai kampung tempat tinggalnya. Meski masih nampak beberapa bangunan kuno khas etnik mereka masing-masing, namun kini bangunan yang ada ratusan tahun lalu itu sudah mulai usang dimakan waktu dan tergerus banyaknya bangunan baru yang bermunculan.

Peradaban yang semakin berkembang tak lantas membuat mereka yang tinggal di Kampung Melayu meninggalkan warisannya begitu saja. Mereka masih ada yang setia merawat bangunan bersejarah yang ada di sana. Beberapa pemilik toko yang masih menjalankan usahanya juga tetap menjadi serbuan pelanggan dari dalam kota maupun dari luar kota. Salah satunya adalah toko yang menjual perlengkapan menangkap ikan. Bangunannya berdiri di lorong Layur. Harga barang-barang yang dijual di toko ini bervariasi, mulai dari Rp 10.000,00 hingga ratusan ribu rupiah. Mereka yang membeli pun tidak hanya secara eceran, namun juga ada yang membeli dalam jumlah banyak untuk kemudian dijual kembali.

Tidak hanya toko yang menjual peralatan menangkap ikan, dari penelusuran kami juga menemukan sebuah tempat yang dulunya dikenal sebagai tempat percetakan buku sekaligus toko milik orang India. Toko itu bernama Effhar. Kini percetakan itu meneruskan usahanya di tempat lain karena kendala banjir yang sering dialami.

Beberapa dari mereka yang tinggal di Kampung Melayu, masih memegang adat istiadat dan tradisi kental mereka. Mereka yang masih memegang erat tradisi kebanyakan adalah orang-orang yang sudah berusia tua. Sedangkan mereka yang berusia lebih muda memilih meninggalkan kampung halaman untuk pergi ke kota lain. Jika ditanya mengapa mereka masih mau tinggal di Kampung Melayu, mereka juga tidak bisa menjawab. Hanya saja mereka masih sangat menyukai kebudayaan yang kuat di Kampung Melayu ini, terutama mereka yang merupakan etnis Arab dan Cina. Selain kultur yang kuat dan harga tanah yang cukup tinggi, kampung ini sudah mendarah daging dengan diri mereka, sehingga mereka lebih memilih menetap di Kampung Melayu. Meskipun kampung ini selalu menjadi langganan banjir akibat aliran air sungai yang tidak lancar dan membuat jalanan  menjadi kotor sehingga nampak kumuh, tetapi kampung ini bisa dikatakan sebagai kampung yang strategis. Keberadaan Kampung Melayu dekat dengan pusat kota seperti Pasar Johar (yang kini terbakar), angkutan umum dengan berbagai macam tujuan, kawasan Kota Lama, beberapa kantor instansi pemerintah, beberapa pusat perbelanjaan, dan dua stasiun kereta api besar di Semarang, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

km2
Mesjid Tua di Kampung Arab. Dok. Lida Maya

Saat sedang asyik berjalan-jalan di sekitar lorong Layur Kampung Melayu, kami menemukan sebuah masjid bergaya perpaduan antara tiga budaya, yakni Arab, Jawa dan Melayu, yang sudah berusia ratusan tahun. Dibangun tahun 1802 oleh ulama Arab Hadramaut, masjid sederhana nan kokoh yang berdiri dengan balutan warna hijau menyejukkan itu dinamakan Masjid Layur atau Masjid Menara. Walaupun dimakan usia, masjid ini masih digunakan untuk beribadah hingga saat ini, misalnya untuk shalat Tarawih di bulan Ramadhan. Bangunannya memang tidaklah besar, namun Masjid Menara mampu menampung hingga seratus jamaah. Kebanyakan jamaahnya adalah orang-orang yang sudah lanjut usia. Sedangkan mereka yang berusia muda lebih memilih menjalankan shalat di masjid yang lain karena kurang mampu mengikuti waktu shalat yang cukup lama, yang dijalankan oleh orang-orang tua tersebut. Belum lagi waktu untuk memulai shalat Tarawih misalnya, sangatlah berbeda dengan kebanyakan Masjid yang lainnya. Setelah shalat Tarawih usai, para jamaah tidak lantas langsung meninggalkan masjid. Mereka masih menggunakan waktu yang ada untuk menikmati kopi dan beberapa hidangan yang disajikan hingga waktu sahur tiba.

Menara yang ada di dalam Masjid, merupakan bangunan yang paling tinggi di Kampung Melayu. Dulunya menara ini digunakan untuk memantau aktivitas di Kampung Melayu. Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan kota Semarang. Secara menyeluruh Masjid Layur masih menyerupai bangunan asli ketika pertama kali dibangun, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang pengelolaan pada sisi kanan kompleks masjid. Selain memiliki bentuk bangunan yang unik, Masjid Menara juga menyimpan harta lain yang berharga, yakni kitab-kitab kuno, yang konon dibawa oleh para habib untuk menyebarkan agama Islam di Semarang. Kitab tersebut masih menggunakan bahasa dan tulisan Arab asli dan hanya dibacakan pada acara-acara khusus serta hanya boleh dibaca dan didengar oleh kalangan Islam tertentu.

Membicarakan sesuatu yang kuno, kearifan lokal di Kampung Melayu ini akan selalu diingat dan tidak mudah dilupakan. Hal ini karena kebanyakan masyarakat sudah jarang menemukan sesuatu yang kuno akibat berkembang pesatnya pembangunan. Beberapa orang yang mencintai kebudayaan juga berpendapat, sebaiknya pemerintah juga membuat peraturan agar kearifan lokal seperti Kampung Melayu ini tetap terjaga keberadaannya. Bangunan yang memiliki ciri khas tersendiri dapat diperbaiki, dirawat, dijaga, dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya. [Lida Maya/End]

 

Sebarkan :
  • 239
  • 215
  • 132
  •  
  •  
  •  
    586
    Shares
Follow Lida Harryanto:

Tinggal di Semarang.

Komentar anda?